NovelToon NovelToon
ZORA'S SCANDAL - Skandal Seorang Istri

ZORA'S SCANDAL - Skandal Seorang Istri

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Fantasi / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:284.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Otom

Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.

Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.

Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?

Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.

NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syukuran 4 Bulan

Di kamar yang sudah dipesan Amelia, dengan penuh kesadaran tanpa pengaruh alkohol Jono membalas rangsangan yang diberikan oleh Amelia. Dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, kalau dia menolak apa yang diinginkan Amelia dia akan malu karena videonya tanpa sehelai benang pun akan ditonton oleh banyak orang.

Jono mengimbangi semua perlakukan Amelia kepadanya malam itu. Tidak ada lagi rasa canggung pada Jono. Dia tidak memikirkan lagi id, ego, dan superego-nya Freud. Defense Mechanism-nya sudah terbangun, dia sudah tidak lagi memikirkan apa yang dilakukannya salah atau tidak. Kali ini dia menolak jika apa yang dilakukannya benar-benar salah secara moral. Jono lebih memilih agar video telanjangnya tidak tersebar ke mana-mana.

Jono menikmati tubuh mulus Amelia seutuhnya, tanpa merasa bersalah, tanpa memikirkan Zora di kepalanya. Jono melampiaskan semua kekesalannya kepada Amelia dengan cara itu, dia tidak lagi memikirkan kehormatan Amelia, tidak menjaga-jaga kehormatan Amelia, tidak berlagak jadi pahlawan kesiangan yang ingin menjaga kehormatan orang lain yang bahkan tidak menghormati kehormatannya sendiri.

Sementara di pihak lain, Amelia semakin terkagum-kagum dengan permainan Jono kali ini. Dia tidak menyangka Jono se-menggairahkan itu, dia hampir kewalahan menghadapi Jono. Ini yang Amelia cari selama ini. Dari sekian banyak laki-laki yang sudah ditidurinya, Jono jauh di atas rata-rata. Dia sangat menikmati permainan mereka malam itu. Andaikan Aditya juga mampu ditaklukkannya, mungkin akan jauh lebih menggairahkan, Amelia masih tetap penasaran dengan sosok Aditya.

Jono tidak mau melepaskan Amelia walau dia sudah meronta untuk dilepaskan.

“Jon, Jono…! Plak!” Amelia menampar Jono yang kini tidak bisa dikendalikannya lagi.

“Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan?” Jono masih saja tidak mau melepaskan Amelia, dicekiknya leher Amelia kali ini.

“Jo..n!” Amelia kesulitan bernafas sekarang.

Jono melonggarkan cekikannya agar Amelia bisa bernafas.

“Bukankah ini yang kau mau, heh?” Jono menampar pelan pipi Amelia yang tidak berdaya itu.

Kini Amelia bangkit, dicekiknya leher Jono. Cekikan Amelia yang tidak bertenaga itu justru memberikan gairah tersendiri bagi Jono. Dihajarnya kembali Amelia. Amelia benar-benar kewalahan kali ini, dia telah membangunkan singa dari tidur siangnya. Dia benar-benar tidak berdaya, dia menerima hukuman dari Jono. Entah mengapa, Amelia, pelan tapi pasti merasa apa yang dilakukan Jono padanya sangat nikmat. Amelia tidak tahu mendeskripsikan apa yang dirasakannya kali ini, sakit, nikmat, merasa dilecehkan, tidak berdaya, terkejut, takut, semua rasa bersatu padu.

Akhirnya mereka berdua terkulai saling berhadap-hadapan. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing. Amelia melemparkan senyumnya yang tulus kepada Jono. Jono masih termangu, rohnya sudah kembali. Dia tidak tahu setan apa yang sudah merasukinya hingga mampu melakukan apa yang baru saja dia lakukan. Jono ingin membalas senyuman Amelia, karena bagaimanapun dia juga menikmati apa yang baru saja dilakukannya, apa yang dilakukan Amelia barusan. Tapi dia masih canggung, tidak tahu mau bereaksi bagaimana.

Jono masih termangu. Dia masih asyik berbicara pada dirinya sendiri. Tangan Amelia akhirnya mendarat di pipi Jono dan mengusapnya pelan, seperti ibunya mengusap pipinya jika Jono memiliki masalah dulu.

Amelia merasakan bulu-bulu pendek yang ada di pipi Jono, dia bermaksud untuk meraih kepala Jono dan mendekatkannya padanya. Jono menolak ajakan Amelia. Dia membalikkan tubuhnya dari hadapan Amelia. Amelia mendekatkan tubuhnya dan memeluk Jono dari belakang. Jono bergeming. Mereka tertidur dan bermimpi indah, masing-masing memimpikan orang yang didamba-dambakan. Amelia memimpikan Aditya sedangkan Jono memimpikan Zora.

Usia kandungan Zora kini sudah empat bulan. Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, Aditya mengusulkan kepada Zora untuk mengadakan syukuran 4 bulan, dia khusus pulang ke Jakarta hanya untuk merayakan ini.

Mereka mengundang semua keluarga, beberapa kerabat dan tetangga sekitar.

Mereka tidak menyangka sebenarnya keluarga Aditya semuanya datang, Ibu dan Bapak mertua Zora, dan saudara-saudarinya. Semuanya datang, Ibu Aditya memerintahkan agar semua anak-anaknya meluangkan waktu untuk hadir.

“Selamat ya, nak!” Ibu Aditya menyalami Aditya. Aditya sangat terharu dengan kehadiran ibunya itu. Dia memeluk erat tubuh ibunya yang mulai menua. Dia merasa sudah menjadi anak yang paling durhaka karena mengabaikan keberadaannya selama 10 tahun dan memilih Zora. Momen ini adalah momen yang sangat emosional bagi Aditya. Dia menangis terisak di bahu ibunya, tangisnya itu seolah mau menumpahkan rasa bersalahnya kepada ibu yang telah melahirkannya itu.

“Sudah-sudah, jangan nangis, cengeng banget. Ini hari yang harusnya membahagiakan, kan syukuran? Kok malah menangis?!” Ibunya mengusap-usap badan bagian belakang Aditya.

“Terima kasih sudah datang, bu!” Aditya melepaskan pelukannya, wajahnya penuh dengan air mata.

“Sudah seharusnya kan, nak!” Ibunya melembut, dia mengusap air mata anaknya itu. Baru kali ini dia tidak marah-marah jika ada anak laki-lakinya mengeluarkan air mata, di hadapan orang banyak pula.

Aditya mengukir senyuman yang paling manis di wajahnya, namun malah kelihatan tidak berbentuk senyuman, dia sangat terharu, dia ingin mengeluarkan air mata lagi, susah payah dia menahan air matanya dan menggantinya dengan senyuman yang paling baik.

Aditya bergantian memeluk bapaknya. Dia tidak menangis kali ini, dia tahu jika bapaknya sangat mendukung semua keputusannya. Diam-diam mereka juga menjalin komunikasi di belakang ibunya.

Kali ini saudara-sadarinya yang dipeluknya, dia benar-benar berterima kasih atas kehadiran mereka semua.

Ada beberapa teman Aditya dan Zora yang memang berdomisili di Jakarta, yang sedang luang, juga hadir untuk memberikan selamat dan doa tulus bagi bayi dan orang tua si bayi yang sedang dalam kandungan.

Amelia mendekati Aditya dan Zora. Disalaminya keduanya dengan senyum yang paling manis namun di dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang dilihatnya kali itu. Aditya menunjukkan kemesraannya dengan Zora kepada semua yang hadir saat itu.

Amelia cemburu kepada Zora karena dia mendapatkan kasih sayang dan cinta yang sangat tulus dari laki-laki yang diinginkannya. Ingin sekali dia berteriak di situ, tapi pribadinya yang lain dalam dirinya mengingatkannya untuk mengontrol diri. "Jangan main gila di sini, Mel!" Amelia berbisik pada diri sendiri.

Setelah menyalami mereka berdua, Amelia mengambil tempat di pojokan dekat anak-anak dari panti asuhan yang Zora undang. Amelia selalu memperhatikan Aditya dan Zora dari kejauhan, tidak ada yang bisa membuat matanya beralih dari Aditya dan Zora yang memamerkan kemesraan. Apalagi saat-saat Aditya mengusap-usap perut Zora yang semakin membuncit. Amelia semakin kesal.

Selera makannya tidak datang saat itu. Saat orang-orang sudah mulai mengambil makanan masing-masing dan melahapnya, dia masih bergeming. Matanya masih tertuju pada pasangan yang sedang berbahagia itu karena tidak lama lagi mereka akan mendapatkan anak.

“Tidak makan?” Suara berat dari seorang laki-laki yang kini duduk di sampingnya bertanya pada Amelia. Dia mengenal suara itu.

“Tidak, saya tidak selera. Aku menyesal datang ke sini, harus menyaksikan mereka bermesraan di depan orang banyak, norak banget!” Amelia menggertu.

“Kalau kesal, jangan dilihat terus. Mau pindah tempat nggak?” Jono menyampaikan penawaran.

“Mau ke mana?” Amelia balik bertanya.

“Terserah!” Jono memberikan kuasa pada Amelia untuk memilih tempat sesuka hatinya.

 

Bersambung

1
Tomson Silalahi
keren
Ama
bagus
ariasa sinta
368
Qiana
Salam Pagi 🙏🙏
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Qiana
Tingkatkan mutu
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
Qiana
Like Zora 👍👍👍👍👍
Qiana
menebar cinta untuk Zora ♥️♥️♥️♥️♥️
Qiana
Bintang datang untuk Zora
⭐⭐⭐⭐⭐
Dania
Salam 🙏🙏
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
Dania
Semangat Zora
🌹🌹🌹🌹🌹
Dania
Jempol buat Zora 👍👍👍👍👍
Dania
Zora mendapat Love ♥️♥️♥️♥️♥️
Dania
Lanjut, nambah dukungan buat Zora
⭐⭐⭐⭐⭐
KIA Qirana
Zora
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
Dhina ♑
Semangat ya 👏👏👏👏⭐⭐⭐⭐
Dhina ♑
Zora, selamat malam 🙏🙏 baru awal sudah kontroversi
bikin ngeri 😂😂😂
Siera Arisanty
sampe tamat gak nyambung cerita ttg Agni,,beda sinopsis dgn isi cerita ,,janji buta othor🤬
Bang Otom: Aku buat cerita khusus Agni di Cinta Tak Bertuan kak, silakan kak🙏
total 1 replies
Becky D'lafonte
waduh jgn2 zora hamil anak jono
Becky D'lafonte
aku mampir thor, like n favorite
Miss haluu🌹
Im come back ..😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!