Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.
Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.
Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.
Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNDINGAN PERNIKAHAN
Pesta teh sore itu dimulai dengan cerita-cerita kecil seputar bunga hingga ke tas bermerk model terbaru. Bertempat di kebun belakang rumah Dokter Heerdt yang seperti rumah Eropa jaman pertengahan. Kebun itu berisi haparan bunga warna warni dan tanaman perdu. Ada air mancur dengan patung gadis yang sedang menari balet. Dari ujung jarinya keluar air. Wujudnya sungguh estetik. Dokter Heerdt sendiri yang mendesainnya. Pohon palem setinggi Dini berdiri berjajar di pinggir pagar mengelilingi kebun itu. Kebun itu beralaskan rumput pendek yang terawat baik. Tukang kebun, Pak Wiryono, digaji khusus untuk merawat semua tanaman yang ada di kebun depan dan belakanh rumah. Kita bisa berguling-guling dan berlarian bahkan tanpa alas kaki. Dijamin kaki kita tidak akan terluka. Sebuah meja bundar dari besi ada di pinggir kebun. Kursinya ada empat, tetap bergaya Eropa kuno. Kursi-kursi itu ditempati Dini, Nyonya Anne atau ibu Dini, Bu Nani atau ibu Haris dan tas mahal Bu Nani yang diletakkan di kursi satunya.
Dini mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mulai bosan dengan pembicaraan dua ibu-ibu paruh baya yang isinya hanya membahas hal-hal remeh temeh. Dia mau menguap tapi selalu ditahan demi kesopanan. Dini bahkan sudah menuangkan teh ke cangkirnya sebanyak dua kali, sekali lagi dia menuangkan teh, dia bisa terkena hipertensi. Dia sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam inti pembicaraan sore ini. Pertemuan sore ini juga dilakukan untuk membahas mengenai dirinya dan Haris, bukan kepada seisi kebun belakang kakeknya ini.
Dini melirik jam tangannya. Sudah pukul empat lebih lima menit. Bisa keburu malam kalau kedua nyonya ini tidak dihentikan ngobrolnya.
" Bayangkan loh, Jeng, tanaman aglonema yang itu sekarang harganya selangit. Dulu saya beli murah banget loh," kata Nyonya Anne sambil tertawa.
" Iya...," sahut Bu Nani. " Ingat lidah mertua, Jeng? Ya ampun, itu juga mahal sekarang."
" Punya tanaman sepele gitu kita berasa mendadak kaya ya, Jeng," tambah Nyonya Anne.
" Apalagi kalau tanamannya beli disini terus dibawa ke Inggris. Jadi makin mahal ya, Mam," potong Dini.
Baik Nyonya Anne maupun Bu Nani langsung menoleh kepada Dini dan mereka mendapati Dini yang kesal karena menunggu mereka membahas hal-hal sepele yang tak ada hubungannya dengan maksud tujuan Bu Nani diundang kemari.
" Bisakah kita masuk ke inti pembicaraan kita hari ini, Ibu-Ibuku tersayang?," tanya Dini. Tangannya terlipat di dadanya.
" Oh...," Nyonya Anne menyadari anaknya marah, dia menepuk punggung tangan Bu Nani," Kita keasyikan mengobrol ya, Jeng, sampai lupa mau bicara tentang anak-anak kita."
" Ah iya... Ya ampun, aku sampai lupa." Bu Nani ikut tersenyum.
Dini tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk. " Seperti yang mungkin sudah Ibu saya ceritakan kepada Ibu," Dini berbicara kepada Bu Nani," Saya lolos seleksi penerimaan beasiswa kuliah S3 di Inggris. Ibu tahu bahwa saya bercita-cita untuk melanjutkan studi saya kesana...."
" Ya, Ibu ingat kamu pernah mengatakannya," tambah Bu Nani.
" Betul," kata Dini. " Saat itu, saya mengatakannya di depan Ibu dan Mas Haris."
" Iya, aku ingat," sahut Bu Nani membenarkan.
" Apakah Ibu juga ingat bahwa setahun yang lalu, saya bilang saya mendaftarkan diri untuk beasiswa itu?"
" Iya, aku ingat." Bu Nani mengangguk-angguk sambil bergantian memandang Dini dan Nyonya Anne.
" Pada waktu itu, Ibu mendukung saya, Mas Haris juga diam saja, tidak mengatakan sesuatu yang sifatnya menolak. Betul bukan?," kata Dini.
" Iya, kami menyetujuinya," jawab Bu Nani. Dia bingung apanya yang menjadi masalah.
" Nah, saya sudah jelas mengatakan bahwa bila saya diterima lolos seleksi, saya akan berangkat ke Inggris. Saya tidak mungkin melewatkan kesempatan emas untuk menggapai cita-cita saya," jelas Dini.
" Iya....," kata Bu Nani. " Kita sudah sepakat bukan? Kami akan mendukungmu bila itu yang terbaik untuk masa depanmu."
" Tapi rupanya Haris tidak berpikir demikian, Jeng," sahut Nyonya Anne.
Bu Nani mengerutkan dahinya. " Apa maksudnya?"
" Kemarin saya memberi tahu Mas Haris dan dia marah. Dia bilang saya tidak memahami dirinya. Dia bilang saya tidak pernah mengatakan padanya bahwa saya mendaftar. Terakhir dia bilang saya tega meninggalkannya dengan kondisi seperti itu," jawab Dini.
" Apa?," Bu Nani bertanya dengan nada tinggi.
" Baiklah, bisa dibilang Mas Haris kecewa. Saya paham bagaimana perasaannya," tambah Dini.
" Aku akan bicara padanya," lanjut Bu Nani.
" Mas Haris juga mengatai saya seolah-olah saya tega mengejar masa depan saya sendiri, sementara kondisi kejiwaannya sedang tidak stabil," Dini menambahkan dengan kesal.
" Itu bukan kesalahanmu, Nak," kata Bu Nani dengan nada menentramkan. " Kita semua tahu itu. Aku akan bicara dengannya. Tenang saja."
" Jeng, masalahnya Dini mengatakan sesuatu yang tiba-tiba membuat saya terkejut," sela Nyonya Anne.
Bu Nani memalingkan pandangannya dari Dini ke Nyonya Anne. " Ada apa? Apa Haris mengatakan hal lain yang tidak masuk akal?,"
" Tidak," jawab Nyonya Anne cepat. " Bukan begitu, Jeng. Seseorang menyarankan kepada Dini agar dia segera menikah dengan Haris sebelum dia pergi ke Inggris. Bagaimana menurutmu?"
" Siapa yang menyarankan hal itu? Apakah Haris sendiri?," tukas Bu Nani.
" Tidak penting siapa yang menyarankannya, Bu. Bagaimana pendapat Ibu mengenai hal ini? Aku ingin tahu," kata Dini.
Bu Nani memandang Nyonya Anne dan Dini secara bergantian. Beliau sangat menyukai Dini. Beliau juga berharap Dini akan menjadi menantunya kelak. Menikahkan putra semata wayangnya dengan Dini adalah hal yang membanggakan. Bagaimana tidak? Dini punya status sosial yang terpandang. Siapa yang tidak mengenal Dokter Heerdt, kakek Dini. Siapa pula yang tidak mengenal dokter Agus Brata, ayah Dini. Nyonya Anne, ibunya Dini, adalah wanita sosialita terkenal di kota ini, karena parasnya yang cantik dan menawan. Dini punya karir yang bagus, wajah yang cantik, penampilan yang modis dan karakter yang kuat. Siapa yang tidak ingin menjadikannya menantu? Tentu saja itu menjadi impian seorang ibu.
Tetapi, menikahkan Haris bukanlah perkara mudah. Bu Nani dan keluarganya tidak mungkin membuat pesta sederhana saja. Beliau punya keluarga besar, teman-teman dan kolega yang harus beliau undang. Beliau ingin pernikahan anak laki-laki penerus keluarganya adalah pernikahan terbaik sepanjang masa. Apalagi beliau mendapatkan Dini sebagai menantunya. Beliau harus mengadakan pesta besar-besaran untuk pernikahan megah tersebut.
Lantas, hanya karena Dini harus pergi meninggalkan negara ini untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, dia mesti menikahkan Haris dengan tergesa-gesa begini? Bagaimana mungkin beliau mendapatkan pesta super mewah dan megah tanpa persiapan? Apa kata orang-orang nanti? Bagaimana bila mereka berpikir bahwa beliau bangkrut sehingga tidak bisa menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya? Atau bagaimana bila orang-orang berpikir Haris telah menghamili Dini dan terpaksa mengadakan pesta seadanya saja? Ah...tidak, Bu Nani tidak bisa membayangkannya.
" Apakah kalian... memang... harus menikah... sekarang juga?," tanya Bu Nani terbata-bata.
" Nah, menurutnya Jeng Nani bagaimana?," Nyonya Anne malah menanyai balik.
Bu Nani tidak dapat membaca ekspresi wajah Nyonya Anne dan Dini. Beliau takut mengutarakan isi hatinya, tapi beliau takut dianggap menolak menikahkan Haris dan Dini. " Hmm....bagaimana ya?"
" Ibu mau menikahkan kami sekarang? Tanpa adanya pesta?," pancing Dini.
Bingo! Gayung bersambut. Dini bahkan tahu apa yang ada di pikiran Bu Nani. " Nah itu dia...," ucapnya malu-malu.
Dini tersenyum penuh arti kepada Bu Nani.
" Jeng, saya sangat menyukai Haris, tapi saya rasa menikahkan mereka sekarang bukan keputusan yang tepat," kata Nyonya Anne. Dia terlihat berat mengatakannya.
" Saya sebagai perempuan normal menginginkan pernikahan sempurna seperti putri raja. Bukannya saya ngga mau menikah dengan Mas Haris, tapi saya ingin menunggu semua proses studi ini saya lalui dan kami bisa melangsungkan pernikahan sesuai impian saya dari kecil," tambah Dini.
Nyonya Anne membelai tangan Bu Nani. " Jeng Nani tahu kan? Teman-teman kita kan banyak. Saya khawatir terjadi gosip dan omongan yang tidak mengenakkan bila kita terburu-buru menikahkan putra-putri kita seperti ini."
" Mm... Ya, Anda betul sekali, Jeng," sahut Bu Nani, dalam hati dia bernapas lega.
" Jadi bisakah Jeng Nani meyakinkan Haris untuk membiarkan Dini berangkat ke Inggris? Bisakah Jeng Nani juga meyakinkan dia bahwa Dini akan tetap bersamanya sampai pernikahan mereka benar-benar terjadi?"
" Tentu... tentu aku bisa...," jawab Bu Nani spontan.
" Bu, percayalah! Saya sangat mencintai Mas Haris dan saya juga bercita-cita menjadi istrinya. Yang harus kita relakan sekarang hanyalah menundanya untuk sementara waktu saja. Yang Mas Haris harus lakukan adalah menunggu saya melanjutkan program studi saya. Saya berjanji akan menyelesaikannya secepat mungkin agar saya bisa kembali dan bisa mewujudkan rencana besar kita semua. Saya berjanji akan kembali dengan hati yang utuh kepadanya."
Bu Nani melihat Dini dan Nyonya Anne tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca kepadanya. " Tentu saja, Dini. Ibu selalu mempercayaimu. Ibu tahu bagaimana dirimu. Ibu akan membicarakan hal ini kepada Haris begitu kami bertemu."
" Terimakasih, Jeng," kata Nyonya Anne sambil memeluk Bu Nani. Dini beranjak dari tempat duduknya dan meraih tubuh kedua wanita itu dan memeluk mereka.
/Angry//Angry/
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰