KARYA INI HANYA FIKSI BELAKA, APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT ITU HANYA KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN.
DILARANG KERAS PLAGIAT!!! SEMUA ISI DARI NOVEL REAL DARI IDE DAN PEMIKIRAN SAYA SENDIRI.
SEGALA TINDAKAN YANG TIDAK BAIK DALAM CERITA TIDAK UNTUK DITIRU. AMBIL SISI POSITIFNYA SAJA!!!
Pemuda tampan,gagah dan kekar itu bernama Yusuf. Ia hidup berdua dengan kakeknya.Kehidupan yang ia jalani bisa dikatakan serba kekurangan dengan menjadi kuli cangkul ataupun serabutan disawah.
Rasa sayang pada kakenya, membuat ia mampu untuk tetap berdiri tegak dan mengesampingkan segala sesuatu yang tidak terlalu penting.
Dilema dengan dua pilihan yang sama-sama berarti dalam kehidupannya.Pergi atau tetap tinggal.
Kehidupan yang tak selalu mulus, meski berulang kali yang disebut kematian membuatnya seakan putus asa. Mencintai gadis yang sudah tiada adalah hal yang paling menyakitkan.
Hingga hampir mustahil untuk membuka kembali lembaran yang telah penuh dengan goresan tinta.
Bagaimana cara untuk menghapus???
Atau memberi lembaran baru untuk menghapus yang telah usang.
Bagaimana kisah Yusuf, Muluskah perjalanan cintanya? Bagaimana kisah hidupnya saat cinta yang baru telah tumbuh dihatinya?
Yukk.. Simak terus kisah perjalan hidup dan cinta Yusuf sampai selesai ya.Maaf update nya tidak menentu, jadi mohon bersabar untuk para reader. Tapi insyaa Allah author akan menyelesaikan hingga tamat.
Karya ini orisinil ya para readers..
Semoga bermanfaat dan banyak hikmah yang bisa diambil..
mohon dukungannya supaya author lebih gigih, dan lebih baik lagi dalam pembuatan naskah. 😍🙏
Selamat membaca para readers....... Dukunganmu, Semangatkuu...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatul Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Sengaja Menabrak
Esok hari Hasan menganggap bahwa kejadian semalam hanyalah mimpi belaka. Yang tidak akan pernah terjadi walaupun ancaman itu begitu mengerikan.
Sementara kakaknya Ajeng, masih enggan untuk keluar dari kamarnya. Dia masih diselimuti oleh hangatnya selimut bulu. Malam itu dia seolah menenangkan adiknya, namun hatinya sendiri diliputi oleh rasa takut yang begitu luar biasa.
Keringat dingin bercucuran keluar dari keningnya. Seolah menandakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
'Tumben sekali Kak Ajeng jam segini belum bangun. Ada apa dengannya? Apa sengaja bangun siang?' Gumam Hasan dalam hatinya.
Pagi itu Hasan pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi hitam. Aromanya sangat menggoda sekali. Ditambah masakan Ibunya yang masih diatas kompor yang menyala. Entah baru ditinggal kemana.
Dari arah belakang Bu Halimah yang sedari tadi sibuk memasak dan sesaat setelah ditinggal sebentar ke kamarnya,memanggil Hasan dan bertanya,
"Has, tumben Kakakmu belum keluar dari kamarnya? Biasanya dia yang paling awal bangun dan membuat teh," tanya Bu Halimah keheranan.
"Nggak tau Bu. Apa Hasan cek aja ke kamar Kakak?"
"Iya sudah sana. Bangunkan supaya bersiap untuk sarapan.Ini sudah mau matang semua."
"Ada apa sih Bu?" tanya Pak Cokro yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Itu Pak, Ajeng tumben sekali jam segini belum bangun." Jelas Bu Halimah.
"Mungkin kecapekan kali Bu," sahut Pak Cokro sambil bergegas menuju kamar mandi.
Hari ini Pak Cokro memutuskan untuk pergi ke Jogja untuk mengecek usahanya itu.
Hasan lalu bergegas menuju kamar kakaknya. Ingin mengetahui apa yang terjadi. Tak butuh waktu lama,Hasan mengetuk pintu kamar Ajeng.
Tokkk..Tokk..Tokk..
"Kak..." panggil Hasan dari luar.
"Masuk aja Has!" Pinta Ajeng yang enggan beranjak dari kasur empuknya itu.
Hasan masuk ke kamar kakaknya. Ia kaget melihat kakaknya yang sudah menggigil kedinginan.
'Kenapa Kak Ajeng jadi seperti ini ya? Tadi malam padahal dia sendiri yang menenangkanku agar tidak khawatir soal itu. Apa Kak Ajeng menyembunyikan rasa takutnya itu sendirian?'
Gumam dalam hatinya. Melihat kakaknya yang tak berdaya, Hasan benar-benar tidak tega.
"Wajah Kak Ajeng kenapa pucat?" Hasan terlihat panik sekali. Sambil sesekali menyentuh kening kakaknya.
"Sudah Has, Kakak tidak apa-apa."
Masih saja Ajeng menenangkan adik kesayangannya itu. Walau terkedang mereka ramai sekali hanya berselisih paham. Kadang tidak akur, saling ledek.
"Tidak mungkin, kali ini Kakak tidak bisa membohongiku. Lebih baik kita ke klinik aja. Aku tidak mau Kak Ajeng jatuh sakit lebih parah lagi nantinya," pinta Hasan dan memapah kakaknya untuk masuk ke mobil.
"Loh ada apa Has? Kakakmu kenapa???" Bu Halimah terlihat sangat khawatir.
"Kak Ajeng drop Bu, sepertinya dia terlalu banyak pikiran. Hasan mau bawa Kak Ajeng ke Klinik."
"Ya sudah, segera Has, kasian kakakmu. Wajahnya terlihat pucat sekali.
"Iya Bu," singkat jawab Hasan.
Hasan bergegas menuju 'Klinik Sindoro'. Tidak jauh, mungkin hanya kisaran 2km dari rumahnya.
Beberapa menit kemudian sampailah di Klinik Sindoro. Mulailah pemeriksaan pada Ajeng. Dokter mengambil alat tensi darah.
"Mbak, Mbak ini terlalu stres banyak pikiran, kurang tidur. Jadi tekanan darahnya ikut down. Saya sarankan agar beristirahat yang cukup. Ini nanti resep obat buat Mbak, bisa ditebus di depan," kata Dokter muda, berkulit putih dan ganteng itu.
"Iya Dok, terimakasih," jawab Ajeng dengan nada yang lemas.
Lalu Hasan memapah kakaknya keluar dari ruang pemeriksaan dan segera menebus resep obat yang diberikan dokter itu.
"Kan, Apa Kakak bilang, aku tidak apa-apa Has."
"Sudah diam aja Kak. Sekarang ketahuan bohongnya, kan. Dokter bilang Kak Ajeng stres karena banyak pikiran. Hasan tau apa yang Kak Ajeng pikirkan." Jawaban Hasan membuat Ajeng tidak bisa berkelit lagi.
"Iya sudah-sudah, jangan bahas lagi!"
Saat mobil yang dikendarai Hasan melaju dengan kencang, tiba-tiba saja dari arah yang berlawanan terlihat seorang perempuan yang sedang berlari. Seperti sedang dikejar-kejar rentenir. Lari tanpa menengok kanan kiri.
Brrroookkkkk....
Hasan tidak sengaja menabraknya. Perempuan itu berlari tanpa melihat arah depan. Seketika Hasan menginjak pedal remnya.
Cciiiiittttttttt.....
Ajeng kaget dibuatnya, badannya ikut terpental ke depan.
"Has, kenapa ini Has? Kau menabrak orang Has?" Ajeng mulai panik.
"Aku tidak sengaja Kak, dia berlari tanpa melihat arah." Hasan ikut panik.
"Has, keluar Has, tolongin dia.Kasihan," pinta Ajeng.
Hasan bergegas keluar dan menghampiri perempuan yang tidak sengaja ia tabrak.
Ternyata seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu meringis kesakitan. Tangannya terlihat lecet mengeluarkan darah karena tergesek dengan aspal.
"Maaf kan saya Mbak, apa ada yang terluka Mbak?" tanya Hasan.
"Tidak apa-apa Mas, ini salah saya, maafkan saya! Saya yang berlari tidak melihat arah," sambil gadis itu mencoba untuk berdiri. Namun sepertinya dia tidak mampu untuk berdiri sendiri.
"Maaf Mbak, sepertinya Mbak terluka. Sebaiknya ke rumah saya saja. Di dalam ada Kakak saya. Mari saya bantu Mbak berdiri, tapi maaf sebelumnya," hmm sejak kapan Hasan jadi lemah lembut seperti itu.
Hasan memapah gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya. Berharap bisa menyembuhkan lukanya itu.
Saat membuka pintu mobil, gadis itu terbelalak, ternyata kakak dari lelaki tampan ini adalah gadis yang waktu itu secara tidak langsung ia buat celaka.
Gadis itu spontan ingin pergi berlari, namun dari dalam Ajeng meminta untuk tetap ditempat.
"Loh Mbak, Mbak kan yang waktu itu di sungai itu kan. Nama Mbak, Reni bukan?" tanya Ajeng menyelidik.
Gadis itu malah semakin ketakutan dan tidak berani melihat Ajeng yang berada didepannya.
"Iii.. Iya Mbak. Saya Reni, maafkan saya Mbak. Saya hanya disuruh oleh Sura. Sekali lagi maafkan saya." Sambil merengek-rengek Reni memohon maaf pada Ajeng.
"Iya, sudah tidak apa-apa. Saya sudah memaafkan kamu. Maafkan adik saya sudah menabrak kamu." Ajeng berbalik meminta maaf.
"Tidak Mbak, saya yang salah," Reni mengelak.
"Sudah, masuk saja, nanti biar kami obati lukamu itu."
Hasan hanya terdiam dan terheran-heran, apa yang sedang mereka bicarakan. Kenapa kata maaf yang terlontar dari gadis bernama Reni itu.
Beberapa menit kemudian mobil melaju, dan sampailah dirumah Ajeng.
Hasan bingung, siapa yang mau dia papah lebih dulu menuju kedalam rumah.
" Sudah Mas, tidak apa-apa saya bisa jalan sendiri, Sebaiknya Mas memapah Mbak Ajeng, kasihan dia terlihat sangat pucat."
Setelah mengantarkan kakaknya kembali ke kamarnya, Hasan kembali ke mobil. Masih ada satu orang yang menjadi tanggung jawabnya saat itu.
Saat ia kembali, Reni sudah berusaha untuk keluar dan berjalan sendiri. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti dan sudah mau terjatuh ke tanah. Namun dengan sigap Hasan berlari dan menangkap tubuh Reni. Ternyata Reni pingsan, saat itu juga Hasan menggendongnya untuk masuk ke dalam.
'Aku tidak tau apa yang terjadi sebelum ini antara kakakku dan gadis ini. Tapi... Lumayan juga gadis ini. Dia terlihat begitu polos. Apa yang terjadi dengannya sampai-sampai seperti orang yang dikejar-kejar rentenir?'
Gumam Hasan dalam hatinya seraya mentap gadis itu lekat-lekat.
Hasan meletakkan Reni di sofa ruang tamu, dan mengambil kotak P3K. Sedangkan kakaknya beristirahat didalam kamar. Keadaan rumah sepi, ternyata Ibunya ikut pergi ke Jogja bersama Pak Cokro suaminya.
Hasan membuka botol kecil minyak kayu putih dan diletakkan tepat didepan hidung Reni. Berharap Reni cepat sadar.
Beberapa saat Reni mulai membuka matanya. Dia merasa pusing, terlihat saat tangannya memegang kepala saat ia sadar.
"Ma.. Maaf Mas, saya jadi merepotkan." Ucap Reni sambil terbata-bata.
"Ah tidak Mbak, santai aja. Mbak ini dari tadi minta maaf melulu, apa nggak capek?" Melirik ke arah Reni.
"Hehe, ya nggak capek sih mas. Cuman ngluarin suara." Sambil Reni tersenyum kecil.
Saat Reni ingin bangun dari posisinya saat itu, tubuhnya tidak kuat menahan rasa sakitnya. Tidak sengaja tangannya memegang tangan Hasan dan alhasil Hasan ikut tertarik.
Brroookkk... Uupppssss...
Bibir mereka secara tidak langsung saling bersentuhan.
Dengan cepat aku bangun dari posisi yang membuat kami menjadi kikuk seperti ini.
'Apa ini, apa kami berciuman??? Apa??? Berciuman dengan orang yang tidak dikenal. Ini ketidak sengajaan. Apa yang harus ku perbuat. Ini sungguh konyol sekali.' Hasan menjadi salah tingkah.
"Maafkan saya Mas, maaf, saya tidak sengaja. Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan Mas dan Mbak Ajeng. Ini semua salah saya. Karena saya semua ini terjadi. Maaf Mas," wajah Reni penuh dengan penyesalan.
Dia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Ini semua ketidaksengajaan. Tidak terasa air mata Reni menetes.
"Sudah jangan menangis Mbak. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini ketidaksengajaan. Lagian saya nggak minta ganti rugi, kan?" sebenarnya Hasan sangat gugup saat melihat wajah gadis itu.
Reni hanya bisa tertunduk dan terdiam menahan rasa malu.
"Saya ingin pulang saja Mas," pinta Reni.
"Mbak gimana dengan kondisi seperti ini ingin pulang sendiri. Sini luka Mbak saya yang obati," sambil mengolesi luka itu menggunakan betadine dan kapas.
Reni terdiam tanda mengiyakan ucapan Hasan.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih Mbak, kenapa tadi seperti dikejar-kejar rentenir???" Tanya Hasan menyelidik.
"Se.. Sebenarnya saya akan dijodohkan dengan lelaki pilihan Bapak saya. Tapi saya tidak mau. Saya sama sekali tidak mengenal siapa yang menjadi calon suami saya. Saya takut Mas." Reni berterus terang pada Hasan yang saat itu tengah diliputi rasa penasaran.
"Em, kenapa Mbak dijodohkan? Apa Mbak tidak punya kekasih?" Hasan semakin penasaran.
"Sebenarnya saya punya kekasih Mas, tapi perlahan dia mundur karena mengetahui Bapak saya terang-terangan menentang hubungan kami. Bapak saya menginginkan calon suami dari kalangan yang berada, tapi bagi saya, saya sadar siapa diri ini. Bagi saya, bisa menerima kekurangan dan kelebihan dan mampu untuk saling mengisi, saling menyanyangi itu sudah cukup menjadi kriteria saya."
'Ya Alloh Gusti... Betapa polosnya gadis ini.' dalam hatinya Hasan sangat salut terhadap gadis bernama Reni itu.
"Sekarang saya mau pulang saja Mas, Terimakasih banyak atas pertolongannya. Nanti tolong sampaikan saja pada Mbak Ajeng rasa terimakasih saya yang mendalam." Pinta Reni seraya ia pamit.
Reni berusaha berjalan sendiri walaupun agak tertatih-tatih. Hasan pun berlari menyusul Reni. Ia tanpa sadar memegang tangan Reni.
"Sebentar Mbak, saya antar sampai rumah." Hasan bergegas menuju mobilnya.
"Tidak Mas, tidak usah, saya bisa sendiri kok." Ucap Reni.
"Sudah, Mbak bisa nggak sih menurut saja. Lihat keadaan Mbak seperti ini, kalau ada apa-apa dijalan. Siapa yang akan bertanggung jawab???" Hasan agak melotot.
Reni hanya tertunduk diam dan mengikuti Hasan untuk masuk ke mobilnya. Sebenarnya jarak dari Dusun Kali Jati dan Dusun Lembang tidaklah jauh. Akan tetapi sudah jadi kebiasaan Hasan kemana-mana dengan mobil kesayangannya itu. Kecuali kalau cuman ke warung ya. Ahihi.. Jalan kaki aja.
sekarang anak2 lebih Suka main hp ,fb atau game online, disuruh ikut latihan beladiri aja di kelurahan gak mau😔😔
Nampaknya Ajeng nih yg mulai jatuh hati
Tentang realita kehidupan yg sebenarnya
gak halu
😘😘😘😘
semangat terus...
😍😍