Velicia menikah dengan Arnold pria yang selama ini di kiranya yang pernah masuk dalam kenangan masa lalunya...
Cinta yang berawal dari lantunan piano dari seorang pria yang memainkan lagu Sleep in the deep sea yang biasa di mainkan ibu Velicia sewaktu sang ibu masih hidup...
Pernikahan Aliansi yang terjadi di antara mereka, bukan membuat Velicia bahagia namun malah membiat dia terluka hingga penyakit mematikan menyerang hidupnya...
akankah Arnold bisa mencintai Velicia??
yukk baca novelku...!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DALAM LUKA (BAB 22)
Merry berusaha menenangkan Velicia, dia menyuruh pelayan untuk mengambilkan minuman untuk Velicia agar Velicia merasa lebih tenang.
Sementara itu, Arnold yang melihat Velicia menaiki taksi meninggalkan kampus tanpa mobilnya yang masih terparkir di area kampus, dia langsung menghentikan ojek online yang baru saja melintas di hadapannya, dia menaiki ojek tersebut lalu meminta tukang ojek untuk mengikuti kemana mobil taksi yang di tumpangi oleh Velicia, sehingga dia tahu kemana Velicia pergi.
Arnold turun dari ojek yang di tumpanginya, dia hendak masuk ke dalam kedai teh milik Merry, namun dia melihat pedagang bunga tepat di depan kedai Merry, Arnold melangkah menuju pedagang bunga. Dia memilih-milih bunga yang cocok untuk Velicia sembari menatap ke arah kedai Merry takut Velicia keluar dari kedai Merry tanpa sepengetahuannya nanti.
Arnold masih asyik memilih-milih bunga, sang pemilik bunga pun menghampiri Arnold.
“ Mau mencari apa tuan..” tanya sang pedagang menyapa calon pembelinya dengan ramah.
“ Mhm...Aku mau beli bunga...tapi bingung...” jawab Arnold kaku.
“ Bingung kenapa?” tanya sang pedagang toko lagi.
“ Aku mau memberikan bunga pada seseorang...tapi bunga-bunga disini sangat indah....jadi aku bingung...” jawab Arnold jujur.
“ Siapa??? Kekasih tuankah...?” sang pedagang toko mencoba untuk menebak.
“ Mhm...bisa di bilang seperti itu...aku telah berbuat salah padanya dan aku ingin dia memaafkanku...” ujar Arnold berharap sang pedagang bisa membantunya untuk memilihkan bunga yang cocok untuk Velicia.
“ Owh...kalau begitu tuan bisa memberikan bunga Lili putih ini untuknya...” ujar sang pedagang bunga menyodorkan sebuket bunga Lili putih pada Arnold.
“ Bunga Lili putih merupakan bunga simbol permintaan maaf pada pasangan kita...” jelas sang pedagang toko yang di sambut dengan senyuman yang terukir di wajah Arnold.
“ Terima kasih...” ucap Arnold.
Arnold mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar uang seratus ribu dari dompetnya, lalu memberikannya pada si pedagang bunga.
“ Terima kasih...ini kembaliannya tuan...” ujar sang pedagang toko.
“ Ambillah untukmu...” ujar Arnold lalu tersenyum. Dia pun meninggalkan pedagang bunga.
Setelah membeli bunga dia pun melangkah menuju kedai teh tempat Velicia berada, dia masuk ke dalam kedai teh lalu menghampiri Velicia dan Merry yang masih asyik mengobrol.
“ Veli...” lirih Arnold dengan wajah yang memelas.
Velicia menoleh ke belakang saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Dia menatap kesala ke arah Arnold.
“ Veli...aku mohon maafkan aku...” pinta Arnold sambil menyodorkan bunga lili yang ada di tangannya.
Velicia memandang ke arah Merry, Merry hanya diam tak tahu harus bagaimana, Velicia semakin merasa hancur dengan perbuatan Arnold padanya. Dia tak ingin berharap lebih pada pria yang jelas-jelas tak mencintai dirinya. Velicia semakin merasa bodoh karena selama ini dia terus berharap pada Arnold.
“ Cukup...”teriak Velicia membuat tamu kedai teh itu menoleh ke arah mereka. Velicia merasa malu lalu dia pun melangkah keluar dari kedai meninggalkan Arnold yang masih memegang bunga di tangannya.
Merry tak bergeming karena saat ini, dia tak ada hak untuk ikut campur dalam urusan Arnold dan Velicia, karena dia baru saja mengetahui kisah cinta Velicia hari ini.
Veli kembali menghentikan taksi, dia meminta sopir taksi mengantarkannya ke kampus untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di kampus. Selang beberapa menit, taksi berhenti di depan kampus dia langsung melangkah ke parkiran mobilnya.
Velicia pun masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Villa keluarga Arista. Mobil sport silver milik Velicia sampai di depan Villa keluarga Arista, satpam membukakan pagar besi yang menjulang tinggi. Mobil Velicia masuk ke dalam pekarangan Villa, Velicia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama. Dia turun dari mobilnya.
Velicia melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Velicia membuka pintu kamarnya, lalu dia masuk melangkah ke arah ranjang. Velicia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menatap pada langit-langit kamarnya mengingat kembali wajah Arnold yang terus meminta maaf padanya.
Buliran bening kembali membasahi pipinya, hatinya terasa sangat sesak, seakan Arnold telah mencabik-cabikkan hatinya.Velicia mencoba memejamkan matanya untuk melupakan rasa sakitnya namun rasa sakit itu terusmenusuk jantungnya.
Velicia pun bangkit dari posisi rebahannya lalu dia beranjak melangkah menuju kamar mandi. Dia mulai membuka pakaiannya lalu masuk ke dalam bathup dan menyalakan kran air hangat, dia mencoba menenangkan pikirannya dengan berendam air hangat.
Setelah satu jam berendam, Velicia menuntaskan aktivitas mandinya. Setelah itu dia keluar dari bathroom menggunakan bathrobe dan melilit rambutnya yang basah dengan handuk. Velicia melangkah menuju lemari mengambil pakaian santainya lalu mengenakannya. Lalu seperti biasa Velicia duduk di meja riasnya untuk memoles sedikit make up di wjah cantiknya agar terlihat semakin cantik dan menutupi wajahnya yang pucat karena sakit yang di deritanya.
Velicia kembali melangkah menuju ranjang untuk beristirahat, namun di karenakan pikirannya masih tertuju pada Arnold, dia kembali bangun dan mengambil novel kesukaannya yang selalu terletak di atas nakas berharap dia bisa melupakan sejenak luka hatinya.
Dia melangkah menuju balkon kamarnya dia duduk di sana sambil membaca novel. Saat Velicia sedang asyik membaca novel.
“VELI...VELICIA...!!!” teriakArnold dari bawah.
Velicia tersentak mendengar suara Arnold, dia menutup ovelnya lalu berdiri melihat ke bawah. Terlihat di sana Arnold memanggil-manggil namanya.
“ VELI...Maafkan aku...” teriak Arnold gigih.
Velicia kesal dengan tingkah Arnold, dia tak menyangka Arnold akan segigih ini untuk membujuknya.
“ Apa sebenarnya yang dia inginkan...apakah dia benar-benar menyesali perbuatannya...” bathin Velicia.
Velicia pun melangkah turun ke lantai bawah, dia membuka pintu utama dan menghampiri Arnod yang telah beridiri di depan Villa.
“ Apa yang kau inginkan???” bentak Velicia benar-benar emosi dengan tingkah Arnold.
“ Veli aku hanya ingin meminta maaf padamu...” pinta Arnold lagi. Dia terus mengulang-ulng kata yang sama sedari tadi.
“ Cukup Ar...aku akan memaafkanmu...sekarang pergilah dari sini aku tak ingin melihatmu lagi...” ujar Velicia dengan dada yang bergemuruh.
“Tidak Veli...aku takkan pergi dari sini...” bantah Arnold karena dia belum mendapatkan apa yang sebnarnya yang di inginkannya.
“ Kau mau apa lagi Ar...?” tanya Velicia mulai kesal padasang mantan suaminya itu.
“ Aku ingin kamu memaafkanku...dan aku ingin kita melanjutkan kesepakatan kita agar aku bisa menebus kesalahanku.
Bersambung...
.
.
.
.
.
Terima kasih Readers yang udah baca karya owner...🙏🙏.
Jangan lupa dukung terus karya Owner dengan meninggalkan jejak...
\=> Like
\=> koment
\=> Hadiah
\=> Vote...
Terima kasih atas dukungannya...🙏🙏🙏
Sukses bwt kk 😊💐