Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal di Kalimantan
Keesokan paginya, kabar tentang rencana pembangunan hotel dan vila mulai terdengar di sekitar desa. Namun kali ini bukan kabar yang membuat warga bersemangat.
Rencana pembangunan tersebut dikabarkan terancam dibatalkan karena masalah yang sedang menimpa Grand Hotel Pratama di Jakarta. Pemilik proyek ternyata masih berkaitan dengan pihak yang sama, sehingga para investor dan pengembang memilih menunda pembangunan sampai keadaan benar-benar aman.
Berita itu cepat menyebar dari mulut ke mulut.
"Katanya proyeknya dibatalkan."
"Karena kasus hotel di Jakarta."
"Sayang sekali, padahal sudah ada beberapa orang yang datang mengukur tanah."
Raffi yang mendengar percakapan itu langsung terdiam.
Kemarin ia masih membayangkan bukit tersebut dipenuhi bangunan hotel megah, taman, kolam renang, dan vila-vila indah. Ia bahkan sudah membayangkan dirinya suatu hari bisa melihat para arsitek bekerja dari dekat.
Namun semua bayangan itu seolah runtuh begitu saja.
"Berarti hotelnya nggak jadi dibangun?" tanya Raffi kepada ibunya.
Maya yang sedang menyiapkan sarapan menoleh.
"Katanya untuk sementara ditunda."
Raffi menundukkan kepala.
"Padahal aku ingin lihat."
Maya tersenyum tipis melihat kekecewaan putranya.
"Kamu masih bisa menggambar hotelmu sendiri."
"Tapi aku ingin melihat yang asli."
Suara Raffi terdengar kecewa.
Selama ini ia hanya mengenal hotel dari gambar dan layar ponsel. Mendengar akan ada pembangunan besar di dekat rumah membuat imajinasinya berkembang. Ia ingin melihat bagaimana tanah kosong berubah menjadi bangunan megah, bagaimana seorang arsitek membuat rancangan menjadi nyata, dan bagaimana sebuah hotel bisa menjadi tempat banyak orang bekerja.
Putri Siska yang kebetulan datang ikut menghiburnya.
"Jangan sedih. Siapa tahu nanti dibangun lagi."
Raffi mengangguk, meski wajahnya masih murung.
Maya memperhatikan putranya dalam diam.
Ada sesuatu yang membuat hatinya kembali gelisah.
Tanpa Raffi sadari, hotel yang gagal dibangun itu memiliki hubungan dengan keluarga yang selama sepuluh tahun sengaja ia jauhkan dari kehidupannya.
Maya menatap bukit dari kejauhan.
Ia tidak pernah menyangka sebuah rencana pembangunan hotel sederhana bisa kembali membawa nama Grand Hotel Pratama ke dalam kehidupannya.
Dan untuk pertama kalinya, Maya bertanya dalam hati apakah pertemuan dengan masa lalu memang benar-benar bisa dihindari.
Sementara Raffi masih memandang bukit dengan kecewa, ia tidak tahu bahwa kegagalan pembangunan itu mungkin justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dalam hidupnya.
Menjelang siang, Raffi kembali naik ke bukit seorang diri. Ia berdiri di tengah lahan yang beberapa hari terakhir ramai oleh para pekerja dan arsitek. Meski kabar pembangunan hotel sempat membuatnya kecewa, tempat itu tetap membuat rasa ingin tahunya semakin besar.
Raffi kemudian berbaring di atas rumput sambil menatap langit.
"Andai aku anak pemilik hotel..." gumamnya sambil tersenyum.
Ia membayangkan dirinya memiliki hotel besar, berjalan di antara para arsitek, membuat desain sendiri, lalu suatu hari memimpin pembangunan hotel impiannya.
Khayalan itu membuatnya tertawa kecil.
Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah belakang.
"Heh, Nak! Jangan tiduran di situ."
Raffi segera bangkit dan menoleh.
Seorang staf proyek berdiri beberapa meter darinya.
"Kenapa, Pak?"
"Ini area proyek. Sebentar lagi akan ditutup."
Raffi memandang sekeliling.
"Jadi hotelnya benar-benar dibangun?"
Pria itu mengangguk.
"Katanya begitu. Lusa pemilik hotel akan datang langsung. Besok area ini mulai disiapkan dan diberikan kepada pihak pengembang."
Mata Raffi langsung berbinar.
"Lusa pemiliknya datang?"
"Iya."
"Berarti hotelnya jadi dibangun?"
"Kalau tidak ada perubahan lagi, iya."
Raffi langsung tersenyum lebar. Kekecewaan yang tadi memenuhi hatinya seketika menghilang.
"Terima kasih, Pak!"
Staf itu terkekeh.
"Sudah, sekarang pulang. Besok area ini tidak boleh dimasuki sembarangan."
Raffi mengangguk cepat lalu berlari menuruni bukit.
Sesampainya di rumah, ia langsung mencari Maya.
"Ibu!"
Maya yang sedang merapikan pakaian menoleh.
"Ada apa? Kok lari-lari?"
"Hotel jadi dibangun!"
Maya mengernyit.
"Katanya batal?"
"Itu kata orang-orang. Tadi aku ketemu staf proyek. Katanya lusa pemilik hotel datang dan besok tanahnya mulai diberikan ke pihak pengembang."
Maya langsung terdiam.
"Lusa... pemilik hotel datang?"
"Iya!"
Raffi tidak menyadari perubahan wajah ibunya. Ia justru terus bercerita dengan penuh semangat.
"Aku bisa lihat pemilik hotelnya, Bu! Siapa tahu dia orang hebat. Aku juga mau jadi arsitek hotel nanti."
Namun Maya tidak lagi mendengar seluruh ucapan putranya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Pemilik hotel.
Jika proyek itu benar-benar milik keluarga yang sama, berarti Mahesa akan datang.
Setelah sepuluh tahun, laki-laki yang selama ini ia hindari mungkin akan kembali berada hanya beberapa kilometer dari rumahnya.
Maya menatap Raffi yang masih tersenyum penuh antusias.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa lalu terasa begitu dekat.
Dan kali ini, Maya tidak tahu apakah ia harus pergi lagi... atau tetap tinggal dan menghadapi semuanya.
Mahesa Mulai Membongkar Rahasia
Pagi itu, Mahesa memanggil asisten pribadinya ke ruang kerja. Sejak kejadian di hotel, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Kematian Herutomo dan dugaan pengalihan dana investor terus berputar di kepalanya.
"Saya ingin kamu menyelidiki semuanya," ujar Mahesa tegas.
Asistennya menatap serius.
"Semua, Pak?"
"Mulai dari Herutomo. Riwayat kedatangannya ke hotel, siapa yang terakhir bertemu dengannya, transaksi investasinya, komunikasi sebelum kematiannya, sampai aktivitasnya beberapa hari terakhir."
Mahesa kemudian menyerahkan sebuah map.
"Dan telusuri aliran dana investor yang diduga dialihkan oleh staf. Siapa yang memiliki akses, siapa yang memproses transaksi, rekening mana yang menerima dana, dan siapa saja yang berhubungan dengan orang-orang tersebut."
Asistennya mengangguk dan mencatat semuanya.
"Saya juga ingin kamu memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang terlibat. Jangan menuduh siapa pun sebelum ada bukti. Saya hanya ingin tahu siapa yang berbohong, siapa yang panik, dan siapa yang mencoba menghilangkan jejak."
Mahesa berhenti sejenak.
"Termasuk orang dalam perusahaan."
Wajahnya terlihat semakin serius.
"Jangan sampai ada yang tahu kamu sedang menyelidiki mereka. Kalau memang ada penggelapan, pelakunya mungkin sudah sadar bahwa kita mulai mencari tahu."
Asisten itu mengangguk.
"Baik, Pak. Saya akan bergerak diam-diam dan semua informasi akan saya laporkan langsung kepada Bapak."
Setelah asistennya pergi, Mahesa berdiri di depan jendela. Pandangannya kosong, tetapi pikirannya bekerja keras.
Ada terlalu banyak kebetulan yang terjadi bersamaan.
Seorang investor meninggal mendadak.
Dana investor ternyata diduga dialihkan oleh orang dalam.
Dan sekarang muncul pihak-pihak yang mulai mempertanyakan kondisi perusahaan.
Mahesa mengepalkan tangannya.
Ia tidak tahu apakah semua kejadian itu saling berkaitan atau hanya kebetulan yang datang bersamaan.
Namun satu hal sudah pasti.
Kali ini, Mahesa tidak akan hanya menunggu laporan dari bawahannya.
Ia ingin menemukan sendiri siapa yang bermain di belakang Grand Hotel Pratama—sebelum rahasia itu berubah menjadi bencana yang lebih besar.
Asisten pribadi Mahesa belum juga beranjak ketika tiba-tiba teringat satu informasi lain yang sejak tadi belum disampaikannya.
"Pak, ada satu hal lagi."
Mahesa menoleh.
"Tentang Maya."
Seketika ekspresi Mahesa berubah.
"Asisten itu menggeleng pelan.
"Kami belum berhasil menemukan keberadaannya. Kontrakan terakhirnya sudah kosong dan pemilik tempat tersebut juga tidak mengetahui ke mana dia pergi."
Mahesa terdiam.
"Terakhir kali ada informasi tentang dia, Maya diperkirakan berada di Kalimantan Timur."
"Kalimantan Timur?"
Nada suara Mahesa terdengar penuh keterkejutan.
Asistennya mengangguk.
"Itu informasi terakhir yang kami dapat. Belum ada alamat pasti."
Mahesa berjalan perlahan menuju meja kerja. Entah mengapa, kabar itu membuat pikirannya semakin tidak tenang.
Kalimantan Timur.
Tempat yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Namun beberapa waktu terakhir, perusahaan justru sedang mempersiapkan rencana pengembangan cabang hotel dan kawasan vila di wilayah tersebut.
Mahesa menatap kosong ke arah dokumen proyek yang tergeletak di meja.
"Jadi... Maya mungkin berada di daerah yang akan menjadi lokasi proyek kita?"
"Belum bisa dipastikan, Pak."
Mahesa mengangguk pelan.
Ia mencoba menganggapnya sebagai kebetulan.
Sepuluh tahun sudah berlalu. Maya mungkin telah membangun kehidupan baru di tempat lain, memiliki keluarga, atau bahkan sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu.
Namun nama itu tetap membuat dadanya terasa berat.
Mahesa teringat wajah Maya ketika terakhir kali mereka bertemu. Tatapan marah, kecewa, dan terluka yang selama ini tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
"Kalau proyek Kalimantan Timur berjalan sesuai rencana, saya akan datang ke sana."
Asistennya menatapnya.
"Untuk proyek hotel?"
Mahesa terdiam sejenak.
"Untuk semuanya."
Ia sendiri tidak yakin apa yang dimaksud dengan jawabannya.
Mungkin untuk memastikan proyek berjalan baik.
Mungkin untuk menyelesaikan urusan perusahaan.
Atau mungkin ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin memastikan apakah Maya benar-benar masih berada di sana.
Mahesa menatap peta lokasi proyek.
Tanpa disadarinya, takdir sedang mempersempit jarak antara dirinya dan perempuan yang telah ia pikir tidak akan pernah ditemuinya lagi.
Mahesa masih berdiri di depan meja kerjanya, menatap peta Kalimantan Timur yang terbentang di hadapannya. Ada beberapa titik lokasi yang diberi tanda untuk rencana pembangunan cabang hotel dan vila.
Entah mengapa, sejak mendengar nama Maya, semua titik itu terasa berbeda.
"Pak," ujar asistennya, "untuk sementara, saya akan tetap mencari informasi tentang Maya. Tapi kalau dia memang sengaja menghilang, kemungkinan besar dia tidak ingin ditemukan."
Mahesa terdiam.
Kalimat itu terasa menusuk.
Sepuluh tahun lalu, Maya pergi dengan membawa luka yang sebagian besar disebabkan oleh keputusan keluarga Pratama. Selama bertahun-tahun Mahesa mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah selesai.
Namun sekarang, ia mulai menyadari satu hal.
Tidak pernah ada benar-benar penyelesaian.
"Aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja," ucap Mahesa pelan.
Asistennya menatapnya.
"Pak?"
Mahesa segera menggeleng.
"Sudahlah. Cari informasi seperlunya. Jangan mengganggunya."
"Baik."
Setelah asistennya keluar, Mahesa kembali duduk. Ia membuka berkas proyek Kalimantan Timur, mencoba memusatkan perhatian pada urusan bisnis.
Namun pikirannya kembali kepada Maya.
Ia teringat bagaimana Bu Ratih pernah mengatakan bahwa semuanya sudah diselesaikan. Maya sudah diberi uang, tempat tinggal, dan diminta melanjutkan hidup.
Saat itu Mahesa percaya bahwa ibunya benar-benar telah membantu.
Sekarang ia justru mulai bertanya-tanya.
Apakah Maya benar-benar pergi dengan baik-baik?
Atau ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan kepadanya?
Mahesa menghela napas panjang.
Di sisi lain, asistennya mulai menghubungi beberapa sumber untuk menelusuri keberadaan Maya. Bukan dengan cara mencolok, melainkan melalui informasi lama yang masih tersisa—alamat kontrakan, catatan pekerjaan, dan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Salah satu nama kemudian muncul.
Siska.
Mantan karyawan hotel yang berasal dari Kalimantan Timur.
Asisten Mahesa menatap informasi itu cukup lama.
Ada kemungkinan Maya pernah berhubungan dengannya setelah meninggalkan Jakarta.
Ia segera menyimpan data tersebut dan memilih untuk tidak mengambil tindakan lebih jauh sebelum mendapatkan bukti yang lebih kuat.
Sementara itu, Mahesa sama sekali belum mengetahui bahwa di tempat yang sama, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun sedang menggambar desain hotel di atas meja rumahnya.
Anak bernama Raffi.
Anak yang tidak pernah tahu bahwa ayah kandungnya sedang mencari ibunya.
Dan bahwa perusahaan yang sedang Mahesa bangun di Kalimantan Timur perlahan membawa mereka semakin dekat.