Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22: Menjauh
Air matanya jatuh ke dagu dan kemudian jatuh ke celananya. Bulatan basah terukir di celananya. Pintu tiba-tiba terbuka dan tertutup dengan cepat. Suara kecil kaki melangkah, membuat Nara menghapus air mata yang terus mengalir. Pria itu sudah hampir dekat dengan sofa. Lagi-lagi Nara menghapus air matanya ynag asyik terjatuh tak bisa berhenti. Dadanya merasa pedih sekali. Dada kirinya seperti diperas dengan sekuat tenaga.
Pria itu telah datang ke hadapannya. Dia agak menunduk. Kedua tangannya berada dalam saku. Dia benci sekali saat melihat wanita yang ia cintai meteskan air mata di hadapannya hanya karena pernikahan. Janji seperti dia tidak akan kasar lagi dan yang lainnya, langsung ia lupakan. Perasaannya berkecamuk. Jika dia tidak menikahi wanita itu hari sabtu nanti, maka semuanya akan kacau. Dia harus menunggu lama dan mungkin saja Nara akan kabur darinya.
“Apa? Apa lagi? Tidak mau lagi?!” hardiknya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan frustasi. “Aku sudah bilang berjuta kali, kan?”
Nara tak bisa menghentikan tangisannya. Bentakan tadi begitu menusuk hatinya. Pikirannya terlintas kenangan sebelumnya. Ini menambah dirinya lebih sakit sampai keningnya berdenyut dan rasa sakitnya berlipat ganda daripada tadi. Nara menutup kedua matanya erar-erat sembari menitikkan air matanya. Pendengarannya sudah dengung. Kini kedua tangannya menyentuh dada dan perasaan takut menghantuinya.
“Apakah susah kau menikahiku?! Apa ada salahku padamu, Nara?! Kenapa setiap hari kau harus membuatku naik pitam?! Apakah tidak ada akal sehatmu?! Kau tak bisa lari! Aku sudah bilang beberapa kali, ha?! KAU TIDAK BISA LARI!”
Nara hanya mendengar sedikit saja suaranya. Kenangan itu tetap terlintas di mana dia sedang berlari, melihat jalan buntuh ditutupi banyaknya pepohonan rindang. Malam itu, malam yang berbahaya baginya.
“Lorence!” teriakan itu menggema di telinganya. Nama itu saja yang terpanggil dari tadi dan bisikan-bisikan lainnya yang membuat dirinya menggila.
Perlahan dia membuka mata. Menarik napas dengan cepat seraya menghapus air mata di pipinya. Dengan lambat diberanikan kepalanya mendongak dan melihat pria di hadapannya. Tatapan pria itu seperti serigala yang ingin menerkamnya. Tubuh pria itu bagai jeruji besi yang menghalanginya untuk keluar dari zonanya. Semakin lama Nara melihat pria itu, jantungnya berdetak semakin kencang. Air matanya kembali menetes.
“Cengeng,” ejek pria itu tanpa sedikit senyuman, “perlu kugantikan matamu dengan mata mainan, HA?! Jangan terus menangis di hadapanku! KAU MENGERTI?! MENGERTI ATAU TIDAK?!”
Nara terisak sekarang. Dadanya tak kuat menahan bentakan yang langsung menusuk di dadanya bagai pisau tajam. Lagi-lagi air matanya menetes.
“Oh, kau tidak mengerti rupanya,” pria itu menjawab sendiri dan melihat ke arah lain kemudian kembali menatap Nara, “perlu cara kasar? Kurasa, puluhan kali kubilang, kau tetap tak mengerti. Nara, kau sudah dewas, kan? Kau bukan anak kecil yang harus dibentak, kan? Aku ingin kau berhenti menangis untuk hal yang tidak perlu kau tangisi sekarang.”
Tetap saja Nara tak bisa berhenti menangis. Namun kali ini, bibirnya ingin berbicara.
“Adam... hiks... bila aku mati hari ini, apa yang akan terjadi padamu?”
Pria itu mengernyitkan alisnya sejenak.
“Kau tidak bisa membuatku sembuh dari kematian, kan? Hiks. Tidak bisa, kan? Hiks. Aku bukan milikmu. Aku milik Yang Maha Kuasa. Kau tak bisa memaksaku, Adam. Kumohon... aku bilang, aku tak siap hiks. Aku tak... siap hiks.”
Petir menyerbu dalam pikiran pria itu. Dia melangkah ke hadapan Nara. Tangan kanannya mencengkram pipi Nara. Erat sekali dan sakit.
“Aku sudah bilang, tidak ada penolakan di sini. Ini bukan negosiasi. Jika aku berkata A, ya harus A. Semenjak aku tidak kasar padamu, kau berani sekali seperti ini. Aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan kasar, tapi kali ini aku akan patahkan janji itu! Semua caraku akan kulakukan dengan cara keji dan kasar!” pria itu mengalihkan pembicaraan.
Nara menggeleng kaku. Pria itu melepaskan cengkraman di pipi.
“Adam hiks kurangi egomu. Kurangi semuanya, Adam. Kadar yang kau miliki, semua lewat dari kadar normal. Adam—”
“Diam!”
Nara terisak. Seribu katanya sirna dengan sangat cepat.
“Menikah denganku, hanya itu! Dan itu pun sulit kau lakukan! Kau pikir kau bisa kabur dari sini? Kalau kau kabur pun, aku bisa menemukanmu. Lagipula, setelah kita menikah, aku takkan berbuat apa-apa lagi. Kau hidup bahagia bersamaku. Dan itu pun sulit sekali untukmu?! Pintar... pintar sekali...,” pria itu menganggukkan kepalanya, “aku bisa menjadi baik di hadapanmu jika kau bisa memuaskan keinginanku.”
Pria itu mundur selangkah dan membalikkan badannya. Dia menatap bintang di langit lewat jendela. Nara perlahan berdiri. Kakinya tak sanggup menopang tubuhnya, terus bergetar, dan tak sanggup melangkah. Baru berdiri, belum lari. Kalau seperti ini, dia takkan bisa lari dari sini. Dia berharap pria itu tak membalikkan badannya dan membentaknya seperti tadi.
Namun, harapan itu sirna. Pria itu membalikkan badannya dan berdiri tepat di hadapan Nara. Tulang kaki Nara lebih bergetar lagi sampai-sampai dia jatuh dan duduk di sofa. Jantungnya berdebar tak karuan. Dadanya seperti tertahan sehingga sulit untuk mengambil napas. Mata berkaca-kacanya masih berani menatap pria itu. Tangisan tak bisa berhenti. Dia takut sekali pria itu akan memarahinya lagi.
“Lagi?!” hardiknya sembari mencengkram pipi Nara. “Aku benci tangisan itu!”
Dia melepaskan cengkraman itu dengan membuang pipi Nara ke kanan. Nara kembali menatapnya lagi.
“Sekali lagi tangisan itu keluar, jangan salahkan aku bila aku mencongkel kedua bola matamu,” ancamnya.
Setiap ancaman dari pria itu, pasti akan terjadi. Mau sekeji apa pun itu, pasti akan dilakukannya. Nara hilang akal apa yang mesti dilakukan untuk menghentikan tangisannya.
“Adam...,” panggil Nara dan bergegas berdiri lalu memeluknya erat-erat, “kumohon! Jangan!”
Air mata merembes lebih banyak lagi dan terjatuh ke kemeja putih milik pria itu.
“Aku tak peduli,” suara itu terdengar keras di telinga Nara. Pria itu tak membalas pelukannya kembali. Tubuhnya memanas, namun Nara tak ingin melepaskan pelukannya.
“Kumohon, Adam! Hiks! Kumohon!” Nara menjerit.
“Drtt... drtt... drtt,” ponsel pria itu bergetar. Dengan segera dia meraih ponsel dan di saat itu pula tangisan Nara redah.
Pria itu melihat nama penelpon. Temannya, Dino. Di matanya tergambar api yang berkobar. Bibirnya mengecil. Genggaman di ponselnya lebih erat. Dia menelan ludah lalu mengangkat teleponnya.
“Halo. Ini aku, Sarah. Maaf telah mengganggumu di jam segini. Apakah Nara ada di sana?”
Oh, Sarah. Apa yang dia inginkan? Batin pria itu.
“Ya, kenapa?” jawab pria itu singkat dengan intonasi sedingin mungkin.
“Bisakah aku berbicara dengannya?”
“Katakan saja padaku, aku akan memberi tahunya nanti.”
“Tapi... aku benar-benar harus bicara padanya. Boleh?”
“Hmm...,” pria itu bergumam. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia menekan simbol speaker untuk memperbesar suara.
“Sarah, bicaralah padanya,” ujar pria itu. Nara yang tadi memeluknya, kini melepaskan pelukan itu. Nara hendak mengambil ponsel itu, tapi pria itu menjauhkan ponselnya.
“Bicara sekarang,” titahnya. Nara mengangguk paham.
“Ya... ya, halo, Sarah? Ini aku, Nara,” Nara memberanikan dirinya untuk berbicara. Dia harus hati-hati dalam berbicara.
“Halo, Nara! Bagaimana kabarmu?”
“Baik dan kamu?”
“Sama. Oh ya, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke taman besok, kamu bisa pergi esok hari?”
“Umm...,” Nara berpikir. Dia tak bisa mengambil keputusan sekarang. Pria itu ada di sampingnya. Sebenarnya dia ingin pergi, tapi pria itu pasti tidak akan mengizinkannya. Nara memalingkan wajahnya ke pria itu. Pria itu menatapnya dengan tajam dan alis mengerut. Dia seperti berkata Nara tidak boleh pergi.
“Maaf, Sarah... aku tidak bisa. Maaf sekali.”
Pria itu mematikan speakernya. Dia mendekatkan ponsel ke telinga kanannya dan berkata, “Aku tidak mengizinkannya pergi. Terima kasih atas tawaranmu.”
Pria itu menutup ponselnya. Dilemparkan ponselnya ke sofa. Dia menatap Nara.
“Bagus, kau mengerti maksudku tadi.”
Nara meneguk ludah.
Jari pria itu menghapus air mata di pipi Nara. Emosinya menurun setengah. Dengan cepat, dia mendekap Nara. Dia membiarkan kepala Nara bersandar di tubuhnya. Tangan kirinya mengelus rambut panjang milik Nara. Dikecup ubun-ubun Nara. Nara diperlakukan seperti boneka kesayangannya.
-oOo-
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP