TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊
Ck, Gio beranjak dari tempat dudukanya, berjalan dengan langkah tergesa-gesa manakala mendapat kabar tentang keadaan Kinara yang tak baik-baik saja.
Sikap Gio yang tak biasa membuat Vino menatap curiga, tanpa fikir lagi secara diam-diam Vino mengikuti langkah sang adik, kemana pun Gio pergi.
"Giovani memang selalu bersikap aneh, ini pasti tentang Kinara," Pikirnya dengan menduga-duga.
Daaan
Sampailah Gio di halaman sekolah dimana Kinara berada. Pria muda itu segera menuju ke ruang UKS.
"Tak salah lagi," ucap Vino dalam hati.
Lelaki berwajah tampan nan rupawan itu hanya memperhatikan gerak gerik sang adik dari mobilnya, untuk memastikan apa yang sedang terjadi dengan Kinara.
-
"Apa yang terjadi, kenapa kau sampai pingsan, Kina?" tanya Gio selembut mungkin.
"Dia kelelahan, padahal aku sudah melarangnya agar tak ikut olahraga, tapi Reva tetap memaksa," Afkhar yang menjelakan sementara Kinara hanya tertunduk lesu.
"Perutku mual, kepalaku sakit dan tiba-tiba saja pandanganku gelap," jawab Kinara pula.
"Mu_mual....?"
Perasaan Gio mulai tak enak, fikiran negatif mulai meracuni otaknya.
"Ada apa kak?" Afkhar menangkap sinyal aneh dari sikap Gio.
"Ahh, tidak, tidak, itu tak mungkin terjadi," gumam Gio pada dirinya sendiri.
Sedangkan Kinara kini terdiam, gadis itu sadar betul apa yang kini tengah Gio fikirkan.
"Apa mungkin aku, ha..." Kinara menahan ucapanya sendiri.
Ingin rasanya Kinara berteriak sekuat tenaga, mengatakn pada dunia, bahwa saat ini dia sedang terluka, duka yang iya tanggung begitu beratnya.
"Bagaimana kalau aku hamil? bagaimana jika itu terjadi? apa yang harus ku jelaskan pada Ayah, apa yang akan orang katakan tentang aku, bagaimana teman-teman 1 sekolah akan membicarakanku. Hikz...!"
Pertanyaan itu terngiang di benak Kinara hingga tanpa tersa air mata di wajahnya luruh begitu saja.
"Reva, kau kenapa?" Afkhar benar-benar panik namun Kinara tak bergeming.
"Ayo kita kerumah sakit!" Ajak Gio.
"Tidak kak, aku ingin pulang ke rumah saja," pintanya lirih
Tak perlu berfikir lagi, Gio segera memapah tubuh Kinara dan membawa peri mungilnya itu untuk masuk ke mobil miliknya.
"Afkhar, tolong segera beri tahu gurumu, atau siapa pun yang harus di beri tahu. Katakan pada mereka, bahwa Kinara harus di bawa pulang!" Titah Gio dengan langkah tergesa-gesa.
Afkhar mengangguk mengiyakan seruan Gio padanya, dan segera berlalu dari hadapan Gio dan Kinara yang kini sudah berada di dalam mobil.
Di tempat yang tak cukup jauh, Vino memandang aneh sang adik yang membawa Kinara pergi dari sekolahnya.
"Ada apa lagi dengan gadis ingusan itu?" ucapnya dengan segenap kekhawatiran yang tak Vino sadari.
Ck. Gio melajukan mobil dengan kecepatan sedang, membawa Kinara berhenti di sebuah klinik.
"Kakak, aku tak mau kesana, aku mau pulang!" Tolaknya lembut.
"Kina, sayang, ada yang mau kakak beli, kau tunggu di sini ya!"
Seru Gio dan segera berlalu dari hadapan peri mungilnya dan segera kembali dalam waktu yang cukup cepat.
"Apa yang di beli, Gio? Kenapa cepat sekali, dan terburu-buru bagitu," batin Vino aneh manakala melihat sikap sang adik yang cukup mengherankan.
_
"Kina, kau gunakan ini besok pagi!" Seru Gio seraya menyodorkan benda kecil kepada Kinara.
"Kakak yakin?" Kinara mulai berlinang air mata.
"Sayang, apa pun yang terjadi kita harus hadapi ya," Gio menenangkan peri mungilnya.
Dada Kinara mulai terasa sesak. SAKIT benar-benar sakit batin gadis itu saat ini. Kinara tak pernah membayangkan jika masa mudanya hancur tanpa sisa.
"Kenapa aku, kenapa harus aku?"
Pertanyaan itu sering kali muncul dalam benaknya, sesak sekali jika mengingat apa yang terjadi, sakit sekali jika membayangkan betapa sangarnya Vino malam itu.
"Vino...!" Nama itu Kinara sebut mengiringi buliran bening yang membasahi wajah cantiknya.
Sementara Vino mengikuti laju Gio dengan sejuta tanya di benaknya.
"Huuuuuuuuh...!"
Lelaki tampan itu membuang nafas secara kasar, entah mengapa dalam waktu sekejab tiba-tiba Vino merasakan dadanya sesak luar biasa.
"Kenapa ini?" tanya Vino berkali-kali pada dirinya sendiri, menatap tajam sembari fokus dengan tujuannya agar tak kehilangan jejak.