NovelToon NovelToon
Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:6.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: doni setiawan

Ketika Raja Raksasa Kalapati telah selesai dalam 1000 tahun pertapaannya, maka ia memiliki kesaktian yang tiada tara. Tak ada yang bisa membunuhnya walaupun Raja Dewa sekalipun. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh para dewa adalah membuat senjata sakti yang memiliki nyawa seperti manusia. Senjata sakti itu diturunkan ke bumi dalam bentuk bayi perempuan mungil yang cantik, ditemukan oleh seorang janda tua di bawah pohon beringin di depan rumahnya. Bayi mungil bersinar keemasan itu diberi nama Batari Mahadewi. Kelak ia akan tumbuh besar sebagai seorang gadis pendekar sakti yang memenuhi panggilan takdirnya untuk membunuh Kalapati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doni setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 Segel Ketiga

Pagi hari, beberapa penghuni kuil sudah mulai beraktivitas. Beberapa dari mereka yang melihat Batari Mahadewi dan kakak seperguruannya selalu memberikan salam yang ramah. Niken sudah bisa duduk meski tubuhnya sangat lemah.

Juru masak kuil mengantarkan sarapan untuk mereka bertiga. “Selamat pagi. Saya mengantarkan sarapan ini.

Makanan yang ini untuk tuan muda Jalu dan nona Batari Mahadewi, dan yang ini untuk nona Niken yang sedang sakit. Masakan ini harus dihabiskan karena sebagian bahannya adalah obat-obatan untuk memulihkan stamina nona Niken. Masakan ini dibuat sendiri oleh pendeta Liong. Selamat makan. “Kata juru masak itu mempersilahkan, kemudia ia berlalu ke dapur.

“Apa yang terjadi denganku setelah semalam…” Kata Niken lemah.

“Makanlah dulu, nanti aku ceritakan bagaimana kau lari ketakutan gara-gara melihat hantu, lalu kau pingsan tak sadarkan diri setelah menabrak pohon besar.” Gurau Jalu. Niken hanya tersenyum kecut menanggapi gurauan saudara seperguruannya itu, jika ia sehat, ia pasti tidak akan terima.

“Kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu sampai kakak sembuh. Ini adalah kuil tempat tinggal pendeta Liong. Semalam beliau yang mengeluarkan racun dalam tubuh kakak.” Kata Batari Mahadewi.

Seusai sarapan, Jalu menemai Niken di ruangan itu, sementara Batari Mahadewi mengembalikan mangkok dan peralatan lain menuju ke dapur. Juru masak kuil tersenyum menyambutnya. “Nona muda tidak usah repot mengantarkan piring ini. Nanti akan kami ambil sendiri.”

“Terimakasih atas suguhan makanan pagi ini. Ini saya mengantarkan mangkok sambil sekalian melihat-lihat kuil ini.” Kata Batari Mahadewi.

“Silahkan nona, saat ini pendeta Liong masih berdoa bersama para murid di aula utama. sebentar lagi beliau pasti akan menemui kalian. Nona bisa melihat-lihat kuil kami. Ini adalah Kuil Matahari yang kami bangun 50 tahun yang lalu.” Kata Juru Masak itu.

Batari Mahadewi sangat terkagum-kagum dengan Kuil Matahari itu beserta seluruh isinya. Semua yang tinggal di kuil ini memiliki kesaktian yang tinggi, bahkan para juru masaknya sekalipun. Batari Mahadewi bisa merasakan bahwa kuil itu kaya akan energi dan ada satu tempat yang memancarkan energi bumi yang kuat namun menenangkan.

Batari Mahadewi memandang batu berbentuk persegi seukuran meja yang berada di bawah pohon beringin yang besar dan rimbun. Akar-akar dari pohon itu menjuntai ke bawah dan membentuk batang pohon sehingga agak sulit untuk menemukan mana batang utama dan mana batang yang berasal dari akar yang turun dar percabangan pohon.

Batari Mahadewi duduk bersila di atas batu itu. Ia merasa tenang dan tentram dan tanpa sadar, ia menyerap energi dari benda-benda di sekitarnya, lalu ia meleburkan dirinya dengan alam dalam sekejab.

Batari Mahadewi tak sadar bahwa ia sudah tiga hari duduk di sana. Pendeta Liong membiarkan Batari Mahadewi berada di sana dan melarang semua muridnya untuk mengusik meditasi yang dilakukan Batari Mahadewi.

Niken sudah sepenuhnya pulih pada hari ke dua. Ia dan Jalu diminta pendeta Liong untuk menunggu Batari Mahadewi menyelesaikan meditasinya. Selama tiga hari itu, Jalu dan Niken berbincang panjang lebar dengan pendeta Liong, tentang Kelelawar Hitam hingga tentang Padepokan Cemara Seribu.

Di akhir meditasi yang dilakukan oleh Batari Mahadewi. Segel ketiga dalam tubuhnya telah terbuka. Ia merasakan energi yang besar masuk ke dalam tubuhnya.

Batari Mahadewi menyadari ada sesuatu yang berubah di tubuhnya, hal yang sama ketika segel pertama dan kedua dalam tubuhnya telah terbuka. Bersamaan dengan itu, ia membuka matanya. Gelombang energi berwarna biru dan emas yang terpancar dari tubuhnya setelah segel ketiga terbuka pelahan menghilang.

Pertama-tama, Batari Mahadewi mencoba merasakan tubuhnya, mencari tahu apa saja yang berubah. Sesaat kemudia ia menyadari bahwa ia kini memiliki penglihatan dan pendengaran yang jauh lebih baik.

Ia bisa dengan jelas memandang seekor semut dari jarak yang sangat jauh, dan iapun bisa mendengar percakapan Pendeta Liong bersama kakak seperguruannya yang berjarak sekitar 100 meter dan terhalang beberapa bangunan yang memisahkan tempat ia melakukan meditasi dan ruangan pendeta Liong.

Mula-mula kemampuan ini mengganggunya segala sesuatu menjadi sagat jelas dan sangat berisik. Namun lambat laun, ia bisa beradaptasi dengan kondisi barunya itu. Batari Mahadewi tidak tahu berapa lama ia duduk di atas batu itu. ‘Mungkin aku telah duduk di sini seharian tadi…tapi tidak mungkin. Kakak Niken sudah sepenuhnya pulih. Berarti lebih dari dua hari aku di sini.’ Batin Batari Mahadewi.

Ia kemudian beranjak meninggalkan batu itu dan berjalan menuju ruangan pendeta Liong. Apa bila ia memfokuskan pendengarannya ke suatu hal, maka ia bisa mencuri dengar bunyi apapun dengan jarak lebih dari 100 meter. Ia masih mendengar percakapan antara pendeta Liong dan kedua kakaknya.

“Sepertinya adik kalian sudah selesai dari meditasinya. Ia sedang berjalan ke sini.” Kata pendeta Liong kepada Niken dan Jalu. Selang beberapa saat, Batari Mahadewi menampakkan diri.

“Silahkan masuk nona Batari Mahadewi.” Pendeta Liong mempersilahkan Batari Mahadewi sebelum ia mengatakan permisi. ‘Sungguh luar biasa kehebatan pendekar ini’ batin Batari Mahadewi.

“Selamat siang pendeta Liong, kak Niken, kak Jalu.” Batari Mahadewi mengucap salam. “Maafkan aku karena sepertinya aku telah sekian hari berada di bawah pohon itu. Aku tak mengira akan selama itu.” Kata Batari Mahadewi kebingungan menjelaskan apa yang baru saja ia alami.

“Tidak apa-apa nona. Tempat ini selalu terbuka bagi sipapun yang ingin meningkatkan kemampuannya. Kurasa nona berjodoh dengan Batu Bulan yang ada di bawah pohon beringin itu. Biasanya kami memurnikan kembali energi kami dengan bersemedi di sana. Tak kukira nona akan selesai begitu cepat.” Kata pendeta Liong sambil tersenyum.

“Karena adik sudah ada di sini, jadi mungkin kita bisa bicarakan langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya.” Kata Jalu.

“Apakah kita akan menyerang Kelelawar Hitam?” tanya Batari Mahadewi.

“kurasa tidak, adik. Kita akan melanjutkan perjalanan.” Kata Niken.

“Lalu bagaimana dengan masalah itu?” tanya Batari Mahadewi bingung.

“Kelelawar Hitam sudah lari dari desa ini. Anak tetua desa sudah selamat. Pencuri mayat itu sudah mendapatkan hukuman setimpal begitu pula dengan pemilik toko senjata dan para pekerjanya. Pendeta Liong dan kakak Jalu sudah menyelesaikannya kemarin.” Jawab Niken.

“Oh, aku sudah melewatkan hal yang begitu penting.” Kata Batari Mahadewi. “Jadi kapan kita akan berangkat?”

“Mungkin besok pagi. Hari akan ada acara perayaan di kuil. Kita tidak boleh melewatkan ini.” Kata Jalu. “Jadi sekarang kita akan membantu mempersiapkan acara untuk nanti malam.”

“Hahaha…kalian tamuku, jadi kalian tidak usah repot membantu kami. Cukup menikmati saja suasana di sini karena ini adalah hari terakhir kalian di sini.” Kata pendeta Liong.

Para penghuni kuil dan seluruh murid pendeta Liong tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara perayaan nanti malam. Sebagian orang sibuk menyiapkan makanan, sebagian lagi sibuk memasang dekorasi dan menata tempat acara.

Perayaan yang akan diisi oleh acara do'a bersama, acara kesenian, dan makan bersama ini akan dihadiri oleh warga desa, siapa saja yang mau datang, dan juga tamu-tamu undangan dari desa-desa lain.

Ketika petang telah tiba, satu per satu warga desa Air Kehidupan mendatangi kuil Matahari. Sebagian besar dari tamu-tamu itu adalah warga pendatang bekulit putih yang memiliki keyakinan sama dengan pendeta Liong. Biasanya, mereka kadang datang untuk berdoa di kuil itu. Namun untuk perayaan semacam itu, kebanyakan dari mereka semua tak akan melewatkan acara tersebut.

Meski demikian, beberapa penduduk lokal juga datang ke kuil itu, termasuk tetua desa dan anak istrinya.

Acara dimulai dengan suasana khidmad. Pendeta liong memimpin acara doa yang dilanjutkan dengan pidato kecil. Setelahnya, pesta kesenian dan makan-makan dimulai.

1
ᴊʀ ⍣⃝☠️​
baru nemu
.,
sangat bagus
нιяαєтняα ᰔ
Luar biasa
Anda Sendiri
top👍
Thomas Andreas
mantap
Thomas Andreas
lanjuut
Thomas Andreas
mantap
Mulyadi Rahmat
Kalau kata orang Sunda mah, "disanguan" 😄😄
Mulyadi Rahmat
Nanti jadi temennya Popeye 🤭
Thomas Andreas
tambah seru nih
Thomas Andreas
ketemu kk
Thomas Andreas
lanjuuutt
Thomas Andreas
👍👍
Thomas Andreas
lanjuuut mantaapp
Thomas Andreas
mantaaap
Thomas Andreas
lanjuutt
Bang Roy
lawsn yg tangguh
Bang Roy
petir lawan halilintar
Resty Laila
luar biasa sekali
Bang Roy
dunia aneh emang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!