Katarina Scotlyn, dia seorang wanita malam yang menghabiskan waktunya untuk memuaskan ranjang laki-laki hidung belang atau sekedar menjadi penari latar. Berawal dari kedua orangtuanya yang dengan sengaja merusak tubuhnya dengan menjual tubuhnya ke laki-laki di luar sana membuat hidupnya kini menjadi liar.
Ia hidup bebas bagaikan kupu-kupu di tengah gelapnya malam. Hingga kebebasannya itu harus berhenti saat ada seorang laki-laki yang menawarkan uang 2 juta dolar hanya untuk sebuah keturunan. Tanpa tahu siapa laki-laki itu dan akan dibawa kemana dirinya nanti, ia menerima tawaran itu.
Hingga sampailah ke sebuah rumah yang cukup besar. Disanalah dia tahu siapa laki-laki itu bahkan ia tahu jika dia telah memiliki seorang istri yang sangat baik.
Niat awal Katarina memang hanya untuk melakukan tugasnya sebagai wanita sang pemilik rahim pengganti. Tapi ketika ia hamil, bagaimana jika dirinya mencintai laki-laki yang menghamilinya? Apakah Katarina akan merebut dia dari istri sahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Erlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Brendan
Dengan perasaan resah yang tak menentu, Sabrina menunggu kepulangan Brendan hingga hampir tengah malam akhirnya laki-laki itu telah tiba.
Brendan mengerutkan keningnya kala melihat Sabrina masih berada di luar kamar saat waktu sudah menunjukkan larut malam.
"Kok belum tidur sayang?" tanya Brendan sembari mendekati Sabrina yang berdiri tepat di rumah tamu.
"Belum ngantuk dan aku juga sengaja nungguin kamu pulang," balasnya.
"Kan aku sudah bilang kalau kamu mau tidur terlebih dahulu, tidur saja. Tidak perlu nunggin aku pulang," ucap Brendan. Dan saat dirinya sudah berada di samping sang istri, baru tangannya terulur ingin mengusap puncak kepala Sabrina, istrinya itu sudah menghindari terlebih dahulu sebelum tangannya mendarat di puncak kepala.
Brendan dibuat bertanya-tanya terlebih melihat raut wajah Sabrina yang tak seperti biasanya. Wajah itu menunjukkan jika Sabrina tengah marah.
"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Brendan yang sangat peka dengan keadaan Sabrina saat ini.
"Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu." Bukannya menjawab pertanyaan yang di layangkan oleh Brendan, Sabrina justru mengatakan tujuannya begadang menunggu suaminya pulang.
"Mau tanya masalah apa hmmm?" Masih dengan kesabaran penuh, ia mengajak Sabrina untuk duduk di satu kursi yang sama dengannya.
"Kenapa kamu selalu mengganti pakaian yang aku siapkan?" Brendan mengerutkan keningnya. Mengganti pakaian yang telah Sabrina siapkan? Perasaan, ia tak pernah melakukan hal itu. Ia selalu memakai pakaian yang sudah tergeletak di atas ranjang dan ia sangat tahu jika pakaian itu yang menyiapkan adalah istrinya sendiri.
"Maksud kamu?" tanya Brendan memastikan apakah ia tak salah dengan mengenai pertanyaan yang di layangkan oleh Sabrina barusan.
"Kamu itu pura-pura tidak tahu atau gimana sih? Kamu sengaja kan ganti pakaian yang telah aku siapkan dengan pakaian yang lainnya agar sama seperti wanita lain yang telah mengisi hati kamu selain aku." Brendan semakin dibuat bingung dengan tuduhan Sabrina kepadanya.
"Kamu ini kenapa sih? Aku baru pulang lho ini dan kamu malah mengatakan hal yang aku sendiri tidak paham dengan maksud ucapanmu itu."
"Kamu selingkuh kan? Kamu main gila dengan wanita lain di luar sana kan?" Tuduh Sabrina.
Brendan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Astaga. Tuduhan kamu itu tidak mendasar sama sekali, sayang. Dengar baik-baik, aku tidak pernah bermain gila dengan wanita lain di luar sana. Aku tidak pernah selingkuh sama sekali. Bahkan perlu kamu ingat, aku berhubungan badan dengan wanita lain selain kamu, itu semua atas izin kamu. Kamu sendiri yang sudah mendesakku untuk melakukannya. Dan lagi, kamu tadi bertanya kenapa aku mengganti pakaian yang sudah kamu siapkan? Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan hal itu. Aku selalu memakai apa yang telah kamu siapkan. Semua yang sudah kamu letakkan di atas kasur, aku gunakan tak ada satupun yang aku abaikan," ucap Brendan yang terpancing emosinya. Ia pulang dengan keadaan lelah, berharap Sabrina yang ternyata menunggu dirinya pulang langsung memberikan pelukan hangat, namun semua tak sesuai dengan harapannya. Ia tak mendapatkan pelukan seperti yang ia mau tapi sebuah tuduhan palsu.
Namun se-emosi apapun Brendan kepada Sabrina, sebisa mungkin ia menekan emosinya itu agar tak sampai meninggikan suaranya terlebih bermain tangan karena kelepasan.
"Tapi pakaian yang selalu kamu pakai bukan pakaian yang telah aku siapkan." Sabrina masih terus menuduh tanpa bukti.
"Yang benar saja, sayang. Aku selalu memakai pakaian yang sama seperti yang terletak di atas ranjang. Aku sama sekali tak menukar pakaian itu. Aku memakainya, aku memakai pakaian yang kamu siapkan," balas Brendan apa adanya.
Sedangkan Sabrina yang tadi emosinya sudah naik ke ubun-ubun, kini ia terdiam. Benar apa yang dikatakan Brendan, laki-laki itu bahkan selama mereka berada di negara yang mereka tempati saat ini, Brendan hampir tak pernah menginjakkan kakinya di walk in closed mereka. Walaupun pernah itupun saat mereka membereskan barang bawaan saat pertama kali mereka pindah ke rumah ini. Semua keperluan Brendan, Sabrina yang menyiapkan.
Memikirkan hal itu, perlahan ia sadar jika dirinya telah salah menuduh suaminya.
"Tapi selama 5 hari ini kamu tidak memakai pakaian yang sama seperti yang telah aku siapkan."
"Benarkah?" Sabrina menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas pertanyaan Brendan.
"Kalau bukan kamu yang menyiapkan baju untukku, lalu siapa? Apakah orang yang selalu membersihkan rumah ini setiap harinya?" Sabrina menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin dia. Dia datang kesini tidak sepagi itu," ucap Sabrina.
"Jika bukan dia, lalu siapa? Yang bisa masuk kedalam kamar itu hanya aku, kamu dan art itu. Atau apakah kamu pernah menyuruh orang untuk masuk kedalam kamar kita dan kamu dengan sengaja memberitahu kode kunci kamar kita berdua?" tanya Brendan yang membuat Sabrina terdiam, mengingat-ingat apakah ia benar-benar melakukan kelalaian itu?
Hingga kedua mata Sabrina terbuka lebar saat ia mengingat nama satu orang.
"Katarina. Ya, aku pernah menyuruh dia masuk ke kamar kita berdua. Saat itu aku bangun kesiangan dan meminta bantuan dia untuk menyiapkan pakaian kerja kamu," ucap Sabrina dengan jujur.
Dan kejujuran dirinya berhasil membuat rahang Brendan mengeras. Kedua tangannya pun diam-diam mengepal dengan sangat erat.
"Kapan hal itu terjadi?"
"6 hari yang lalu. Aku sungguh tidak berniat melakukan itu, Sayang. Aku terpaksa karena situasinya saat itu benar-benar kacau karena aku kesiangan dan kamu harus buru-buru pergi menemui klienmu," tutur Sabrina yang membuat Brendan menghela nafas panjang. Ingin marah, tapi kasihan juga jika dirinya tetap memarahi istrinya itu.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi aku harap setelah ini kamu tidak melakukannya lagi. Menyuruh orang untuk menyiapkan pakaian suamimu sendiri. Jika kamu sibuk, maka katakan saja padaku dan biar aku yang menyiapkan kebutuhanku sendiri. Kamu paham, Sayang?" tanya Brendan sembari menarik tubuh Sabrina sampai akhirnya tubuh istrinya itu mendarat tepat di atas pangkuannya.
Sedangkan Sabrina yang tadi sempat marah kini mengalungkan kedua tangannya ke leher Brendan.
"Aku berjanji. Dan maafkan aku karena sudah menuduhmu tidak-tidak seperti tadi."
"Aku memaklumi kemarahanmu itu," balas Brendan.
"Tapi tunggu Sayang, masalah ini belum selesai jika kita belum menemukan siapa orang yang telah menukar pakaianmu itu," ucap Sabrina sembari mendorong kening Brendan saat suaminya ingin mencumbu lehernya.
Brendan memutar bola matanya malas.
"Katarina. Dia orangnya," balas Brendan yang tentu saja dibalas gelengan oleh Sabrina.
"Tidak mungkin dia."
"Kenapa tidak mungkin? Bukankah dia pernah masuk kedalam kamar kita?"
" Benar, tapi saat itu kamar kita tidak di kunci jadi aku tidak memberikan password kunci kamar kita. Sedangkan selain di hari sibukku itu, aku selalu mengunci pintunya saat aku keluar kamar. Jadi tidak mungkin dia orangnya," balas Sabrina menyangkal tuduh Brendan.
aku juga merasa kasihan terhadap Sabrina ,seterpuruk apa ketika rahim nya diangkat , tapi di sisi lain aku ingin Jeral di asuh Katarina hiks 😭😭😭🙏
untuk Brendan terserah mau koma beberapa bulan pun gak peduli aku
kecuali kalau Brendan tiba tiba amnesia dan melupakan Sabrina ah puas sekali aku 😂🤗
kayak dapat lotre berhadiah hahaha
yes Jeral milik Kat
pada tetua yang terhormat terimakasih juga