NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Tombak dan Darah

Perpindahan menuju jalur ksatria pilihan kerajaan ternyata tidak membuat Mada langsung meninggalkan kompleks pelatihan militer Barat pada senin pagi itu. Sebelum surat keputusan resmi dari Senopati Kudamerta dibacakan di depan dewan perwira menengah, seluruh prajurit baru yang telah dinyatakan lulus seleksi Tamtama diwajibkan untuk mengikuti fase pembentukan dasar militer gelombang pertama. Fajar baru saja pecah dengan warna merah darah di ufuk timur Trowulan ketika dua ratus pemuda, termasuk seluruh penghuni barak nomor empat, sudah dikumpulkan kembali di tengah lapangan utama yang beralaskan tanah liat kering.

Atmosfer di pelataran pagi ini terasa jauh lebih menekan dibandingkan masa seleksi pekan lalu. Di sepanjang tepi lapangan, barisan bintara instruktur senior berdiri tegak dengan memegang cambuk kulit lembu yang panjang. Wajah-wajah mereka tampak dingin tanpa ekspresi, memancarkan kedisiplinan besi yang menjadi ciri khas dari pasukan garda depan Majapahit. Di depan barisan banjar, ratusan bilah tombak kayu standar sepanjang satu setengah depa telah ditancapkan berjejer rapi di atas tanah, dengan ujung tumpul yang dilapisi kain tebal berwarna putih abu-abu.

"Mulai hari ini, kalian bukan lagi sekumpulan orang desa yang bermain lumpur!" teriak bintara kepala yang bertindak sebagai pemimpin latihan pagi, suaranya yang parau menggema membelah sisa kabut fajar yang mulai menipis. "Kalian adalah prajurit Tamtama aktif Majapahit! Tugas pertama kalian sebelum memegang senjata besi adalah menyatukan urat raga dan tarikan napas kalian ke dalam formasi tombak dan perisai harian! Di dalam medan perang nyata, satu orang yang salah dalam melangkah atau terlambat dalam menurunkan perisai akan menjadi celah maut yang akan meruntuhkan seluruh barisan garnisun!"

Setiap prajurit diperintahkan melangkah maju untuk mengambil sebilah tombak kayu latihan dan sebuah perisai anyaman bambu berlapis kulit lembu yang cukup tebal. Ketika giliran Mada tiba, ia mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan yang sengaja dibuat agak kaku dan sedikit lamban, mencengkeram gagang tombak kayu yang kasar tersebut. Ia memosisikan tubuh jangkungnya sedikit membungkuk ke bawah, memberikan kesan bahwa pundak kirinya masih menyisakan rasa perih memar akibat tugas pikulan air sebelumnya.

(Latihan harian ini adalah waktu terbaik untuk memulihkan kebugaran otot alaminya tanpa perlu memicu kecurigaan orang. Sirkulasi batin emas Batara Niti Mandala harus tetap dikunci di titik dasar, membiarkan tubuh fisikku menyerap seluruh kelelahan latihan ini secara natural agar terlihat sama kuyu dengan prajurit baru lainnya.)

Mada kembali ke posisinya di banjar kelima barak nomor empat. Di barisan paling depan, Ragajaya berdiri dengan sikap tubuh yang sangat tegap dan dagu yang terangkat tinggi. Meskipun sirkulasi hawa murni aliran air miliknya belum pulih sepenuhnya, pemuda pesisir itu tetap memaksakan dirinya untuk memimpin gerakan regu dengan sangat agresif. Di sampingnya, Jaka Wulung dan Lembu Sora juga tampak bersiap dengan memegang perisai mereka dengan kokoh, mencoba menjaga reputasi barak mereka yang telah dikenal sebagai pemenang simulasi palagan sebelumnya.

"Satu! Tusuk!" teriak bintara instruktur memberikan komando pertama.

Dua ratus prajurit baru secara serentak menghentakkan kaki kanan mereka ke depan, mendorong tombak kayu mereka lurus ke arah udara kosong di hadapan mereka dengan melepaskan teriakan perang yang keras.

"Dua! Tahan!"

Secara bersamaan, mereka menarik kembali kaki kanan mereka, menaikkan perisai bambu di lengan kiri hingga setinggi dagu untuk membentuk dinding pertahanan rapat.

Gerakan dasar tersebut diulang-ulang secara terus-menerus tanpa ada jeda istirahat sedikit pun selama putaran waktu dua bumbung bambu. Udara pagi yang awalnya dingin kini telah berubah menjadi sangat gerah. Sinar matahari yang kian meninggi mulai membakar kulit pundak mereka yang telanjang, memicu cucuran keringat yang membanjiri sekujur tubuh, membuat gagang tombak kayu yang kasar menjadi sangat licin karena basah.

Mada mengeksekusi setiap gerakan komando dengan sangat patuh dan rapi, namun ia sengaja membuat ketukan tusukannya terlambat sepertiga hitungan napas dibandingkan Ragajaya yang berada di depan. Setiap kali perisai bambunya menghantam dada, ia membuat tubuh jangkungnya agak tergetar ke belakang sedikit seolah-olah ia sedang berjuang keras menahan beratnya perlengkapan latihan tersebut. Sandiwara yang konsisten ini membuat para bintara pengawas yang berjalan di sela banjar meleewatinya begitu saja tanpa memberikan perhatian khusus, menganggap prajurit nomor 047 hanya seonggok daging besar yang memiliki ketahanan fisik lumayan namun lamban dalam refleks bertarung.

Namun, di tengah jalannya latihan formasi yang membosankan tersebut, Mada menggunakan ketajaman mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya untuk memantau pergerakan para anggota regu di sekitarnya. Di barisan banjar ketiga, seorang pemuda desa bertubuh kurus bernama Wiranata tampak mulai mengalami kelelahan yang sangat parah. Napasnya terdengar memburu dengan suara mengasap yang serak, dan kuda-kuda kaki kirinya berkali-kali goyah setiap kali instruktur meneriakkan komando tusukan lurus.

(Wiranata memiliki ketahanan urat yang paling lemah di antara kelompok inti barak nomor empat. Jika dia tidak dibantu untuk memperbaiki ritme tarikan napasnya dalam hitungan sepuluh pulsa nadi ke depan, otot betis kirinya akan mengalami kram parah yang bisa membuatnya dijatuhkan oleh cambuk kulit instruktur.)

Tepat ketika instruktur meneriakkan komando tusukan yang ke-seratus, kaki kiri Wiranata benar-benar kehilangan tumpuannya. Tubuh kurusnya terhuyung ke arah samping kanan, dan tombak kayunya hampir lepas dari genggaman jemarinya yang sudah mati rasa.

Mada yang berada di barisan belakang segera menggeser poros langkah kakinya yang jangkung setengah tindakan ke arah kanan dengan gerakan yang sengaja dibuat seolah-olah ia kehilangan keseimbangan karena terpeleset oleh genangan keringat di tanah liat. Tubuh besar Mada dengan sangat natural menabrak bagian pundak kanan Wiranata, memberikan tumpuan fisik yang sangat solid tanpa disadari oleh orang lain.

Saat kulit lengannya bersentuhan dengan kain kelat bahu Wiranata, Mada secara tersembunyi menyalurkan secuil getaran batin fisik alami melalui pori-pori kulitnya, menekan titik simpul saraf pernapasan di bawah ketiak pemuda tersebut. Sentuhan itu berjalan sangat kilat, membuat paru-paru Wiranata mendadak menerima pasokan oksigen yang meluap, meredakan ketegangan otot betisnya yang hampir kram dalam sekejap mata.

"Ah... maaf, saya terpeleset lagi, Teman," bisik Mada dengan wajah polos dan suara terengah-engah palsu sambil menarik kembali tubuh jangkungnya ke posisinya semula.

Wiranata mengerjapkan matanya dengan bingung, menghirup napas dalam-dalam dan merasakan tubuh kurusnya mendadak kembali bugar secara tidak masuk akal. Ia menoleh ke arah Mada yang sudah kembali sibuk membetulkan posisi perisai bambunya dengan wajah kelugu-luguan yang tampak bodoh.

"Terima kasih, Mada," bisik Wiranata dengan suara rendah sambil menegakkan kembali kuda-kuda tombaknya. (Anak jangkung dari Tarik ini benar-benar aneh. Setiap kali dia berada di dekatku di saat kritis, tubuhku selalu mendapatkan keberuntungan yang menyelamatkanku dari hukuman bintara.)

Latihan kedisiplinan formasi harian itu terus berlangsung hingga menjelang tengah hari, menguras seluruh cairan raga dan menyisakan rasa perih yang luar biasa di sepanjang telapak tangan para peserta yang mulai dipenuhi oleh kapalan baru yang pecah mengeluarkan darah tipis. Ketika peluit panjang tanda istirahat siang akhirnya ditiup oleh bintara kepala, hampir separuh dari dua ratus prajurit Tamtama baru langsung menjatuhkan tubuh mereka di atas tanah liat lapangan, tidak memedulikan lagi teriknya matahari siang yang membakar pakaian latihan mereka.

Ragajaya berjalan menuju ke tepian pagar pancang dengan langkah yang sangat gontai, menjatuhkan tombak kayunya di atas rerumputan kering dengan wajah yang sangat pucat. Lembu Sora dan Jaka Wulung segera duduk di sampingnya, memegangi lengan mereka yang gemetar parah karena terlalu lama menahan beratnya perisai bambu berlapis kulit.

"Latihan ini benar-benar gila," umpat Lembu Sora sambil membersihkan luka lecet di jemari tangannya menggunakan sisa air minum dari kendi tanah. "Mereka memperlakukan kita lebih buruk daripada kerbau sawah. Jika setiap hari harus melakukan seratus tusukan formasi seperti ini, sebelum bulan depan tiba, seluruh urat lenganku pasti sudah putus semua."

"Jangan mengeluh, Lembu Sora," kata Jaka Wulung dengan napas yang masih memburu kasar. "Para senior dari barak sebelah sedang mengawasi kita dari balik pohon sana. Mereka tampaknya masih mencari kesempatan untuk membalas dendam atas kekalahan Kebo Winarang dua malam lalu."

Mada berjalan mendekati mereka dengan membawa sebuah kendi tanah liat berisi air sumur yang segar. Ia menurunkan tubuh jangkungnya, duduk berlutut di sebelah Wiranata sambil menyodorkan kendi tersebut dengan sikap yang sangat santun seorang pemuda desa.

"Minumlah dulu, Tuan-tuan," ucap Mada dengan senyum polosnya yang khas. "Air sumur di dekat dapur Barat sangat segar sore ini. Saya sengaja mengambilnya lebih banyak agar kita semua tidak kehabisan cairan raga sebelum latihan sore dimulai kembali."

Wiranata menerima kendi tersebut dengan anggukan kepala yang hangat, meminumnya beberapa teguk sebelum menyerahkannya kepada Ragajaya. "Mada, tindakanmu membantu regu di barisan banjar tadi sangat bagus. Meskipun gerakanmu agak lamban, tubuh jangkungmu berkali-kali menjadi dinding penghalang yang menutupi celah kelelahan kami dari pandangan mata bintara instruktur."

Ragajaya mendengus remeh setelah meminum air, menatap Mada dengan pandangan mata yang masih dipenuhi oleh sisa-sisa keangkuhan kasta pesisirnya. "Membantu di barisan belakang memang keahlian para kuli desa, Wiranata. Namun di tengah berkecamuknya medan palagan nyata nanti, sekadar menjadi dinding daging yang lamban tidak akan bisa menyelamatkan barisan dari sabetan pedang besi pasukan musuh. Prajurit nomor nol empat puluh tujuh ini tetap harus belajar bagaimana cara meledakkan tenaga ototnya dengan lebih cepat jika dia tidak ingin menjadi orang pertama yang digotong keluar dari barak ini."

Mada hanya membalas ucapan meremehkan dari Ragajaya dengan anggukan kepala yang patuh berkali-kali, memasang wajah seorang bawahan yang sangat berterima kasih atas nasihat perwira atasannya. "Terima kasih atas bimbingannya, Tuan Ragajaya. Saya akan berusaha melompat lebih cepat besok fajar agar tidak merepotkan barisan tombak Anda."

(Teruslah bicara dengan keangkuhanmu itu, Ragajaya. Selama seluruh orang di kompleks militer ini percaya bahwa barak nomor empat dikendalikan oleh kekuatan hawa murni air milikmu, posisiku sebagai abdi bayangan yang tidak terlihat akan tetap bertahan dengan sempurna di bawah naungan dinding batu Trowulan.)

Mada menyandarkan punggung jangkungnya pada tiang pagar jati, membiarkan sepasang matanya terpejam pelan seolah-olah ia sedang menikmati istirahat sorenya dengan sangat lelah. Di dalam kegelapan batin sukmanya, pusaka Nogo Kumolo kembali memberikan getaran resonansi hangat yang sangat halus, merespons ketenangan batin sang pemilik yang kian hari kian berhasil memantapkan cengkeraman pengaruh tersembunyinya di dalam silsilah militer terendah kerajaan Majapahit.

Lonceng perunggu penanda latihan sore mulai bergaung kembali dari arah menara pengawas tengah, memaksa dua ratus jiwa muda untuk kembali bangkit memungut tombak kayu mereka yang berlumur darah kering dan keringat, siap melanjutkan penempaan disiplin besi yang akan membawa perjalanan hidup Gajah Mada melangkah selangkah lebih dekat menuju pusat permainan kekuasaan terbesar di tanah Nusantara.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!