Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencurian di Bawah Hidung Naga
Udara di dalam gua lava itu terasa seperti di dalam tungku pandai besi kosmik. Setiap embusan napas seakan membakar tenggorokan Ye Chen, dan keringatnya menguap bahkan sebelum sempat menetes ke tanah. Jika bukan karena fisik Meridian Naga miliknya yang telah ditempa oleh darah Babi Hutan Bertaring Besi dan Teratai Es, ia pasti sudah terpanggang hidup-hidup saat baru melangkah masuk.
Di luar, suara ledakan, auman Kera Magma Lengan Besi, dan teriakan para murid Sekte Api Sejati menggema memekakkan telinga. Formasi jaring api mereka terus membombardir monster raksasa itu, menahan seluruh perhatian sang penjaga.
Ye Chen merunduk rendah, bergerak seringan bayangan di antara stalagmit hitam yang mendidih. Matanya tak pernah lepas dari inti gua.
Di atas sebuah altar alami yang terbentuk dari batu vulkanik hitam pekat, mengambang setitik api seukuran kepalan tangan bayi. Api itu tidak berkobar liar, melainkan menari dengan tenang. Warnanya bergradasi dari ungu pekat di bagian inti, hingga emas menyilaukan di bagian luar. Hawa panas yang murni dan sangat menekan terpancar dari nyala mungil itu, membuatnya tampak seperti seorang kaisar di tengah lautan lava.
"Itu dia... Api Roh Emas Ungu," mata Ye Chen berbinar tajam.
"Jangan sentuh dengan tangan kosong, Bodoh!" bentak Ao Tian tepat saat Ye Chen bersiap menerjang. "Api roh alam memiliki kesadaran dasar. Jika kau menyentuhnya tanpa persiapan, ia akan membakar lenganmu menjadi abu dalam sedetik. Gunakan Qi dingin dari Teratai Es yang masih tersisa di meridianmu untuk melapisi tanganmu, lalu segera masukkan api itu ke dalam ruang giok hitam ini. Aku akan menyegelnya sementara."
"Dimengerti."
Ye Chen menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia memutar Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi secara terbalik, menarik paksa sisa-sisa energi Yin dingin dari dasar meridiannya. Kabut es tipis perlahan menyelimuti tangan kanannya, membentuk semacam sarung tangan kristal es transparan yang langsung berdesis hebat saat bersentuhan dengan udara panas gua.
Dengan kecepatan penuh, tangan berlapis es itu menyambar Api Roh Emas Ungu.
SIZZZZ!
Rasa sakit yang luar biasa seketika menyengat telapak tangan Ye Chen. Sarung tangan esnya menguap dengan kecepatan mengerikan. Api ungu itu meronta, mencoba membakar penyusup yang berani menyentuhnya. Namun, di detik yang sama sarung es itu hancur, Ye Chen menempelkan api tersebut ke liontin giok hitam di dadanya.
Sebuah hisapan kuat yang tak terlihat muncul dari dalam giok. Dalam sekejap, nyala api ungu emas itu tersedot masuk dan menghilang tanpa jejak.
"Berhasil!" batin Ye Chen lega, melirik telapak tangannya yang melepuh merah namun tidak sampai hangus.
Namun, keberhasilannya bukan tanpa harga. Hilangnya Api Roh Emas Ungu seketika memutuskan keseimbangan energi di dalam gua dan pulau lava tersebut.
ROOOOOOARRRRR!!!
Di luar gua, Kera Magma Lengan Besi yang sedang sibuk menangkis rentetan tebasan pedang Yan Ting tiba-tiba membeku. Matanya yang menyala seperti matahari kecil membelalak. Ia merasakan harta karun yang dijaganya selama ratusan tahun lenyap dari radarnya!
Amarah yang tak tertahankan meledak. Tubuh magma kera raksasa itu membengkak, dan gelombang panas ekstrem menyapu sekelilingnya.
"Sial! Hati-hati, monster ini mengamuk!" teriak Tetua Huo panik, menarik mundur Yan Ting tepat sebelum lengan kera itu menghancurkan tanah tempat mereka berdiri sedetik yang lalu.
"Tunggu, Tetua! Lihat ke arah gua!" jerit salah satu murid sekte, menunjuk dengan pedang yang bergetar.
Yan Ting dan Tetua Huo serentak menoleh. Melalui celah mulut gua yang setengah hancur, mereka melihat siluet punggung pemuda berjubah kulit kasar dengan pedang hitam raksasa, berdiri di dekat altar batu yang kini telah kosong melompong.
Mata Yan Ting seketika memerah karena murka. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. "Ada tikus yang menyusup! Dia mencuri Api Roh Emas Ungu milikku! BUNUH DIA!"
"Bocah iblis! Beraninya kau memanfaatkan Sekte Api Sejati!" Tetua Huo meraung gila. Fluktuasi Qi tingkat kesembilan puncak meledak darinya, bersiap melesat menerobos masuk ke dalam gua untuk mencincang pencuri itu.
Namun, sebelum Tetua Huo sempat mengambil langkah, Kera Magma raksasa itu memblokir jalannya. Monster itu tidak peduli siapa yang mencuri; di matanya, semua manusia yang ada di tempat ini adalah komplotan pencuri yang sama! Kera itu memukul dadanya dan menyemburkan pilar lava panas lurus ke arah formasi murid sekte.
"AAAARRRGH!" Dua murid tingkat kelima langsung terbakar menjadi abu dalam sekejap tanpa sempat menjerit.
"Sialan! Tahan monster ini dulu!" Tetua Huo terpaksa berbalik memutar pedangnya untuk menyelamatkan nyawa Yan Ting dari amukan lava.
Di dalam gua, Ye Chen menyeringai tipis mendengar kekacauan di luar. "Terima kasih atas bantuan kalian, anjing-anjing sekte."
Menggunakan keributan sebagai perlindungan sempurna, Ye Chen tidak keluar lewat pintu depan tempat pertempuran berlangsung. Matanya yang tajam sejak awal telah memetakan sebuah celah ventilasi alami di langit-langit gua bagian belakang yang mengarah ke permukaan lembah.
Ia memusatkan kekuatan di kedua kakinya, lalu melompat setinggi belasan meter, menancapkan jari-jarinya ke dinding batu vulkanik yang keras, dan memanjat secepat tokek hitam. Dalam hitungan tarikan napas, sosoknya menerobos keluar dari celah tebing, menembus kabut berdarah Lembah Darah Merah.
Ye Chen tidak berhenti untuk sekadar melihat ke belakang. Ia langsung memacu kakinya, menggunakan seluruh staminanya untuk berlari melintasi dataran merah sejauh dan secepat mungkin dari ngarai tersebut.
Di belakangnya, auman mematikan Kera Magma dan kutukan penuh keputusasaan dari Yan Ting serta Tetua Huo perlahan memudar, tertelan oleh luasnya kabut tebal lembah. Sang burung kepodang telah berhasil merampas umpan dan terbang jauh, meninggalkan sang belalang dan jangkrik untuk saling membunuh.
Tiga jam kemudian, berjarak ratusan mil dari ngarai lava.
Ye Chen akhirnya berhenti di sebuah gua dangkal yang tersembunyi di balik akar pohon raksasa yang mati. Ia melempar beberapa batu untuk memicu jebakan sederhana di pintu masuk guna menghalau monster liar, lalu duduk bersila di sudut tergelap gua.
Napasnya masih menderu cepat, namun matanya memancarkan kegembiraan liar yang tak bisa disembunyikan.
"Senior Ao Tian, keluarkan," ucap Ye Chen tak sabar.
Dari dalam liontin giok hitam, seberkas cahaya meluncur keluar. Api Roh Emas Ungu kembali mengambang perlahan di depannya. Hawa panasnya segera mengusir udara lembap di dalam gua.
"Kerja bagus, Bocah. Kau benar-benar memiliki kelicikan seorang pencuri ulung," puji Ao Tian, tawanya terdengar menggema. "Sekarang, waktunya yang paling krusial. Menyerap Api Roh Alam jauh lebih berbahaya dan menyakitkan daripada menelan Teratai Es. Jika kau gagal mengendalikannya, api ini tidak hanya akan menghancurkan meridianmu, tapi akan membakar jiwamu hingga tak bersisa."
Ye Chen menatap api kecil yang menari-nari dengan angkuh itu. Tidak ada keraguan di wajahnya, yang ada hanyalah tekad baja. Mengingat kembali tatapan dingin Su Yue yang merendahkannya dari atas awan dan tekanan membunuh Diakon Liu, Ye Chen tahu ia tidak punya kemewahan untuk bermain aman.
"Bimbing aku, Senior. Aku tidak datang sejauh ini hanya untuk mati menjadi abu."
Ye Chen memejamkan mata, memutar Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi hingga batas rotasi maksimal. Lalu, dengan satu tarikan napas panjang, ia menelan Api Roh Emas Ungu itu bulat-bulat ke dalam tubuhnya.