NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua puluh satu.

Hari ini, Alya menemani ibunya pergi ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Namun, sebelum prosedur dimulai, sang ibu diwajibkan untuk menginap terlebih dahulu guna menjalani serangkaian pemeriksaan agar memastikan tubuhnya siap menerima pengobatan.

Karena hal tersebut, setidaknya dibutuhkan 2-3 hari untuk menyelesaikan semuanya. Selama itu, Alya memilih untuk tetap berada di sisi ibunya, menemaninya melewati setiap tahan pemeriksaan. Ia tak ingin melewatkan satu pun momen, sekecil apa pun itu.

Baginya, kehadirannya mungkin tidak bisa mengurangi rasa yang dirasakan oleh ibunya, tetapi setidaknya ia bisa menjadi penguat, memberi setiap ketenangan di tengah ketidakpastian yang mereka hadapi.

Alya duduk di samping ranjang, jemarinya menggenggam tangan ibunya yang terasa lebih dingin dari biasanya.

Ruangan itu dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, namun keheningan di antara mereka justru terasa lebih menyesakkan.

"Apa ibu lelah?" tanya Alya pelan, berusaha tersenyum meski matanya mulai memerah.

Ibunya menggeleng lemah. "Tidak... hanya sedikit pusing." ia menatap putrinya lembut. "Kau pasti lebih lelah. Dari tadi tidak berhenti mengurus Ibu."

Alya menggeleng cepat. "Aku tidak apa-apa. Selama Ibu ada di sini, aku juga akan di sini."

Ibunya tersenyum tipis, lalu mengusap punggung tangan Alya. dengan perlahan. "Kau ini... sejak dulu tidak pernah berubah. Selalu keras kepala kalau soal Ibu."

Alya tertawa kecil, meski suaranya terdengar bergetar. "Kalau aku tidak keras kepala, Ibu tidak akan mau menjalani pengobatan."

Hening sejenak. Hanya suara mesin monitor yang terdengar berdetak pelan, seolah ikut mengisi ruang yang menyesakkan itu.

"Alya..." panggil ibunya lirih.

"Iya, Bu?"

"Kalau nanti..." ia terdiam, seolah ragu untuk melanjutkan. "Kalau nanti Ibu tidak sekuat ini lagi, kau harus janji tetap kuat, ya?"

Genggaman Alya mengerat. Ia menunduk, berusaha menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya. "Jangan bicara seperti itu, Bu..." suaranya bergetar, nyaris berbisik.

Junita tersenyum lembut, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Hidup itu tidak selalu seperti yang kita mau, Nak. Tapi ibu percaya, kau bisa melewati semuanya."

Alya mengangkat wajahnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Aku tidak butuh kuat kalau tanpa Ibu..." ucapnya lirih.

Ibunya mengusap pipi Alya dengan penuh kasih. "Kau kuat, bahkan tanpa Ibu. Tapi, selama Ibu masih di sini... biarkan Ibu melihat senyummu.

Alya mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di sisi ranjang, tetap menggenggam tangan itu seolah takut kehilangan.

"Kalau begitu, Ibu juga harus janji..." gumamnya pelan.

"Janji apa...?"

"Janji tetap bertahan... untukku."

Ibunya tersenyum, kali ini lebih hangat. "Ibu janji."

*

*

Malam harinya, ketika Junita sedang terlelap, Alya mulai membuka buku yang di berikan oleh Maxime padanya.

Ia tampak menghela napas panjang dan berat. "Kenapa dia memberikan buku ini padaku? Apa ini semacam hukuman untukku?" gumamnya pelan, bertanya pada dirinya sendiri.

Perlahan, ia mulai membuka halaman pertama dan membawanya dengan seksama. Ia berusaha untuk menghafal beberapa kata dan memahami lafal pengucapannya.

Namun, lidahnya sering kali terbelit. Kata-kata asing itu terasa kaku dan sulit diucapkan.

"Akh... susah sekali." keluhnya kesal.

Ia menutup mata sejenak, lalu kembali mencoba. Kali ini lebih pelan dan hati-hati.

"Wie... geht... es dir...?" (Apa kabar?) ---> Di baca: vie get es dir.

"Mie geht es gut." (Saya baik-baik saja.) ---> Di baca: mir get es gut.

Ia mengulang lagi dan lagi.

Meski terdengar canggung, Alya tidak menyerah. Sesekali ia melirik ke arah ranjang, memastikan ibunya masih tidur dengan tenang.

"Aku harus bisa..." bisiknya pelan.

Genggaman pada buku itu mengerat. Rasa lelah yang sejak tadi ia tahan perlahan bercampur dengan tekad yang tumbuh di hatinya.

Untuk pertama kalinya, buku itu tidak lagi terasa seperti hukuman, melainkan sebuah tantangan yang harus ia taklukkan.

🌺🌺🌺

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela tak mampu menghangatkan dinginnya ruang perawatan. Alya berdiri di samping ranjang, memperhatikan perawat yang mulai menyiapkan peralatan.

Selang infus, botol cairan bening, dan suara alat medis yang pelan terdengar begitu jelas, seolah semuanya diperlambat.

"Ibu..." panggil Alya lirih.

Junita menoleh, mencoba tersenyum meski wajahnya tampak pucat. "Iya, Nak?"

Alya mendekat, menggenggam tangan ibunya lebih erat dari biasanya. "Aku di sini."

"Ibu tahu." jawabnya lembut. "Selalu di sini."

Perawat mulai memasang jarum infus dengan hati-hati. Alya tak bisa mengalihkan pandangannya, meski hatinya terasa diremas. Saat jarum itu menembus kulit, jemari ibunya sedikit menegang.

Alya refleks mengusap punggung tangan itu. "Sakit, Bu?*

Ibunya menggeleng pelan. "Tidak, Nak. Hanya sedikit tidak nyaman."

Namun Alya tahu jika itu bukan sekedar rasa tidak nyaman.

Cairan kemoterapi perlahan mengalir melalui selang, masuk kt dalam tubuh yang selama ini telah berjuang keras untuknya. Tatapan Alya mulai terlihat berkaca-kaca, karena menahan tangis.

Alya tidak ingin menangis dan membuat ibunya ikut bersedih.

"Ibu kuat." bisik Alya, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.

Junita menatapnya dalam. "Kita kuat, Nak."

Mendengarnya membuat dada Alya semakin terasa sesak.

Beberapa menit berlalu, dan wajah ibunya tampak berubah. Ada kerutan halus di dahinya, napasnya terasa sedikit lebih berat. Alya semakin erat menggenggam tangannya, seolah mencoba menyalurkan kekuatan pada ibunya, yang ia tahu sedang berusaha untuk menahan segala rasa sakitnya.

"Kalau sakit... bilang ya, Bu. Jangan ditahan."Ucap Alya dengan suara bergetar.

Junita tersenyum tipis. "Selama kau ada di sini... ibu pasti bisa menahannya. Kau adalah kekuatan Ibu, Nak."

Air mata kembali menggenang di mata Alya. Namun, kali ini ia tak bisa lagi menahannya. Ia lalu mengangguk, mendekatkan tangan ibunya ke pipi.

"Aku tidak akan kemana-mana." bisiknya.

Junita memejamkan matanya perlahan, membiarkan tubuhnya menerima setiap tetes obat yang masuk. Sementara itu, Alya tetap beradaa di sana, menjadi kekuatan dan menjadi alasan untuk tetap bertahan.

Di ruangan itu, di antara rasa sakit dan ketakutan, hanya ada satu hal yang tetap utuh, kasih sayang yang tidak pernah berkurang.

Ibu harus sembuh, harus tetap kuat... Aku tidak bisa hidup tanpa Ibu. Aku akan lakukan apa saja, untuk kesembuhan ibu. Asalkan ibu tetap ada bersamaku...

🌺🌺🌺

1
Xlyzy
Alya yang kuat ya, semoga Oprasi ibu mu berhasil
Miu.Nuha
aishh wanginya itu lohh...
mengalihkan duniakuu~
Miu.Nuha
iya, cari second love gih biar move on /Determined/
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!