"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 21
“Kayaknya dia udah milih orang favoritnya.”
Ucapan ayah Dinda malam itu terus terngiang di kepala Raka sepanjang perjalanan pulang. Pria itu menyetir dalam diam.
Sedangkan di kursi bayi sebelah belakang, Glenka sudah tertidur lelap setelah hampir setengah jam terus menggenggam cardigan milik Dinda yang tanpa sadar masih terbawa bersamanya.
Raka sempat mencoba melepaskannya tadi. Namun Glenka malah menangis lagi. Alhasil, Dinda justru memberikan cardigan itu sambil tertawa kecil.
“Biar aja dulu. Besok juga balik.”
Dan entah kenapa—kalimat sederhana itu terasa hangat bagi Raka.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana seperti tadi. Rumah sederhana, suara tawa kecil, makan malam ramai-ramai. Dan seseorang yang dengan sabar mengelap mulut putrinya setiap kali belepotan makan.
Sangat sederhana, namun justru terasa seperti rumah yang sesungguhnya.
*****
Sedangkan di rumah orang tuanya, Dinda baru saja selesai membereskan dapur ketika ponselnya bergetar pelan.
Mas Ervin Calling.
Seketika senyumnya memudar. Sudah tiga hari terakhir Ervin terus menghubunginya tanpa henti. Kadang Dinda menjawab, kadang tidak. Dan malam ini—entah kenapa ia merasa lelah.
Namun sebelum panggilan itu mati, jemarinya justru refleks menekan tombol hijau.
“Halo?”
“Din...” Suara Ervin terdengar berat. Seperti orang yang tidak tidur cukup lama.
“Iya.”
“Kamu udah istirahat?”
“Belum.”
Untuk beberapa detik, pria itu terdiam. Sampai akhirnya terdengar helaan napas panjang dari seberang sana.
“Aku ke rumah orang tua kamu tadi.”
Jantung Dinda langsung berdetak pelan.
“Ngapain?”
“Mau ketemu kamu.”
Dinda memejamkan mata sesaat. Lagi dan lagi—dadanya terasa sesak mendengar suara suaminya.
Karena dibalik semua kesalahan Ervin, ia tahu satu hal—pria itu benar-benar menyesal. Namun luka yang ditinggalkan terlalu besar.
“Aku nggak siap ketemu sekarang, Mas.”
“Aku cuma mau lihat kamu sebentar.”
“Aku capek.”
“Aku lebih capek, Din.”
Kalimat itu membuat Dinda langsung terdiam. Sedangkan Ervin tertawa kecil hambar dari seberang sana.
“Aku capek... nyesel tiap hari.”
Deg.
Tenggorokan Dinda terasa tercekat.
“Aku tahu aku jahat,” lanjut pria itu pelan. “Aku tahu aku nyakitin kamu banget.”
“Mas—”
“Tapi aku beneran nggak bisa kehilangan kamu.”
Dan lagi-lagi—Dinda tidak mampu menjawab. Karena suaminya terdengar sangat hancur malam ini.
“Dinda...” suara Ervin mulai bergetar. “Rumah kita kosong banget tanpa kamu.”
Kalimat itu sukses membuat mata wanita tersebut memanas. Karena dulu—ia selalu menunggu diperlakukan seperti seseorang yang berharga di rumah itu.
Namun saat semuanya terlambat, Ervin baru menyadari keberadaannya.
“Aku tutup dulu ya.”
“Din jangan—” Namun Dinda lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.
Setelah itu, wanita tersebut langsung terduduk lemas di kursi makan sambil menahan napasnya yang terasa berat.
Sakit. Masih sakit. Dan yang paling menyakitkan—ia masih peduli.
*****
Sementara itu, di apartemen milik Jenita.
Wanita muda itu duduk sendirian di kamar bayi sambil menggendong putrinya yang akhirnya tertidur setelah hampir satu jam menangis.
Sedangkan Ervin belum juga pulang sejak sore tadi. Tatapan Jenita kosong menatap wajah kecil putrinya.
Cantik. Sangat cantik. Namun anehnya—ia justru merasa takut. Karena semakin hari, ia merasa Ervin semakin jauh darinya.
Pria itu memang bertanggung jawab. Tetap memberi perhatian. Tetap menjaga dirinya dan bayi mereka. Namun hati Ervin—tidak pernah benar-benar tinggal di tempat itu.
Dan Jenita mulai menyadarinya.
Ponselnya yang tergeletak di samping bantal tiba-tiba menyala. Sebuah foto masuk dari salah satu temannya.
Awalnya Jenita tidak terlalu peduli, namun begitu membuka foto tersebut—tubuhnya langsung membeku.
Itu foto Dinda—sedang menggendong bayi kecil. Dan di sampingnya—Raka. Mereka sedang berdiri di depan minimarket sambil tertawa kecil.
Mata Jenita langsung membulat.
Entah kenapa—dadanya terasa tidak nyaman. Karena untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai—Dinda terlihat bahagia.
Dan itu membuat Jenita merasa kalah.
*****
Keesokan paginya, butik Bu Indri kembali ramai. Namun hari itu Dinda datang sedikit terlambat karena semalaman sulit tidur.
Pikirannya penuh. Tentang Ervin, tentang Glenka. Dan entah kenapa—tentang Raka juga.
“Wih, Mbak Dinda disenyumin terus tuh,” goda salah satu pegawai butik tiba-tiba.
“Hah?” Dinda langsung mengernyit bingung.
Sedangkan pegawai tersebut menunjuk ke arah luar butik. Dan saat itu juga—Dinda langsung membeku.
Raka berdiri di depan mobil sambil menggendong Glenka. Lagi.
“Ya ampun...” gumam wanita itu refleks.
Sedangkan Glenka langsung tersenyum lebar begitu melihat Dinda dari balik kaca butik.
“Daaa!” Suara kecil itu bahkan terdengar sampai ke dalam. Beberapa pegawai butik langsung gemas sendiri.
“Lucu banget sih anaknya!”
“Itu anak siapa, Mbak?”
“Mirip anaknya sendiri...” celetuk seseorang sambil tertawa kecil.
Dan entah kenapa—kalimat itu membuat dada Dinda berdegup aneh.
Tak ingin jadi pusat perhatian, wanita itu langsung berjalan keluar butik. “Kok kesini lagi?” tanyanya pelan.
Raka terlihat sedikit salah tingkah. “Ganggu ya?”
“Bukan gitu.” Dinda cepat membantahnya.
“Dia dari tadi nangis nyari lo.” Seolah membenarkan ucapan ayahnya, Glenka langsung mengulurkan tangan kecilnya ke arah Dinda.
Dan lagi-lagi—wanita itu langsung luluh.
“Ya ampun...” lirihnya sambil menggendong bayi kecil tersebut. Begitu masuk ke pelukan Dinda, Glenka langsung memeluk lehernya erat.
Nyaman, seolah tempat favoritnya memang disana.
“Mbak...” salah satu pegawai butik tiba-tiba berbisik pelan. “Serius itu bukan anak Mbak Dinda?”
Dinda langsung memelototinya. Namun semua orang justru tertawa kecil melihat reaksinya.
Sedangkan Raka diam-diam memperhatikan semuanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama—ia melihat sesuatu yang dulu pernah sangat ia inginkan.
Kehangatan, rumah, dan keluarga kecil sederhana.
Namun tanpa mereka sadari—sebuah mobil hitam sejak tadi terparkir di seberang jalan. Dengan seorang pria di dalamnya yang menatap lurus ke arah butik tanpa berkedip.
Ervin.
Tangannya mencengkram setir sangat kuat. Sedangkan matanya terpaku pada satu pemandangan—Dinda yang sedang menggendong bayi sambil tertawa kecil bersama Raka.
Dan entah kenapa—pemandangan itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding saat mengetahui dirinya akan menjadi ayah dulu.
Karena untuk pertama kalinya—Ervin melihat Dinda benar-benar terlihat hidup lagi.
Tanpa dirinya.