NovelToon NovelToon
Bidadari Untuk Pria Pendosa

Bidadari Untuk Pria Pendosa

Status: tamat
Genre:Romantis / Fanfic / Contest / Tamat
Popularitas:85.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mei_Mei

Jalan takdir seseorang tidak ada yang tau, kita selalu berdo'a meminta yang terbaik tapi takdir Allah yang menentukan.

Dua hati yang memiliki rasa namun tidak bisa bersatu. Salah satu hati selau menolak untuk membalas perasaan itu. Ada alasan dibalik penolakannya, namun ia tak mau mengatakan alasan itu dan memilih memendamnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan mustahil

Tepat pukul 7 malam mobil sport milik Gibran baru memasuki garasi. Pria itu mengambil tas ransel dan menyampirkan ke atas punggungnya. Mengerucut untuk bersiul ria, seceria hatinya saat ini.

Kedatangannya disambut oleh kepala pelayan, tetapi pemuda itu tak perduli dan terus melanjutkan langkah.

Barulah langkah itu terhenti saat telinganya mendengar suara Haidar batuk terus menerus.

"Pa ... Papa sakit?"

"Papa cuma kelelahan," jawab Haidar menahan suara batuk.

Gibran mengurungkan niat untuk masuk ke kamar, pria itu duduk di sofa seberang Haidar. Pandangan Gibran tak teralih dari wajah sang ayah yang nampak jelas guratan-guratan tuanya. Ia baru menyadari jika sang ayah tak lagi muda, tak lagi kuat untuk terus menerus bekerja. Mengurus beberapa anak cabang yang tersebar hingga manca negara.

"Affan udah bawa Papa periksa?"

"Hari ini Affan ijin cuti setengah hari untuk mengurus sesuatu dengan calon tunangannya."

"Gara-gara itu juga Papa kelelahan. Aturan Affan gak usah dikasih cuti."

"Dia juga punya kepentingan sendiri, Gibran. Papa gak mungkin ngelarang. Affan sudah berumur, butuh seorang pendamping."

Gibran melengos, ini salah satu hal memuakkan saat papanya selalu membela dan mengunggulkan sekretarisnya yang bernama Affan itu. Seolah pria itu lebih unggul statusnya dibanding ia yang anak kandung. Terang-terangan Gibran merasa iri dan cemburu akan perhatian papanya ke Affan.

"Begitu juga dengan kamu, Gibran."

"Aku?" Gibran menunjuk dirinya sendiri.

"Belajarlah serius untuk menata masa depan. Papa sudah tua, gak bisa selamanya memantau dan menasehatimu. Belajarlah dewasa, tinggalkan hal yang tidak penting. Fokus untuk lulus kuliah, setelah itu Papa akan menyerahkan jabatan direktur untuk kamu."

"Papa jangan bicara hal itu. Papa belum pernah memantau Gibran, jangan berpikir yang aneh!" Urusan perusahaan, masih ada Affan. Dia pasti bisa handel perusahaan."

"Seseorang gak ada yang tau tentang umur, Nak. Papa cuma khawatir, saat Allah memanggil dan Papa belum menyelesaikan tanggung jawab sebagai orang tua, yaitu membimbingmu ke jalan benar dan mengamatimu dalam bahagia."

"Papa udah deh, jangan bicara asal lagi. Kita akan tetap seperti ini, Pa. Papa akan sehat seperti biasanya."

'Kamu tidak tau, Gibran. Papa sekuat tenaga bertahan demi kamu,' batin Haidar.

"Nak, jika Papa mengharapkan satu permintaan padamu, apa kamu akan mengabulkannya?"

Gibran bergeming, hanya gerakan bola matanya yang melirik ke sana kemari seperti sedang menimang sesuatu. Menyanggupi atau menolak. Sebenarnya ini bukan sikapnya, karena seorang pemuda bernama Gibran Aleidro Haidar tidak akan memperdulikan papanya. Ia selalu bersikap cuek.

"Papa pengen melihatmu berjodoh dengan Aisyah."

"Apa, Pa?" Gibran terperanjat sampai terbangun dengan gerakan tiba-tiba. "Aih, Papa ngacok! Ngomong ngawur!" ucapnya.

"Papa serius, Gibran." Pria paruh baya itu kembali terbatuk-batuk. Terlihat menahan sesak yang membuatnya sulit bernapas. Gibran berteriak memanggil kepala pelayan untuk mengambilkan air minum.

Kepala pelayan tergopoh-gopoh membawa air minum untuk majikannya. Memberikan gelas pada Gibran.

"Minum dulu, Pa." Gibran membantu dengan memegangi bagian ujung gelas.

Setelah air minum mengaliri tenggorokannya, batuk Haidar mulai mereda. Pria paruh baya itu kembali menatap Gibran. "Gibran," panggilnya lirih.

"Pa, jangan dilanjutkan omongan yang gak masuk akal! Mendingan sekarang Papa istirahat." Baru ini seorang Gibran menunjukan perhatiannya pada papanya. Untuk biasanya ia selalu membantah dan bersikap dingin. Sedari tadi mendengar suara batuk papanya yang tiada henti membuat rasa khawatir tiba-tiba hadir. Ada rasa takut yang menelusup.

"Papa gak akan istirahat dengan tenang sebelum melihat kamu bahagia, Nak." Kata istirahat yang diucapkan Haidar berbeda makna dengan ucapan Gibran.

"Apa Papa tau seperti apa kebahagiaan Gibran sesungguhnya? Gibran akan bahagia jika Papa lebih banyak waktu untuk Gibran. Bukan hal lain-lain. Hanya itu yang membuat Gibran bahagia."

Dan baru kali ini keduanya berbincang serius.

"Setiap orang tua ingin memilihkan yang terbaik untuk anaknya. Papa yakin, Aisyah perempuan baik yang bisa membimbing dan merubah kebiasaan burukmu."

"Gak usah bahas ini, Pa. Atau kita akan berdebat lagi. Papa tau sendiri, seperti apa Gibran gak suka sama cewek sok suci itu. Mana Papa pakek acara mau jodohin? Jelas Gibran menolak."

"Kamu belum kenal dia. Kamu gak bisa bedain, mana gadis shalihah sama gadis biasa? Alangkah beruntung pria yang menjadi jodoh wanita shalihah," ujar Haidar.

"Terserah penilaian Papa. Yang pasti Gibran menolak permintaan Papa." Setelah mengatakan itu Gibran bangkit dan melenggang pergi untuk masuk ke kamarnya.

"Nak Gibran, sepertinya hari ini kurang fokus?"

"Maaf Pak Kiai, saya memang lagi ada pikirkan, jadi kurang nyimak."

"Apa kita sudahi aja hapalan hari ini? Kata Idar kamu sedang sibuk kuliah akhir semester?"

"Terserah Pak Kiai saja."

Seharian ini hari Gibran dipenuhi pemikiran tentang percakapan papanya bersama Affan. Pagi tadi, ia tak sengaja mendengar percakapan singkat antara Affan dan papanya.

"Tuan Besar, sebaiknya kita beritahu saja, daripada Tuan Muda terlambat mengetahui alasan Anda."

"Tidak, Fan. Aku lebih tau Gibran dari siapapun, dia keras kepala dan tidak bisa dipaksa. Biarkan semua seperti ini."

Ia tidak tahu apa maksud percakapan itu. Ada alasan apa yang disembunyikan papanya bersama Affan?

"Assalamualaikum, Abi ... Mas Gibran." Aisyah mengucap salam ketika memasuki rumah.

"Walaikum salam," jawab Abi Muhsin. Sedangkan Gibran belum usai menyelami pemikirannya sampai mengabaikan salam dari Aisyah.

Aisyah mengerutkan dahi saat melihat Gibran melamun. Merasa aneh melihat Gibran tidak seperti biasanya.

"Ais, Abi kebelakang sebentar," kata Abi Muhsin. Lalu Aisyah mengangguk, ia tahu maksud abinya, agar ia menemani Gibran sebentar.

"Ada orang ngucap salam kok gak dijawab. Mas ke sini cuma numpang ngelamun doang?" sindir Aisyah yang sudah duduk di seberang Gibran.

Gibran yang tersadar langsung mengalihkan fokus menatap Aisyah.

"Kalau ada lu, mood gue langsung ancur!" sentak Gibran.

1
Laila Purnama sari
baru juga mau di mulai konflik ny mlh gantung
Laila Purnama sari
kakak ihh lanjut dong cerita nyyaaaa penasaran tauuu ihhh
mastura librae
bagus cerita nya
Lintang Salsa
bagus bnyak pesan moralnya...👍
Aliya Jazila
cerita nya udah tamat
AR Althafunisa
tapi udah end koq ceritanya tak berujung 😂😂😂
Akak Mei: Iya, ceritanya gantung. Jadi belum nemuin ujung.🤭
total 1 replies
sakinah febriani
is thebest👍
Agus Susanto
😍😍😍
Tutik Yunia
status sudah tamat tapi gantung.
Sumi Sumi
akak certa ini d lanjut dong penasaran ama kisahny Aisyah
Sumi Sumi
lanjut
Sumi Sumi
penasan sama ais
Sumi Sumi
lanjut akak mei
Sumi Sumi
lanjut
Sumi Sumi
ga aneh aneh umi cuma lancang
Sumi Sumi
ya ampun gibran lancang banget kamu
Sumi Sumi
maksudnya apa tuh ngomong asal nyablak ,,
Sumi Sumi
ayo lo abang Gibran nanti keduluan sama abang faris nyesel lo
Sumi Sumi
awas lo nanti bucin
Sumi Sumi
mantan itu sesuatu yg udah d lepeh jangn d jilat lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!