Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Hanya Untukmu
Sejak pagi, pintu Ruang Kerja tidak terbuka.
Pak Ji berdiri di depan pintu setiap satu jam sekali, mengetuk dengan jarak yang sama, suara yang sama, dan kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan.
"Pak Darren, perlu sesuatu?"
Tidak ada jawaban.
Satu jam kemudian.
"Pak, Dokter Xiao meminta Anda makan sedikit sebelum minum obat."
Tetap sunyi.
Menjelang siang, Ratna datang membawa nampan makan siang. Nasi hangat, sup bening, obat yang sudah dipisahkan dalam wadah kecil. Ia berdiri di depan pintu selama hampir sepuluh menit, lalu menoleh pada Pak Ji.
Pak Ji menggeleng pelan.
Nampan itu dibawa kembali tanpa disentuh.
Di Sayap Giok, Keira duduk di tepi ranjang dengan scarf masih melilit leher. Bekas gigitan di bawahnya sudah mulai mengering, tetapi setiap kali ia menelan, kulit di sana tertarik dan mengingatkannya pada ruang bawah tanah.
Ningsih masuk dengan wajah cemas.
"Mbak, Pak Darren sakit lagi?"
Keira mengangkat kepala.
"Kenapa tanya begitu?"
"Sejak pagi semua orang bicara pelan. Ratna tidak tersenyum sama sekali. Pak Ji bolak-balik ke Ruang Kerja. Makanan Pak Darren dikembalikan utuh." Ningsih meremas ujung celemeknya. "Saya takut."
Keira ingin mengatakan tidak apa-apa.
Kalimat itu sudah sampai di lidahnya.
Lalu ia menelannya kembali.
Tidak apa-apa adalah kebohongan paling malas di dunia, dan ia sudah terlalu sering memakainya.
"Dia tidak sakit seperti kemarin," kata Keira pelan. "Dia hanya... butuh waktu."
"Mbak mau ke sana?"
Keira menatap jendela.
Di luar, langit Jakarta tampak putih panas. Compound bergerak seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang patah di bawah keteraturannya. Semua orang tahu tuan rumah sedang marah atau berduka, tetapi tidak ada yang tahu apakah mereka boleh menyebutnya.
Keira tahu.
Dan justru karena tahu, duduk diam terasa seperti pengkhianatan.
Sore hampir turun ketika ia akhirnya berdiri.
Ratna menunggu di koridor, seolah sudah menduga.
"Mbak Keira."
"Aku mau ke Ruang Kerja."
Ratna tidak menghalangi. Ia hanya menatap scarf di leher Keira dan wajah pucatnya. "Saya ikut sampai koridor."
"Terima kasih."
Pak Ji masih berdiri di depan pintu ketika Keira tiba. Lelaki tua itu tampak lebih lelah daripada kemarin. Di lantai dekat dinding ada nampan makan siang yang sudah dingin, secangkir teh yang tidak tersentuh, dan obat yang masih rapi di tempatnya.
"Pak Ji," kata Keira.
Pak Ji menoleh. Matanya mengatakan banyak hal yang tidak ia ucapkan.
Jangan masuk.
Tolong masuk.
Saya tidak tahu mana yang benar.
Keira berhenti di depannya. "Biarkan saya masuk."
"Nona Keira..."
"Kalau dia mau mengusir saya, biar dia sendiri yang bilang."
Pak Ji menatapnya lama sekali.
Lalu, perlahan, ia menyingkir dari depan pintu.
"Hati-hati," katanya.
Keira mengangguk.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Pintu tidak terkunci.
Ruangan itu gelap.
Tirai ditutup rapat, hanya menyisakan satu garis tipis cahaya senja di lantai. Lampu tidak dinyalakan. Aroma kayu, debu, darah yang mulai mengering, dan sesuatu yang hangus dari emosi manusia memenuhi udara.
Pecahan kaca masih berserakan.
Foto Raymond Hendrawan tergeletak di lantai, robek di bagian wajah. Pulpen tua patah menjadi dua. Manset emas yang kemarin mungkin bernilai ratusan juta kini berada di bawah kaki meja seperti barang tidak berguna.
Tidak ada yang berani membersihkan ruangan ini.
Darren duduk di kursi di balik meja, posisi hampir sama seperti kemarin. Kemejanya kusut. Wajahnya terlalu pucat. Bayangan gelap berada di bawah matanya. Luka di tangan kanannya hanya dibalut asal, putih kainnya sudah bernoda merah tua.
Ia tidak menoleh ketika Keira masuk.
"Keluar."
Suaranya serak.
Keira menutup pintu di belakangnya.
"Tidak."
Untuk beberapa detik, hanya ada sunyi.
Darren akhirnya mengangkat mata. Pandangannya gelap, kosong, dan tajam sekaligus.
"Aku bilang keluar."
"Aku dengar."
"Keira."
"Aku dengar, Pak Darren."
Ia berjalan pelan, menghindari pecahan kaca. Setiap langkah terdengar terlalu jelas di ruangan gelap itu. Ia tidak membawa makanan, tidak membawa obat, tidak membawa kalimat motivasi yang dibungkus manis.
Ia hanya membawa dirinya sendiri.
Ketika sampai di sisi kursi Darren, ia tidak duduk di depannya seperti orang yang hendak bernegosiasi. Ia duduk di lantai, di samping kakinya, lalu bersandar pada sisi kursi.
Darren membeku.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Duduk."
"Di lantai."
"Kursinya cuma satu."
Untuk pertama kalinya sepanjang hari, sesuatu bergerak di mata Darren. Bukan tawa. Belum. Tetapi retakan kecil pada dinding yang terlalu tebal.
Keira menarik napas pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke sisi paha Darren, tidak berat, hanya cukup untuk memberi tahu bahwa ia ada di sana.
"Aku tidak akan bilang semuanya akan baik-baik saja," katanya.
Darren tidak menjawab.
"Karena mungkin tidak. Setidaknya tidak cepat. Tidak rapi. Tidak seperti orang-orang di drama yang menangis lima menit lalu besok sudah sembuh."
Tangannya bergerak sedikit, hampir menyentuh ujung celana Darren, lalu berhenti.
"Aku juga tidak akan bilang kamu harus memaafkan siapa pun."
Di atasnya, napas Darren berubah.
"Orang itu ayahmu, tapi dia menyakitimu. Kalau kamu marah, marahlah. Kalau kamu benci, bencilah. Aku tidak akan berdiri di sini dan menyuruhmu jadi orang baik demi nama keluarga."
Gelap semakin turun.
Garis cahaya senja di lantai pelan-pelan memudar.
Keira tidak tahu berapa lama mereka diam. Lima menit. Setengah jam. Mungkin lebih. Di luar pintu, Pak Ji mungkin masih berdiri. Di sayap tamu, Leyla mungkin sedang menatap hasil lab. Di Sayap Giok, Ningsih mungkin berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku.
Tetapi di ruangan ini, dunia tinggal dua napas.
Napas Darren yang berat.
Napas Keira yang mencoba tetap stabil.
Akhirnya Darren berbicara.
"Kenapa kamu tidak takut padaku?"
Suaranya begitu rendah sampai Keira hampir mengira ia membayangkannya.
"Semua orang takut padaku."
Keira menutup mata.
Kalimat itu tidak terdengar seperti kesombongan.
Terdengar seperti fakta yang sudah terlalu lama ia telan sendirian.
"Aku pernah takut," kata Keira.
Jari Darren menegang di atas sandaran kursi.
"Saat matamu merah. Saat kamu menggigitku. Saat kamu melihatku seperti tidak mengenal siapa pun." Keira membuka mata, menatap kegelapan di depan mereka. "Aku takut."
"Lalu kenapa tetap tinggal?"
Keira tersenyum kecil.
Tidak ada yang lucu.
Mungkin karena kalau tidak tersenyum, ia akan menangis.
"Karena aku tahu rasanya ditinggalkan."
Darren tidak bergerak.
"Aku tahu rasanya menjadi orang yang tidak dipilih. Dianggap beban. Disimpan kalau berguna, dibuang kalau merepotkan." Suara Keira pelan, tetapi tidak pecah. "Aku tidak mau melakukan itu padamu."
Ia menarik napas.
Lalu mengucapkan kalimat yang sejak kemarin tinggal di dadanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Tangan Darren bergerak.
Ia menggenggam tangan Keira.
Genggamannya tidak kuat seperti biasanya. Tubuhnya terlalu lelah untuk itu. Tetapi jari-jarinya menutup di sekitar tangan Keira dengan putus asa yang membuat dada Keira nyeri.
Seperti seseorang yang tidak percaya tali yang dilemparkan padanya benar-benar ada.
"Kalau tidak diucapkan," kata Darren, "bagaimana bisa disebut janji?"
Keira terdiam.
Ia mengerti.
Darren bukan meminta rayuan.
Ia meminta bentuk.
Sesuatu yang bisa dipegang ketika dunia kembali pecah.
Keira mengangkat kepala. Dalam gelap, ia hanya bisa melihat garis wajah Darren, mata yang terlalu dalam, bibir yang kering, dan lelah yang membuatnya tampak lebih manusia daripada penguasa mana pun.
"Aku berjanji," katanya.
Kata itu masih menggantung di udara ketika Darren menunduk.
Keira sempat melihat gerakannya.
Sempat merasakan napasnya mendekat.
Lalu bibir Darren menyentuh bibirnya.
Bukan seperti serangan.
Bukan seperti tuntutan.
Ciuman itu sangat pelan, hampir hati-hati, seolah Darren sendiri takut jika ia terlalu kuat, dunia kecil yang baru saja mereka bangun akan pecah. Bibirnya dingin, sedikit kering, dan bergetar tipis.
Keira tidak bergerak pada detik pertama.
Ia lupa cara bernapas.
Lalu tangan Darren menyentuh pipinya.
Ringan.
Meminta izin.
Air mata Keira jatuh tanpa suara.
Ia menutup mata dan membalas ciuman itu.
Di dalam gelap, tidak ada Raymond Hendrawan, tidak ada Stempel Keluarga, tidak ada Santet Darah, tidak ada masa depan yang terbakar. Hanya ada pria yang baru saja kehilangan sisa ayahnya, dan perempuan yang tidak punya apa-apa selain janji untuk tetap tinggal.
Darren menarik napas gemetar di dekat bibirnya.
"Keira."
Namanya terdengar seperti sesuatu yang ia temukan setelah tersesat terlalu lama.
Keira membuka mata.
Ia tidak bisa melihat jelas, tetapi ia merasakan tangan Darren masih menangkup wajahnya. Merasakan jantungnya sendiri berdetak terlalu cepat. Merasakan bahwa sesuatu sudah berubah, bukan meledak, bukan berteriak, tetapi berpindah tempat dengan tenang dan tidak bisa dikembalikan lagi.
Darren menariknya perlahan dari lantai.
Keira mengikuti, duduk di sisi kursinya. Darren memeluknya.
Kali ini tidak ada jarak sopan.
Tidak ada alasan medis.
Tidak ada pura-pura bahwa ini hanya perlindungan.
Keira bersandar di dadanya, hati-hati agar tidak menyentuh tangan yang terluka. Darren menunduk, dagunya menyentuh puncak kepala Keira.
Untuk waktu yang lama, mereka diam.
Lalu Darren berbicara.
Suaranya sangat pelan.
Seperti kalimat itu bukan untuk dunia, bukan untuk keluarga Hendrawan, bukan untuk siapa pun di luar ruangan gelap ini.
"Kebaikanku di dunia ini, hanya untukmu seorang."
Keira menutup mata.
Air matanya jatuh lagi.
Kali ini ia tidak menyembunyikannya.
Ia tidak tahu apakah kalimat itu janji, kutukan, atau hadiah yang terlalu berat untuk diterima seorang gadis dari Panti Harapan.
Tetapi ia tahu satu hal.
Darren memilihnya ketika ia sedang paling hancur.
Dan Keira, dengan seluruh ketakutan serta ketidaksempurnaannya, memilihnya kembali.