NovelToon NovelToon
The Tyrant King'S Love Obsession

The Tyrant King'S Love Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiana Ayu novita

Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.

Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.

apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 20

 Eva menatap bintang yang berkilau indah tanpa terhalang awan apapun. Suara musik dari aula terdengar samar dari posisinya sekarang, acara pesta Ilos dengan Odelions memang berbeda jauh baginya.

 Taman istana cukup sepi karena para bangsawan jarang menuju ke taman ketika pesta seperti ini, kecuali kalau dalam novel-novel seperti ada sepasang kekasih yang ingin menikmati malam berdua belum tentu ada kan.

 eva memasukkan kakinya ke dalam kolam, gaunnya sedikit dia angkat sampai betis agar tidak basah. Selalu hanya air yang bisa menenangkan kulit yang terasa panas baginya.

 "memang suhu Odelions sepanas itu ya?", Eva sedikit tersentak.

 Ataraz tersenyum manis padanya, Eva tidak sadar ada orang yang mendekat sepertinya dia harus banyak berlatih lagi.

 pemuda itu duduk di samping Eva, masih cukup berjarak agar Eva lebih nyaman.

 "pertama aku kemari awalnya memang sedikit panas, tapi sekarang sudah terbiasa. Ilos memang lebih terjaga ya", Eva menatap Ataraz tajam.

 Ataraz terkekeh, memberi isyarat menutup mulut. Dia tau kalau Felix tidak secara langsung memberikan informasi lengkap asal usul Eva pada kaisar, jadi identitas gadis itu masih di rahasiakan.

 Eva bisa saja menebak asal informasi Ataraz dari siapa, selagi pemuda itu tutup mulut tidak akan masalah. Lagian Felix berjanji tidak akan mengusik ilos jika dia masih di Odelions.

Ataraz melirik Eva, sejak awal pesta di mulai wajah Eva terlihat tenang tapi terlihat nyaman. Memang benar kalau Ilos terkenal dengan negeri kecil yang tampak nyaman dengan perlindungan sihir dari hutan mereka. jadi udara mereka terkenal baik di setiap musim mereka, jadi wajar kalau Eva tidak nyaman dengan suhu Odelions.

Ataraz melepas liontin yang berbentuk kristal panjang, didalamnya terlihat sekali bunga es yang sangat cantik dan bunga Almon yang warnanya pink manis yang masih segar.

"dulu pertama kali ke Odelions, aku selalu merasa terbakar dan paling parah saat ikut ke festival musim panas bersama Felix dulu, karena hal itu mendiang ibuku memberikan ini", ataraz tersenyum.

Eva melihat liontin itu, jujur dia melihat sihir es yang kuat dari benda kecil itu. Dari jaraknya bisa terasa udara dingin menyejukkan yang sangat nyaman untuknya. Terlebih sihir itu terasa baik untuknya. Ataraz memakaikan nya ke Eva, dan tersenyum.

" Karena aku tidak tau akan pertunangan kalian, jadinya aku tidak punya hadiah pertemuan yang baik", Ataraz melihat liontin yang sudah terpasang rapih di Eva.

"kau tidak akan menolak liontin itukan, sepertinya kau lebih membutuhkan nya".

"tapi ini kan pemberian mendiang ibu anda", Eva menatap Ataraz tidak enak.

Ataraz tersenyum riang, "jika di bolehkan menjadi teman anda itu sepadan, lagian saya sudah terbiasa dengan suhu Odelions karena Utara mulai sedikit terasa hangat berkat jasa Felix".

Eva melihat liontin itu dan Ataraz bergantian, jujur liontin itu akan sedikit membantu jika dia melatih prajurit setiap hari tanpa merasa kepanasan, dan dia bisa meringankan kecemasan velysa yang tiap melihatnya sering berkeringat tiap hari.

ataraz senang Eva tidak menolaknya, dia tidak tau alasan sebenarnya Felix memilih Eva menjadi pasangannya. Karena bisa saja Eva tetap tidak akan nyaman dengan Odelions karena udara yang berbeda.

Ataraz punya teori karena Ilos terselimuti sihir dari hutan mereka, jadi udaranya akan selalu alami terus menerus. Terlebih melihat tatapan yang aneh dari Felix, Ataraz tau hubungan mereka terasa akan membawa sesuatu yang besar.

Ataraz menatap langit, wajahnya yang tenang seketika tegang melihat jalur bintang dan warna bulan.

"maaf yang mulia saya lancang", Eva menjerit kaget.

Ataraz mengendong Eva dan lari secepat mungkin masuk ke dalam istana, kedatangan mereka tentu menjadi tontonan para tamu. Ataraz menurunkan Eva dan menutup pintu istana.

"tutup semua jendela dan pintu, jangan ada yang keluar sekarang", titah Ataraz.

"ada apa pangeran Utara?", permaisuri menatap Ataraz cemas.

Belum Ataraz berkata sebuah suara gaduh dari luar terdengar, berbagai tanaman dan hewan di luar seketika berubah menjadi moster buas.

Eva melihat ke bulan, warnanya berubah biru gelap. Dia ingat momen bulan moster yang terkadang terjadi di seluruh dunia. Karena Ilos mendapat perlindungan sihir, jadi insiden mutasi tumbuhan dan hewan tidak akan terjadi, tapi baru kali ini dia melihat momen ini.

ataraz berbincang dengan Felix untuk memberi keamanan di setiap jendela dan pintu aula istana,di takutkan mutasi hewan yang menganas menerobos ke dalam dan membahayakan para tamu.

Eva menoleh melihat seorang nyonya bangsawan yang heboh di dalam, nyonya itu histeris mencari putrinya yang tidak ada di aula istana.

"mungkin nona Ayla sedang di toilet nyonya Flexia, tenang lah", salah satu nyonya bangsawan mencoba menenangkannya.

Eva mendekat ke arah pilar yang berada cukup dekat dengan jendela, dia mulai melatih sihir nya sedikit jadi dia akan mencoba mengecek. Dia ingat saat di luar tadi seperti melihat seseorang juga.

Matanya terpejam, proyeksi di otaknya seketika muncul. Memperlihatkan keadaan di luar, banyak mutasi hewan dan tumbuhan yang berkeliaran dan saling menyerang, cukup jauh dari lokasinya tadi ada seseorang yang meringkuk di sebuah patung. Seorang gadis kecil.

eva berlari ke arah jendela dan tanpa berpikir melompat dari sana, kejadiannya cukup menjadi tontonan para tamu yang histeris melihat nya keluar, Eva tidak peduli dia lari menuju lokasi gadis itu.

Dia tidak ada waktu lagi, bersyukur kalau cahaya bulan moster tidak berefek pada manusia, asal dia tidak memperlihatkan sihir dia akan aman saja.

Eva sedikit melambat ketika para mutasi berada di dekatnya, asal tidak memberi reaksi mereka tidak akan sadar keberadaan mereka, kelemahan dari mutasi itu mereka tidak dapat melihat, selagi dia bisa sampai dengan tenang ke lokasi anak itu dia aman.

Eva berlari cepat, gadis itu sudah ketahuan posisinya oleh mutan mawar. Gadis itu tidak bisa bergerak, kakinya terlilit akar mawar. Dia sudah ketakutan ketika lendir mawar mengenai gaunnya.

Eva menarik belati yang dia simpan di betisnya dan melempar di titik terlemah mutan mawar, sekali kesempatan Eva memakai satu lagi belati untuk melapas lilitan akar mutan mawar, dan menarik gadis kecil itu lari secepatnya.

"sial, mereka sadar dengan keberadaan ku", Eva menoleh melihat semua mutan berlari mengejarnya.

Jika Eva langsung masuk ke istana, maka para tamu akan dalam bahaya. tapi jika tetap di luar gadis kecil itu yang tidak bisa selamat, Eva melihat ke arah bulan,masih cukup lama fenomena ini berakhir.

Eva berbelok cepat bersembunyi di pilar gazebo taman, para mutan mengendus dan mencoba mendengar pergerakan kami.

"nak ingat ini baik-baik, saat aku keluar memberi celah. Kamu bergegas masuk, kamu mengerti". Gadis itu mengangguk paham.

Eva merapihkan rambutnya yang tergerai, mengikatnya dengan potongan gaun yang dia sobek. Matanya awas,mencari momen yang tepat.

"lari".

bersamaan Eva berlari dengan langkah yang sengaja di hentak dan bersuara, membuat para mutan lari mengejarnya memberi peluang gadis kecil itu masuk ke dalam istana dengan selamat.

Eva berlari ke arah yang sedikit jauh dari istana, dia harus menggunakan sihir untuk menyelesaikan semuanya. Akan bahaya jika dia melawan kalau hanya dengan belati kecil, sedangkan mereka bermutan dengan tambahan racun di setiap sudut mereka.

Eva menggores tangannya, memakai darah untuk menjadi media dan merapalkan mantra penahan.

"Penahan", sinar putih menyilaukan mengurung para mutan yang berlari ke arahnya.

Eva berkonsentrasi dengan mantra, menunggu bulan kembali ke semula dia berharap tidak akan ada yang keluar di saat seperti ini.

Tinggal liman menit, bulan kembali normal. Tiba-tiba ada serangan di belakang, Eva jatuh terduduk tapi bersyukur mantranya tidak hancur.

Mutan dari burung Pipit memekik keras, dia terbang turun menyerang. Eva sigap menghindar, kalau bukan sedang memakai mantra penahan, dia bisa saja memakai mantra pembeku untuk menyerang burung itu.

Eva mendongak, tinggal beberapa detik lagi dan semua kembali normal. Dia harus bertahan sedikit lagi.

Mutan itu kembali menyerang, kali ini dengan mengepak kan sayap, membuat angin kencang yang menghempaskan nya kuat. tubuhnya terbanting keras ke pohon hingga tumbang. Eva menyeka sudut bibirnya karena ada sempat terbatuk darah.

mantranya sedikit melemah, dengan sisa tenaga Eva mengepalkan tangan. Sinar putih menyelimutinya, dan seketika mutan itu terbanting dan bersamaan bulan yang kembali normal.

Eva terengah, pandangan nya mengabur sempat sebelum jatuh pingsan ada seseorang yang menangkap nya sebelum jatuh tersungkur, wajahnya samar tapi dia bisa merasakan dengan jelas siapa dia sebelum semua menjadi gelap, dia jatuh pingsan.

...****************...

1
Alia Chans
saling support, sabi kali ya😍✍️👈
Wawan
Salam kenal Buat Eva ✍️
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!