Tidak pernah terbayangkan jika perempuan urakan sepertiku pada akhir nya bisa menikah dengan lelaki pilihan papa yang katanya tampan, baik dan kaya melintir.
Aku terinspirasi dari pernikahan adikku yang berakhir bahagia karena pilihan papa.
Awalnya semua berjalan sesuai harapan, akad nikah yang sakral, resepsi yang mewah dan perlakuan suamiku yang teramat sangat baik. Tapi itu hanya mimpi selama dua hari di hidupku.
Enrico Putra Deisanto, seorang pengusaha dalam bidang farmasi yang menikahiku saat ini. Dia membawaku pulang ke sebuah rumah megah bak istana dengan puluhan pembantu.
Disinilah kisah hitamku dimulai, aku yang mencintainya pada pandangan pertama harus rela mengubur mimpiku untuk hidup bahagia dengan nya. Akhirnya aku tahu dia menikahiku karena paksaan ibu nya yang sedang sakit parah dan bukan kemauan nya sendiri.
Penderitaanku tak berhenti di situ, dengan santainya dia membawa pulang seorang perempuan yang akan tinggal satu rumah dengan kami. Seorang perempuan yang katanya sangat dia sayangi. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika seorang suami membawa perempuan lain di depan istri sah nya.
ini kisah saya,
ini cerita saya,
saya pemeran utamanya,
lalu apa posisi perempuan itu?
Aku harap dia hanya pemeran pembantu atau pelengkap latar yang hanya bisa diam, aku tetaplah pemilik suamiku yang sah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
ENRICO POINT OF VIEW:
Keesokan hari nya aku berangkat ke kantor seperti biasa, tapi kali ini aku sudah menyuruh zulfikar untuk membatalkan jadwalku untuk segala pertemuan di luar kantor. Karena aku tidak ingin merasa capek saat pergi ke kota dingin. Aku sengaja membawa koper supaya nanti bisa langsung berangkat sepulang kerja.
Tujuanku berangkat ke kota dingin hanya satu, aku hanya ingin menjelaskan pada Alina jika hubungan kami tidak bisa berlanjut. Karena saat ini aku sudah memiliki seseorang yang sangat ku cintai yaitu istriku.
Sore ini aku berangkat ke kota dingin sendirian dengan mengemudikan mobilku. Saat mobilku berhenti karena lampu merah, ada sebuah pesan masuk di ponselku yang membuatku tersenyum.
🐡Aku berangkat ke acara pernikahan temanku,
Chelsea🐡
Dia juga mengirimkan foto kedua kaki nya yang sedang memakai sepatu yang ku berikan kemarin. Hanya dengan melihat kaki nya saja sudah membuatku sangat merindukan nya.
🐡Ya, hati hati
Enrico🐡
🦋🦋🦋
Setelah perjalanan menempuh waktu 2 jam, aku menuju alamat yang di tunjukkan oleh Alina. Aku memarkirkan mobilku di basement sebuah gedung megah dengan dekorasi pernikahan nan indah.
Siapa yang menikah? Apa alina yang menikah? Semoga saja. Tapi itu mustahil, pasti ini saudara nya.
Tidak lama kemudian ponselku berdering dan terlihat nama Alina yang muncul di layar ponselku. Dengan segera ku terima panggilan dari nya. Aku berjalan menurut arahan yang diberi oleh nya. Dari kejauhan dia melambaikan tangan nya padaku dan aku berjalan cepat ke arah nya.
“Akhirnya kamu datang juga,” kata nya seraya menggandeng tanganku.
“Ini acara pernikahan siapa?” tanyaku.
“Temanku, sesama dokter,” kata Alina.
“Kita ngobrol di tempat lain ya, aku nggak bisa lama lama di kota ini. Aku harus segera pulang,” kataku.
“Temani aku dulu menghadiri pernikahan ini,”
“Tapi—“
“Ayolah, sekali ini saja,” kata Alina seraya menyeret lenganku ke dalam ruangan gedung megah itu.
Dengan wajah malas aku mengikuti nya masuk ke dalam ruangan itu. Dia mengambil beberapa makanan dan tangan nya menyenggol lengan seorang perempuan hingga minuman perempuan itu tumpah.
“Ish,” pekik perempuan yang hanya terlihat punggung nya itu lirih.
“Maaf ya,” kata Alina pada wanita itu sehingga membuat nya menoleh kearah kami.
Aku membatu di tempat ketika melihat wajah wanita itu. Dia adalah istriku yang tadi masih sempat mengirimkan pesan dan gambar sepatu nya padaku. Dia menatapku tidak percaya dengan tatapan penuh tanda Tanya.
“Bukan nya dia chelsea pembantumu kan, sayang,” kata Alina menatapku.
Chelsea menatapku dengan mata yang berkaca kaca tapi tertahan. Dia mengalihkan pandangan nya dengan cepat ke arah lain. Dan memberikan gelas nya pada Alfath yang ku tahu sebagai teman nya itu.
“Maaf, permisi,” kata Chelsea seraya meninggalkan kami tapi ku tahan tangan nya dengan cepat.
“Apaan sih? Lepasin,” kata Alina menatapku tajam.
“Dia istriku,” kataku pada Alina.
“Istri? Kamu jangan bercanda ya sayang,” kata alina cepat memaksaku melepas tangan chelsea.
Chelsea menghentakkan tanganku hingga tangan kami terlepas tanpa mengucapkan satupun kata. Dia berjalan cepat meninggalkanku dan dikejar oleh Alfath yang menatapku tajam.
Alina masih menahan tanganku dengan erat supaya aku diam di tempat. Seseorang yang ku ketahui sebagai adik chelsea menghampiriku dengan tatapan tajam nya.
“Aku kecewa sama kamu, kamu nggak pantes bersama kakakku,” kata zea menatapku penuh kebencian.
“Sayang, jangan emosi begini. Sedang banyak tamu,” kata suami nya menahan lengan zea yang hampir menamparku.
“Aku memang salah, tapi bukan ini tujuanku ke sini. Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku dengan Alina. Aku tidak pernah menghianati kakakmu,” kataku pada zea.
“Padahal dari kemarin dia sudah sangat berharap jika kamu bisa menemani nya ke acara ini, apa aku masih sopan jika menyebutmu laki laki brengsek?” kata zea yang membuatku frustasi.
“Tolong percayalah padaku tidak seperti yang kamu pikirkan,” kataku lagi.
“Jangan coba coba datang di kehidupan kakakku lagi atau kamu akan berurusan denganku! Aku tidak peduli meskipun kamu orang kaya!” kata zea seraya meninggalkanku dan Alina dengan suami nya yang mengejar nya dari belakang.
“Sebenernya ada apa sih?” Tanya Alina bingung.
“Chelsea itu istriku, aku tadi datang kesini ingin menjelaskan itu ke kamu jika kita uda nggak bisa bersama lagi. Aku mencintai istriku,” kataku pada Alina yang sekarang sedang tertegun dengan mata berkaca kaca.
“Kok kamu tega sama aku sih?” kata alina lirih.
“Ku mohon jangan memasang wajah seperti itu di hadapanku, maaf nggak bisa lama lama. Yang jelas kita berdua uda nggak ada hubungan apa apa lagi,” kataku seraya meninggalkan alina dengan cepat menuju basement.
Ketika sudah berada di basement gedung itu, tidak ada tanda tanda keberadaan chelsea di basement parkiran tersebut. Aku mencoba menghubungi nomor ponsel nya tapi tidak ada jawaban dari nya.
Ku kirim pesan melalui whatssApp tapi tidak terkirim. Apa dia sedang memblokir nomorku? Yang benar saja!
Aku mengusap rambutku kasar. Kenapa ini bisa terjadi dalam hidupku? Mana aku tahu jika teman alina dan chelsea adalah orang yang sama.
CHELSEA ARBIANSYAH POINT OF VIEW:
🦋🦋🦋
Di sinilah aku saat ini sedang menahan airmataku yang menggenang dan airmata itu lolos jatuh begitu saja di pipiku. Aku sedang berada di sebuah café yang begitu tenang bersama Alfath yang setia menemaniku.
Alfath sengaja membawaku ke cafe ini.
“Nangis aja kalo mau nangis, nggak usah ditahan,” kata Alfath seraya menyeruput minuman nya.
“Apa mimpiku terlalu tinggi dan sujudku kurang rendah? Aku Cuma ingin suami baik dan setia doank kok,” kataku mulai terisak.
“Permintaanmu beribu ribu, tapi sujudmu terburu buru,” celetuk alfath.
“Kamu bener, mungkin karena aku jarang sholat kali ya? Maka nya tuhan menomor duakanku,” sahutku.
“Sudahlah, kamu terlalu menjaga perasaan nya dengan sangat baik hingga lupa jika perasaanmu juga perlu dijaga,”
“Mana ada yang peduli dengan perasaanku,” celetukku dengan mata nanar.
“Kamu pikir aku nggak peduli sama kamu?”
“Itu karena kamu sahabat aku, bentar lagi kalo uda punya cewe pasti juga lebih nurut sama cewe kamu trus lupa sama aku,”
“Nggak bakal lupa,” jawab Alfath.
“Benci banget tahu,” kataku seraya mengusap airmataku lagi.
“Uda jangan nangisin suami brengsekmu itu, beruntung banget dia ditangisin cewek sebaik kamu,”
“Bisa bisanya dia selingkuh, bisa bisanya dia mainin aku. Apa aku kurang cantik?” tanyaku pada Alfath sedangkan dia hanya menghembuskan napas berat.
“Beneran nggak cantik ya?” kataku terisak lagi karena Alfath tidak menjawab pertanyaanku.
“Cantik,” jawab nya singkat.
“Kamu bohong, kalo cantik mana mungkin dia memilih pergi sama selingkuhan nya itu,” kataku dengan nada mulai meninggi dan terisak lagi.
“Jangan jadi cewek cengeng kenapa sih?”
“Hatiku sakit banget, seharusnya aku tahu dari awal jika dia nggak pernah anggep aku ada,”
“Ya Tuhan, masih banyak laki laki yang mau sama perempuan sebaik kamu,” kata Alfath meyakinkanku.
“Meskipun nanti statusku janda?”
“Hem,”
“Meskipun aku sudah tidak perawan lagi?” tanyaku lagi.
Alfath hanya diam seraya mengusap wajah nya kasar.
“Kenapa nggak jawab? Nggak ada kan yang bakalan nerima aku apa ada nya?” kataku mulai terisak lagi.
“Jadi kamu uda pernah melakukan hubungan itu dengan suamimu?” Tanya Alfath dengan tatapan dalam nya.
“Tentu saja,” jawabku lirih dengan penuh penyesalan.
“Pasti ada yang bisa menerimamu, lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” kata Alfath lagi.
“Aku masih bingung,”
“Dengarkan dulu penjelasan dari nya,”
“Aku tidak mau, aku sudah terlanjur sakit hati,” kataku terisak.
Alfath mengusap pipiku yang penuh airmata dengan lembut.
“Lalu maumu bagaimana?” Tanya nya lembut.
“Aku akan mengirim surat perceraian,"
“Pikirkan lagi,”
“Apa kamu tidak mendukungku?”
“Bukan begitu, aku takut jika kamu melakukan nya karena emosi sesaat. Tanyakan lagi pada hati kecilmu apa masih ada cinta untuk nya,”
“Alfath,” kataku berat hati.
“Aku menasehatimu sebagai sahabat saat ini,”
“Bagaimana jika cintaku sudah tertutup rasa sakit hingga sudah tidak ada ruang untuknya?”
Jangan lupa like, comment and vote 🙏😉
maafkan sabtu dan minggu sibuk mbiodo jadi tidak sempat up, mbiodo itu kalo di jawa sejenis bantu bantu orang punya hajat 😅
Jadi terima tamu misalnya, maafkan ya guys 🙏🙏🙏😅
Aku mampir yahh dengan like dan rate nya, Jangan lupa mampir dan feedback ke novel ku yahh ❤Sabda Rindu❤
Terimakasih ditunggu kehadirannya 🥰