Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sepulang kerja Reka langsung ke rumah sakit. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan sang buah hati yang sudah hampir seharian ditinggalnya demi mencari nafkah.
Reka berubah panik ketika melihat bed putranya telah kosong. Barang-barang milik Richard pun tak lagi terlihat di kamar perawatan tersebut. Reka gegas berlari kecil ke ruang staf nakes.
"Kemana anak saya, suster? Kenapa anak saya tidak ada di ruang perawatannya?."
"Tenang dulu, nyonya! Anak anda baik-baik saja, hanya saja telah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP." Jawab salah seorang perawat.
"VVIP?." Cicit Reka dengan wajah bingungnya.
Perawat tersebut mendekat pada Reka.
"Benar nyonya. Salah seorang donatur rumah sakit meminta beberapa pasien anak untuk dipindahkan ke ruang perawatan VVIP." Demi menepis kecurigaan Reka, Leon sampai meminta beberapa pasien anak lainnya untuk ikut dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.
"Begitu rupanya." Reka mengangguk paham. Percaya begitu saja dengan ucapan perawat, tanpa merasa curiga sedikitpun. Setelahnya, Reka diantarkan oleh perawat tadi menuju ruang VVIP yang ditempati oleh putranya.
*
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Leon tiba-tiba merebahkan kepalanya kepangkuan sang mommy yang tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati acara Televisi.
"What's wrong with you, son?." Mommy cukup terkejut dengan sikap Leon hari ini. Pasalnya, putra bungsunya itu tidak biasanya bersikap manja, apalagi sampai tidur di pangkuannya seperti sekarang ini.
"Apa kamu habis bertengkar dengan Georgina?." Tebak Mommy sebelum Leon sempat menjawab pertanyaannya.
Leon lantas menggelengkan kepala untuk menepis dugaan mommy.
"Syukurlah kalau begitu."
"Mom...."
"Ada apa, Leon? Kalau kamu punya masalah, cerita sama mommy!." Mommy mengusap rambut putranya yang kini masih betah berbaring di pangkuannya.
"Tidak ada masalah, Leon hanya merasa sangat bahagia hari ini, mom." Sejak dua tahun terakhir, ini pertama kalinya Leon merasa sangat bahagia. lebih tepatnya bahagia bercampur haru, ternyata ia memiliki seorang putra dari sang mantan istri. Sebenarnya Leon ingin berbagi kebahagiaan bersama mommy, namun pria itu merasa saat ini belum waktunya untuk berbagi kebahagiaan. Setelah ia memiliki bukti yang tidak dapat dielak oleh Reka, maka saat itu ia berencana mengungkapkan kebenaran tentang keberadaan putranya.
"Bahagia?." Cicit mommy dengan menyipitkan kedua matanya. "Apapun itu, jika kamu bahagia maka mommy pun turut bahagia untukmu, nak." Sejak bercerai dua tahun lalu, mommy hampir tidak pernah melihat putranya itu menunjukkan wajah bahagia, tapi hari ini sang putra bahkan mengaku sedang merasa bahagia. Jujur, sebagai seorang ibu tentunya mommy ikut bahagia jika memang seperti itu kenyataannya.
"Thanks, mom."
*
Setelah menanti selama dua hari, akhirnya hasil pemeriksaan yang tak sabar dinantikan oleh Leon, sebentar lagi akan segera dibacakan oleh dokter.
Asisten Kiran mengangguk sekilas saat menyadari lirikan Leon. Sikap yang ditunjukkan oleh asisten Kiran seolah mengisyaratkan agar tuannya tetap tenang dan menerima apapun hasilnya nanti.
"Setelah melakukan pemeriksaan DNA pada sampel rambut milik tuan Leonardo Fernandez dengan seorang bayi laki-laki bernama Richard, maka dengan ini kami menyampaikan bahwa 99,99 persen DNA keduanya memiliki kemiripan. Dengan demikian, keduanya dinyatakan memiliki hubungan dar-ah."
Asisten Kiran sontak menyentuh pundak Leon ketika melihat kedua bola mata milik sahabat sekaligus tuannya itu nampak berkaca-kaca, usai mendengar dokter membaca hasil pemeriksaan DNA tersebut.
"Hubungan kalian boleh berakhir, tetapi hubungan antara ayah dan anak tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun, Leon." Kali ini asisten Kiran berbicara layaknya seorang sahabat.
"Lagipula, kamu tidak pernah tahu alasan sebenarnya hingga Reka tiba-tiba ingin menyudahi pernikahan kalian." Sambung asisten Kiran. Pria itu berbicara demikian bukan tanpa alasan. Kemarin, saat menghadiri meeting bersama beberapa pengusaha Tanah air sebagai perwakilan Leon selaku pimpinan LF Group, asisten Kiran secara tidak sengaja mendengar percakapan diantara beberapa pengusaha tentang kondisi perekonomian perusahaan milik ayahnya Reka. Kabarnya perekonomian perusahaan ayahnya Reka sedang tidak baik-baik saja dan menurut dugaan, semua itu bisa jadi akibat hengkangnya Reka dari perusahaan ayahnya. Satu lagi, menurut kabar yang beredar, putri dari tuan Hafidz tersebut bukan hanya meninggalkan perusahaan namun juga telah meninggalkan rumah sejak dua tahun lalu.
Deg.
Leon sontak saja menolehkan pandangan pada sahabat baiknya itu. Sedikitnya, apa yang dikatakan oleh Kiran benar adanya. Selama ini ia tidak pernah mencari tahu mengapa Reka tiba-tiba meminta untuk berpisah, sementara hubungan mereka saat itu terbilang sedang hangat-hangatnya. Kalau memang pengakuan Reka waktu itu benar, wanita itu tetap tak bisa mencintainya walaupun telah berusaha, tidak mungkin Reka mau bertahan hidup bersamanya selama setahun. Dan, selama setahun tersebut Reka terlihat baik-baik saja, bahkan dari sikap mantan istrinya tersebut Leon justru merasa wanita itu juga mencintai dirinya.
"Mengapa aku tidak pernah kepikiran sedikit pun tentang hal itu." Gumam Leon.
"Terlambat masih lebih baik ketimbang tidak melakukannya sama sekali, Leon." asisten Kiran tidak bermaksud menuntun sahabatnya itu untuk rujuk kembali dengan sang mantan istri demi buah hati mereka, pria itu hanya ingin Leon mengetahui kebenaran jika kenyataannya Reka memang menyembunyikan kebenaran dari Leon. Terkhusus alasan sebenarnya hingga wanita itu meminta untuk berpisah, dua tahun lalu.
"Jika kamu tidak keberatan, aku bisa membantumu untuk mencari tahu kebenarannya." kata Asisten Kiran. Tanpa menunggu lama Leon langsung mengangguk, seolah setuju jika Kiran membantunya untuk mencari tahu kebenaran tentang alasan Reka sampai meminta cerai darinya dulu.
*
Sore harinya, Reka langsung menuju yayasan penitipan anak setelah kembali dari kantor. Ya, sejak kemarin Richard telah meninggalkan rumah sakit dan kembali menjadi salah satu bayi penghuni yayasan penitipan anak saat sang ibu harus bekerja untuk mencari nafkah.
"Terima kasih banyak, Bu...kalau tidak ada ibu, entah bagaimana nasib saya dan Richard." Di saat-saat sulit, ibu pemilik yayasan selalu saja menolongnya, salah satunya dengan membantunya menjaga dan merawat Richard di rumah sakit saat ia harus tetap bekerja demi mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk menyambung hidup.
"Ibu sudah menganggap kamu seperti anak kandung ibu sendiri, jadi tidak perlu berterima kasih, Reka!." Balas si ibu seraya mengusap puncak kepala baby Richard yang kini telah berpindah ke gendongan Reka.
"Kalau begitu kami pulang dulu, Bu. Takut kemalaman di jalan nantinya." Melihat jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul setengah enam petang, Reka lantas berpamitan.
"Baiklah. hati-hati di jalan, Reka!."
Seperti biasa, Reka dan putranya kembali ke kontrakan dengan menumpangi ojek online.
Setibanya di kontrakan, Sambil menggendong tubuh mungil Richard, Reka merogoh tasnya untuk mencari keberadaan kunci kontrakannya.
"Ceklek....." Saat pintu kontrakan terbuka, Reka dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang kini tengah duduk bersandar di sofa lusuh yang ada di ruang tamu.
"Bagaimana mas bisa masuk?." Cecar Reka.
"Jangankan untuk bisa masuk ke sini, bisa membuatmu melahirkan seorang anak pun aku sanggup. Bukan begitu, Rekaila Amanda....".
Deg.
Ibnu lebih gila lagi...