Xun JeHa, seorang anak yg lahir dengan kondisi tubuh cacat, jantungnya mengalami kebocoran menjadikan tubuhnya mudah lelah, serta kualitas tulang yg rendah membuat dirinya sama sekali tidak mempunyai harapan menjadi seorang pendekar.
Namun suatu kejadian telah merubah itu semua, merombak kehidupannya dan membuatnya menjadi pendekar tanpa tanding.
Sanggupkah pemuda berwajah rupawan itu memikul tanggung jawab dengan kekuatan yang dia miliki..??
Update setiap senin-jum'at.
sabtu-minggu libur (family time)
©by RubahPerak77
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cucu Angkat Yan Jian
Sejak di hari kematian Xun Mu, Ketua Sekte Pedang Pinus Yan Jian berjanji akan menghancurkan dan membunuh semua Anggota perampok Kalajengking Merah.
Namun setelah tiga tahun berlalu, tidak ada sedikitpun kemajuan. Semua anggota kalajengking merah yang tertangkap memilih bunuh diri daripada membocorkan rahasia kelompok nya.
Ditambah lagi kini anak dari murid nya tersebut sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi dikarenakan ibu nya pun telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Yan Jian bisa merasakan kesedihan yang bocah kecil itu rasakan.
Setelah berfikir semalaman, akhirnya Yan Jian berencana untuk mengangkat Xun JeHa sebagai cucu nya. Meskipun ia tahu bahwa jalan menjadi pendekar bagi anak laki laki itu tertutup namun jadi pendekar bukanlah satu satu nya pilihan yang dapat diambil, karena sepengetahuan Yan Jian, JeHa adalah anak yang cerdas dan sopan.
"Setidaknya mungkin dia bisa menjadi sarjana atau pun pejabat di masa depan"
Itu lah yang diucapkan Yan Jian sesaat sebelum dirinya mengambil posisi meditasi untuk mengolah pikiran.
Keesokan hari nya, Yan Jian pergi ke rumah anak nya dengan maksud membicarakan masalah pengangkatan JeHa menjadi cucu.
Ketika Yan Jian mulai mendekati sebuah rumah, nampak seorang Laki laki sedang bermain bersama anak perempuan. Laki laki itu adalah Yan Mou, anak tunggal dari Ketua Yan, sedangkan gadis kecil yang terlihat bermain bersama nya adalah Yan Ming, cucu ke dua dari Yan Jian.
"Kemana perginya Yan Guo..??" Ketua Yan terlihat melihat ke segala arah, mencari keberadaan cucu pertama nya.
"Yan Guo sedang berlatih bersama Tetua Zhou di pemandin" Yan Mou memjelaskan sekaligus mempersilahkan ayah nya untuk duduk di halaman nya.
"Apa yang membuat ayah tiba tiba datang ke rumahku sepagi ini..??, apakah berkaitan dengan sekte..??"
Yan Jian hanya menghela nafas ringan, tak disangka putranya akan langsung memberinya pertanyaan seperti itu tanpa berbasa basi.
"Mou'er, engkau pasti sudah mendengar kabar tentang kematian saudari Lin Meime kan..??, kedatanganku kesini untuk membicarakan perihal anak dari saudara Xun dan saudari Lin". Yan Jian mencoba berbicara setengan mungkin sambil mengelus jenggot panjang nya.
Tak terasa obrolan ayah dan anak itu berlangsung hingga dua jam lama nya, pada akhirnya Yan Mou bisa memahami alasan ayahnya mengangkat cucu Xun JeHa.
Sekilas pandang tentang Yan Mou.
Yan Mou adalah seorang pemuda yang cukup cakap dalam ilmu beladiri, dan berhasil menjadi salah satu Tetua pedang di usia yang terbilang muda, Namun karena menderita luka dalam yang cukup serius saat berlatih tanding, akhirnya dia memilih pensiun dari dunia persilatan dan membantu sekte di bidang administrasi. Istri Yan Mou meninggal sesaat setelah melahirkan Yan Ming.
Setelah mendapat persetujuan dari anak nya, hari itu juga Yan Jian langsung menemui Xun JeHa di rumahnya. Saat Yan Jian kesana, terlihat bocah itu sedang duduk termenung sambil memeluk lutut. Pandangan nya kosong, dan nampak bekas air mata yang mengering di pipi nya.
"Ehhhmmm...., JeHa apa yang sedang kau lakukan nak..??, apakah kau sudah makan..??" Yan Jian pun mengelus rambut anak laki laki itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku sedang merindukan Ibu kek, dan aku juga tidak merasa lapar", anak laki laki itu hanya menjawab tanpa menoleh.
Yan Jian pun duduk di samping anak tersebut. "JeHa, kamu harus menjaga kesehatanmu, ibu mu pasti sedih jika melihat kondisimu seperti ini"
"Jika ibu memang sedih, lalu mengapa dia tidak datang kek, kenapa dia meninggalkanku sendirian kek, kenapa?? apakah aku anak yang nakal???" anak kecil itu sekarang mendongak kan kepala nya menghadap kearah lelaki tua tersebut, tak terasa tangis mulai pecah dan air mata yang dari tadi tertahan pun tumpah.
Sebenarnya Yan Jian ingin menjawab, namun melihat kondisi anak itu, Yan Jian memutuskan diam dan memeluk anak laki laki tersebut.
Setelah merasa bahwa kondisi JeHa sudah agak tenang, Yan Jian segera mencoba menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu menjadikan Jeha sebagai cucu angkatnya. JeHa hanya diam dan sesekali mengangguk saat mendengatkan penjelasam dari Yan Jian. Akhirnya mereka berdua pun beranjak pergi dari tempat itu bersama sama.