Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Ini bukti-bukti perundungan karyawan kita di lantai empat, Jidan. Ternyata tidak hanya gadis itu melainkan banyak anak magang serta karyawan baru yang menjadi korbannya, tapi tidak berani melapor," jelas Dalfi sambil memperlihatkan bukti cctv."Tidak hanya itu, ada beberapa bukti lain mengenai perselingkuhan yang dilakukan oleh nya bersama kepala administrasi. Itulah kenapa perundungan yang selama ini terjadi tidak dilaporkan padahal kepala administrasi mengetahuinya," lanjut Dalfi lagi.
"Panggil orang-orang itu, aku ingin melihat reaksi mereka saat mengetahui kalau kenakalan mereka telah diketahui."
"Hukuman apa yang akan kamu berikan pada mereka?" tanya Dalfi sedikit mendekatkan tubuhnya.
"Kamu akan tau nanti." jawab jidan kemudian mengusir asisten nya itu.
Sementara di tempat lain.
Tawa beberapa orang wanita menggema di dalam wc khusus perempuan. Tidak hanya suara tawa melainkan suara gedoran pintu beserta suara seseorang yang meminta tolong.
Lorong itu sangat sunyi bahkan orang-orang mengabaikan teriakan dari dalam sana, kuping mereka seakan tertutup kapas hingga mereka benar-benar dibuat tuli.
"Tolong buka mbak!" teriak nada ketakutan tapi tidak digubris dengan baik oleh wanita itu."Saya berjanji tidak akan memberitahukan Pak Jidan, saya berjanji mbak!"
"Oh benarkah? Tapi tatapan mu tadi, membuat ku tidak yakin kalau kamu tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Pak Jidan," Sahut wanita itu."Biarkan dia didalam dan jangan ada yang berani membuka nya." Lanjut wanita itu yang ingin melangkah keluar bersama dengan antek-anteknya, tapi langkah itu terhenti saat melihat seseorang berdiri didepan pintu WC.
Wajahnya menyimpan kemarahan di sana terlihat dari kilatan di matanya.
"Pa–k Dalfi." Ucap wanita itu Terbata-bata dengan tubuh yang menegang.
"Apa yang kalian lakukan?!" Serunya seraya mendekati toilet yang saat ini masih dipukul-pukul oleh Nada dari dalam bahkan suara gadis itu masih bisa didengar oleh Dalfi.
"Anu Pak....itu...eh..." Dengan gugup hingga membuat perkataan nya terbata-bata lantaran wanita itu mencoba untuk menjelaskan, tapi Dalfi mengabaikannya dan malah mendekati pintu kamar mandi.
"Tolong buka! Siapapun tolong buka!" teriak Nada ingin menangis.
Hingga pintu itu dibuka paksa oleh Dalfi, membuat Gadis itu langsung bergerak keluar setelah pintu terbuka.
"Hhh... hhh... hhh..." Nafasnya terasa berat saat Nada menghirup udara dengan rakus setelah tadi terkurung dalam WC yang gelap dan juga pengap."Terimakasih mas sudah membantuku, terimakasih." Lirih Nada dengan mata yang berubah menjadi berembun.
Dalfi menatap Nada dengan tatapan kasihan. Dia berbalik memandangi ketiga orang itu dengan tajam.
Mereka yang tadi terlihat sangat berkuasa seakan ciut Dengan kedatangan Dalfi. Tidak ada perlawanan selain kepala yang menunduk seakan-akan Dalfi manusia paling kejam di sana.
"Kalian bertiga, ke ruangan Pak jidan! Disini saya tidak berhak memutuskan hukuman apa yang pantas para pecundang seperti kalian dapatkan. Tapi di sana kalian akan mendapatkan hukuman yang pas!" gertak nya membuat ketiga wanita itu langsung mengangkat kepalanya. Gertakan Dalfi tentu membuat mereka bertiga ketakutan mengingat siapa Dalfi sebenarnya.
"Maaf Pak, ini hanya salah paham....kami..."
"Kalian bodoh atau saya yang buta! Saya sudah melihat perilaku kalian, tapi kalian masih menyala!" Geram Dalfi mengepalkan tangan nya tidak habis pikir dengan tindakan wanita-wanita itu.
"Kami bisa menjelaskannya pak."
"Sudah ketahuan saja kalian masih ingin memberikan penjelasan! Tidak ada penjelasan, bukti sudah jelas kalau kalian sudah melakukan perundungan! Kalian akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan tindakan kalian di kantor ini!" ucap Dalfi sebelum pria itu menarik tangan Nada keluar dari sana.
Nada hanya menunduk melewati para perundung itu tanpa menatap ketiganya.
Ketiga wanita itu tidak merasa bersalah sama sekali setelah kepergian Dalfi dan juga Nada. Mereka malah menggerutu dan saling menyalahkan satu sama lainnya.
"Sial, semua salah sih culun itu kita jadi ketahuan kan!" ucap mendengus kesal.
"Lalu apa yang kita lakukan nanti, kalau sampai kita dipecat bagaimana?"
"Aku tidak tahu! ini salah kalian! Siapa suruh kalian tidak mengawasi baik-baik kalau ada Pak Dalfi." ucapannya membuat yang lain tidak terima.
"Lah kenapa malah jadi salah kami! Ini juga salah mu, merundung dia di jam kerja!"
"Iya, setelah seperti ini kamu malah menyalahkan kami!"
"Terserah kalian, pokoknya ini salah kalian!" Dengus nya sambil berlalu pergi meninggalkan kedua wanita itu.
*****
Saat Dalfi keluar semua orang langsung tertuju ke arah mereka. Orang-orang tentu mendengar keributan didalam tapi pura-pura tuli.
Dalfi menghentikan langkah nya. Pria itu menatap ke semua orang di sana dengan dingin dan tajam.
"Apa yang kalian lihat? Apakah perundungan ini seperti film untuk kalian hingga satupun tidak ada yang membantu?!" Ucapnya tegas mmbuat Semua nya diam tidak ada yang berbicara."Jika saya memiliki hak, mungkin kalian semua saya pecat karena membiarkan perundungan di kantor ini. Jika kalian takut membelah kalian bisa langsung melapor. Tuan Ardian pasti kecewa mendengar berita ini." Lanjut dalfi sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.
"Kamu tidak apa-apa. Mereka tidak menyakitimu kan?" tanya Dalfi saat kedua nya berada didalam lift.
"Saya tidak apa-apa mas, terimakasih sudah membantu saya tadi."
"Iya sama-sama." jawab Dalfi tersenyum."Temannya Jidan?"
Dengan canggung Nada mengangguk mengiyakan."Perkenalkan aku Dalfi, asistennya Jidan," ucap Dalfi mengulurkan tangannya."Kamu tidak perlu takut aku teman nya juga. Dia sudah bercerita mengenai siapa kamu." Lanjut Dalfi saat melihat Nada terlihat ragu menyambut uluran tangan nya.
"Nada." jawab Nada membalas uluran tangan Dalfi.
"Nama yang cantik pantas saja Jidan menyukaimu." Celetuk Dalfi tanpa sadar. Tentu perkataan Dalfi tersebut membuat Nada terkejut, sampai Dalfi menyadari kesalahan nya dan dengan cepat meralat perkataan."Maksuduku berteman denganmu."
****
Ketiga wanita itu menunduk takut apalagi melihat aura mencekam yang jidan perlihatkan. Wajah itu datar sangat tenang tapi menyimpan sesuatu yang menyeramkan di sana. Banyak orang tidak sadar kalau wajah dingin dan tenang itu menyimpan suatu rahasia yang susah untuk di pahami.
"Kalian tau kenapa saya panggil kalian kesini?" Tanya nya dingin yang suaranya sangat mencekam di indra pendengaran. Semua hanya diam dan tidak berani untuk menjawab."Kenapa kalian diam, apakah kalian bisu?!"
"Itu....itu.."
"Kenapa kalian terlihat gagap? Bukannya kalian sangat pintar berbicara saat merundung orang-orang kantor!"
"Maaf Pak." Lirih mereka bersamaan.
"Tidak ada kata maaf untuk para perundung seperti kalian. Kalian pantas dikeluarkan dari perusahaan ini sebagai sangsi atas perbuatan kalian. Tidak hanya Pemutusan Hubungan Kerja tapi Blacklist dari semua perusahaan."
Ketiga gadis itu tentu ayok dengan penuturan Jidan kalau mereka dipecat tidak hanya dipecat melainkan Blacklist dari semua pekerjaan.
"Tolong jangan Pak. Maafkan kami, kami mengaku salah kami berjanji tidak akan melakukan perbuatan tersebut lagi. Tolong jangan pecat kami Pak." Mohon ketiganya dengan posisi berlutut dengan tangan menangkup di depan dada."Tolong berikan kami kesempatan Pak."
"Baru sekarang kalian meminta ampun dan kesempatan,lalu kemarin-kemarin nya kalian ke mana saja? Anggap saja ini sebagai pelajaran untuk kalian agar tidak merundung seseorang walaupun itu berada di bawah kalian, karena kalau sampai tuhan membalikan keadaan maka seperti ini lah jadinya. Sekarang keluar dari ruangan ini." Usir Jidan setelah mengungkapkan kekesalan nya yang sejak tadi dia tahan setelah mengetahui kalau Nada dirundung di hari pertamanya magang. Sebagai sekretaris Ardian yang bertugas mengawasi semuanya saat bosnya sedang keluar, Jidan jadi merasa Tidak Kompeten dalam bertugas.
Ketiga orang itu terus memohon tapi Jidan menulihkan telinga nya seperti perintah Ardian, karena sebelum dia mengambil keputusan pemecatan ini dia sudah berbicara terlebih dahulu ke Ardian sebagai pemimpin perusahaan.
Bersambung….