Riyanti (28 tahun) adalah seorang wanita yang sudah menikah, karena kesulitan ekonomi dia nekat menjalin hubungan dengan pria tajir tampan yang tidak lain adalah pria yang dia anggap adik sendiri.
Awalnya hubungan mereka biasa saja namun lama kelamaan menjadi luar biasa. .
Suatu hari hubungan gelapnya bersama pria itupun tercium oleh suaminya.
Yuk simak kisahnya...!!
ini hanyalah karangan Author semata, jika ada kesamaan mungkin ini secara kebetulan saja..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sulit ditebak
Pagi ini. langit di atas kota tampak mendung, awan gelap menyelimuti angkasa.
Di bawahnya, aku berdiri ditengah keheningan, Mataku menatap tajam keatas cakrawala yang tak menunjukkan tanda tanda adanya kehidupan.
Mendung kelabu yang menggantung diatas langit membuat pikiranku kemana mana.
Aku menarik napas dalam dalam, mencoba meredakan gemuruh yang bergejolak dalam batin.
Aku mendesah berat, dan Kembali menatap langit.
Perlahan perlahan ketebalan awan menyebar, hingga warna kegelapannya meningkat pesat.
Udara di sekitarku terasa dingin menyapu pelan kepermukaan kulit.
Sepertinya akan turun hujan.
Segera aku memarkir motor, lalu membuka toko dan mulai melakukan rutinitas yang sempat terjeda selama beberapa hari.
°°°°
Benar kan! mendung identik dengan hujan. Saat ini, air hujan berjatuhan membasahi permukaan jalan, dan setiap tetesannya terasa menenangkan menciptakan suasana melankolis.
“Sudah makan?” suara Rais menyela lamunanku.
Sekilas aku menoleh dengan senyum tipis, sambil membenahi posisi duduk, dan kembali menatapnya.
Rambut yang sedikit basah, dan ada lingkaran hitam di bagian mata, membuatku menerka.
Pasti Insomnia-nya kambuh lagi.
“belum lapar,” balasku apa adanya.
Tatapanku terpaku pada bibirnya yang penuh. Senyum yang terbentuk pada bibir itu terkesan sederhana tapi cenderung membuat orang terkesima.
“Yakin tidak lapar? Padahal aku membawa sesuatu untukmu!” Rais menyodorkan kantong kresek di depanku.
Dari aromanya aku tahu apa isinya, itu salah satu makanan kesukaanku dan seketika aku merasa lapar. “batagor?”
“Kok bisa tau?”
Aku menanggapinya dengan senyum lebar.
Aku menggeser tubuhku, menyisakan sedikit ruang untuk Rais duduk.
°°°°
Mungkin sebagian orang, memperhatikan orang lain makan adalah sesuatu yang membosankan, tapi Rais sepertinya enggan berpaling sedetik saja, Tatapannya sangat dalam dan penuh makna, sehingga aku kikuk dibuatnya.
Aku melirik sekilas dan membuka obrolan untuk mengalihkan kecanggungan. “aku pikir kamu marah soal semalam!”
“jangan berpikir terlalu jauh! bagaimana bisa aku marah! hanya masalah sepele,” ujarnya, tanpa menarik pandangan.
Aku mengangguk sambil menyantap batagor dengan melumat perlahan.
Rasanya berbeda dengan yang di jual di pedagang kaki lima. Pikirku, menilai setelah tersisa sedikit.
°°°°
Pandanganku ke depan, menatap hujan yang mulai reda, seketika aku teringat sesuatu.
“Semalam kamu keluar lagi, kemana itu?”
“di tempat biasa. bosan tinggal dirumah yang selalu sepi” jawab Rais dengan nada bosan.
Ketika Rais tidak bisa tidur di malam hari, dia akan menghubungiku, bercerita sampai benar benar mengantuk sudah menjadi rutinitas-nya, tapi semalam obrolan kami tidak berlangsung lama, dikarenakan suasana hatinya sedang buruk, Dan warkop cenderung menjadi tempat pelariannya.
°°°
“Apa tidak ada rencana akan ke klinik?” Rais bertanya. Tapi di balik kata katanya seolah olah dia menekankan aku untuk pergi.
Aku sedikit bingung, bukankah semalam sudah dibahas, mengapa Rais tepat kukuh agar aku ke klinik.
“aku rasa tidak perlu!” tolak ku halus, dan melanjutkan lagi. “lagian aku tidak begitu yakin, hanya sekedar penasaran”
Rais sibuk mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu menyodorkan benda kecil yang masih terbungkus dalam plastik beserta tutorial penggunaannya.
“ini milikmu!”
Aku sedikit gugup menerimanya.
Tiba tiba suasana berubah hening.
Sekilas ekor mataku melirik kesamping, otot tangan Rais menonjol saat meremas pinggiran kursi, aku melirik lagi wajahnya yang tampak baik baik saja, tapi siapa yang tahu di dalam hatinya mungkin saja sedang kacau.
“Aku keatas dulu!” ujarnya melangkah tanpa menunggu responku.
Aku menatap Rais menaiki tangga, dan berpikir, ish dia itu, sulit diterjemahkan suasana hatinya.
°°°°
Aku sibuk melayani pelanggan hingga waktu makan siang, dan tidak sempat masak untuk Ifan, jadinya aku memesan makanan diluar, untungnya disekitar ruko ada banyak penjual makanan cepat saji, tinggal pilih yang mana yang kita sukai.
Beberapa saat kemudian. Ifan menyudahi acara makannya dan lanjut bersiap untuk mengaji, dan setelah selesai, aku mengantarnya sampai depan.
Disisi lain, Anton, alias tukang ojek yang khusus mengantar jemput Ifan, sudah menunggu diluar.
“Sudah siap?” tanya Anton.
Aku mengangguk kecil dan tersenyum menanggapi. “Titip Ifan yah!”
“iya bu,” balas Anton.
Ifan mencium punggung tanganku. “hati hati dijalan!” sahutku.
“baik mah, Ifan berangkat dulu,” ujar Ifan.
Setelah menyaksikan keduanya berangkat, aku memutar dan berjalan masuk.
Rais belum turun sejak naik tadi. pikirku setalah melirik tangga.
Aku kembali duduk di kursi dekat dengan rak penyimpanan barang. Sesekali melirik cctv, merasa sedang dipantau dari lantai dua.
°°°°
Efek bunyi sendal dari hentakan kaki pada lantai, terdengar samar. aku menoleh lalu tatapanku menuntun Rais yang perlahan menuruni tangga.
Rais melangkah malas memasuki area dapur, membuka lemari es dan mengeluarkan air dingin dari sana.
Aku merasa dia sedikit lucu dengan penampilan yang seperti itu, rambut kusut dan tampang yang cemberut.
Sesaat, aku menelan ludah, saat menyaksikan jakunnya yang naik turun mendorong cairan yang masuk, terkesan mengundang dahaga.
Segera, aku menarik tatapan saat pikiran aneh telah menjelajah di kepalaku, bibirku tak dapat menyembunyikan senyum, berpaling menatap toko yang berjejer diseberang jalan, dan mulai berpikir.
Kenapa yah, toko itu buka di hari hari tertentu. buka-nya pada saat pasar saja, dan itupun di jam jam tertentu. Berbeda dengan toko milik Rais yang buka setiap harinya
Disisi lain, ada juga toko yang berjejer tidak jauh dari pasar, ada yang buka dan ada yang tidak. aku berpikir mengapa tidak buka saja setiap hari, belum lagi saat ini pasar sedang ramai, itupun, pasar buka hanya tiga hari sekali. Bukankah sedang puncak puncaknya pembeli?
Ah, sudahlah! mengapa aku jadi pusing sendiri. Aku menggaruk kening dan mendengus samar.
“Sedang liat apa?” tanya Rais berdiri tegak disamping ku dan satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi, mengikuti kemana aku memandang.
“aku hanya sedang berpikir, mengapa toko toko yang ada di seberang jalan jarang buka,” tanyaku sedikit menengadah menatap kearahnya .
Rais tersenyum tipis, kemudian duduk di sampingku dengan gaya santai. “menurut karyawan yang pernah bekerja disana, bosnya itu...” Rais menjeda ucapannya dan mendekatkan kepala. “bosnya sedikit galak dan mesumnya banyak” ujarnya seraya menahan tawa.
Di satu sisi, sudut bibirku tertarik, dengan lirikan mata tajam. “seperti orang yang berkata,” sindir ku.
Bukannya marah, Rais malah tertawa rendah. “Aku tidak galak,” mengelak.
Aku mendengus kasar dan berkata dengan suara nyaris tak terdengar. “iya tidak galak! tapi mesumnya luar biasa banyak”.
“hehe.. masa sih, tapi kamu suka Iya kan!” sahut Rais,
nadanya menggoda tapi kalimatnya mendesak.
Aku berpaling dengan pipi bersemu. “kata siapa?”
Terdengar seperti bergumam, padahal sebenarnya Rais sedang tertawa. setelah melihatku kesal, Rais batuk kecil dan tidak lagi bersuara.
°°°°
Masih ditempat yang sama, dan suasananya sedikit lebih, hangat.
“Sayang, aku lapar! Sedari tadi pagi belum makan apa apa, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?” sahut Rais.
Aku terkejut, kenapa Rais tidak bilang. “belum ada tapi, kamu ingin makan apa?” tanyaku lembut.
“ Apa saja itu! asal, yang bikin kamu,” sahut Rais.
Aku mengangguk kemudian beranjak. “Tunggu sebentar!” setalah itu aku berjalan dan membuat sesuatu didapur.
Bersambung.
ngeles, semua orang berhak dapat kesempatan berubah, nyata di novel bukan ini jelas kau seakan membela semua kelakuan rais dan riya
aku tanya dimana nilai positif dan pelajaran dalam novelmu ini
*ini pelajaran yang kau maksud, istri boleh selingkuh dengan saudara sauminya sendiri dan ketika suami punya wanita lain juga boleh berkoar2 tersakiti dan berpisah dan hidup dengan selingkuhannya
*pebinor bebas mengzinahi istri saudaranya, bebas menghancurkan rumah tangga saudaranya, dan akhir dia bebas begitu saja dan malah dianggap seolah lelaki sejati bak pahlawan
ini yang kau banggakan dalam novel mu
miris pola pikirmu
mudahan2 ini bukan kisahmu
dan jangan kau bawa2 agama islam jika novelmu bawa membela kemaksianatan