Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Mau ngapa-ngapain
Rava terus berlari menghindari Devina yang
mengejarnya dengan kalap. Kelakuan mereka berdua menarik perhatian semua orang
di rumah itu.
“Ciee... Kak Devi kayak orang India lagi pacaran.
Aca, aca.”goda Leon, putra kedua Lili dan Dion.
Devina segera berhenti berlari, ia melihat
sekeliling banyak mata yang menatapnya. Devina menunduk malu, ia berlari
kembali ke kamarnya.
“Iya, beneran kayak orang India, kepergok trus
kabur sambil malu-malu gitu.”kata Donatello kompak. Putra pertama Riri dan Elo
itu ganti menatap Rava yang duduk santai di depannya. “Uncle Rava suka ya sama
kak Devi?”
Prrfftt! Riri menyemburkan minuman yang baru di
minumnya. Ia terbatuk-batuk sambil melirik reaksi Rava yang masih santai.
“Kagak. Habisnya galak gitu. Mana ada cowok normal mau
sama dia?”jawab Rava cuek. Donatello dan Leon saling pandang, mereka menahan
senyumnya melihat Devina kembali ke ruang tengah.
“Ach, beneran nich nggak suka sama kak Devi. Ntar
direbut orang gimana, uncle?”tanya Leon memanas-manasi Rava.
“Biar aja direbut orang. Nggak peduli.”saut Rava
merasa tengkuknya tiba-tiba dingin. Merasakan firasat buruk, Rava menoleh ke
belakang dan... plak! Devina menampar pipi Rava sekali lagi. Rava yang
terpancing emosi, sontak bangun lalu mengejar Devina yang berlari duluan masuk
ke kamarnya. Duk! Rava terlambat mengerem, alhasil jidatnya membentur pintu kamar
Devina.
“Woiii!!! Salah gue apa sich? Dasar cewek sensi!!”teriak
Rava kesal. Devina tidak menjawab, ia kembali menangis kesal mendengar
kata-kata Rava tadi.
“Apa dia nggak tahu kalau aku suka banget sama dia.
Tapi malah ngomong kayak gitu. Rava jahat!!”teriak Devina kesal juga.
Mia yang melihat kejadian itu, memahami sesuatu
sudah terjadi pada Devina. Mungkin gadis itu menyukai Rava. Tapi setahu Mia,
Rava sedang berusaha mendekati Diva. Pusing memikirkan kisah cinta putranya,
Mia hanya bisa geleng-geleng kepala.
*****
Flora menoleh ketika melihat Reva tiba-tiba
memegang pipinya sendiri. Mereka baru sampai di tepi pantai yang pasirnya mulai
panas membahana. Serasa di sauna tapi bikin kulit gelap. Flora memilih duduk di
pinggir tebing yang sedikit teduh. Matanya menyipit melihat dikejauhan ada
perahu nelayan yang semakin menjauh dari bibir pantai.
Reva juga ikutan duduk di samping Flora. Ia
mengeluh panas sambil memegang pipinya lagi.
“Kenapa sich ngajak aku ke sini? Panas banget lagi.
Itu kenapa pipi dipegang terus? Kayaknya aku nggak nampar sekeras itu dech.”kata
Flora.
“Kamu emang nggak nampar keras, tapi ini masih
sakit, nggak tau kenapa.”kata Reva.
Flora menusuk pipi Reva dengan jarinya. Ia melihat
ekspresi Reva yang biasa aja. Flora kembali menusuk pipi satunya, tetap tidak
ada reaksi apapun.
“Jangan ditusuk-tusuk, cium gitu dong.”pinta Reva
menggoda Flora.
Flora berjengit menatap Reva malas. Reva membelai
pipi Flora, “Masih galau? Teriak gih.” Flora menatap Reva dengan bingung saat
pria itu menariknya berdiri. “Teriak yang keras apa yang buat kamu gini.
Ayolah, Flo. Kamu yang kayak gini beneran bukan kamu.”
Reva beranjak ke belakang Flora, memeluk pinggang
gadis itu lalu meminta Flora menatap ke laut lepas. “Katakan, sayang. Luapkan
semuanya. Teriak yang lantang.”
Flora menarik nafas panjang dan berteriak dengan
keras. “Aaaaa...!!!! Menyebalkan!!! Emang kenapa kalo aku cuma pembantu!!!
B****!!”
Reva sampai menjauhkan telinganya dari suara
cempreng Flora. Gadis itu terus berteriak sampai suaranya mulai tercekik.
Tenggorokannya juga mulai seret. Flora menarik nafas dalam, ia mencoba mengatur
nafasnya yang ngos-ngosan. Reva menyodorkan sebotol air minum pada Flora yang
langsung menghabiskan separuh isi botol itu.
“Udah puas teriaknya? Mandi yuk.”ajak Reva sambil
membuka bajunya. Flora menatap Reva tidak percaya kalau pria itu mengajaknya
mandi di pantai siang bolong. “Kamu nggak takut gosong kan?”
*****
Flora dan Reva masuk ke dalam rumah sambil ketawa
cekikikan berdua. Mereka hampir menabrak Mia yang berdiri di dekat meja makan.
Padahal masih jam dua siang tapi Mia sudah pulang dari rumah Riri.
“Eh, mama. Udah pulang, mah.”
“Kalian kenapa bisa basah kuyup gini? Flora,
kulitmu kenapa merah gitu?”tanya Mia cemas.
Reva cemberut karena Mia hanya memperhatikan Flora.
Mia menyuruh Flora segera mandi dan mendinginkan kulitnya dengan pelembab yang
akan ia berikan nanti. Sedangkan Reva masih harus menjelaskan apa yang terjadi
dengan mereka berdua.
Reva berlari ke lantai atas setelah menjelaskan
secara singkat pada Mia yang belum juga puas. Ia berjanji akan cerita
pelan-pelan nanti sehabis mandi. Sambil mandi, Reva teringat saat dirinya dan
Flora berenang bersama di pantai. Flora yang tidak terlalu pintar berenang,
memegang erat pundak Reva selama di dalam air yang dalam.
Gadis itu terlihat senang sekaligus takut melihat
air di sekitarnya. Hanya setengah jam mereka berenang, tapi Reva senang sekali
bisa memeluk Flora terus. Ia memberanikan diri menanyakan pada Flora apa gadis
itu mau jadi pacarnya.
Saat itu Flora mulai bercerita tentang asal
usulnya. Flora gadis dari kampung, ia hanya anak petani dan kedua orang tuanya
sudah tidak ada. Flora selalu berusaha menabung untuk setiap uang yang ia
terima dari orang tuanya. Meskipun akhirnya harus ia keluarkan untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya.
Flora mengatakan kalau tidak ada Alex, mungkin saat
ini dia sudah menjadi istri tuan tanah mesum. Melihat statusnya yang cuma
pembantu di rumah Alex, Flora minta pada Reva untuk memikirkan lagi tentang
keinginannya untuk menjadikan Flora pacar Reva.
Reva masih bisa mendapatkan pacar dari keluarga
yang sepadan. Yang sama-sama kaya dan berpendidikan tinggi. Lagipula Flora
merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi Reva. Kalaupun Reva
memaksakan hubungan ini, yang akan terluka tetap Flora karena orang-orang akan
mempertanyakan tentang asal usulnya.
Mendengar penuturan Flora, Reva hanya tertawa. Ia
sudah bertanya pada Mia kalau Reva menyukai Flora, apa mereka boleh bersama dan
Mia mengatakan untuk menjalani saja dulu. Mereka tidak tahu apa Reva dan Flora
akan berjodoh atau tidak. Mia juga tidak keberatan kalau Reva mendekati Flora
tapi kalau sampai Reva berani main-main, Mia akan mengirim Flora ke rumah Rara
atau Riri.
Reva teringat reaksi Flora saat itu, ia tersenyum setelah
Reva selesai mengatakan apa yang Mia katakan. Flora merapikan rambut Reva yang
basah dan menutupi jidatnya. Flora meminta mereka untuk menjalani saja dulu tanpa
ikatan. “Toh, kalau pacaran juga sama saja kan?”
“Kalau kita pacaran, kan aku boleh ngapa-ngapain
kamu. Boleh nyium, boleh peluk, boleh pegang-pegang.”saut Reva keceplosan. Flora
mencubit pipi Reva sampai bibirnya dower.
“Jadi kamu mau pacaran sama aku cuma buat
ngapa-ngapain aku?”tanya Flora menahan amarahnya.
“Bukan gitu maksudku. Hehe... jangan marah dong.
Maksudku kalo kita pacaran, kamu kan nggak bisa berhubungan sama pria lain. Aku
juga gitu. Trus nanti kalo ada yang nanya status kita, aku jawab apa? TTM?
Nggak enak banget kayak digantung di pohon tomat gitu loh. Hubungan tuch harus
jelas kalo saling cinta ya pacaran trus nikah, trus punya anak, trus punya anak
kedua, anak ketiga juga, terus anak terakhir.” Flora menutup mulut Reva yang
banyak bicara.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.