Kisah tentang Natasya Faradila yang mencoba hidup kembali. Tasya, yang merubah nama panggilannya menjadi Dila, adalah seorang wanita yang dijadikan budak seks oleh para mafia yang kejam. Ia digauli oleh banyak lelaki bejad yang tak tahu diri.
Hingga akhirnya ia terbebas, dan ia memutuskan untuk merantau ke Bali, menata kembali hidupnya agar lebih baik lagi. Hal buruk menimpanya, ketika ia dinyatakan hamil, dan ia harus membiayai putrinya. Dila memutuskan untuk kerja serabutan dan kuliah jurusan administrasi perkantoran, agar ia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
Beberapa tahun kemudian, Dila diterima bekerja menjadi sekretaris di Jackson grup. Menjadi sekretaris sang Presdir Kaisar Gavindra. Karena seringnya mereka berinteraksi, munculah perasaan yang berbeda untuk Dila.
Kaisar yang telah dijodohkan oleh keluarganya menolak keras perjodohan itu, karena ia mulai mencintai Dila. Namun, bagaimana kalau Kaisar tahu mengenai kisah kelam masa lalu Dila? Akankah Kaisar bisa menerima semua itu?
Nantikan kelanjutannya ya guys...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan ini ....
Kaisar berjalan mendekat kearah Dila. Kaisar sangat emosi, banyak sekali pertanyaan muncul di kepalanya. Tangannya mengepal, dan tatapan matanya fokus menatap Dila dari kejauhan.
Ya Tuhan ... kenapa dia bisa ada disini? Kenapa dia terlihat marah sekali padaku? Apa yang terjadi sebenarnya? Tuhan, tolong aku ... bantu aku, aku sangat takut menghadapinya ... Batin Dila, ia menutup matanya saking ketakutan menatap Kaisar.
Tak, tak, tak ...
Suara langkah sepatu itu semakin dekat, membuat Dila benar-benar ketakutan. Hal yang ia takutkan selama ini, akhirnya terjadi. Ia bingung, ingin rasanya berharap bahwa semua ini hanya mimpi panjangnya. Tapi, meremas tangannya pun, ia terasa sakit.
Ini bukan mimpi, ini nyata. Mata nya memerah ketika mendekati Dila, terlihat pancaran emosi di seluruh tubuhnya. Dila berusaha untuk tetap tenang menghadapinya, walau sejujurnya hati dan pikirannya benar-benar kalut. Wajah itu, kini berhadapan dengan Dila, wajah yang terlihat emosi juga penuh kekhawatiran.
Dila hanya menunduk, ia tak berani menatap wajah Kaisar. Dila pasrah, apapun yang terjadi, ia harus menerima semuanya. Mungkin, ini konsekuensi atas semua kebohongannya.
"Kenapa kamu disini?"
Dila terdiam,
"Sedang apa kamu disini?"
Dila masih tak bergeming.
"Kenapa tak meminta aku untuk mengantarmu?"
DEG. Kenapa pertanyaan yang keluar dari mulut Kaisar terkesan seperti Kaisar sedang khawatir padanya? Jantung Dila bergemuruh hebat. Ia benar-benar takut. Ia berkeringat dingin, takut akan kemarahan Kaisar padanya.
"Dil, jawab!" Nada Kaisar semakin meninggi.
Dila menghela napas, "Maaf ..."
"Apapun alasan mu disini, aku benar-benar khawatir padamu! Aku menunggu mu di rumah, aku datang tapi kamu tak ada. Aku kira kamu pergi sebentar, karena rumah mu tak terkunci. Aku menunggu di sana, sampai hujan turun dengan derasnya, aku tak bisa berpikir jernih, tapi nyatanya kamu malah berada disini tanpa mengabari ku. Ponsel mu tak aktif, aku menghubungimu berpuluh-puluh kali. Aku mengirimi mu pesan berkali-kali. Kenapa kamu tak mengabari ku jika terjadi apa-apa? Kenapa kamu begitu tak menganggap ku, padahal aku selalu ada di sampingmu setiap hari? Kenapa, Dil?" Kaisar mengeluarkan kekesalannya.
Dila memejamkan matanya. Hatinya terenyuh mendengar Kaisar mengatakan hal itu. Tapi, karena hal inilah Dila jadi tambah merasa bersalah. Ucapan Kaisar membuatnya terharu, tapi jika seperti ini terus, seakan-akan mereka memang ada sesuatu yang spesial, dan Dila tentu saja tak menginginkan hal itu terjadi. Dila kesal, Dila emosi. Dila tak sedikitpun menyuruh Kaisar untuk peduli padanya, datang padanya, bahkan menunggunya.
"Pak Kaisar ... mohon maaf! Saya tak pernah meminta Bapak untuk peduli pada saya, menunggu saya, bahkan khawatir pada saya. Saya tak pernah meminta hal itu pada Bapak. Ini hari libur saya, bukankah wajar jika saya pergi? Kenapa Pak Kaisar harus marah pada saya? Hubungan kita hanya sebatas masalah pekerjaan, Pak. Jika diluar kantor, otomatis saya menjalani kehidupan saya sendiri tanpa harus ada campur tangan dari Bapak. Maaf jika membuat Pak Kaisar kecewa. Tapi, Bapak terlalu buang-buang waktu, jika harus khawatir pada saya seperti ini. Saya hanya sekretaris anda, Pak. Saya bekerja di perusahaan anda, hanya itu saja. Diluar itu, semuanya urusan saya, dan Bapak tak berhak untuk memasuki kehidupan pribadi saya." Dila membuat Kaisar kaget.
DEG. Tak menyangka, sama sekali tak menyangka. Kaisar kira, Dila akan bahagia karena dirinya datang. Kaisar kira, ia akan disambut dengan hangat oleh Dila. Tapi ternyata, Dila seakan memberikan peluru tajam yang menghujam jantungnya. Kaisar tak menduga kalau akhirnya akan seperti ini.
"Tega sekali kau, Dil ... kenapa tak sedikitpun kau menghargai kedatanganku ini? Kenapa tak sedikitpun kau senang karena aku datang menemui mu? Kenapa kau harus marah seperti ini? Kita sering bersama, tentu saja ada ikatan khusus yang tak bisa aku biarkan begitu saja, Dil. Juga, dengan kedatanganku ini, aku merasa sedikit lebih lega, karena aku tahu dan bisa melihat, kalau kau tak kenapa-napa." Tukas Kai.
"Bapak ingin tahu alasan saya apa?"
"Why?" Kaisar memperagakan dengan tangannya.
"Karena saya tak mengharapkan kedatangan Bapak. Saya tak ingin Bapak kesini. Saya ingin, Pak Kaisar segera pulang saja. Hanya itu mau saya, Pak! Pak Kaisar tak perlu ikut campur pada kehidupan saya. Dan saya mohon, pergilah Pak ..." Mata Dila berkaca-kaca.
Maaf, Pak ... maafkan aku harus seperti ini padamu. Aku takut kau tahu tentang anakku. Aku sangat yakin dan yakin, kau pasti akan kecewa, Pak. Aku telah membohongimu, aku juga menyembunyikan anakku, jika kau tahu ... aku tak bisa membayangkan betapa marah dan kecewanya dirimu padaku. Ini lebih baik, aku tak ingin kau berharap padaku, Pak. Aku ingin kita hanya sebatas rekan kerja saja. Aku anak buah mu, dan kau Bos nya. Hanya itu saja, tanpa ada perasaan lain yang mencampuri hubungan pekerjaan kita. Batin Dila, menatap Kaisar dengan sendu.
"Kenapa kamu seperti ini? Aku tak mengerti, ada apa denganmu? sehingga kamu mampu mengatakan hal yang sebenarnya tak ingin kau katakan? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin tanya beberapa hal padamu, untuk apa kau kesini? Apa yang terjadi di rumah sakit ini? Siapa yang sakit?" Kaisar tetap dengan rasa penasarannya.
"Sudah kubilang ini bukan urusan mu! Ini kehidupan ku, tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Jadi, kuharap kau tak perlu ikut campur, Pak. Lebih baik kau pulang saja, aku tak ingin melihatmu disini. Kumohon," Dila ingin Kaisar segera pergi.
Kaisar mendekat, tangannya memegang kedua lengan Dila, ia menatap Dila dengan lekat, "Dengarkan aku, walau kita hanya terikat akan hubungan pekerjaan, tapi aku peduli padamu. Apa salah, jika aku peduli padamu? Apa tak boleh, jika aku khawatir padamu? Apa yang terjadi? Katakan padaku, dan aku akan membantumu, Dila. Jangan biarkan kamu bersedih sendiri. Aku disini, untuk menemanimu. Aku datang karena aku benar-benar khawatir padamu. Apa salah, jika aku seperti ini? Apa ada yang melarang jika aku perhatian padamu? Kita sudah bekerja bersama enam tahun lebih, dan itu membuatku ingin selalu ada di dekatmu, untuk melindungi mu,"
Dila melepaskan cengkraman tangan Kaisar di lengannya. Ia tak ingin lagi mendengar ucapan Kaisar. Semakin Kaisar berbicara penuh harap padanya, semakin Dila sakit hati, dan tak ingin melihat Kaisar lagi.
"Cukup! Kumohon, pergi sekarang! Sebelum aku benar-benar mengusir anda, Pak. Jika di perusaan saya patuh pada anda, tapi maaf ... jika diluar seperti ini, anda bukan siapa-siapa bagi saya!" Tegas Dila memalingkan wajahnya, dan berbalik.
Tapi, Kaisar menahannya. Kaisar tak menyangka, Dila akan seperti ini. Kaisar tahu, pasti ada penyebab yang membuat Dila seperti ini padanya.
"Tunggu, Dil ..." Kaisar memegang tangan Dila, ia tak ingin Dila pergi.
"Lepas!"
"Tak akan!"
"Aarrgghh," Dila mencoba melepas genggaman tangan Kaisar yang begitu kencang.
Tiba-tiba, dari dalam gedung rumah sakit, Ibuk Marni datang lari tergopoh-gopoh mencari Dila. Beruntung, Buk Marni melihat Dila didepan rumah sakit. Ia pun segera berlari menuju Dila untuk memberi tahu kabar mengenai Clais.
"Yu, ayu ... Dila, astagfirullah hal adzim, itu Clais, itu ... kondisinya," Napas Buk Marni tersenggal-senggal, saking ia menahan napas sejak tadi.
Kaisar yang mendengarnya refleks melepaskan genggaman tangannya pada tangan Dila. Clais? Kondisinya? Siapa Clais? Ada apa ini? Batin Kaisar dalam hatinya.
"Ha? Apa, Buk? Ada apa? Clais kenapa lagi? Bukankah dia tak kenapa-napa tadi? Dila mulai kaget dan khawatir.
"Tadi dia bilang kepalanya pusing, lama-kelamaan dia benar-benar pusing, katanya kepalanya berat seperti berputar. Hingga dia menangis menjerit-jerit menahan rasa sakit. Barusan, dia kejang-kejang, Yu. Dokter sedang memeriksanya sekarang, ayo kita masuk kedalam. Clais pasti sangat membutuhkan keberadaan mu, ayo Nak ..." Buk Marni benar-benar was-was.
Kaisar semakin bingung tak mengerti. Banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Tapi, melihat kondisi saat ini, sangat-sangat tak memungkinkan bagi Kaisar untuk bertanya pada Dila.
"Pulanglah! Aku harus pergi sekarang!" Dila meninggalkan Kaisar.
"Dila, tunggu! Siapa yang sakit?" lagi-lagi rasa penasaran tak bisa dihentikan begitu saha Kaisar benar-benar penasaran, tangannya menahan tangan Dila lagi.
Ya Allah ... mungkin, inilah saatnya aku membuka semua topengku. Aku tak lagi akan bersembunyi dibalik semua ini. Bismillah ... Maafkan aku, aku pasrah akan takdir yang engkau berikan. Semuanya, kuserahkan Padamu, Ya Rabb. Batin Dila sambil memejamkan matanya.
"Anakku!"
DEG, Kaisar shock.
"Dia sedang dalam kondisi gawat darurat. Maaf, aku harus pergi," Dila menghempaskan tangan Kaisar yang menahannya. Dila pun berlari meninggalkan Kaisar seorang diri.
Seperti dihujam puluhan belati. Tak bisa dipahami, benar-benar sulit untuk dimengerti. Kaisar terdiam, termenung dengan apa yang barusan Dila katakan. Harus apa dia sekarang? Pergi kah sesuai keinginan Dila? Apa masuk kedalam menemani Dila? Dan melihat kondisi yang Dila katakan sebagai anaknya? Walau saat ini, Kaisar tak percaya dengan apa yang Dila katakan.
*Bersambung*
tapi sudah tamat
koq belum up juga.
Ayo donk kk. Semangaaaaaat...
Tunjukkan karya terbaikmu...
Aq setia menanti up nya