Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Melisa terus merawat putri sulungnya sampai ia benar-benar sembuh total. Itu semua karena Amel yang sangat manja ketika sakit, bahkan sangat sulit untuk diajak ke rumah sakit dan membuat semua orang kerepotan.
Kini kulit Amel sudah kembali mulus seperti biasa. Meskipun bergitu, ia terus mondar-mandir di depan cermin hanya untuk memastikan seluruh tubuhnya sudah kembali mulus.
“Udah deh, gak usah lebay,” ucap Mera menghampirinya.
“Sirik aja lo,” ketus Amel melirinya dengan ekor mata.
“Kak, temani aku jalan-jalan, yuk! Bosen aku di rumah terus.” Wajah Mera terlihat lesu.
“Gak bisa, Dek. Soalnya Kakak udah janjian sama pacar Kakak,” tolaknya memberi pengertian.
“Lah, Kakak mah tega sama Adiknya sendiri,” ucap Mera memasang wajah melas.
Amel merasa tidak tega. “Ya sudah deh, kamu boleh ikut sama Kakak. Tapi ingat! Jangan bertingkah aneh!” ucap Amel serius.
“Ok. Aku janji,” ucap Mera mengangkat dua jarinya sembari mengukir senyum tanpa dusta di bibirnya.
...****************...
“Kiano!” Amel melambai tangannya saat melihat Kiano sedang duduk di sebuah cafe.
Kiano menoleh dan ikut membalas lambaian tangan. Amel dan Mera segera menghampirinya.
“Wow ... Dia sangat tampan ... pintar juga Kak Kia milih pacar.”
Mata Mera membelalak saat memandang wajah Kiano yang sangat tampan.
“Sorry ya, aku bikin kamu kelamaan menungguku," ucap Amel merasa tidak enak.
“Enggak kok, aku juga baru sampai. Oh ya, ini siapa yang kamu ajak?” Kiano penasaran dengan wajah Mera yang terlihat asing.
“Oh iya, kenalkan ini Adikku, Mera.”
“Halo, Kak. Aku Mera,” ucapnya memperkenalkan dirinya.
“Halo juga, namaku Kiano. Pacar Kakakmu,” ujar Kiano tersenyum.
“Kakak ipar tampan sekali,” ucap Mera spontan.
“Kamu juga cantik, malah lebih cantik dari Kakakmu,” ucap Kiano menyeringai.
“Kalau begitu putusin aja Kak Kia, kita pacaran berdua,” ucap Mera langsung ceplas-ceplos.
“Mera ...!!!” Sorotan Amel sekita menjadi tajam.
“Cuma bercanda doang pun. Itu aja serius amat.”
“Besok jangan ikut Kakak lagi!” kecamnya.
“Kakak ipar, tolong aku!” ucap Mera memohon bantuan.
“Sebaiknya kita duduk!” ucap Kiano menengahi.
Mera dengan bersemangat langsung duduk di samping Kiano.
“Ya ampun, anak ini. Bener-bener bikin kesal.”
Benar-benar hari yang sangat membahagiakan bagi Mera. Ia selalu ikut kemanapun Amel dan Kiano pergi. Makan, shopping, hingga ke tempat wisata, semuanya ia telusuri. Kiano sangat dekat dengan Mera, bahkan ia sangat pintar mengambil hatinya hingga restu berhasil diraihnya. Amel merasa sangat senang melihat Mera bahagia, meskipun terkadang ia sering dibuatnya jengkel. Tapi kasih sayang kakak terhadap adiknya tak akan pernah pudar.
“Bagaimana? Sudah puas?” tanya Kiano menatap Mera.
“Jangan tanyakan sama dia, dia gak akan pernah puas,” sahut Amel.
“Kalau begitu, kamu bilang aja mau kemana lagi?”
“Euu ....” Mera mulai berpikir tempat wisata yang pernah ia lihat di google.
“Sudah! Gak ada lagi jalan-jalan. Ini sudah petang, sebaiknya pulang sebelum mommy marahin kita,” ujar Amel langsung memotong pembicaraan mereka.
“Ya sudah, berarti besok saja kita jalan-jalan lagi,” ucap Kiano.
Mera mengangguk kepala. “Kak, kapan kalian nikah?” tanya Mera spontan membuat mereka terkejut.
“Kamu ngomong apa sih?” ucap Amel menatap tajam.
“Kak, cepat dong kalian nikah. Jadi kalau kita jalan-jalan, pulang kemalaman gak jadi masalah. Mommy pun juga gak bisa marahin kita,” ujar Mera masih polos.
“Kakak sih dari dulu mau halalin Kak Kia, tapi Kak Amel selalu menolaknya,” ujar Kiano sambil melirik Amel sekilas.
“Kakak, kenapa menolak? Pamali loh menolak lamaran orang,” ucap Mera dengan gaya bahasa menasehati.
“Sotoy banget lo. Anak kecil sebaiknya sekolah, jangan ngurusin kehidupan orangtua,” sahut Amel menyentil jidatnya.
“Awas aja, nanti aku aduin sama mommy,” kecam Mera.
“Kalau masih gak butuh Kakak, ya udah aduin sana,” ujar Amel sangat santai.
“Amel, sudah jangan lagi kamu bertengkar dengan Mera! Sekarang gini, aku sangat serius dengan hubungan ini. Kapan kamu mengizinkan aku membawa kedua orangtuaku melamarmu?” tanya Kiano langsung to the point.
“Hah?” Amel terkejut dan kedua matanya membelalak, ia tak percaya Kiano akan mengatakan hal yang sangat serius itu.
“Ayolah, Kak! Kasih kepastian. Kak Kiano sudah sangat serius loh. Jarang tau ada lelaki yang bisa ngomong langsung tanpa muluk-muluk,” sahut Mera mendukung Kiano.
“Ok. Nanti aku kabari lagi kapan waktu yang tepat untuk kamu bisa datang ke rumahku.”
Kiano tersenyum bahagia. “Aku tunggu kabar darimu. Aku harap kamu tidak mengecewakanku.” Mendengar ucapan dari Amel, Mera juga ikut merasa sangat bahagia. Meskipun ia baru pertama bertemu dengan Kiano, tapi kehangatan Kiano sudah dapat dirasakannya, sehingga ia bisa langsung memberi restu tanpa harus melakukan berbagai tes lainnya.
...****************...
Sejak saat itu, kegalauan terus menghantui dirinya. Ia masih bingung, haruskah ia menikah diusianya yang masih muda atau harus menunggu sampai ia selesai kuliah yang hanya tinggal menghitung bulan.
Kiano sangat berharap sebuah kabar bahagia datang dari Amel. Berbagai usaha dan bujukan ia lakukan demi memantapkan hati Amel. Tak mengenal waktu, Kiano selalu menelpon dan juga terkadang mengirim pesan hanya sekedar menanyakan kemana hubungan mereka akan dibawa.
Usaha Kiano kini membawa hasil, Amel memantapkan dirinya dan mulai berbicara dengan Melisa.
“Mommy!” sapa Amel menemui Melisa yang sedang duduk di ruang TV dengan sebuah majalah terbuka di pangkuannya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku mau bicara sesuatu yang sangat serius sama Mommy.” Melisa menatap Kiara dengan wajah yang sangat serius, ia menutup majalah dan berkata, “Kiara mau ngomong apa?”
“Sebenarnya ... selama ini aku suka dengan seorang pria di kampusku, Mom,” ujar Amel sedikit malu untuk berterus terang.
“Lalu?” Melisa menganguk-anggukkan kepala dan kembali mendengar dengan seserius mungkin.
“Hubungan kami selama ini terbilang sudah sangat serius. Bahkan aku juga sudah bertemu dengan orangtuanya,” ujarnya kembali. Sebenarnya Melisa sudah mengetahui hubungan anaknya selama ini dari Bibi Sri, tapi ia diam dan ingin mendengar langsung dari mulut anaknya itu. Tapi jujur saja, meskipun sudah mengetahuinya, ia belum mengetahui jelas identitas dari lelaki yang disukai anaknya.
“Kalau kamu serius dengannya, ajak dia dan kedua orangtuanya ke rumah kita. Biarkan Mommy bertemu dengan mereka,” balasnya santai.
“Dia sudah bilang ke orangtuanya ... kalau dia akan melamarku,” ujar Amel menekuk wajahnya.
“Gini aja, malam ini kamu suruh mereka datang ke rumah kita, nanti kita adakan jamuan makan malam ... Mommy juga perlu mengenal mereka lebih lanjut," ujar Melisa serius.
"Baiklah, Mommy." Amel tersenyum bahagia, lalu buru-buru balik ke kamarnya. Ia ingin segera memberitahu kabar bahagia kepada kekasihnya itu.
Sedangkan Melisa hanya tersenyum kecil saat melihat Amel bisa berterus terang tentang perasaannya.
"Putriku sudah dewasa ... tapi ... jika dia menikah, aku harus menghubungi Raka. Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengannya, tapi putri butuh seorang wali untuk menikahkannya ...."
Melisa semakin bingung dengan hatinya. Haruskah ia mempertahankan keegoaannya ataukah memilih mengalah demi putrinya itu. Sungguh hal yang sulit untuk diputuskan.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')