NovelToon NovelToon
Dipaksa Menikah Karena Aku Pembawa Sial

Dipaksa Menikah Karena Aku Pembawa Sial

Status: tamat
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: BellaBiyah

[NOVEL FIKSI yg tidak masuk akal, Banyak mengandung kata umpatan, mohon bijak memilih cerita]

Fauziah, Gadis dengan kutukan pembawa sial yang bisa mencelakai orang dengan sentuhan dan merusak apapun di sekitarnya. Hati dan pikiran yang buruk mendorong kutukan itu untuk menguasai diri gadis itu. Ia juga dipaksa oleh orang tuanya untuk menikahi Tuan Raka, putra tunggal yang kaya raya.

Raka pun terpaksa menikahi Fauziah karena sang nenek yang sakit-sakitan mendesaknya menikah sebagai syarat untuk harta warisan. Walau dia tak menginginkan harta warisan itu, pernikahan tetap terjadi.

Sentuhan berbahaya milik Fauziah harus diatasi oleh Raka dengan cara merawatnya seperti bayi. Memandikan, menyuapinya makan dan menjaga pandangan istrinya itu.

Bagaimana kehidupan mereka?
Sanggupkah Raka menghadapi kesialan Fauziah?
Mampukah Fauziah menghilangkan kesialannya itu?


NOTICE!
MEMBACA BERARTI SETUJU UNTUK MENEKAN TOMBOL LIKE DI SETIAP BAB

DMKAPS : 1-111
SI KEMBAR : 112-TAMAT

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BellaBiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternodai

Terus saja kami saling lirik melirik. Hingga akhirnya Tuan Raka memutar tubuhnya menghadapku. Menyandarkan kepalanya di guling yang aku peluk. Wajahku menjauh.

Mau apa dia?

Fuuu! Ia meniup wajahku. Entah mau apa. Aku tetap tak menghiraukannya. Menarik selimut lebih tinggi. Menutupi setengah wajah. Kupejamkan mataku.

Fuuuuu!

Fuuuuuu!

Fuuuuuuuuu!

“Astaga!” teriakku, mengejutkannya. “Apa yang kau lakukan?!”

Dia malah terkekeh tanpa alasan. Berdiri, mematikan lampu. Gelap total di sini. Ya, kamar ini tak memiliki lampu tidur. Tidak sama dengan kamar tamu yang kami tiduri semalam.

Kupeluki erat guling dalam dekapanku. Aku tak kan bersuara apa pun. Terserah dia saja. Semakin aku ladeni. Akan semakin bodoh aku dimatanya. Dia terus tertawa tanpa alasan sedari tadi.

Bisa kurasakan, Tuan Raka kembali berbaring. Kutenggelamkan wajahku di antara guling dan selimut. Dia mengusap kepalaku. Membuatku sedikit merinding.

Kerasukan setan apa dia ini?! Membuatku takut saja.

“Apa kau sudah siap?” bisiknya di hadapanku.

“Siap apa?! Jangan macam-macam! Kau yang mengatakan kita tidak saling mencintai. Kau tak kan memberikan sesuatu yang lebih dari pelukan! Menjauhlah!” teriakku.

“Kau mengomel lagi? Apa kau masih ingin kucium?” godanya.

Astaga, pria gila ini ... Benar-benar membuatku takut.

“Aku pembawa sial! Ingat itu!” teriakku lagi.

“Tapi kau istriku," ucapnya bergerak. Entah melakukan apa. Aku tak melihat apa pun. Hanya ada gelap di sini.

“Tapi kita tidak saling mencintai!” bantahku. Kakiku mulai gemetar. Mengingat benda terkutuk di balik kolor tadi. Semakin membuat imajinasiku bergerilya ke pelosok adegan terbejat dalam kehidupan.

“Lakukan semuanya tanpa cinta. Anggap saja kita melakukan tugas dari nenek," ucapnya.

Apa?! Bisa seperti itu?

“Jangan gila Tuan! Aku bahkan tidak peduli nenekmu mengatakan apa pun. Status kita memang suami-istri. Tapi hati kita tidak!”

Apa yang baru saja aku katakan? Tahu apa aku soal hati.

“Aku sudah menahannya sedari tadi.” Kini dia mendesah. Meraba wajahku.

“ARRGHHH! JANGAN MENAKUT-NAKUTI AKU!” teriakku menepis tangannya. Dia menggenggam tanganku. “Kumohon Tuan! Kau bisa meniduri perempuan lain, selain aku! Ada banyak pelayan di sini. Pilih saja salah satu dari mereka!”

“Aku memiliki istri, kenapa aku harus tidur dengan pelayan?!” Dia terus mendesah di hadapanku.

“Aku akan berteriak jika kau berani menyentuhku!”

“Teriak saja. Kamar ini kedap suara," ucapnya membuang selimut. Entah ke mana.

“Jangan Tuan! Kau benar-benar akan terkena kesialan jika melakukannya!” Tenagaku tak cukup kuat untuk melepas genggamannya.

“Bagaimana bisa kau se-menarik ini?” Dia mulai mengendus leherku. Persis anjing yang mencari jejak kenikmatan.

Membuatku geli dan menggeliat tak karuan. “Tuan! Hentikan!” Dia mulai mendudukiku. Melepas genggamannya. Segera aku duduk, berusaha membebaskan diri.

Hulp!~

Dia memelukku dan merebahkanku dengan tubuhnya yang menimpaku. Dia sudah tak mengenakan baju. Dadanya benar-benar kosong tanpa sehelai benang. Kuremas pantatnya. Astaga! Yang benar saja. Dia juga tak mengenakan celana. Tonjolan sialan itu, tidak bisa kualihkan fokusku dari sana. Dia tetap menjadi pusat dari kebejatan.

“TUAAAAAN! HENTIKAN!” teriakku menendang apa pun yang ada di kakiku. Dia mengunci kakiku sambil terus mengendus leherku. “Aarghhhhh!”

“Kau akan menikmatinya!” lirihnya di telingaku.

Dia menciumi telingaku. Aku menggeliat geli. “Tidak! Aku tidak menyukai hal semacam ini! Hentikan!”

Sesial inikah hidupku?! Diperkosa suami sendiri!

Tuan Raka benar-benar membuatku takut. Iya, kami memanglah sepasang suami-istri. Tetapi, umurku baru 20 tahun. Aku tak kan melepas kegadisanku begitu saja.

...***...

Pagi menyapa dengan sangat ramah hari ini. Tak seperti kemarin. Tuan Raka masih tertidur di sebelahku. Kamar ini masih gelap. Hanya ada cahaya bias matahari yang muncul dari sela gorden.

Tanganku bergerilya di balik selimut. Aku mencari guling. Tangan kiri, tangan kanan, kaki. Semuanya kugerakkan. Tak ada di dekatku.

Toing!~

Apa itu? Kuraba sesuatu yang aneh di tanganku. Berkerut. Astaga! Aihs sialan! Tanganku, ter nodai. Kenapa juga aku harus meraba ke sana. Semoga dia masih tertidur dan tak merasakannya.

Benda terkutuk itu! Astaga. Bagaimana bisa aku menjadi semesum ini. Kenapa juga dia bertelanjang?!

Hah? Kuraba dadaku. Aihs, sialan! Sialan! Sialan! Kalang kabut aku mencari pakaianku dan segera mengenakannya. Ku kuncir rambutku. Berdiri, membuka gorden. Seketika, cahaya matahari memancar terik, menyilaukan. Kuputar pandangan. Cahaya itu menabrak wajah pria sialan yang masih tertidur di atas kasur. Mukanya begitu polos. Benar-benar seperti iblis yang lupa akan dosanya.

“Aihs!” Ingin kucakar rasanya muka sialan itu. Beraninya dia melakukan hal itu padaku. Kuputar pandanganku kembali ke jendela. Mengatur napas.

Lupakan semuanya Fauziah. Lupakan! Kau tidak bersalah. Pria itu hampir saja memperkosamu semalam. Untungnya kau tak terkena kesialan saat itu.

Apa? Tidak! Itu adalah sebuah kesialan! Dia sudah menciumku. Dia juga menggerayangi badan suci ini! Sungguh nasib sial yang tak kan aku lupakan!

Jika saja ... dia sampai merenggut kegadisanku. Aaaaaarrgh! Akan kupotong sosis sialannya itu.

“Kau sudah bangun?” Suara parau itu mengejutkanku. Malu sekali aku di buatnya. Dia sudah menyentuh setiap lekuk tubuhku.

Aku harus menghindarinya. Berjalan. Memandangi halaman rumah dari atas balkon. Ada sebuah mobil memasuki halaman. Tuan Bima.

“Tuan! Cepat bangun. Bangunlah!” Aku berlari menarik tangan Tuan Raka. Dia membuka selimutnya. Aihs! Tubuhnya! Kututup mataku menghadap ke arah lain. Tertunduk. “Cepat kenakan pakaikanmu! Tuan Bima datang kesini!”

Dia berjalan malas ke kamar ganti. Aku tahu, tubuh telanjang sialan itu baru saja melintas di hadapanku. Bodohnya aku malah melihat benda itu dengan jelas. Aaargh! Susah sekali mengalihkan fokusku dari benda itu.

Sementara Tuan Raka mengganti pakaiannya. Aku membereskan kasur dengan sangat gesit.

Brag!~ Selimut itu kujatuhkan ke lantai.

Hlup hlup hlup!~ Bantal dan guling tersusun rapi.

Sret sret sret!~ selimut sudah terlipat, rapi.

Tuan Bima membuka pintu kamar. Aku terdiam, menatapnya. Seperti biasa, dia berlaga seperti berada di rumahnya sendiri.

“Suruh Mpok Nur ganti selimut dan kasurnya. Bau keringatmu semalam membuatku pusing!” Suara sialan itu keluar dari depan pintu kamar ganti. Siapa lagi kalau bukan Tuan Raka.

Tuan Bima terperangah. Ya, dia memang bodoh. Tapi lebih bodoh lagi sepupunya yang sialan ini.

“A—a—apa yang kau bicarakan?” tergagap aku mengatakannya dengan sedikit kesal.

“Apa? Lidahku juga masih terasa sakit karena gigitanmu!” ucapnya.

Astaga. Pria ini, lidahnya memang pantas untuk di gigit.

Tuan Bima semakin terbelalak mendengar hal itu. Ya, mau gimana lagi. Mungkin otaknya sedang berkeliling dunia sekarang.

“Kau harus menaruh ini di keranjang pakaian kotor. Ini kan sudah kupakai semalam," ucap Tuan Raka berjalan dan memungut celana dalamnya yang tergeletak di lantai. Ia baru menyadari kehadiran Tuan Bima. “Hai, sepupu!”

“Ka—kalian!” Tuan Bima menelan liurnya berkali-kali sambil menunjuk kami. “Aku juga ingin menikah!” teriaknya.

“Bukan! Tidak! Ini tidak seperti yang kau kira!” ucapku.

“Kau menggigit lidah sepupuku!” Dia malah menyalahkan aku. Mau gimana lagi, tak mungkin aku ceritakan semuanya. “Agresif!”

1
Aisha Assyfa
like
Aisha Assyfa
lucuuuu
A 09 Darajatun jatun
cerita apa bosen bacanya
ira rodi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nie
Ngeri ah ….
Nie
🤣🤣🤣🤣
Nie
Ngakak …bener” halu yg sangat menghibur
sally
😂😂😂 somplak
Anonim
Sumpah jijik banget ama sifat dan sikap Fauziah ga tau diri dan ga tau sopan santun ke orangtua
Anonim
Ga suka ama Fauziah bahasanya kasar kotor ga banget
krisan
next
Marcellina Dwi Putri
nangis aku kak
Marcellina Dwi Putri
belom tau ajah gimana kelakuan rizki ma rifka🤔😒😪
Muhammad Sanafia
lanjutkan
Marcellina Dwi Putri
belom² udah rugi banyak
Indriani Rais
fau type wanita munafik gays
Indriani Rais
rasain fauzian yang sombong dan. gila
Indriani Rais
jorok banget novelnya
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
mulai bosan.... loncat ke chapter akhir2 saja kali ya?
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
agresif...wkwkwk..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!