Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.
Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.
Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.
Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Moan my name."
"Kak... ahhh—"
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 PURA-PURA
Ketukan pelan di pintu kamar membuat gerakan Lian dan Esther terhenti seketika.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu terdengar begitu jelas di tengah kamar yang sebelumnya dipenuhi suara gesekan boneka dan bisikan pelan mereka.
Beberapa detik sebelumnya, keduanya masih sibuk memindahkan boneka-boneka besar ke atas kasur. Boneka beruang, kelinci, dan berbagai karakter kartun kini berjajar membentuk garis panjang di tengah tempat tidur, seolah menjadi tembok pembatas yang memisahkan wilayah Esther dan wilayah Lian.
Pemandangan itu terlihat lucu sekaligus menyedihkan.
Tak ada yang menyangka pasangan pengantin baru justru menghabiskan malam mereka dengan membangun benteng dari boneka.
Ketukan kembali terdengar.
"Esther?" suara Margaret terdengar dari balik pintu.
Esther dan Lian saling berpandangan.
"Mama .... " gumamnya pelan.
Dan detik berikutnya ketukan kembali terdengar, kali ini sedikit lebih keras.
"Esther, kau baik-baik saja sayang?" tanya Margaret dengan nada penuh kekhawatiran. "Arthur bilang kau muntah-muntah tadi. Apa kau sakit?"
Kedua mata Esther langsung melebar. Tubuhnya menegang dan
jantungnya yang semula tenang mendadak berdegup lebih cepat.
Reflek ia meraih tangan pria itu. "Kak, kau saja yang buka pintunya."
Kening Lian berkerut.
"Kenapa bukan kau?"
"Aku akan pura-pura tidur dan Kakak Lian katakan pada Mama bahwa aku baik-baik saja dan sedang istirahat atau mama akan memanggil dokter kemari untuk memeriksaku dan..." Esther menatap Lian dengan tatapan memohon.
"Aku akan ketahuan sedang hamil, kak." Bisiknya.
Lian menghela napasnya panjang kemudian bangkit untuk membukakan pintu. Sementara Esther langsung berbenah, menghempaskan boneka-boneka yang di tumpuk di kasur tadi hingga berserakan ke berbagai arah. Bantal ia lempar supaya berantakan, seprai kusut karena tidak sengaja tertarik saat ia melemparkan bantal.
Esther buru-buru merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Napasnya ia atur senatural mungkin supaya mamanya percaya ia benar-benar tertidur.
Begitu pintu dibuka, Margaret langsung berdiri di depan sana dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Lian, mana Esther? Apa dia masih muntah-muntah?"
Kepalanya langsung bergerak ke kiri dan kanan berusaha mengintip ke dalam kamar.
"Mau mama panggilkan dokter?"
Lian menggeleng sambil tersenyum—senyum khasnya yang selalu muncul saat tengah berbicara dengan orang tua.
"Esther sudah tidur, Ma," jawabnya pelan seolah ia takut suaranya akan membangunkan Esther yang tengah tertidur itu. "Tadi Lian sudah kasih obat, besok Esther pasti akan membaik."
"Kau yakin, Lian?" tanya Margaret ragu. "Boleh mama masuk?"
Lian terdiam beberapa detik. Ia menoleh ke belakang sekilas lalu kembali menatap mertuanya.
"Tentu saja, boleh." Katanya sambil tersenyum. Ia menggeser tubuhnya supaya mama mertuanya itu bisa masuk ke dalam.
Margaret melangkah masuk ke dalam dan langsung terdiam melihat keadaan kamar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan itu.
Boneka-boneka yang biasanya tertata di dalam rak kini justru berserakan di lantai. Selimut kusut.
Bantal berpindah tempat. Kasur berantakan. Bahkan sangat berantakan.
Kedua alis Margaret terangkat perlahan lalu tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat, matanya melirik sekilas ke arah Lian.
Tatapan itu langsung membuat pria itu tahu kalau mertuanya sedang salah paham.
Margaret berdeham pelan lalu berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di tepinya.
Di atas kasur Esther menggeliat mengubah posisi tidurnya yang semula menghadap Margaret kini jadi membelakanginya. Tangannya menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, seolah-olah kain tebal itu mampu melindungi rahasia yang tersimpan di tubuhnya.
Matanya terpejam rapat, sementara kedua tangannya mencengkeram ujung selimut di depan dada. Ia berusaha mengatur napas agar terdengar tenang dan teratur seperti orang yang sedang terlelap.
Sayangnya, tubuhnya mengkhianatinya.
Jantung Esther berdentum keras, memukul-mukul rongga dadanya tanpa ampun. Setiap detik terasa begitu panjang saat ia merasakan tangan mamanya menyentuh keningnya. Seketika rasa bersalah memenuhi dada Esther.
Ia berbohong pada ibunya.
Lagi.
Dan lagi.
"Mungkin dia kelelahan," ujar Margaret lalu mengelus kepala Esther pelan. Rambut lepeknya menempel di sela jemari Margaret. "Jangan terlalu memaksanya Lian, Esther masih kecil."
"I-iya, Ma." jawab Lian kaku.
Margaret kembali berdiri.
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan malam. Biarkan Esther istirahat." Margaret menyentuh bahu menantunya itu sebelum ia berjalan keluar dari kamar.
Lian menutup pintu.
Beberapa saat kamar itu hening.
"Mama sudah keluar. Bangun."
Esther membuka sebelah matanya lalu bangkit. Ia menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
"Syukurlah..."
Katanya sambil memegangi dadanya yang masih berdetak kencang.
"Jantungku hampir copot."
...*****...
Sementara itu di hadapan menara Eiffel, Ava berdiri dengan telepon di hadapannya. Senyum di wajahnya mengembang saat melihat tingkah putranya yang memegang ponsel begitu dekat hingga wajahnya memenuhi layar.
"Mama... Bibi Ele sakit," ujar Arthur, suara yang tadi ceria kini berubah sedih. "Tadi Bibi muntah."
Ava terdiam. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Esther tidak sedang sakit melainkan wanita itu tengah hamil muda. Dan mual di pagi atau malam hari adalah hal yang sangat normal bagi ibu hamil.
"Mama... Mama dengar Al tidak?"
Suara Arthur membuat lamunan Ava buyar.
"Iya, sayang. Mama dengar," jawabnya sambil menarik kembali senyuman yang sempat redup. "Kalau begitu Arthur tinggal dengan grandma saja, ya sayang."
"Tidak mau," tolaknya cepat. "Al mau ikut Bibi Ele pulang bersama paman Lian. Al tidak mau tinggal dengan grandma."
"Baiklah... Tapi ingat, jangan merepotkan mereka." pesannya, "Sekarang Arthur tidur ya, sudah malam."
"Oke, Mama."
Panggilan itu pun berakhir. Tepat di saat Ava menurunkan ponselnya, sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang.
Tubuhnya sedikit terkejut.
Aroma sabun yang segar langsung memenuhi indra penciumannya. Tak perlu menoleh, Ava sudah tahu siapa pelakunya.
"Kau selalu menyuruhku berhenti bekerja saat malam," gumam Arash pelan di dekat telinganya. "Tapi kau sendiri malah sibuk sampai melupakan aku."
Ada nada protes dalam suaranya, namun terdengar lebih seperti rengekan daripada keluhan sungguhan.
Arash menundukkan kepala. Bibirnya menyentuh bahu Ava sekilas sebelum ia menyandarkan dagunya di sana, menikmati kehangatan tubuh istrinya setelah seharian mereka sibuk mempersiapkan banyak hal untuk fashion week nanti.
Ava mengembuskan napas pelan lalu berbalik hingga kini mereka saling berhadapan.
Kedua tangannya mendarat di dada bidang suaminya. Jemarinya menepuk pakaian Arash yang sedikit kotor sebelum akhirnya mengelus dadanya perlahan.
"Aku membawamu ke sini untuk membantuku bekerja," katanya.
"Aku sudah membantumu seharian."
"Dan?"
"Jadi sekarang giliranmu membantuku."
Alis Ava terangkat sebelah. Tatapan curiga langsung muncul di wajahnya.
"Membantu apa?"
Senyum Arash perlahan melebar. Ia menunduk sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Bantu aku membuat teman bermain untuk anaknya Lian."
Beberapa detik hening. Lalu kedua mata Ava langsung membulat lebar. Refleks ia mendorong dada suaminya hingga pelukan mereka terlepas.
"Dasar mesum!"
Wajahnya memanas seketika.
Ava buru-buru membenarkan rambutnya yang berantakan oleh angin malam, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memerah. Tanpa memberi kesempatan Arash untuk menggoda lebih jauh, ia segera berbalik dan berjalan cepat memasuki kamar.
Arash hanya tertawa kecil melihat reaksi istrinya. Senyum jahil masih menghiasi wajahnya saat ia melangkah menyusul.
"Tunggu aku, Ava."
Dengan langkah panjang, Arash segera mengejar istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
...*****...
Hujan yang semalam turun begitu derasnya kini berhenti setelah hari berganti. Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyinari ruang makan yang terasa begitu hangat dengan suara Arthur yang mengomel.
Anak kecil itu menceritakan bahwa tidur dengan kakek neneknya tidak menyenangkan. Tidak ada yang mau bermain ataupun membacakan cerita untuknya sebelum tidur. Ia di paksa memejamkan mata tanpa sempat berkhayal tentang petualangan Robin hood kesukaannya.
"Kenapa Esther tidak turun? Apa dia baik-baik saja, Lian?" tanya Margaret setelah cukup lama mereka duduk di meja makan namun putrinya itu tidak muncul juga.
Raut wajahnya berubah khawatir.
"Esther sudah membaik, Ma." jawab Lian. "Dia masih mandi tadi, mungkin sebentar lagi turun."
"Horeeee.... Berarti Al bisa tidur dengan Bibi nanti," seru Arthur. Sendok di tangannya terlepas hingga menimbulkan denting saat ia bertepuk tangan karena senang.
"Tidak boleh. Kau tidak boleh menganggu mereka."
Kedua tangan Arthur perlahan turun. Matanya menatap neneknya tidak paham. "Mengganggu apa grandma? Bibi dan paman juga tidur saat Al tidur," Arthur melirik Lian yang duduk di seberangnya. "Benarkan, paman?"
Lian mengangguk pelan sambil tersenyum.
Agam terkekeh. "Arash memang keterlaluan. Bisa-bisanya dia ikut Ava ke Paris sementara kalian pengantin baru harus repot mengurus anaknya."
"Itu karena Arash tidak mau jauh dari Ava, makanya dia memilih menjauh dari Arthur." ucap Lian, hingga kedua mertuanya itu mengangguk membenarkannya.
"Good morning..." suara Esther menggema di ruangan itu. Ia melangkah cepat, menarik kursi di samping Lian lalu duduk disana. Senyum sumringah menghiasi wajahnya bersama aroma parfum manis yang menyebar hingga menusuk penciuman semua orang yang tengah menikmati sarapan. Termasuk Lian.
Pria itu tiba-tiba terbatuk-batuk.
Esther yang duduk di sampingnya langsung mengambil gelas lalu memberikannya minum.
"Kak Lian kenapa?"
Lian menerima gelas itu lalu meminum beberapa teguk air sebelum akhirnya batuknya mereda.
Ia menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa."
Namun matanya tetap menatap Esther cukup lama.
Pagi itu Esther terlihat berbeda dari semalam.
Wajah pucat yang sebelumnya menghiasi perempuan itu sudah menghilang. Meski tanpa riasan sedikit pun, wajahnya tampak lebih hidup. Kedua pipinya sedikit merona, matanya berbinar, dan senyumnya terlihat begitu cerah.
Tidak ada yang berlebihan dari penampilannya.
Hanya saja...
Aroma parfum yang dikenakannya cukup menyengat hingga membuat Lian sedikit terganggu.
"Kau mau ke mana, Esther?" tanya Margaret sambil meletakkan cangkir tehnya.
"Esther mau pergi ke luar, Ma."
"Ikut."
Suara Arthur langsung menyela sebelum Margaret sempat menanggapi.
Anak kecil itu mendorong kursinya hingga bergeser ke belakang lalu melompat turun. Dengan langkah kecil yang terburu-buru ia berlari menghampiri Esther.
"Ikut ya, Bibi."
Arthur mendongak dengan wajah memelas yang sengaja dibuat sedramatis mungkin. Bibirnya mengerucut, matanya membesar, bahkan kedua tangannya memegang lengan Esther seolah takut ditinggalkan.
Esther tak kuasa menahan senyum.
Tangannya terangkat mengacak rambut Arthur dengan lembut.
"Boleh."
Arthur langsung bersorak kecil. Wajah murungnya menghilang seketika, berganti senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi kecilnya.
Melihat reaksi cucunya, Agam dan Margaret hanya bisa tersenyum geli.
Setelah sarapan selesai, Esther dan Lian akhirnya berpamitan. Mereka berencana kembali ke apartemen bersama Arthur yang sejak tadi sudah tidak sabar ikut pulang bersama keduanya.
Margaret sebenarnya masih berusaha menahan mereka. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran
sejak mendengar Esther muntah-muntah kemarin dan terus menganggap putrinya itu sedang kurang sehat. Namun Esther terus memberikan berbagai alasan agar diizinkan pulang.
Pada akhirnya Margaret menyerah.
"Kalau begitu jaga kesehatanmu baik-baik, ya."
"Iya, Ma."
Setelah berpamitan dengan Agam dan Margaret, mereka bertiga berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.
Arthur menjadi orang pertama yang masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak ceria sejak mengetahui ia ikut pulang bersama Esther dan Lian.
"Byebye, grandma!"
Arthur menempelkan wajahnya ke jendela sambil melambaikan kedua tangannya dengan antusias.
"Byebye!"
Margaret tertawa kecil sambil membalas lambaian cucunya.
Bahkan ketika mobil sudah melewati gerbang dan semakin menjauh dari rumah, Arthur masih terus melambaikan tangannya dari balik kaca jendela, seolah khawatir kakek dan neneknya belum melihat salam perpisahannya.
Melihat tingkah cucunya itu, Margaret hanya bisa tersenyum hangat sementara Agam menggeleng geli di sampingnya.
"Anak itu benar-benar tidak pernah kehabisan energi," gumamnya.
Mobil terus melaju meninggalkan halaman rumah, membawa Esther, Lian, dan Arthur kembali ke kehidupan mereka.
.
.
.
.
.
Beri dukungan kecil kalian yang berharga untuk cerita ini dengan like komen dan subscribe 🤎