# YANG GA SABAR SAMA JALAN CERITANYA PASTI NYERAH DI TENGAH JALAN... #
( Bikin bingung kalo bacanya dari tengah. Saran penulis ikuti dari awal yaa. mksh...🙏😊)
Berawal dari misteri tentang kehamilan seorang gadis yatim piatu bernama Gendis akibat perbuatan seorang pria yang membuatnya terpuruk.
Dan pengalaman aneh yang dialami oleh sang adik yang bernama Patih, karena menolak cinta seorang wanita, membuatnya harus berjuang untuk bisa lepas dari pengaruh ilmu hitam.
Juga kehadiran anak indigo yang akan membantu mengungkap kisah mistis yang mewarnai perjalanan hidup para tokohnya, membuat kisah ini makin menarik.
Mau tahu...?
Simak kisahnya yuk...
( Mohon bijak dlm berkomentar. Kalo ga suka diskeep aja. Gampang kan ...? )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 ( Gempar )
Erna menepati ucapannya untuk meminta kedua orangtua Gendis datang dan menemani sang anak di Rumah Sakit. Oyoh, Oding dan Patih tiba di Rumah Sakit saat hari menjelang malam.
Mereka langsung menuju kamar dimana Gendis dirawat.
" Bu dokter, apa yang terjadi. Kok Gendis harus dirawat...?" tanya Oyoh pertama kali saat melihat Erna.
" Yang sabar ya Bu. Gendis keguguran...," kata Erna sedih sambil menggenggam tangan Oyoh.
" Apa, terus gimana rahimnya. Apa rahimnya rusak, apa Gendis masih bisa hamil lagi...?" ceracau Oyoh bingung.
" Sabar Mak. Kasian Bu dokter jadi bingung kalo Emak kaya gini. Padahal kan ini bukan salah Bu dokter...," kata Oding menenangkan istrinya.
" Rahim Gendis gapapa Bu. Insya Allah Gendis masih bisa hamil lagi nanti. Sekarang Ibu istirahat dulu ya. Ibu juga pasti capek kan...," kata Erna lembut.
" Maafin Saya dokter...," kata Oyoh lirih.
Erna mengangguk dan tersenyum. Erna lalu keluar dari ruang rawat Gendis memberi kesempatan pada Oyoh dan Oding untuk menemani Gendis.
Oyoh memandangi Gendis dengan iba. Di sampingnya Oding berdiri juga ikut memandangi Gendis yang tertidur pulas akibat pengaruh obat.
" Kenapa selalu ada air mata kesedihan saat ketemu Kamu Nak...," rintih Oyoh sedih.
" Jangan ngomong gitu Mak...," tepuk Oding pelan di bahu istrinya.
" Kasian si Gendis ya Pak. Tapi Emak bersyukur, Gendis ga harus ngerawat anak baji***n itu...," kata Oyoh emosi.
" Tapi ternyata Gendis terpukul keilangan anaknya Mak...," keluh Oding.
" Dia belom terbiasa aja Pak. Kan selama ini ada bayi di rahimnya. Pasti dia ngerasa kehilangan juga...," kata Oyoh.
Oyoh pun mendekati Patih yang sudah terlelap di atas tempat tidur lain di ruangan itu. Ia memandangi wajah Patih yang sama lelahnya dengan kedua orangtuanya.
" Kasian Patih harus bolak balik ikut Kita nengok Gendis. Jadi ga fokus belajarnya. Untung Patih Anak yang cerdas, jadi bisa gampang ngejar ketinggalannya...," kata Oyoh sambil mengecup kening Patih dengan sayang.
" Iya Mak. Patih juga ga rewel. Jadi Kita ga kerepotan...," kata Oding tersenyum.
Kedua orangtua itu masih menunggu Gendis terbangun dari tidurnya.
\=\=\=\=\=
( " Mama, kenapa Aku dibuang Ma, kenapa Mama ga sayang Aku, kenapa Ma...," )
" Anakku...!" jerit Gendis.
Oyoh dan Oding terkejut, dengan cepat mereka menghampiri Gendis yang baru saja terbangun.
" Mak, Anakku mana Mak, dia nangis Mak, dia kedinginan, kasian Mak...," tangis Gendis sambil menghambur ke pelukan ibunya.
" Sabar Dis, Allah lebih sayang sama dia, makanya dipanggil cepet...," hibur Oyoh.
" Tapi dia ga boleh pergi Mak. Gendis sayang sama Anak Gendis. Gendis nyesel udah niat buang dia. Tapi Gendis ga beneran pengen dia pergi Mak...," ratap Gendis.
" Sabar Dis. Jangan Kamu tangisin kaya gini. Kasian nanti dia bingung, jalannya jadi sulit. Mending Gendis doain biar jalannya lapang dan gampang...," kata Oding sambil membelai kepala Gendis ddngan sayang.
Saat mendengar suara tangisan Gendis, Patih terbangun. Ia mengucek matanya yang masih sulit terbuka untuk melihat apa yang dilakukan Gendis dan kedua orangtuanya.
Saat berhasil membuka mata dengan sempurna, Patih melihat Gendis ada dalam pelukan Emaknya sedangkan bapaknya mengelus-elus kepala sang kakak.
Patih turun dari tempat tidur dan mendekati tiga orang tersayang dalam hidupnya itu.
" Kakak kenapa Mak, jangan nangis lagi ya Kak. Keponakan Patih ga suka kalo liat Mamanya nangis kaya gini, dia juga sedih...," kata Patih sambil duduk di samping Oding.
Mendengar ucapan Patih sontak Gendis berhenti menangis. Ia memandangi Patih sesaat. Lalu Gendis menghambur memeluk Patih.
" Kakak sakit Patih. Kakak nyesel kenapa dia pergi, Kakak sayang sama dia...," ratap Gendis.
" Udah Kak. Relain dia ya. Nanti dia malah ga bisa pergi, kasian kan Kak...," bujuk Patih.
Gendis pun berusaha menghentikan tangisnya. Walau masih ada isak tangis tertahan, Patih berhasil membujuk Gendis untuk berhenti menangis.
Rupanya Gendis belum bisa terima kehilangan anak yang semula tak diinginkan.
Ia menjadi seperti orang tak waras, memanggil-manggil anaknya. Kadang ia seperti berhalusinasi seolah anaknya memanggil dan bicara dengannya.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di sebuah rumah. Tampak seorang pria yang dikenal sebagai dukun ilmu hitam sedang bicara seorang diri.
" Jadi ada darah orang keguguran di sana ?, baik lah sudah waktunya Kamu bangkit...," ucap sang dukun sambil menyeringai.
Lalu ia mengerahkan ilmu hitamnya untuk menghisap darah dari janin Gendis yang keguguran itu. Menghisapnya hingga tak bersisa.
Dukun itu tertawa puas saat berhasil menghidupkan bayi yang tertanam di bawah pohon itu.
" Kemarilah, temui Ibumu, hancurkan dia...!" perintah sang dukun pada bayi jadi-jadian itu.
Rupanya dukun itu sedang memperdalam ilmu hitamnya. Dan janin Gendis dijadikan sebagai kelinci percobaan untuk membuktikan kemampuannya mengendalikan makhluk halus dari jarak jauh.
Bayi Gendis yang telah dihidupkan kembali nampak berwujud aneh. Bertubuh kecil layaknya bayi, hanya saja wajahnya menyeramkan. Ada liur yang selalu menetes layaknya bayi, tapi berwarna merah dan itu adalah darah. Bayi aneh itu menangis keras sejenak lalu menghilang entah kemana.
\=\=\=\=\=
Di malam yang sama di desa tempat Bu Jihan tinggal terjadi peristiwa yang mengerikan. Beberapa ibu hamil kehilangan bayi yang dikandungnya secara misterius. Tentu saja ini mengejutkan semua orang. Apalagi para wanita yang kehilangan bayinya juga menangis histeris.
Apa yang mereka alami sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi pada Gendis.
Jika Gendis mengalami keguguran karena 'dicekoki' obat oleh orang tak dikenal, bayi-bayi di desa Bu Jihan justru hilang secara misterius tanpa diketahui sebabnya. Dan Efi yang hamil delapan bulan juga termasuk salah satu korbannya.
Saat itu Efi tertidur di kamarnya. Saat terbangun untuk pipis, ia merasakan keanehan pada dirinya. Saat meraba perutnya, Efi kaget karena perutnya rata seperti biasa dan bayi yang dikandungnya raib. Efi berteriak sekencang-kencangnya dengan panik hingga membangunkan warga di sekitar rumahnya.
Warga berbondong-bondong datang kerumah Efi untuk melihat apa yang terjadi.
Kasak kusuk pun terdengar.
" Jadi bayi Efi juga hilang...?"
" Iya, kok sama kaya si Marni...,"
" Marni kenapa...?"
" Bayi di kandungannya yang udah masuk empat bulan juga ilang mendadak...,"
" Astaghfirullah...,"
" Padahal besok mau ada selamatan empat bulanan...,"
" Kasian yaa...,"
" Iya ...,"
Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara jeritan wanita yang memecah malam. Dari jeritannya bisa ditebak jika itu adalah jerit kesakitan dan putus asa. Tentu saja itu membuat warga kembali panik.
" Eh, ada suara teriakan dimana lagi tuh. Ayo coba kita liat...,"
" Tapi harus ada yang nemenin si Efi disini, kawatir ada apa-apa...,"
Suara warga yang saling tumpang tindih itu terdengar oleh Efi dan membuatnya menangis tak terkira. Rasa sesal dan marah bercampur jadi satu di hatinya. Dia tak mengerti, kenapa harus dia yang kehilangan bayinya saat kandungannya sudah besar dan hampir melahirkan.
Lalu warga pun membagi tugas. Sebagian menunggui Efi, sebagian lainnya mengecek ke arah datangnya suara jeritan tadi.
" Wah, ga beres nih. Masa satu malam desa kita kehilangan empat bayi...,"
" Jangan-jangan ada yang pesugihan pake tumbal bayi...,"
" Masa ilang padahal ga terasa melahirkan...,"
" Serem ya...,"
Para tokoh masyarakat dan warga berkumpul untuk membahas kejadian ini.
Para ulama dan guru ngaji dikerahkan untuk membantu memimpin doa, di rumah warga yang kehilangan bayinya.
" Ini ulah orang yang berniat menghancurkan ketentraman desa ini...," kata seorang guru ngaji.
" Kita harus bergerak cepat...," kata Ulama desa itu.
" Gimana caranya Pak Kyai...?" tanya warga.
" Temani ibu-ibu yang tengah hamil, juga rumah-rumah yang memiliki bayi. Lampu rumah harus dalam keadaan menyala. Jangan tinggalkan mereka sendiri. Jangan lupa berdzikir...," pesan ulama desa.
" Apa itu bisa mengusir makhluk halus yang mengganggu Pak Kyai...?" tanya warga lain.
" Kita berusaha, Allah yang menentukan. Dengan menjaga sholat dan dzikir makhluk halus akan enggan mendekat. Insya Allah akan terlindungi...," jawab ulama desa sambil berlalu.
Semua setuju dan mulai mencari sebab musabab kejadian aneh itu dan solusinya.
Efi masih menangis shock akan peristiwa yang dialaminya. Walau ia tak sendiri kehilangan bayinya, namun kenyataan ini sulit diterima akal sehat. Keluarga Efi dan warga masih menemani Efi di rumahnya, kawatir Efi melakukan sesuatu yang buruk. Mereka terus berjaga hingga keesokan harinya.
bersambung