SQUEL TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Kisah tentang ketulusan ....
Dan sungguh setelah kesulitan terdapat kemudahan.
Sebuah peristiwa nahas mempertemukan dua sosok terpaut usia 20 tahun.
Keduanya patah hati dan merana sebab kehilangan orang tercinta. Hingga kekosongan itu saling melengkapi ...
Kebersamaan perlahan menumbuhkan benih-benih cinta itu ...
Rasa yang sekian lama seolah mati, kini memiliki tempat berlabuh.
Mampu kah hubungan itu mudah ditempuh?
"Setiap melihatmu aku seakan sedang melihat Dia ... Dan darimu aku kembali tau ada ekspresi wajah bernama senyum dan ada sebuah rasa bersama bahagia ...." (Dimas)
"Siapa sebetulnya pemilih wajah ini? Apakah ia begitu berarti untuk Om?" (Shofie)
Selain kisah kedua tokoh di atas, kisah anak-anak Dimas juga akan ditampilkan di sini❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU MENGHIANATI LYRA?
"Kami memulai hubungan kami!"
"Hubungan apa?"
"Masa depan. Bukankah menurut Om aku harus mulai membuka hati!"
"Tidak!"
"Omm ...? Tidak? Maksud Om?" Dimas membuang napasnya kasar.
"Sudah malam, tidurlah! Besok kamu harus bekerja!"
Ada kekecewaan di hati Shofi karena Dimas lagi-lagi tak menjabarkan rasanya. Setelah melihat kejadian ini, kembali kuat ingin Shofi untuk pergi, pergi dari kebersamaan tanpa titik. Dan lagi-lagi ia membodohi hatinya, menyalahkan diri yang begitu mudah terbawa rasa.
Shofi masuk ke kamar. Bukan langsung tidur, ia justru termenung meratapi skenario hidup yang dialami.
•
•
Oek ... Oek ...
Bayi ibu sudah lahir tapi ia tak sempurna ...
Bundaa ... sakit Bunda ... tubuh Zidna sakit ....
Zidna tidak bisa bernapas ....
Dada Zidna sesak ....
Dingin ....
Bundaa ... Bundaa ...
Bayangan gadis itu semakin menjauh.
Ahhh ... Ahhh ....
Dalam ketidaksadaran Shofi terus menggelengkan kepalanya.
Merintih ....
Dan terisak ....
Zidna ... Zidna ....
Jangan tinggalkan Bundaa ....
Zidna ... Zidnaaa ....
______________
"Shof ... Shofii! Sadar!" Mata itu terbuka, air mata masih terus bercucuran. Ia melihat raga itu ... raga yang belakangan mewarnai harinya. Sosok yang perlahan masuk ke dalam hati Shofi, namun hanya menjadikan Shofi bayangan dari istrinya. Wajah itu panik, jemari itu masih menggoyangkan bahu Shofi. Bingung melihat ketertegunan Shofi.
Shofi bungkam ....
Bayangan kejadian kepergian Zidna sangat menyesakkannya, rintihan-rintihan Zidna seolah begitu nyata dan terdengar nyaring di telinga Shofi.
Belum lagi segala sesak itu pergi, melihat kehadiran Dimas, sesak itu bertambah kuat. Shofi takut akan kehilangan ... rasa yang tak seharusnya ada tapi ia merasakannya ... kenyamanan! Cinta tanpa tepi karena sosok pria yang didamba nyatanya hanya menyimpan satu nama di hatinya.
Ya, mendiang istrinya Lyra adalah satu-satunya pengisi hati itu, hati yang begitu baik hingga begitu lancang menerobos sisi hati Shofi yang rapuh dan merindu penjaga. Tetesan itu masih memaksa keluar dari sudut mata Shofi ... hingga sebuah jemari tampak menyapu butiran itu lembut dan lengan kokoh itu akhirnya kehilangan pertahanannya, ia menarik tubuh tanpa daya Shofi yang bersandar di sofa masuk dalam dekapannya.
Shofi yang tak bisa tidur memang memilih meratapi takdir hidupnya. Ia duduk di sofa hingga tak sadar mata itu terpejam. Ia terlelap hingga mimpi membawanya bertemu Zidna sang putri kecil yang dalam hitungan bulan pernah bersamanya.
Lengan itu mengunci kuat tubuh Shofi, berusaha menyakinkan bahwa Shofi tak sendiri. Shofi tak membalas namun tak kuasa menolak. Bukan bulir itu berhenti, tetesan itu justru semakin gencar menerobos netranya.
Shofi merasa nyaman dan tenang berada dalam dekapan Dimas, tapi di sisi lain ia sedih begitu rapuhnya ia hingga tak kuasa menolak dan membiarkan tubuh seseorang pria mengeksplorasi tubuhnya.
Dengan lembut Shofi mendorong tubuh tegap itu. "Aku sudah baik-baik saja, Om!" lirih Shofi memberi jarak tubuhnya.
"Ma-af .... Besok tidak perlu bekerja, kita berziarah ke makam putrimu!"
"Tidak bisa begitu, apa kata pekerja lain nanti! Aku akan tetap bekerja dan ke makam seusai bekerja." Dimas masih menatap wajah itu dan mengangguk setelahnya.
"Om juga tidak perlu repot! Aku akan minta mas Aldo yang mengantarku!" Kedua netra itu membulat ia tidak suka pada yang didengarnya.
"Aku yang akan mengantarmu!" ucap Dimas setelahnya.
"Tidak Om! Aku tidak mau ada gosip tentang kita! Terlebih aku tidak mau Om menghianati mendiang istri Om karena sering menghabiskan waktu bersamaku! Sekarang Om bisa keluar! Terima kasih telah meredakan sesakku tadi!" Dimas masih mengamati wajah itu, merasa tersentil dengan ucapan Shofi.
"Menghianati Lyra ... aku menghianati Lyra!" batin itu terus berbisik dan raga itu perlahan terus menundurkan tubuhnya, hingga sampai di pintu dan raga itu menghilang.
________________
Di dalam kamar Dimas tak tenang. Kata-kata Shofi mengusiknya. Ia duduk di balkon menerjang dingin malam yang menghujam kasar masuk ke pori kulitnya.
Otaknya mengembara pada pertemuannya dengan Shofi dalam kondisi mengenaskan pagi itu. Harum tubuh Shofi menghipnotisnya, hingga keputusan besar itu spontan ia lontarkan. Memberi wajah wanita tercintanya ia lakukan tanpa pikir panjang saat itu.
Keputusan yang nyatanya memberi dampak besar dalam hidupnya, wajah itu seakan memiliki magnet dan membuat Dimas tak bisa beralih. Ia selalu ada di sisi raga tak bergerak itu, ya Shofi memang sempat mengalami koma cukup lama saat itu. Hingga mata itu terbuka, namun nyatanya magnet itu semakin kuat menariknya. Tatapan, tangis dan tiap gerak yang dilakukan Shofi, Dimas seakan melihat Lyra yang berada di sana.
Berbagai pemulihan dan terapi Dimas tak pernah membiarkan Shofi melakukannya sendiri, ia selalu setia menemani. Walau raga itu nyatanya masih terus bergeming dengan berbagai pelik hidup yang disimpannya, Dimas seakan memiliki semangat baru berada di dekat Shofi, melihat wajah itu nyata dan bergerak merupakan suatu kebahagian bagi Dimas.
Masih begitu nyata di otak Dimas bagaimana untuk pertama kalinya Shofi bicara dan wajah itu melukis senyum yang sangat cantik ... senyum Lyranya.
Hari itu seperti biasa Dimas mengajak berbincang Shofi, bicara tentang angin, matahari, bintang, bulan, pepohonan dan segala ciptaanNya yang diciptakan begitu sempurna dan memiliki makna di balik penciptaan itu. Lagi-lagi Shofi terus menatap raut wajah Dimas tanpa kata. Mata itu seolah selalu menunggu berbagai cerita Dimas yang lain, kisah apa pun seakan menarik Shofi terus menelusuri wajah itu. Wajah penolongnya yang tak tau ia siapa namun selalu ada di sisinya.
Pagi itu seakan berbeda, Shofi yang sudah mulai kembali berjalan setelah pemulihan dari koma dengan berbagai aktivitas terapi untuk melatih otot-ototnya guna memastikan kesuksesan berbagai operasi di beberapa bagian tulangnya pasca kecelakaan, tampak duduk di balkon pagi itu menatap mentari yang perlahan naik dengan desiran angin yang masih menghias pagi itu.
Setelah Dimas berceloteh banyak hal, Dimas terus menggoda Shofi hingga untuk pertama kali akhirnya kata-kata lolos dari bibir Shofi.
"Hampir 4 bulan kamu sadar, tapi kamu tak jua bicara! Apa wajahku begitu menakutkanmu? Katakan aku harus memanggilmu apa?" Shofi hanya menatap tanpa kata.
"Apa pita suaramu juga bermasalah? Haruskah aku meminta dokter memeriksa dan mengoperasi pita suaramu pula?" Shofi menggeleng. Dimas tersenyum.
"Aku senang setidaknya kamu mendengar ucapanku dan kamu menyatakan bisa bicara walau aku tak pernah mendengar bibir itu mengeluarkan suaranya!" Shofi menunduk.
"Tunggu! Apa jangan-jangan suaramu berbeda dari manusia lain? Menggema mungkin atau suaramu besar seperti laki-lagi atau mungkin suaramu buruk sehingga kamu tidak percaya diri untuk bicara! Betul bukan tebakanku?" Shofi menggeleng.
"Apa? Jadi benar suaramu tidak bagus? Buruk seperti apa? Apa suaramu kekanakan atau memekakkan telinga yang mendengarnya?" Shofi kembali menggeleng.
"Masih bukan? Oke ... ini pastinya tidak mungkin dan jarang terjadi, tapi jujur saja dan jangan malu! Apa suaramu seperti donal duck?" Dimas mencontohkan suara tokoh kartun bebek dengan suara ciri khasnya yang sangat lucu hingga membuat Shofi spontan tersenyum dan ia berkata setelahnya.
"Suaraku tidak seburuk itu!"
Kini Dimas tersenyum mengingat kejadian itu, dan kejadian-kejadian lain yang mereka habiskan bersama setelahnya. Shofi yang mulai membuka kisah masa lalunya dan membuka seluruh kepiluan itu .... Dan Dimas yang menghargai kejujuran Shofi mulai membuka cerita hidupnya pula, kisahnya bersama wanita pemilik wajah yang kini melekat di wajah Shofi.
Dimas kembali mengingat kata-kata yang spontan Shofi ucapkan beberapa saat lalu. Tentang kemungkinan ia menghianati Lyra lantaran sering menghabiskan waktu bersama Shofi.
Lyra ... hati Dimas tak pernah berubah dan hanya menghadirkan Lyra di hatinya. Tapi nyatanya sosok yang sering ia anggap Lyra dan ia hidup serta menjadi semangatnya adalah sosok Shofi.
Hati itu mulai bimbang. Hatinya hancur menghadapi kenyataan bahwa Shofilah sosok yang menghiasi harinya belakangan ini. Beberapa saat ia terdiam .... Hingga Ia meyakini satu hal setelahnya.
"Ma-af ... maaf Sayang ... aku menghianati cinta kita!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
⛅Happy reading😘
⛅Komenan pro dan kontra biasa ya guys, tapi tetap jaga adat dan bahasa baik agar tidak saling menyakiti😊
⛅Terima kasih atas supportnya selalu❤❤
makanya jadi orang jgn lemah gitu