NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Robot AI / Spiritual / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:

Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain

Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan baru Rey part 5

Sadar bahwa setiap gerak-geriknya kini menjadi tontonan, Sany hanya bisa terdiam, wajahnya membeku dalam ekspresi terpana. Bianca tidak memberi ampun. Dengan gerakan tunggal yang menandakan audiensi telah berakhir, ia mendorong pintu mulai tertutup.

"Ada lagi?" tanya Bianca dengan suara datar menusuk ruang antara mereka.

Penny yang paham isyarat komandannya, langsung menyahut, "Tidak ada, Komandan," balas Penny dengan tegas dan patuh.

Bianca langsung menutup pintu, dia tahu mereka hanya menjalankan tugasnya.

"Kau beruntung bisa membuktikan alibimu, kalau kami melihatmu begini lagi maka..."

Sebelum Chika menyelesaikan kalimatnya, Rey langsung menyela.

"Maaf, maaf! Aku janji tidak akan mengulanginya!" ucap Rey yang menunduk dalam penyesalan. Matanya terpejam sesaat.

"Jujur, aku juga penasaran dengan orang bernama Sany itu," kata Penny, seakan mendapat sekutu di tengah teguran itu.

Rey menoleh ke arahnya.

"Walaupun begitu, tidak sopan mengorek urusan pribadi orang lain. Apalagi orang sepenting komandan," Chika memperingatkan dengan suara tegas.

Rey menghela napas. Dia merasa telah melakukan kesalahan yang tak seharusnya terjadi.

"Aku tahu kau cuma penasaran, tapi jangan diulangi lagi, ya. Nanti juga kau akan tahu sendiri," ucap Chika yang berusaha menghiburnya.

"Iya," balas Rey dengan senyum tipis.

"Omong-omong, kenapa kau tidak bersama Tuan Putri Nova?" tanya Penny yang teringat tugas utama Rey.

"Oh, iya,"

Rey yang teringat sesuatu, buru-buru berlari meninggalkan mereka.

"Menurutmu dia bisa dipercaya?" tanya Penny kepada Chika sambil melihat Rey yang berlari.

"Dari sorot matanya, dia terlalu polos untuk berkhianat. Untuk sementara kita bisa mempercayainya, Lagi pula, kita ke sini karena panggilan profesor," balas Chika tanpa basa-basi.

"Benar juga,"

Mereka berdua pun berpaling dan mulai meninggalkan koridor di depan kantor Bianca.

Di dalam kantor Bianca, suasana hening sesaat setelah pintu terkunci.

"Sepertinya mereka sudah pergi," gumam Bianca, kini telah duduk kembali di kursi kerjanya.

Beberapa kantor didesain khusus, untuk membuat suara dari dalam takkan bocor ke luar, tetapi Bianca bisa mendengar setiap percakapan di koridor dengan jelas.

"Jangan marah. Aku tidak merasa mereka orang jahat," ucap Sany, mencoba membujuknya.

Bianca menghela napas. Tidak semua orang punya mental prajurit kerajaan. Tapi dialah yang memilih, menilai, dan menentukan posisi mereka.

"Ini sudah jam makan siang. Ayo kita ke ruang makan," ajak Bianca, seraya teringat sesuatu.

"Iya," sahut Sany dengan semangat.

Mereka berdua pun beranjak keluar dari ruangan, menuju koridor yang mengarah ke ruang makan.

Rey sampai di depan ruang kerja Putri Nova. Jika ingatannya benar, di jam seperti ini, sang putri biasanya berada di dalam.

Dengan jantung berdebar, dia mengetuk pintu.

"Masuk,"

Suara itu membenarkan dugaannya.

Rey membuka pintu, melangkah masuk, lalu langsung berlutut di hadapan sang tuan putri.

"Maaf, Yang Mulia. Hamba datang terlambat,"

Di depan Sany, Nova mungkin hanya seorang bos. Namun bagi Rey, dia adalah Putri Ketujuh Kerajaan.

Sang Ratu adalah penguasa tertinggi negeri itu, dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas, terbagi ke dalam beberapa provinsi. Untuk mengatur daerah-daerah tersebut, Sang Ratu menunjuk putri-putrinya dari yang kedua hingga kesepuluh untuk memimpin setiap provinsi.

Dan Nova adalah salah satu dari pemimpin tertinggi di provinsinya.

Nova masih duduk di kursinya, mata tertuju pada laporan yang terhampar di meja. Di sebelahnya berdiri Faye, pelayan pribadinya seorang ras demi dengan telinga kucing dan rambut panjang biru yang memesona.

Menyadari kedatangan Rey, ekspresi Nova berubah murka. Faye hanya menggeleng pelan, pandangannya penuh kekecewaan.

"Kemana saja kau tadi pagi? Rapatku dengan para bangsawan sudah usai, dan kau baru muncul sekarang!" seru Nova, suaranya membakar ruangan.

Rey menggigil ketakutan. Dalam posisi berlutut, ia buru-buru menjelaskan, "Sany... Sany mengajakku jalan-jalan!"

Begitu nama Sany disebut, Nova menarik napas dalam-dalam. Seolah berusaha menelan amarah yang menggelegak. Latihannya mengendalikan emosi akhirnya diuji.

"Baiklah. Kali ini kumaafkan,"

Ucapan itu membuat Faye, pelayan pribadinya, nyaris tercekat. Namun, ia menahan diri untuk tak bersuara.

"Terima kasih, Yang Mulia," balas Rey, masih bertahan dalam posisi berlutut.

Nova melirik jam di gadgetnya, "Sudah waktunya makan siang. Berdirilah."

Rey pun bangkit. Baru setelah itu, Nova berdiri dari kursinya.

"Kalian berdua, beristirahatlah. Kembali ke sini sebelum aku selesai," perintah Nova dengan nada yang jelas.

"Baik, Yang Mulia," sahut Rey dan Faye serempak sambil membungkukkan badan.

Begitu Nova meninggalkan ruangan, Faye segera mendekati Rey.

"Kau benar-benar beruntung tidak kena hukuman," bisik Faye, setengah heran.

Rey pun menghadapi dilema: sebagai pengawal pribadi Putri Nova, dia sama sekali tidak boleh meninggalkan posnya tanpa izin. Setiap detik di luar pengawalan adalah pelanggaran protokol.

"Hukuman?" Rey terkesiap.

"Iya. Biasanya, jika Yang Mulia sedang marah, orang yang bersalah pasti akan mendapat hukuman. Tapi kali ini... aneh. Begitu mendengar nama Sany, amarahnya seperti menguap begitu saja," jelas Faye dengan jujur.

Melihat Faye yang juga tampak penasaran, Rey memberanikan diri mengutarakan isi hatinya.

"Ah... sebenarnya, aku juga penasaran tentangnya. Dia juga punya hubungan dengan Komandan Bianca."

"Apa!?" Faye terkejut mendengarnya.

"Coba cerita! Apa saja yang kau tahu soal Sany?" desak Faye, rasa ingin tahunya menggelegak.

Rey pun mulai bercerita. Dari pertemuan pertamanya dengan Sany, hingga kejadian-kejadian terakhir yang membuatnya penasaran.

"Jadi begitu rupanya. Pantas saja kau terlambat. Lain kali jangan diulangi, ya," kata Faye sambil menepuk pundak Rey dengan lembut.

"Baik," jawab Rey, angguknya pendek.

Melihat raut muka muram Rey masih belum hilang, Faye mencoba mengalihkannya.

"Jangan cemberut begitu. Aku traktir makan siang, mau?" ajak Faye yang berusaha menghibur.

Rey pun mengangguk lemas. Itu jawaban yang bisa dia berikan.

Di ruang makan yang sepi, hanya ada tiga orang: Nova, Bianca, dan Sany. Mereka duduk berhadapan, membicarakan sesuatu sambil menyantap hidangan.

"Sebenarnya, bagaimana cara kalian membujuk Rey?" tanya Sany tiba-tiba, seperti baru menyadari sesuatu.

Nova dan Bianca saling bertukar pandang sesaat, lalu kembali memandang Sany.

"Sederhana, Kami mengubah ingatannya... dengan kebenaran," jawab Bianca dengan senyum tipis.

"Kebenaran, ya..." gumam Sany sambil memikirkannya.

Ia tampak bingung dengan jawaban itu. Tapi karena Rey masih mengingatnya, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu jauh. Untuk sekarang, yang penting adalah melanjutkan makan siang ini dengan tenang.

"Bagaimana dengan tubuhnya yang lain?" tanya Sany dengan suara rendah yang mengingat kemampuan uniknya.

"Sudah dihapus SIA," balas Nova secara langsung.

Sany terdiam sejenak, kalau tubuh cadangannya sudah terhapus. Artinya, jika dia mati sekarang, tidak akan hidup di tubuh barunya.

Di sebuah restoran keluarga sederhana, tak jauh dari kompleks istana. Di sinilah Faye memilih mentraktir Rey makan siang.

"Dua porsi, seperti biasa," pesan Faye pada pelayan yang sudah dikenalnya.

"Baik, Nyonya Faye," balas pelayan itu sambil tersenyum ramah sebelum berbalik ke dapur.

Karena Faye adalah pelanggan tetap, pesanannya tak perlu ditanya ulang.

Bersambung...

1
T28J
baiklah saya baca novel pertamanya dulu kak 👍
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!