Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 21. Aku Bisa Tanpamu
"Apa kamu bilang? Bercerai?"
Awan sungguh sangat terkejut mendengar kata yang terucap dari bibir Wulan. Lelaki itu memungut pakaian yang berserak di lantai dan dengan gerak cepat mengenakannya kembali. Sedangkan Mega, masih terlihat enggan beranjak ataupun menggeser posisi tubuhnya. Sehingga ia memilih untuk menutupi tubuh polosnya itu dengan selimut yang tebal yang ada di sana.
Air mata yang mengalir deras dan sudah membasahi pipi itu diusap kasar oleh Wulan. Wulan berkali-kali membuang napas kasar untuk tetap menjaga logikanya agar bekerja. Dalam situasi seperti ini, ia tidak ingin terlihat lemah ataupun tak berdaya sama sekali meskipun jantungnya benar-benar seperti dihujam dengan ribuan belati dan terasa berdenyut nyeri.
"Iya, aku akan ke pengadilan untuk mengurus perceraian kita. Jadi kamu tinggal menunggu saja."
Awan tersenyum sinis. Meskipun saat ini ada Mega yang masuk dalam kehidupannya, namun untuk bercerai dari sang istri sama sekali tidak terlintas di dalam benaknya. Ia merasa masih membutuhkan sosok Wulan yang entah akan ia pertahankan sebagai apa.
"Kamu tidak mau instropeksi diri kenapa aku sampai berselingkuh dengan Mega?"
Wulan terhenyak dengan mata menyipit. Ia sungguh tidak menyangka jika pertanyaan itu keluar dari mulut Awan. Sebuah pertanyaan yang semakin jelas menunjukkan jjka suaminya ini memiliki syndrom NPD.
"Apa? Aku yang kamu selingkuhi dan aku pula yang kamu minta untuk instropeksi diri?" tegas Wulan. "Kamu sudah gila Mas?"
"Seharusnya kamu memang instropeksi diri kenapa aku sampai berselingkuh dengan Mega dan menghianatimu seperti ini."
"Kamu berselingkuh karena kamu manusia yang tidak pandai bersyukur dan tidak tahu diri, Mas!" pekik Wulan dengan gemas. Bisa-bisanya dirinya yang disakiti dan dikhianati tapi dirinya juga yang diminta untuk instropeksi diri. Sungguh manusia tidak tahu diri.
"Tidak pandai bersyukur dan tidak tahu diri?" Awan menatap Wulan dengan tatapan penuh tanda tanya. "Maksudmu apa?"
"Aku sibuk mengurus ibumu yang lumpuh di atas pembaringan sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu di atas ranjang yang haus belaian. Bukankah itu salah satu tanda jika kamu manusia yang tidak pandai bersyukur dan tidak tahu diri?"
Hening, tidak ada satupun jawaban yang keluar dari bibir Awan. Lelaki itu seperti sedang mencari kata untuk bisa menimpali ucapan istrinya ini.
"Aku yang sudah mengabdikan diriku untuk berbakti kepadamu, mencurahkan semua waktu yang aku miliki hanya untuk mengurus semua keperluanmu, dan keperluan ibumu sampai aku tidak memiliki waktu untuk mengurus diriku sendiri. Tapi itu semua tidak nampak di matamu?" pekik Wulan dengan lantang. "Benar-benar buta kamu Mas!"
Awan terperangah mendengar semua kata yang terucap dari bibir Wulan. Kata demi kata yang diucapkan oleh Wulan seakan menampar nuraninya namun lelaki itu nampak masih enggan untuk mengakui jika kesalahan memang ada padanya.
Awan menghela napas panjang dan ia hembuskan pelan. Otak lelaki itu seakan bekerja keras untuk bisa mengcounter ucapan Wulan.
"Memang kamu bisa hidup tanpa aku?" tanya Awan dengan penuh intimidasi. "Ingat, kamu tidak memiliki siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Dan apakah kamu lupa jika kamu hanyalah batu kerikil yang sudah aku pungut dari kubangan lumpur? Jika tidak aku nikahi tidak akan ada yang memberikan kehidupan untukmu."
Awan sengaja menggunakan satu kelemahan yang dimiliki oleh Wulan. Ia yakin dengan cara seperti itu Wulan akan tetap bertahan di sisinya meskipun ada Mega yang juga sudah menguasai hati juga pikirannya.
Hati Wulan sedikit mencelos. Jika teringat akan jalan hidup yang sudah ia lalui, memang benar Awan lah yang sudah memungutnya dari kubangan lumpur itu. Ia yang kala itu tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki siapa-siapa, hidupnya sedikit berubah saat dinikahi oleh Awan. Setidaknya, ada seorang suami yang memenuhi seluruh kebutuhannya.
"Aku bisa tanpamu!" ucap Wulan dengan tegas. Ia tidak mau selalu dipandang lemah yang pastinya hanya akan semakin membuat harga dirinya diinjak-injak.
"Kamu yakin?" ulang Awan.
"Ya, aku yakin," tegas Wulan. "Lagipula untuk apa aku tetap bertahan? Toh tidak ada lagi cinta yang kamu miliki untukku kan?"
"Tidak perlu bicara tentang cinta, Lan. Yang terpenting kamu tetap ada yang memberi makan," seloroh Awan dengan sinis.
"Cih, tidak sudi aku makan hasil dari kamu menjual tubuhmu kepada janda gatal itu!" decih Wulan seraya menunjuk ke arah Mega yang masih anteng saja. Sontak hal itulah yang membuat bibir Mega menganga lebar.
"Apa maksud ucapanmu itu, hah!" pekik Mega yang seakan tidak terima dirinya disebut janda gatal.
Wulan tersenyum sinis. Rasanya ia ingin lebih dulu bermain kata untuk bisa meluapkan semua emosi yang masih merajai hati dan juga kepalanya.
"Betul kan apa yang aku katakan?" tanya Wulan dengan nada retoris. "Kamu membelikan mobil mas Awan setelah dia memuaskanmu di atas ranjang. Bukankah itu sama hal nya mas Awan menjual tubuhnya?"
"Jaga mulutmu Lan! Aku dan mas Awan melakukan ini semua karena saling mencintai. Dan kamu harus paham itu."
"Apa? Saling mencintai?" sinis Wulan seraya tergelak pelan. "Kamu tahu mas Awan sudah punya keluarga, tapi kamu tetap saja mau mendekati mas Awan. Jadi benar kan kalau kamu adalah janda kegatalan?"
"Stop Lan!" seru Awan. Lelaki itu seakan tidak ingin jika sampai kekasihnya dikata-katai oleh istrinya lagi. "Kami memang saling mencintai, jadi kamu tidak perlu berkata kasar seperti itu."
"Hmmmm... Pantas saja kalian bersatu. Ternyata seorang penghianat tak tau diri seperti kamu memang pantas untuk pelakor gatal seperti bosmu itu."
"Wulan!"
Plak... Plak!!
Emosi Awan seakan mendidih di kepala mendengar Wulan yang semakin membabibuta mengatainya dan juga Mega. Reflek, tangan kekar lelaki itu menampar pipi Wulan. Namun setelah itu kedua bola matanya terbelalak sempurna seakan ia dalam keadaan tidak sadar ketika melabuhkan dua tamparan di pipi sang istri.
Wulan meringis merasakan sensasi rasa panas dan nyeri di kedua pipinya. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah setelah mendapatkan serangan dari tangan kekar sang suami.
"Lan... Aku..."
Suara Awan seakan tercekat di tenggorokan ketika melihat bibir sang istri yang sudah berdarah akibat perlakuannya. Lelaki itu mengayunkan tungkai kaki mencoba untuk mendekati sang istri namun seketika itu juga Wulan beringsut mundur.
Wulan tersenyum sinis dengan air mata yang perlahan mulai jatuh lagi membasahi pipi. Selama ia menjadi istri Awan, baru kali ini sang suami tega menamparnya. Sungguh kehadiran Mega benar-benar sanggup membuat sang suami lupa daratan.
"Baiklah, aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Aku akan tetap datang ke pengadilan untuk mengurus perceraian."
"Lan, kamu sungguh akan melakukannya?" tanya Awan yang seakan belum rela untuk melepaskan sang istri.
"Mas sudahlah, kalau memang Wulan ingin bercerai biarkan saja. Jalan kita untuk bersama jauh lebih terbuka dan mudah!" timpal Mega.
"Dengar kata kekasihmu itu! Seharusnya kamu bahagia karena jalan untuk kalian bersama jauh lebih terbuka lebar. Tapi kalian harus ingat satu hal!"
"Ingat apa? Jangan berbelit-belit kamu Lan!" ujar Mega yang semakin gemas karena Wulan begitu pandai bermain kata.
"Kalian bersatu di atas air mata seorang istri sah yang tersakiti. Jadi jangan salahkan takdir jika suatu hari nanti air mata itu yang akan menjadi kutukan dan karma untuk kalian berdua."
"Cih, persetan dengan karma dan kutukan. Karma dan kutukan itu tidak akan pernah ada untuk orang yang saling mencintai."
Wulan hanya tergelak pelan. Ia usap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi. Saat ini sudah tidak ada lagi yang harus ia buat terang benderang karena semua bukti perselingkuhan sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Wulan melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar terkutuk ini. Namun ketika sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia kembali berbalik punggung dan menatap wajah Awan dari jarak yang sedikit lebih jauh.
"Cahayaku tidak akan memudar meskipun ada mega yang menghalangi penglihatanmu. Aku akan terus bercahaya di alam semesta sampai kamu sadar bahwa aku sudah tak ada lagi di kanvas langitmu dan hanya ada penyesalan yang membelenggumu."
.
.
.