Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
Udara dalam ruangan terasa begitu sejuk, namun ada sedikit kehangatan yang menjalar dari nakas di sisi brankar. Bagaikan sebuah magnet yang menarik energi supaya lebih dekat, dan melekat.
Naysilla masih berdiri dengan setangkai bunga tulip dan tabebuya di tangan.Tercium samar aroma cinta dan kerinduan. Ia menghirup nya, menikmati setiap pancaran kehangatan yang perlahan meresap ke jiwanya.
Ia masih terpaku dalam lamunan, mengambil satu cup kue muffin coklat kesukaannya, mengangkat muffin itu ke mulut, menikmati setiap gigitan seolah ada rasa sayang yang terselip di dalamnya.
Ketika kesunyian memeluk dirinya, terselip kehangatan diantara udara. Hingga suara ketukan ringan diikuti suara ceria membuyarkan semua pikiran.
"Selamat siang tuan putri ku..." ucap gadis berkepang dua dengan suara khas nya.
Naysilla seketika mengembangkan senyuman, dengan mulut penuh makanan. Mulutnya komat-kamit t tak jelas, mirip seperti ikan buntal yang kekenyangan.
"Di telan dulu makanan nya, baru ngomong!" ia melangkah mendekat, dengan keranjang penuh buah ditangan.
"Nih, jus alpukat kesukaan lo..." ia menyerahkan satu cup besar jus alpukat dingin. Tentu saja gadis itu tak akan bisa menolak pesona minuman kesukaan nya.
"Lo emang yang terbaik Dewi, nggak pernah lupa apa yang gue suka" sensasi manis segar melegakan tenggorokan, ia tersenyum senang, sejak kemarin ia selalu dikelilingi makanan dan minuman kesukaan.
Dewi mendudukkan diri di sebuah sofa panjang, setelah sebelumnya meletakkan keranjang buah di atas meja begitu saja.
Pandangan meliar, menatap takjub kemewahan yang mengelilinginya, tapi menyayangkan karena tak ada kehangatan di dalamnya.
"Lo, sendirian Nay?" ucapannya pelan, ia mengupas buah jeruk yang dibawanya.
"Iyah, udah biasa kok"
Dewi menatap heran pada sekotak kue muffin dan setangkai bunga yang tergeletak begitu saja. Pandangan kembali meliar, mencari jejak seseorang yang mungkin masih tertinggal.
"Kenapa, lo cari apa?"
"Tadi ada orang kesini?"
"Ada, tapi udah pulang" jawabnya enteng, pikirannya tertuju pada Satria yang baru saja membawanya kabur dari rumah sakit, seketika ia panik.
"Eh, nggak ada ding, dari tadi nggak ada tuh orang kesini. Hehe..." ralatnya, menyembunyikan kebohongan dibalik senyum yang di paksakan.
"Masa sih?" ia kembali menatap kotak kue dan setangkai bunga tulip yang sempat ia lihat sebelumnya, dibawa oleh pemuda laki-laki yang bersamanya.
Hingga sebuah pesan masuk sebagai jawaban atas semua kebingungan.
"Gue duluan, bilangin sama temen lo, tadi Mamihnya dateng tapi langsung cabut karena ada urusan di luar"
Dewi terdiam sejenak, mencerna pesan sederhana yang dikirim dari sosok yang ia cari keberadaan nya. Hingga datang sebuah pemikiran di otaknya, ia merancang rencana tak terduga.
"Tadi gue sempet ketemu Mamih lo di depan, tapi langsung pergi lagi katanya ada perlu diluar. Kayaknya buru-buru gitu deh, mungkin udah sempet kesini tapi lo lagi di toilet kali yah" ucapnya hati-hati, menyembunyikan fakta di balik kata.
"Oh, jadi ini Mamih yang bawa, kirain dari siapa" ucap Naysilla lirih, ia meletakkan cup muffin yang sisa setengah. Seleranya hilang, rasa manis itu seketika menjadi pahit yang mencekik tenggorokan.
"Ternyata cuma pikiran ku saja. Momon, sebegitu besar rasa rinduku sampai aku merasakan kehadiranmu yang tak nyata. Dan seorang yang menawarkan kebahagiaan, memberiku rasa aman. Ternyata, itu semua hanya pelarian. Ketika tawa itu reda, rasa sakit kembali menyiksa"
Naysilla menunduk lemah, menatap remahan kue yang mengotori pakaiannya.
"Gimana keadaan lo? Inpusnya udah dilepas"
"Gue udah baikan, habis ini pulang" dustanya. Padahal tubuhnya masih sedikit lemah. Tapi itu masih bisa ia tahan, ketimbang rindu yang lebih menyakitkan.
"Syukur deh kalo udah bisa pulang. Nanti gue bantuin beresin barang lo"
Ada rasa bersalah menyelinap masuk perlahan, seperti duri dalam selimut yang diam-diam menusuk. Dewi memasang wajah ceria, menganggap apa yang ia katakan benar adanya.
...****************...
Di sudut lorong rumah sakit yang sepi, seorang pemuda laki-laki mengamati satu titik pintu, tentang siapa yang keluar masuk di dalamnya.
Ia kembali melangkah menuju ruangan president suite di sebelahnya. Empat orang gadis menyambutnya dengan berbagai pandangan mata berbeda.
"Gimana sayang..." ucap gadis berambut pirang. Ia mendekat dengan langkah gemulai, tangannya mengusap nakal dada bidang, yang seketika langsung dihentikan.
"Gue udah lakuin apa yang lo mau. Gue anggap semua urusan selesai. Jadi berhenti buat ganggu hidup gue, dan orang-orang disekitar gue" ucapnya tegas. Ia menepis kasar tangan tangan gadis itu.
"Oke, kalo lo udah nggak mau nurut sama gue lagi, gue bakalan...."
"Cukup, Jes... Gue udah muak sama lo" ia memalingkan wajah, bersiap pergi dari sana sebelum sepasang tangan mendekapnya dari belakang. Begitu erat, sampai ia merasa sesak.
Gadis itu berjinjit mendekatkan bibir ke samping telinga, membisikkannya halus dengan kata yang mampu membuatnya merinding seketika.
Ia mengepalkan tangannya begitu kuat, meredam emosi yang hampir meledak. Ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, antara keluarga atau gadis yang diam-diam ia damba.
cupu tuh apaan ?