【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Ibu Yuna perlahan melepaskan pelukannya, menyeka sisa air mata di pipinya yang mulai berkerut dengan selembar tisu. Senyum lega kini terukir jelas di wajahnya, menghapus seluruh gurat kecemasan yang sejak kemarin menggelayuti pikirannya. Keikhlasan Tina dan kelapangan hati keluarga Pak Rahman bagaikan air sejuk yang menyiram sebongkah batu panas di dalam dadanya.
"Kalau begitu, Tante pulang dulu ya, Tin, Bu, Pak," pamit Ibu Yuna seraya bangkit berdiri, merapikan letak kain selendangnya. Sebelum melangkah menuju pintu, ia menoleh kembali ke arah Tina dengan binar mata yang sulit diartikan, lalu melempar senyum penuh arti. "Lusa, insyaAllah, kami akan berkunjung lagi ke sini."
"Ah, iya, Tante. Silakan," sahut Tina ramah, ikut bangkit untuk mengantar tetangganya itu sampai ke ambang pintu depan.
Tina berdiri di teras, memandangi punggung Ibu Yuna yang berjalan perlahan di depan rumah hingga menghilang di balik pagar tanaman pucuk merah. Di dalam benak polosnya, Tina sama sekali tidak terlalu menghiraukan atau memikirkan lebih dalam makna di balik kalimat *"Lusa insyaAllah kami akan berkunjung"*. Baginya, itu hanyalah kalimat basa-basi yang lumrah diucapkan oleh sesama tetangga kampung setelah sebuah pertikaian selesai. Ia menganggapnya angin lalu, tanpa menyadari bahwa ada sebuah rencana besar yang jauh lebih suci sedang dirajut di balik dinding rumah panggung seberang jalan.
Malam hari pun tiba, menyelimuti Desa Sukamaju dengan kegelapan yang tenang dan semilir angin pegunungan yang dingin. Di dalam rumah panggung Pak Rahman, suasana ruang makan yang biasanya kaku dan sunyi kini terasa berbeda. Di bawah pendar kuning lampu neon yang agak temaram, mereka semua berkumpul di atas tikar pandan untuk makan malam bersama.
Di sela-sela denting sendok yang beradu dengan piring seng, Tina dan Lisa saling melemparkan pandangan penuh arti. Kedua bola mata mereka sesekali bergerak kompak, melirik ke arah Fandi yang duduk bersila di sudut tikar. Pemuda itu makan dengan sangat tenang, mengambil lauk seadanya tanpa mengeluh, dan berkali-kali menyendokkan nasi ke piring Abah atau Mamanya sebelum mereka meminta.
Pemandangan langka itu membuat Tina dan Lisa harus mati-matian menahan senyum geli sekaligus heran.
"Kalian berdua ini kenapa, sih? Dari tadi mata pecicilan begitu," tegur Rika yang menyadari gelagat aneh kedua adik perempuannya.
Tina tersentak, hampir saja tersedak sebutir nasi. "Ah, tidak apa-apa kok, Kak," sahut Tina cepat, langsung menundukkan kepala dan berpura-pura sibuk mengunyah sayur kelor di piringnya. Lisa di sebelahnya hanya bisa menyenggol siku Tina sambil menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokan.
Setelah prosesi makan malam yang hangat itu selesai, kedua orang tua Tina melangkah ke ruang tamu utama. Pak Rahman dan Bu Aminah duduk berdampingan di atas kursi kayu tua, menikmati teh hangat sambil bercengkrama lirih mengenai masalah kebun cokelat mereka.
Sementara itu, di dalam kamar Rika, tiga bersaudara—Rika, Tina, dan Lisa—sedang berkumpul di atas kasur, bermain bersama Ali yang sedang lucu-lucunya menyusun balok mainan kayu.
Malam itu, entah mengapa, suasana di dalam rumah terasa sangat adem. Rasa sesak yang berbulan-bulan menghantui atap rumah itu seolah menguap, digantikan oleh kedamaian fana yang begitu menenangkan jiwa.
Di tengah keheningan malam yang damai itu, pintu kamar Fandi perlahan berderit terbuka. Fandi keluar dengan langkah kaki yang sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia mengenakan baju koko putih yang sudah agak pudar warnanya dan sarung yang terikat rapi. Begitu matanya menangkap sosok kedua orang tuanya yang sedang duduk bersandar di ruang tamu, langkah kaki Fandi mendadak terhenti.
Ia memandangi punggung ringkih ayahnya yang semakin membungkuk, dan rambut ibunya yang kini memutih penuh uban di bawah cahaya lampu. Seketika, dada Fandi terasa seperti dihantam oleh godam yang luar biasa besar. Rasa bersalah yang selama seminggu ini ia kubur di dalam lubuk hatinya mendadak naik ke permukaan, menyumbat tenggorokannya dan membuat matanya panas seketika.
Fandi melangkah maju. Setiap langkahnya terasa bergetar. Tanpa peringatan apa pun, pemuda yang biasanya selalu membantah, berteriak, dan merasa paling benar itu langsung menjatuhkan lututnya di atas lantai, tepat di hadapan kedua orang tuanya.
*Tuk...*
Suara lutut Fandi di lantai membuat Pak Rahman dan Bu Aminah terkejut. Belum sempat mereka bertanya, Fandi sudah lebih dulu meraih telapak tangan kasar ibunya, lalu beralih meraih tangan ayahnya yang penuh kapalan. Ia menggenggam kedua pasang tangan suci itu dengan jemarinya yang bergetar hebat, membawa tangan-tangan itu ke wajahnya, lalu menciumnya dalam-dalam.
Dan pada detik itulah, pertahanan lelaki Fandi runtuh sepenuhnya. Isak tangis yang luar biasa hebat pecah dari bibirnya. Tubuhnya yang kekar seketika berguncang dahsyat di atas lantai.
"Ma... Abah... Fandi minta maaf..." ucap Fandi dengan suara yang sangat parau, tercekat oleh tangis yang membuncah dari dadanya. Air matanya mengalir deras tanpa bendungan, membasahi punggung tangan kedua orang tuanya. "Fandi minta maaf, Ma... Fandi sudah durhaka sama Mama dan Abah... Fandi sudah jadi anak pembawa sial di rumah ini..."
Bu Aminah tertegun, tangannya yang berada di dalam genggaman Fandi seketika bergetar. "Fandi... ada apa, Nak? Berdirilah..."
"Tidak, Ma! Jangan suruh Fandi berdiri!" ratap Fandi, tangisnya semakin menjadi-jadi, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Ia memeluk erat kaki ibunya, menenggelamkan wajahnya di sana dengan rasa hina yang teramat sangat.
"Fandi yang sudah mencuri uang tabungan Tina... Fandi yang mengambil uang modal usaha Kak Rika... Fandi egois, Ma! Fandi cuma memikirkan kesenangan Fandi sendiri sampai tidak peduli kalau uang itu untuk obat Mama... Fandi hampir membuat Mama meninggal..."
Fandi mendongak, menatap ibunya dengan mata yang merah seolah berdarah, air mata dan keringat bercampur di wajahnya yang pias.
"Malam itu di rumah sakit... saat melihat Mama tidak bernapas dengan bantuan mesin, Fandi takut sekali, Ma... Fandi takut mati dalam keadaan membawa dosa kutukan dari Mama dan Abah... Fandi minta maaf... Tolong ampuni Fandi, Bah... Ampuni Fandi, Ma... Tolong jangan kutuk Fandi jadi anak durhaka..."
Pak Rahman yang biasanya selalu tegar dan keras, kini tidak mampu lagi membendung air matanya. Gurat-gurat keriput di wajah tuanya basah seketika. Ia meletakkan tangan tuanya di atas kepala Fandi, mencengkeram rambut anaknya dengan rasa sayang seorang ayah yang teramat dalam.
"Fandi... anakku..." suara Pak Rahman bergetar, air matanya menetes jatuh tepat di atas punggung Fandi. "Abah sudah memaafkanmu, Nak... Jauh sebelum kamu bersujud di sini, Abah dan Mama sudah memaafkanmu..."
Bu Aminah pun ikut luruh. Wanita tua itu membungkuk, memeluk kepala anak laki-laki satu-satunya itu dengan tangisan yang pecah, merapatkan dada Fandi ke dalam pelukannya yang hangat. "Iya, Nak... Mama tidak pernah membencimu... Mama selalu mendoakanmu agar kamu kembali ke jalan yang benar... Ampun Allah sudah turun untukmu, Fandi..."
Suara tangis Fandi yang melengking pilu dan raungan asma penuh haru dari kedua orang tua itu seketika menembus dinding kamar Rika. Di dalam kamar, ketiga gadis itu mendadak menghentikan aktivitas mereka. Lisa yang sedang tertawa langsung terdiam, wajahnya berubah pias.
Tanpa komando, Rika, Tina, dan Lisa langsung berhamburan keluar dari kamar. Langkah mereka terhenti di ambang pintu koridor tengah, bersembunyi di balik tirai tipis untuk mengintip apa yang sedang terjadi di ruang tamu.
Dan pemandangan di depan mereka seketika mengunci napas mereka. Fandi—abang mereka yang biasanya kasar dan menyeramkan—kini sedang bersujud di lantai, memeluk kaki ibunya sambil menangis meraung-raung seperti seorang anak kecil yang kehilangan arah di tengah hutan. Di atasnya, Abah dan Mama ikut memeluknya dengan air mata yang membasahi seluruh pakaian mereka.
Melihat pemandangan yang begitu menyayat hati itu, air mata Rika langsung meleleh jatuh. Rasa marah dan dendamnya atas uang modal usaha yang dicuri Fandi menguap lenyap tanpa sisa, digantikan oleh rasa iba yang mendalam sebagai seorang kakak sulung.
Lisa, yang biasanya paling keras menyumpahi Fandi sebagai anak tidak tahu di untung, kini menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tangis remaja itu pecah seketika. Bahunya berguncang hebat; ia tidak pernah menyangka akan melihat abangnya sehancur dan setulus itu memohon ampunan. Rasa benci di hatinya seketika runtuh, digantikan oleh rasa haru yang luar biasa.
Tina berdiri di antara kedua saudaranya, memandangi pusaran air mata keluarga itu dengan dada yang terasa sangat sesak. Air matanya mengalir deras melewati pipinya, membasahi jilbab rumahannya. Kelelahan fisik dan mental yang ia rasakan selama berbulan-bulan untuk menopang rumah ini seolah terbayar lunas dalam satu detik malam ini. Miliaran rupiah uang di dunia tidak akan pernah bisa membeli pemandangan suci yang sedang tersaji di depan matanya saat ini: kembalinya jiwa abangnya yang sempat hilang.
Tanpa bisa ditahan lagi, Rika melangkah maju mendekati lingkaran tersebut, diikuti oleh Tina dan Lisa dari belakang. Mereka berlutut bersama di atas lantai papan, melingkarkan lengan mereka pada punggung Fandi dan tubuh kedua orang tua mereka.
Malam itu, di bawah atap rumah panggung yang sederhana dan tua, seisi keluarga Pak Rahman menyatu dalam sebuah pelukan yang erat dan basah. Isak tangis haru, untaian maaf yang tulus, dan doa-doa keselamatan membubung tinggi menembus langit malam Desa Sukamaju. Air mata yang menetes malam itu bukan lagi air mata penderitaan, melainkan air mata penyucian yang membasuh seluruh luka lama, menciptakan sebuah ikatan keluarga yang jauh lebih kokoh dan suci dari sebelumnya.