Kisah berlanjut......
Ig:Mel.a8813
bukan novel update tiap hari 🙏
Kisah cinta romantis anak-anak dari lanjutan novel MENIKAHI PRIA DEWASA 1&2.
Kisah cinta Malik dan keysha tak lekang oleh waktu, walaupun keduanya semakin tua dan anak-anak tumbuh beranjak remaja.Keysha dan Malik selalu berusaha menciptakan keharmonisan rumah tangga.Dan saling percaya dan selalu menjaga perasaan masing-masing.
Kiran tumbuh menjadi gadis yang cantik, berkulit putih dan kini Kiran duduk di bangku sekolah SMA kelas 12.Sementara Kenzo dan Kai duduk di bangku sekolah SMP.Dan si bungsu Kenzie masih SD dan sangat manja kepada ayah dan ibunya.Kiran tumbuh sama seperti ketiga adiknya memiliki kemiripan dengan sang ayah Malik walaupun Malik bukan ayah kandungnya,dan Kiran selalu berusaha untuk bersikap adil kepada ayah kandung dan ayah sambungnya walaupun sulit dan serba salah.
(DI SARANKAN UNTUK MEMBACA NOVEL MPD SATU ATAU DUA)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Berbeda dengan Kiran gadis itu tengah dilema dan merindukan saat-saat nya menggoda Zain, tapi tidak mungkin dia berani mendekati Zain karena ada foto itu.Entahlah, Kiran benar-benar merasa bimbang.
"Dylan?"panggil Kiran saat melihat Dylan menggendong tas nya padahal jam istirahat masih berlangsung dan bukan jam pulang sekolah.Kiran terkejut saat melihat Dylan berlari dan sekilas melihat laki-laki itu mengusap air matanya.Kiran bangkit dari duduknya dan ingin menyusul Dylan,entah mengapa sahabatnya itu sangat pendiam akhir-akhir ini.Dan tidak mau menceritakan apa-apa kepada Kiran.Tidak seperti biasanya.
Tangannya di tarik oleh Yuta dan Kiran membentur dada Yuta.Kidan dan Yuta saling menatap lekat dan Kiran berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku!"
"Sebentar lagi jam istirahat berakhir kau mau kemana?"Yuta menahan Kiran,dan Kiran mendorong dada Yuta kasar sampai Yuta terdorong kasar.
"Kiran ayo"ajak Sani karena lonceng berbunyi,jam pelajaran akan kembali berlangsung.Yuta terdiam dan memegang dadanya, jantungnya berdetak kencang dan Yuta membuang nafas kasar.
"Gadis itu"katanya dan menatap kepergian Kiran,lalu berlari menyusul nya.
******
Pulang sekolah.
Kiran terus berusaha menelepon Dylan, mondar-mandir gelisah tidak karuan.Dan Dylan tidak mengangkat teleponnya.
"Kiran"panggil seorang murid laki-laki yang juga satu kelas bersama Kiran.
"Ada apa?"tanya Kiran.
"Ponsel Dylan tertinggal"murid itu memberikan ponsel Dylan dan Kiran menerimanya.Kiran baru paham kenapa Dylan tidak mengangkat teleponnya."Aku duluan ya,bye"
"Oke terimakasih ya, hati-hati"teriak Kiran yang juga melambaikan tangan, Kiran tidak bisa membuka kunci ponsel milik Dylan dan kedua matanya membulat saat melihat wallpaper ponsel Dylan adalah wajahnya."Berani sekali dia"kesal Kiran dan memasukkan ponsel Dylan ke dalam tas nya.Kiran menoleh saat melihat mobil datang dan itu adalah Ken, Kiran sontak berlari dengan cepat,namun Ken terlanjur melihatnya dan Kiran kembali masuk ke dalam kelas bersembunyi di kolong meja.
Ken tersenyum dan melangkah untuk menyusul Kiran,namun ponselnya berdering dan panggilan masuk dari karyawan toko nya.Ken langsung mengangkat telepon.
"Ada apa?aku sudah bilang jam segini jangan menelepon ku"imbuhnya kesal membuat karyawan di seberang sana tersentak kaget.
"Bos,begini wanita itu tetap memaksa ingin membeli lukisan itu.Dia membawa uang dan meletakkannya di atas meja, pengunjung lain jadi terganggu bos"adu nya dan wanita yang menunggu kedatangan Kenan, melipat kedua tangannya di dada tidak akan menyerah sebelum lukisan itu menjadi miliknya.Ken mematikkan panggilan dan mencengkram kuat rambutnya.
"Astaga,mau apa lagi gadis itu"Ken kesal dan melirik ke kelas Kiran sekilas lalu melangkah mendekati mobilnya dan masuk, lalu pergi.Zain yang melihat kepergian Ken,keluar dari belakang tembok dan melirik kelas dimana Kiran berada lalu melangkah kesana.
Kiran membungkam mulutnya dan ponselnya berdering,membuat Kiran kaget dan menurunkan volume suara ponselnya.Panggilan masuk dari Zain.Zain mengintip dari luar kaca jendela dan tersenyum tipis.
"Membuatku kaget saja,huff"Kiran membuang nafas kasar dan menerima panggilan dari Zain."Kenapa?"tanya nya masih tetap siaga dan menatap pintu kelas yang dia tutup tadi.
"Kau dimana?"
"Di sekolah"
"Kenapa belum pulang,seharusnya kau sudah sampai di rumah"protes.
"Aku sedang ada kelas tambahan"membual.
Zain terkekeh mendengarnya dan Kiran mengernyit.
"Kenapa dia tertawa?dia pikir lucu apa"Kiran bergumam.
"Mau aku jemput?"Zain melangkah perlahan,dan menyapu sekeliling sudah sangat sepi.
"Mau,eh!"Kiran keceplosan dan menepuk dahinya sendiri, Zain tersenyum lebar menahan tawanya."Maksudku.."Kiran berhenti bicara saat pintu kelasnya terbuka dan langkah kaki seorang pria melangkah masuk, Kiran menutup mulutnya dan memperhatikan kaki yang tengah melangkah itu.
Zain melangkah maju, berbelok, melewati meja yang menjadi tempat bersembunyi gadis itu, mempermainkan.Baru saja Kiran bernafas lega karena kedua kaki pria itu keluar dan kembali panik saat Zain malah masuk kembali dan melangkah pelan mendekati meja dimana Kiran bersembunyi.
Tok tok tok.. Zain mengetuk meja tersebut dan Kiran terkejut melihat kedua kaki besar di hadapannya.Tidak mau dia keluar.Zain menundukkan tubuhnya dan berlutut dengan kepala yang masuk ke bawah meja membuat gadis itu terkejut.Kedua matanya membulat dan bukan Ken yang sedari tadi mondar-mandir di kelasnya tapi Zain menjahilinya.
"Ayo keluar"ajak Zain dan Kiran menggeleng.
"Aku nyaman disini"jawabnya dan membuat hembusan nafasnya menerpa kulit wajah Zain begitu juga Kiran merasakan hal yang sama.
"Keluar atau aku akan meninggalkan mu"bangkit dan Kiran buru-buru keluar.
"Sedang apa kalian?"teriak seorang guru yang memergoki Kiran dan Zain, Kiran terkejut dan Zain melangkah santai menarik tangan gadis itu mendekat kepada guru tersebut."Kalian berbuat mesum ya?"tuduhnya dan menatap Kiran lekat."Kiran?ya ampun nak jadi kamu seperti ini?"tuduhnya lagi.
"Bukan begitu pak,ini salah paham"Kiran berusaha melepaskan tangannya tapi tidak bisa.
"Jangan banyak alasan,ayo ikut ke kantor kalian berdua tunggu sampai orang tuamu datang"seru pak guru marah.
"Saya mohon maaf karena membuat bapak salah paham,saya yang biasa menjemput Kiran,saya sekertaris ayah dari Kiran dan anak ini entah kenapa tidak mau pulang dan bersembunyi di kelas ini pak."Zain menjelaskan.
"Apa benar Kiran?kenapa kamu tidak mau pulang?"
"Aku sedang ada masalah pak"tutur Kiran dan membuat Zain menoleh menatapnya lekat,menatap gadis itu yang langsung menundukkan kepalanya.
"Bapak tidak akan bertanya masalah nya apa, karena ini sepertinya masalah keluarga.Tapi kalau sudah jam pulang sekolah mending kamu pulang,bapak kenal sama papa kamu pasti dia khawatir,semua orang tua akan khawatir jika anaknya tidak ada pulang"bapak guru melirik jam dinding dan benar saja sudah terlewat jauh dari bubar sekolah, Zain mengangguk dan bapak guru harus mendongak saat melihat pria itu."Ya sudah pulang ayo,leher bapak sakit"keluhnya dan memegang lehernya.
Zain dan Kiran keluar mengikuti pak guru, lalu keduanya berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan Kiran diam dan Zain meliriknya berulang kali.
"Ada masalah apa?"tanya Zain dan Kiran menoleh padanya."Aku tidak bisa membantu jika kau tidak mengatakannya padaku,kau bisa menceritakan segalanya padaku apapun itu"mengusap-usap rambut Kiran lembut dan Kiran terdiam menatap Zain lekat.
"Aku tidak mau"Kiran menepis tangan Zain kasar dan berpaling.Zain melewati sebuah taman dan menghentikan mobil lalu mundur sampai berhenti di pintu masuk taman.Kiran menatap sekitar dan Zain turun, memutari mobil dan membukakan pintu lalu melepaskan sabuk pengaman gadis itu dan mengajaknya keluar,lalu masuk ke dalam taman.Mengajak gadis itu berdiri di bawah pohon rindang.
"Kenapa mengajakku kemari?"Kiran bertanya dan menyapu sekeliling, Zain menarik tangannya dan membuat Kiran menbentur dada besar nya.Kiran mundur menjauh, menekuk wajahnya dalam-dalam.
"Katakan padaku masalahnya apa, masalah seperti apa yang kau katakan tadi kepada guru mu.Jika aku bisa aku akan membantumu,kau bisa mengatakannya padaku"Zain mengangkat tangannya mengelus pipi gadis itu perlahan.
"Aku tidak mau"menepis tangan Zain kembali.
"Kau selalu menceritakan segalanya saat aku jauh, setelah aku berada dekat denganmu kenapa kau tidak mau mengatakannya langsung.Aku tidak masalah jika kau menjaga jarak denganku aku juga mengerti,tapi aku tidak akan membiarkan mu memiliki masalah dan kau tersiksa dengan masalah itu,aku tidak mau"berteriak kesal.Kiran menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.Zain melangkah maju dan memeluk gadis dalam pelukannya,wajah Kiran tenggelam di dada besar Zain."Maafkan aku karena berteriak"Zain merasa bersalah dan menjatuhkan dagunya di pucuk kepala gadis itu."Hidupmu dalam bahaya, begitu juga dengan ketiga adikmu.Jika kau tidak mau berbicara dengan ku, bagaimana aku tahu apa yang terjadi padamu baby.Aku butuh bantuan mu untuk menjalankan semuanya dengan baik, ceritakan padaku semuanya"gumam Zain dan menutup matanya, khawatir dan takut gadis dalam pelukannya terluka.
"Paman Ken"lirih Kiran setelah menangis sejadi-jadinya dan membuat kemeja Zain basah dengan air matanya.Zain melepaskan pelukannya dan diam mendengarkan apa yang terjadi."Bagaimana aku tidak sedih paman ku sendiri mengatakan dia menyukai ku sebagai seorang pria dan bukan sebagai paman ku, dia hampir menciumku,dia menyakiti ku dengan foto kita berdua"lirih Kiran dan Zain mengusap air matanya.
"Foto kita berdua?"bingung.
"Saat di mal, waktu itu saat kau memintaku menutup mataku.Dari belakang kau seperti menciumku,kita seperti berciuman dan dia mengambil foto kita berdua,dia mengatakan akan memberitahu papa dan menunjukkan foto itu.Aku harus bagaimana,aku tidak mau hal buruk terjadi padamu.Jika papa tahu dia tidak akan pernah menerimamu lagi."Kiran menahan tangisnya dan membuang nafas kasar.
"Bagaimana bisa dia berpikir kita berciuman,tidak semua yang kita lihat sesuai dengan yang sebenarnya terjadi.Berciuman apanya, aneh-aneh saja"Zain malah tersenyum lebar seperti meledek,dan Kiran memukul tangannya "Auw!"
"Kenapa kau malah tersenyum,kau menganggap enteng.Aku yang tersiksa hiks..."Kiran menutup wajahnya lagi.
"Issh no no no jangan menangis lagi,aku tidak menganggap masalah ini enteng aku hanya bingung saja kenapa otak paman mu mesum seperti itu"melepas kedua tangan kiran dan Kiran berhenti."Jangan sedih lagi,aku akan memintanya untuk menghapus foto itu kau jangan khawatir.Percaya padaku?"memegang kedua pipi Kiran dan Kiran mengangguk.
trimakasih banyak sdh menghibur kami sebagai pembaca,,aku percaya tidak mudah mencari ide-ide untuk menciptakan karya mu yang luar biasa ini,menguras otak, pikiran dan waktu, tidak smua orang bisa menciptakan cerita sebagus ini 👍👍👍
semangat dengan karya selanjutnya 💪💪
udah yg keberapakali baca novel karyamu ini... nggak membosankan