Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selir Agni&Putri Kirana- 21
"Ia memang benar-benar berani dengan selalu menentangku tapi kau belum mengenal seberapa penuh akalnya aku, Nona Zora" ucapnya sambil tersenyum sinis.
•••
Zora sedang berada di taman. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Kau tadi terlihat sangat hebat, Zora" ucap Saka.
Zora menengok ke arah Saka, ia tersenyum.
"Benarkah? Terimakasih atas pujianmu" ucapnya.
"Kau tidak perlu berterimakasih. Apa kau juga tidak menyukai Dutch Ramon?" tanya Saka.
"Tentu, dia suka menyiksa rakyat dan ia akan bersikap semanis mungkin di hadapan orang kerajaan. Jujur aku khawatir jika ia nanti berhasil merebut hati Prabu Adyatama maka kerajaan ini pasti akan berada dalam masalah dan perlahan akan dikuasai olehnya" ucap Zora menghembuskan nafasnya kasar.
"Ya, aku juga pernah berpikir seperti itu. Aku tidak bisa menduga nasib rakyat ke depannya" ucap Saka sambil melihat lurus ke depan.
"Aku rasa perjanjian perdagangan yang dibuat Dutch Ramon tadi termasuk salah satu akal liciknya" imbuh Saka.
"Benar, aku menduga jika perjanjian itu terus dilanjutkan maka Dutch Ramon akan mengubah perjanjian itu sedikit demi sedikit dan tidak terlihat agar semua keuntungan bisa berada di tangannya" timpal Zora.
"Aku rasa kita memiliki pemikiran yang sama" ucap Saka sambil tertawa.
"Ya, dan aku sangat nyaman dengan hal ini maka dari itu kita bisa berteman dengan baik" ucap Zora ikut tertawa.
Setelah bercerita beberapa saat, Saka memilih untuk kembali. Ia meninggalkan Zora yang masih ingin berada di taman itu. Saat sedang menikmati kesendiriannya, ada seseorang lagi yang tiba-tiba duduk di samping Zora.
"Putri Kirana" ucap Zora saat melihat orang yang duduk agak jauh darinya itu.
"Hai, kak" ucap putri Kirana sedikit canggung.
"Bolehkan aku memanggilmu kakak?" tanya putri Kirana.
"Tentu saja boleh, mendekatlah" ucap Zora sambil menepuk bagian yang masih kosong di sebelahnya.
Putri Kirana menurut, ia mendekat ke arah Zora. Salah satu tangan Zora lalu mendekap tubuh putri Kirana agar lebih dekat ke arahnya.
"Kak, kenapa kau selalu terlihat bahagia?" tanya putri Kirana sambil menatap wajah Zora.
"Memangnya begitu ya? Sebenarnya terkadang aku juga merasa sedih namun aku lebih memilih menyembunyikannya. Aku sebenarnya ingin sekali berbagi cerita dengan orang lain tetapi aku sadar tidak akan ada yang mengerti dengan ceritaku" ucap Zora.
"Jika kau memiliki masalah ceritalah kepadaku. Kau sudah menganggapku sebagai kakakmu bukan?" tanya Zora.
"Memang kesedihan apa yang kakak sembunyikan?" tanya putri Kirana ingin tau.
"Kakak hanya merindukan orang tuaku" ucap Zora.
"Kau tau bukan aku bahkan belum pernah bertemu dengan mereka" ucap Zora sambil tersenyum paksa.
"Maaf, kak" ucap putri Kirana merasa bersalah.
"Tidak masalah, aku baik-baik saja" ucap Zora sambil mengelus kepala putri Kirana.
"Lalu kenapa kau selalu terlihat murung?" tanya Zora kepada putri Kirana.
"Memang terlihat ya?" tanya putri Kirana.
"Iya, sangat jelas" jawab Zora.
"Aku, a-aku" ucap putri Kirana terbata.
"Jika kau masih belum ingin bercerita kakak tidak akan memaksamu" ucap Zora.
"Aku rindu ibu kak" cicit putri Kirana.
"Aku tidak pernah bertemu dengan ibu, ia yang melahirkanku tapi aku tidak pernah bertemu dengannya. Jika bertemu pun aku tidak bisa mendekatinya" cicitnya lagi.
Zora menatap putri Kirana dengan pandangan tak percaya. Ia pikir selama ini putri Kirana juga tidak menyukai ibunya, ternyata pikirannya salah. Putri Kirana sangat menyayangi ibunya. Zora lalu memeluk putri Kirana, memberi kenyamanan untuknya.
"Kenapa kak? Kenapa aku tidak boleh dekat dengan ibuku sendiri? Aku selalu dibatasi untuk bertemu dengannya" ucap putri Kirana.
"Jika aku ulang tahun aku hanya ingin hadiah bisa seharian bersama ibu, aku tidak masalah jika tidak ada pesta perayaan nantinya" ucapnya lagi.
Zora semakin mengeratkan pelukannya kepada putri Kirana. Ia tau jika putri Kirana memang dilarang bertemu oleh ibunya sendiri oleh Ratu Anindita. Sampai sekarang, ia masih tidak percaya jika Ratu Anindita tega memisahkan seorang ibu dan anaknya. Zora lalu menangkup kedua pipi putri Kirana.
"Kau mau bertemu dengan ibu?" tanya Zora sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi putri Kirana.
"Mau" cicitnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku bisa membuatmu bertemu dengan ibu" ucap Zora.
"Jangan kak, nanti ibu dihukum" ucap putri Kirana yang membuat Zora mematung di tempatnya.
"Percayalah padaku, selir Agni akan baik-baik saja" ucap Zora meyakinkan putri Kirana.
Putri Kirana mengangguk, ia percaya kepada Zora. Mereka lalu melangkahkan kakinya menuju kamar selir Agni. Saat berada di dekat kamar selir Agni ternyata ada seorang pelayan yang menghalangi mereka untuk masuk ke kamar selir Agni.
"Kenapa kau menghalangi kami? Aku sudah mendapatkan izin dari Prabu Adyatama, Ratu Anindita dan pangeran Auriga jika aku boleh bertemu dengan selir Agni sesuka hatiku dan tidak ada yang boleh menghalangiku" ucap Zora menatap sinis ke arah pelayan ini.
"Maaf, putri namun"
"Jika kau tidak percaya, pergilah temui mereka bertiga dan tanyakan kebenaran ucapanku" ucap Zora kemudian ia mengajak putri Kirana melewati pelayan tadi.
Jujur, putri Kirana merasa sangat gugup saat ia melihat pintu di hadapannya. Dalam hidupnya baru sekali ini ia menginjakkan kakinya di kamar ini. Zora lalu mengetuk pintu dan munculah selir Agni dari dalam sana.
"Putri Zora" ucapnya.
"Aku menepati janjiku" ucap Zora, ia lalu membalik tubuhnya dan nampaklah putri Kirana yang ternyata dari tadi berdiri di belakangnya.
"Putri Kirana" gumam selir Agni, tanpa ia sadari air matanya menetes melihat putri satu-satunya yang berada sangat dekat dengannya.
"Ibu" cicit putri Kirana, ia lalu semakin mendekat ke arah Selir Agni. Selir Agni lalu memeluk putri Kirana dengan erat dan mengajaknya masuk bersama Zora.
"Putri Kirana" ucap selir Agni sambil menangis.
"Ibu hiks hiks, Kirana rindu ibu" ucap putri Kirana yang membuat selir Agni semakin menumpahkan air matanya bahkan Zora juga tidak sanggup menahan keharuan yang terjadi di depan matanya.
"Maafkan ibu, ibu tidak bisa memperjuangkanmu" ucap selir Agni mengecup lembut pucuk kepala putrinya.
Setelah mereka menumpahkan kerinduan masing-masing, putri Kirana seakan tidak mau lepas dari selir Agni. Dari tadi ia berada di dekapan selir Agni dan tidak mau melepaskannya.
"Apa kau senang?" tanya Zora yang dari tadi hanya diam.
Putri Kirana mengangguk, ia sangat senang dan ia tidak akan pernah melupakan hari ini.
"Aku sangat senang, terimakasih kak" ucapnya.
"Putri Zora terimakasih karena anda benar-benar menepati janji anda untuk membawa putri Kirana kemari" ucap Selir Agni sambil tersenyum.
Zora mengangguk, ia juga senang bisa mempertemukan kedua anak dan ibu yang terlihat seperti orang asing karena paksaan keadaan. Tak lama setelah itu terdengar suara pintu dibuka dengan kasar.
"Ratu Anindita" ucap mereka serempak.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘