Teror negeri Jawata, sosok Bocah Malapetaka yang mampu membasmi seluruh negeri dengan api. Seorang penguasa Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih justru menginginkan kekuatan Bocah Malapetaka, yakni Dunia Bawah yang menyimpan kekuatan ribuan Pasukan Ular. Di bawah kendalinya, pasukan pembantai memburu Bocah Malapetaka untuk dibunuh.
Di sisi lain, sekumpulan praja dikirim ke Kakilangit untuk misi latih tanding. Namun sebenarnya mereka hendak dibantai dan diubah menjadi tentara zombie.
Satu kejahatan tersingkap. Bocah Malapetaka mematahkan ketangguhan Sekte Kakilangit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hidayanthi alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Remuk Tulang
Sekawanan ahli medis membawa Tamma ke Graha Tabib. Sesampainya di salah satu bangsal pengobatan, beberapa perawat membantu memberikan pertolongan pertama untuk Tamma karena pelipis tergores cukup lebar, tulang sendi tangan kanan retak. Sementara itu, tampaknya Raphali lebih dulu berada di pembaringan satu bangsal itu juga. Ia melihat kedatangan Tamma.
"Bintani meremukkan tulangmu?" Raphali menghampiri Tamma sedang ditangani dua orang perawat.
"Dia mengalahkan Bintani," jawab seorang perawat.
"Apa?!" Raphali terbelalak. Menyaksikan Tamma terkulai lemas.
”Hati-hati membuka jirah!” kata perawat saat melepas jirah pelindung. Seragam berlapis anyaman keping besi, tampak memar di siku Tamma sangat parah, bengkak dan membiru.
Dua perawat lain memasang perban di pelipis Tamma dan seorang lagi masih berusaha untuk menindaklanjuti.
”Arrgh!” Tamma kesakitan.
”Sakit sekali?” tanya perawat, menghentikan balutan sejenak.
”Kepalaku pusing, aku tidak bisa merasakan apa-apa pada tanganku,” suara Tamma terdengar lemah disertai nafas terpatah-patah.
”Panggil tabib!” pinta perawat itu pada rekannya. Keempat perawat kebingungan, sesekali melihat kondisi Tamma mulai di ambang tak sadarkan diri.
”Jika tidak segera tertolong, darah yang tersumbat akan menjalar sampai nadi, itu dapat mengakibatkan kelumpuhan!”
”Cepat panggil tabib ahli saraf dan tulang!" kata perawat itu.
”Baiklah, tunggu di sini sebentar!” sahut rekannya bergegas meninggalkan ruangan. Sementara perawat lain hanya menunggu tanpa bisa memberikan pertolongan lebih.
”Dia berkeringat dingin!” seseorang perawat melihat kondisi gawat.
Tiba-tiba dari arah pintu, seorang perawat bercadar masuk tanpa permisi. Terburu-buru menghampiri Tamma.
"Apa lukanya parah?!” tanya perawat bercadar itu tidak sabar.
Tamma tersisa kesadarannya, melihat seseorang dikenalnya datang, ”Niratih ...,” ujar Tamma lirih perawat bercadar itu. Seseorang lagi bersamanya, yaitu murid pengobatan bernama Kayaning.
”Coba kulihat lukanya,” pinta Kayaning. Tanpa menunggu diijinkan. Sejenak menganalisa seberapa parah memar saraf dan tulang lengan Tamma.
”Selain retak dan terkilir, persendiannya geser. Belum lagi, urat saraf remuk parah," jelasnya membuat Niratih panik.
”Lalu bagaimana? Bisakah kau menolongnya?” Niratih tampak cemas.
”Ambilkan air es, serbuk herbal akar dosis tinggi dan lada hitam. Jangan lupa ditambah minyak zaitun!” pinta Kayaning dan cepat-cepat dilakukan ketiga perawat beserta Niratih. Beberapa saat kemudian. Mereka kembali dengan bahan-bahan tersebut.
”Apa yang sedang kau lakukan, Kayaning?” tanya seorang ketua perawat. Dua lainnya hanya memperhatikan apa yang dilakukan Kayaning. Murid pengobatan itu tak banyak bicara, fokus meluruskan tulang lengan Tamma dari pergelangan sampai pangkal lengan, lalu memutar sedikit ke arah berlawanan. Tamma sebentar berteriak kesakitan.
”Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Kayaning.
Tamma menggeleng pelan, ”Tidak ada.”
”Bagaimana yang ini?” Pijatnya beralih ke belakang punggung sampai leher. Sekali lagi Tamma menggeleng sebagai jawaban.
”Yang ini?” kali ini Kayaning berpindah area pijat di sekitar lekukan siku dan sedikit menekuknya.
”Aagh! Sakit sekali!!” ternyata Tamma merespon kesakitan.
”Persendian tulangmu bergeser hampir 90 derajat, remuk tulang rawan. Aku harus cepat melakukan ini karena jika terlambat ... kau bukan hanya lumpuh. Jaringan sel saraf dapat menjalar sampai leher dan punggung, jaringan saraf akan mati dan membusuk, itu artinya ... harus diamputasi!”
"Apa?!" Tamma lemas mendengar itu, orang-orang terperangah. Niratih terkejut, jadi kelabakan. Tetapi tidak bisa melakukan apa-apa selain berharap Kayaning menolong.
”Ini akan sakit sekali, kau harus tahan!” kata Kayaning. Tamma meronta.
”Tidaaak ...!!”
* * *
Salam dari NALA dan PENDEKAR TOPENG SERIBU 🙏🏻
sehat selalu dan sukses terus 🤲