Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Prahara Mawar Putih dan Kemunculan Sang Penyelamat
Perjalanan singkat dari tepi sungai menuju Perguruan Mawar Putih terasa penuh intrik bagi Arya Wiguna.
Arya Wiguna melangkah mengikuti Anggun Sari dan dua murid lainnya dari kejauhan, menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan, namun cukup dekat untuk mengamati setiap gerak-gerik mereka.
Arya memanfaatkan Ilmu Harimau Seribu untuk bergerak tanpa suara, bagai bayangan yang menyelinap di antara pepohonan.
Arya Wiguna ingin melihat kondisi perguruan itu secara langsung, tanpa kehadirannya diketahui terlalu awal, apalagi setelah kejadian di sungai.
Arya juga ingin memastikan bahwa Anggun Sari dan dua adik seperguruannya benar-benar menuju Perguruan Mawar Putih.
Hutan semakin rimbun. Arya memperhatikan setiap detail. Perguruan itu tampak tersembunyi, terlindungi oleh hutan lebat, namun ada aura suram yang samar menyelimutinya.
Suasana di antara murid-murid Perguruan Mawar Putih juga terasa tegang, tak seperti perguruan silat yang biasanya dipenuhi semangat berlatih.
Saat mereka tiba di gerbang utama, Arya dapat melihat sebuah bangunan yang terawat, namun terlihat sepi.
Beberapa murid perempuan berlatih di halaman, gerakan mereka terkesan lelah dan kurang semangat.
Anggun Sari dan kedua adiknya langsung masuk ke dalam perguruan, dan Arya pun memperlambat langkah, mencari tempat bersembunyi yang strategis di balik gerbang.
Arya Wiguna memilih sebuah pohon besar yang memungkinkan pandangannya menjangkau sebagian besar halaman perguruan dan gerbang masuk. Dari sana, ia bisa mengamati tanpa terlihat.
Beberapa saat kemudian, Arya melihat Anggun Sari dan kedua temannya keluar dari aula utama, wajah mereka tampak cemas. Arya mendengar percakapan mereka dari kejauhan, meskipun samar.
"Ketua semakin lemah," bisik salah satu murid. "Racun itu benar-benar menggerogoti beliau," ucap gadis itu.
Arya menyimpulkan, itu pasti Nyi Delima, adik Panglima Hijau, yang dimaksud. Kondisinya memang parah seperti yang diceritakan gurunya.
Nyi Delima, Ketua Perguruan Mawar Putih, adalah seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat dan tubuh kurus, namun matanya memancarkan ketegasan.
Aura ilmu silatnya terasa lemah, seolah ada sesuatu yang menggerogotinya.
Nyi Delima telah menderita penyakit aneh selama dua tahun, akibat racun yang ia dapatkan saat makan di sebuah warung di pinggir desa bersama beberapa muridnya.
Sebuah kejadian yang kini diyakini ada hubungannya dengan gerombolan penculik gadis bertopeng emas.
Saat Arya masih mengamati, tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari luar gerbang. "
BRAKK!
Suara pintu gerbang yang didobrak paksa oleh kekuatan besar, diikuti dengan teriakan panik para murid.
Arya menajamkan pandangannya. Dari balik pepohonan, ia melihat sekelompok besar orang bersenjata lengkap, mengenakan jubah hitam dan topeng emas mengkilat, menyerbu masuk ke halaman perguruan.
Mereka berjumlah sekitar dua puluh orang, jauh lebih banyak dari murid Perguruan Mawar Putih yang hanya belasan orang, sebagian besar masih sangat muda dan minim pengalaman.
"Cari para gadis! Jangan sisakan satu pun!" teriak pemimpin mereka, suaranya berat dan serak.
"Lindungi Ketua!" seru Anggun Sari, segera berdiri dan mengacungkan pedangnya.
Anggun Sari maju bersama beberapa murid senior yang masih cukup kuat segera bergerak maju, menghadapi para penyerbu.
Nyi Delima, yang terkejut dan lemah, hanya bisa terbatuk-batuk dari dalam aula.
Pertarungan sengit pecah di halaman perguruan.
CLANG! SRAK!
"HIAAAH!"
Suara benturan senjata, teriakan, dan desingan jurus memenuhi udara. Murid-murid Perguruan Mawar Putih, meskipun kalah jumlah, bertarung dengan gagah berani. Jurus-jurus mawar putih mereka yang halus namun mematikan.
Anggun Sari adalah yang terdepan. Pedangnya berkelebat cepat, melumpuhkan dua orang bertopeng emas dalam sekejap mata.
Ilmu silatnya memang tinggi, sepadan dengan adik Panglima Hijau, Nyi Delima. Namun, orang-orang bertopeng emas itu memang memiliki kedikjayaan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Gerakan mereka cepat, ilmu mereka misterius, dan pukulan mereka mengandung tenaga dalam yang gelap. Mereka adalah lawan yang tangguh, jauh di atas perampok Hutan Kulim.
Salah satu penyerang dengan topeng emas yang lebih besar, pemimpin kedua mungkin, melesat maju, mengarahkan pedangnya ke arah Anggun Sari.
Anggun Sari menangkis dengan cepat, namun tenaganya jauh di bawah kekuatan lawan.
DUAGH!
Sebuah benturan keras terjadi, dan Anggun Sari terdorong mundur, tubuhnya sedikit gemetar.
"Hanya segini kekuatan Perguruan Mawar Putih?!" ejek penyerang bertopeng emas itu, tertawa sinis, "Kalian tidak akan bisa menghentikan kami!"
Murid-murid lain mulai kewalahan. Meskipun mereka berusaha bertahan, satu per satu mulai terluka.
Beberapa orang bahkan terlempar dan jatuh tak sadarkan diri. Jumlah mereka yang kalah, ditambah perbedaan kedikjayaan, membuat situasi semakin genting.
Nyi Delima melihat itu semua dari aula, ia ingin membantu, namun tubuhnya terlalu lemah. Racun itu mengikat kekuatannya. Matanya memancarkan keputusasaan.
Anggun Sari, terengah-engah, kembali menghadapi pemimpin kedua orang bertopeng emas.
Anggun Sari tahu ia harus menahan mereka sampai titik darah penghabisan, "Kalian tidak akan pernah bisa mengambil satu gadis pun dari perguruan ini!" teriaknya.
SRAAAK!
Penyerang itu melancarkan tebasan cepat ke arah kaki Anggun Sari. Anggun Sari berusaha menghindar, namun gerakannya sedikit terlambat. Pedang itu menggores pahanya.
"ARGH!" Anggun Sari meringis kesakitan, terhuyung, dan berlutut.
"Kak Anggun!" teriak murid-murid lainnya, panik.
Pemimpin kedua itu menyeringai di balik topeng emasnya, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap melancarkan pukulan terakhir.
"Sekarang, giliranmu, Gadis Pendekar!" bentak penyerang itu.
Hari itu, entah naas bagi Perguruan Mawar Putih atau hari baiknya.
Pada saat paling genting, di saat pedang itu melesat turun, sebuah bayangan cepat melintas.
WUSHH!
Tubuh Arya Wiguna, yang sejak tadi mengamati pertarungan dari balik pohon, melesat bagai kilat, dengan kecepatan Ilmu Harimau Seribu, Arya sudah berada di antara Anggun Sari dan pedang penyerang itu.
DUANG!
Tangan kosong Arya menangkap bilah pedang itu dengan mudah. Pedang itu bergetar hebat, namun tidak bisa bergerak maju sedikitpun.
Pemimpin kedua orang bertopeng emas terkejut, matanya terbelalak di balik topeng emasnya.
Laki-laki bertopeng emas itu merasakan kekuatan yang luar biasa dari tangan yang menahan pedangnya. Kekuatan yang jauh melampaui Nyi Delima atau Anggun Sari.
Arya tidak melepaskan genggamannya, ia menatap tajam ke arah penyerang bertopeng emas.
"Cukup," suara Arya dalam dan tenang, namun mengandung ancaman yang jelas.
Arya Wiguna memutar tangannya sedikit, dan dengan kekuatan tenaga gajah purba, ia mematahkan bilah pedang di genggamannya.
KRETAK!
Suara patahan logam yang nyaring terdengar. Pemimpin kedua orang bertopeng emas tersentak, pedangnya kini hanya tinggal gagang, ia mundur terhuyung-huyung, menatap Arya dengan ketakutan yang jelas.
Anggun Sari, yang terkejut sekaligus lega, menatap Arya dengan tak percaya, ia ingat bagaimana Arya kalah melawannya di sungai. Kekuatan yang Arya tunjukkan saat ini sungguh di luar bayangannya.
"Siapa kau?!" teriak pemimpin orang bertopeng emas itu, suaranya dipenuhi kemarahan dan ketakutan.
Arya Wiguna berdiri tegak, membiarkan jubahnya berkibar perlahan. Matanya menatap seluruh gerombolan orang bertopeng emas satu per satu.
"Aku adalah Arya Wiguna," katanya, "Aku datang untuk menghentikan kalian. Di sini, di Perguruan Mawar Putih, kejahatan kalian akan berakhir."
Suasana mendadak hening. Orang-orang bertopeng emas saling pandang, merasakan aura mengancam dari Arya. Mereka tahu, lawan yang mereka hadapi kali ini berbeda.
Bersambung...
makin seru kisahnya