Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Halaman sekolah di pagi hari sudah ramai. Balon warna-warni menghiasi gerbang. Spanduk besar bertuliskan Hari Keluarga terbentang di depan aula. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Para orang tua mulai berdatangan.
Suasananya hangat, ramai, dan menyenangkan. Sama sekali tidak cocok dengan ekspresi dua orang yang sedang berdiri di dekat gerbang. Satu dewasa, satunya lagi anak-anak. Mereka sama-sama tampan tapi bermuka datar, sama-sama terlihat seperti sedang menghadiri rapat direksi, bukan acara sekolah.
Sae berdiri sambil membawa tas kecil di punggungnya. Matanya terus menatap Ren dengan penuh tanya.
Sampai akhirnya Ren yang lebih dulu bicara. "Apa?"
Tatapan Sae belum juga beralih.
"Apa?" ulang Ren.
Sae masih diam.
"Ada masalah?"
Akhirnya anak itu menghela napas kecil, tapi cukup membuat alis Ren berkedut.
"Aku cuma memastikan."
"Memastikan apa?"
"Kamu nyata dan benar-benar datang."
Kalimat Sae seketika membuat sesuatu bergerak pelan dalam dada Ren, karena baru sekarang ia sadar bahwa anaknya ternyata tidak benar-benar yakin dirinya akan hadir.
"Hm." Hanya itu jawaban Ren. Dia memang tidak pandai menghadapi hal-hal mengharukan seperti ini.
Namun Sae tampaknya sudah terbiasa dengan karakter kaku ayahnya. Anak itu hanya mengangguk kecil, seakan memang tidak berharap lebih.
Sae lalu kembali berkata. "Awas kalau Papa membosankan."
Rahang Ren langsung mengeras selaras dengan wajah masamnya. "Papa tidak pernah membosankan."
Sae memiringkan kepala. "Papa pernah bikin orang presentasi sambil nangis."
"Itu karena dia tidak kompeten."
"Papa pernah bikin karyawan masuk rumah sakit."
"Itu maag."
"Karena stres."
"Itu bukan salah Papa."
"Papa juga pernah--"
"Sae."
"Iya?"
"Diam."
Tentu saja Sae tidak diam, karena kalau ia mudah menurut, mungkin matahari akan terbit dari barat. Anak itu malah melanjutkan.
"Kalau nanti lomba kalah nggak boleh ngamuk."
"Aku nggak pernah ngamuk."
Sae masih menatap datar Ren, meski telinganya terasa digelitik saat mendengar ucapan Ren barusan.
"Lucu," ucap anak kecil itu.
Pelipis Ren langsung berdenyut dan tepat saat itu suara perempuan terdengar dari depan.
"Sae."
Keduanya menoleh bersamaan, lalu membeku sesaat. Anjani datang dengan mengenakan blouse warna biru lembut dan celana panjang. Rambut hitamnya tergerai rapi. Penampilan wanita itu tidak mencolok, namun justru karena itu ia terlihat berbeda. Seperti secangkir teh hangat di tengah ruangan penuh minuman mahal. Tidak mewah, tapi menenangkan.
Mata Sae langsung berbinar sedikit. "Tante."
Anjani tersenyum. "Selamat pagi."
"Pagi."
Anak itu menatapnya dari atas sampai bawah, lalu mengangguk puas. "Cantik."
Anjani langsung tertawa kecil. "Terima kasih."
Sae mengangguk lagi. "Sama-sama."
Sementara di sampingnya, Ren masih diam tidak berkata apa-apa. Entah kenapa telinganya terasa sedikit panas. Mungkin karena anaknya terlalu blak-blakan atau mungkin karena diam-diam ia setuju.
Namun suasana hangat itu tidak berlangsung lama, karena sebuah suara lain terdengar dari belakang. Suara yang lembut, manis, dan bagi sebagian orang sangat menyebalkan.
"Kak Anjani."
Senyum Anjani perlahan memudar, lalu menoleh. Dan benar saja, Cintya yang baru saja menyapa. Perempuan itu datang dengan gaun kasual berwarna pastel yang cantik. Di tangan kanannya tergenggam tangan Bella. Sementara di sisi lain, Satriya juga menggandeng tangan Bella yang lainnya. Sekilas mereka tampak seperti keluarga cemara bahagia.
Bella yang tadinya berjalan santai langsung membeku. Matanya menangkap sosok Anjani, lalu turun ke tangan Sae yang sedang memegang ujung tas Anjani. Kemudian wajah anak itu langsung cemberut.
Sedangkan Satriya, tatapannya mendarat bergantian pada Anjani dan Ren. Perasaan tidak suka langsung bersemayam di rongga dada, meski kali ini ia masih sedikit menahan diri untuk tidak bertindak sembarangan, karena lawan bicaranya bukan orang sembarangan.
"Senang sekali ya," ucap Cintya lembut sembari menatap Ren dan Anjani bergantian. "Aku nggak nyangka Kak Anjani ternyata dekat juga sama Pak Ren."
Nah, 'kan kumat lagi jurus andalannya. Kalimat yang terdengar halus, tapi racunnya tetap ada. Seperti jarum yang dibungkus kapas.
Anjani belum sempat menjawab, Ren sudah lebih dulu bicara. "Saya juga tidak menyangka."
Semua menoleh, termasuk Cintya.
Ren memasukkan kedua tangan ke saku. "Ternyata urusan orang lain cukup menarik untuk diperhatikan."
Deg. Senyum Cintya langsung menegang. Anjani spontan menunduk menahan senyum, karena meski Ren tidak menyebut nama, tapi emua orang tahu siapa yang sedang disindir.
Sementara Satriya mulai merasa harga dirinya digelitik. "Pak Ren."
Ren menoleh.
"Saya harap hubungan profesional tidak disalahartikan," lanjut Satriya.
Anjani langsung menghela napas pelan, karena ia sudah tahu arah pembicaraan ini.
Satriya melanjutkan. "Bagaimanapun juga, Anjani masih istri saya."
Udara mendadak sedikit lebih dingin. Ren menatap lama, sampai Satriya mulai tidak nyaman sendiri.
Lalu akhirnya Ren berkata, "Kalau saya tidak salah dengar." Nada suaranya datar, namun cukup tajam untuk mengupas harga diri seseorang. "Bukankah sekarang sedang proses perceraian?"
Wajah Satriya langsung mengeras. Sementara Cintya diam-diam mengepalkan jemari, tidak suka melihat orang yang mereka kira akan memandang rendah Anjani justru berdiri di pihak perempuan itu.
Di sisi lain, Bella tampak semakin kesal. Tatapannya tidak pernah lepas dari Anjani, Sae, dan Ren. Ia memperhatikan cara mereka berdiri bersama, lalu tiba-tiba anak itu berseru.
"Papa."
"Hm?"
"Aku nggak suka dia." Bella menunjuk Sae, tanpa basa-basi.
Sae menoleh. Tatapan datarnya geser ke Bella. "Terus?"
Bella makin kesal. "Kamu sombong."
"Oh."
"Kamu nyebelin."
"Oh."
"Kamu sok keren."
"Oh."
Bella hampir meledak, karena berdebat dengan Sae rasanya seperti melempar sandal ke tembok. Sandalnya terpental kembali, temboknya tidak kenapa-kenapa. Dan yang paling menyebalkan, Sae sama sekali tidak terlihat terganggu. Anak itu malah bergeser sedikit, berdiri lebih dekat ke Anjani, seolah sedang menjaga wilayah yang menjadi kekuasaannya.
Kemudian Sae berkata santai. "Tidak apa-apa."
Bella mengernyit. "Apa?"
Sae mengangkat bahu kecil. "Kalau kamu tidak suka aku." Ia menoleh ke Anjani sebentar, lalu kembali ke Bella. "Tante Anjani suka."
Deg.
Bella langsung membelalak. Anjani nyaris tersedak udara. Sementara Ren, menutup mata beberapa detik, karena tiba-tiba ia merasa acara sekolah ini akan jauh lebih melelahkan daripada rapat investor miliaran rupiah.
*
*
*
Aula sekolah sudah jauh lebih ramai ketika mereka masuk. Suara anak-anak bercampur dengan obrolan para orang tua. Dekorasi lucu menghiasi setiap sudut ruangan. Beberapa meja lomba sudah disiapkan. Sementara para guru sibuk menyambut murid dan wali murid yang datang.
Anjani berjalan beberapa langkah di belakang Ren dan Sae. Sedangkan di sisi lain, Satriya, Cintya, dan Bella juga berjalan masuk. Suasana sebenarnya cukup damai, kalau saja tidak ada begitu banyak sejarah buruk di antara mereka.
"Bella!" Seorang guru perempuan menghampiri dengan senyum ramah.
Bella langsung tersenyum lebar.
"Bu Guru!"
"Ya ampun, Bella hari ini cantik sekali."
Bella terkekeh malu. "Karena Mama Cintya pinter mendandani."
Guru itu lalu menoleh pada dua orang di samping Bella. "Oh, Pak Satriya. Bu Cintya."
Senyumnya makin lebar. "Senang sekali akhirnya bisa bertemu lagi."
Cintya langsung tersenyum lembut. "Selamat pagi, Bu."
"Pagi."
Guru itu tampak sangat akrab, karena memang selama hampir dua tahun terakhir, dua wajah itulah yang paling sering ia lihat. Bella pernah demam, yang datang Satriya. Bella pernah menang lomba mewarnai, yang hadir Cintya. Bella pernah tampil pentas kecil, yang memotret Cintya. Bella pernah pulang lebih awal, yang menjemput Satriya. Dan perlahan, di mata banyak orang, itulah keluarga Bella.
Anjani berdiri beberapa langkah di belakang. Ia diam, tampak tenang. Namun dadanya tetap terasa sesak, karena kenyataan kadang lebih kejam daripada hinaan. Orang bisa digantikan perlahan, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari keberadaannya tidak lagi dianggap perlu.
"Oh iya." Guru itu tersenyum pada Cintya.n"Saya senang sekali Bella dekat dengan Ibunya."
Bella mengangguk cepat. "Iya dong."
Cintya tampak sedikit terkejut, tapi hanya sesaat. Perempuan itu buru-buru tersenyum malu.
"Aduh, Bu..."
Namun tidak benar-benar mengoreksi.
Anjani memalingkan wajah, tidak ingin melihat lebih lama, karena luka yang sama tidak perlu ditusuk dua kali dalam satu pagi.
Untungnya saat itu suara lain terdengar.
"Sae!" Seorang guru laki-laki menghampiri. Wajahnya langsung berbinar.
"Halo, Pak." Sae menjawab datar seperti biasa.
Guru itu tertawa kecil, lalu matanya beralih pada Ren dan langsung tampak terkejut.
"Wah." Ia menunjuk Ren. "Wah." Lalu menunjuk lagi. "Wah."
Ren mengernyit. "Kenapa banyak wah?"
Guru itu tertawa. "Karena akhirnya Bapak datang juga."
Sae langsung melirik ayahnya. Tatapan yang sangat jelas berbunyi 'Tuh kan.'
Sementara Ren mendadak merasa dirinya sedang diserang oleh lingkungan pendidikan nasional.
Guru itu masih tertawa. "Biasanya kami cuma dengar nama Bapak atau lihat foto atau dengar cerita Sae."
Ren mulai curiga. "Cerita apa?"
Guru itu langsung diam. Sae juga diam. Keduanya saling pandang. Gelagat mereka sangat mencurigakan.
Anjani terlihat mengulum bibir, menahan tawa, karena ekspresi Ren sekarang mirip orang yang baru sadar ada grup gosip tentang dirinya.
"Lupakan saja." Guru itu cepat-cepat mengalihkan topik. "Yang penting hari ini Bapak datang."
Kemudian mata pak guru beralih pada Anjani dan tersenyum hangat.
"Oh. Ini pasti Mamanya Sae ya?"
Deg. Sunyi... benar-benar sunyi. Anjani membeku. Ren dan Sae juga membeku. Bahkan Satriya yang berdiri tidak jauh dari sana ikut menoleh, begitu juga Cintya dan Bella.
Guru itu masih tersenyum, tidak menyadari dirinya baru saja melempar granat ke tengah kerumunan.
"Anak ini memang mirip Ayahnya," lanjutnya ramah. "Tapi kalau diperhatikan, senyumnya lebih mirip Ibunya."
Deg. Anjani langsung salah tingkah. "Bukan--"
Namun sebelum ia selesai, Sae lebih dulu menjawab. "Iya."
Anjani membelalak. "Hah?"
Sae mengangguk mantap. "Saya juga maunya begitu."
Anjani hampir tersedak. Guru itu tertawa, mengira anak tersebut sedang bercanda.
Sementara di belakang, ekspresi Satriya perlahan mengeras. Sedangkan Cintya, senyumnya mulai terasa sedikit kaku. Dia tidak suka berada dalam posisi yang di mana perhatian orang-orang tidak sepenuhnya tertuju padanya.
Dan di tengah kekacauan itu, Ren menatap anaknya, lalu berkata. "Sae."
"Iya."
"Kamu mau Papa pindahkan sekolah?"
Anjani langsung menutup mulut. Guru itu masih tertawa. Sementara Sae menghela napas panjang, seperti sudah terbiasa menghadapi ayahnya.
"Lihat?" kata Sae kepada guru. "Saya bilang juga."
"Bilang apa?" Guru itu penasaran.
Sae menunjuk Ren dengan wajah datar. "Papa membosankan."
Bersambung~~