NovelToon NovelToon
ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

Status: tamat
Genre:Suami ideal / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Mafia / Tamat
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Kabur dari rumah demi menghindari perjodohan gila yang direncanakan oleh pamannya membawa Kelaya sampai disebuah desa yang sangat jauh dari rumahnya, hingga ia berakhir pingsan di sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata adalah milik seorang lelaki.

Ide gila muncul saat mengetahui lelaki itu masih melajang dengan wajah yang cukup menarik sebagai seorang peternak juga pengrajin kayu, dan minim bicara, membuat Kelaya mengajaknya menikah dan nekat menjebak lelaki itu agar mereka dinikahkan secara paksa oleh masyarakat setempat.

Ide itu muncul sebagai upaya mencegah pamannya untuk menjodohkannya kembali dan lagi pula Kelaya menyukai lelaki itu.

Masalahnya, lelaki itu bagaikan musim dingin yang panjang dan terlalu misterius. Rasanya Kelaya ingin menyerah saja untuk meluluhkan hati dingin lelaki itu.

Apakah Kelaya akan benar-benar menyerah apa lagi setelah mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan lelaki itu? Atau bertahan sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21. Pasar Malam

Akhirnya Kelaya ikut keluar bersama Elkan, ia merapatkan sweaternya ketika angin malam itu menyapu kulit, sementara pria di sebelahnya itu terlihat sama sekali tidak masalah dengan dinginnya udara malam. Ah, ya, Kelaya harus kembali mengingatkan diri, kalau pria itu adalah gunung es, tentu saja udara malam tidak akan mempengaruhi tubuhnya.

Ia mengikuti langkah Elkan yang membawanya ke tenda kecil penjual minuman-minuman hangat dan beberapa jenis makanan sederhana yang dimasak dadakan.

"Mau makan dan minum?" tanya Elkan.

"Minum saja." jawab Kelaya.

"Ada minuman apa saja, Bu?" tanya Elkan dengan logat yang khas. Terkadang suka lucu mendengar bagaimana manusia gunung es itu bisa berbicara dalam logat yang ramah.

Ibu penjual memberitahukan minuman-minuman tradisional hangat yang dijualnya, kemudian Elkan menterjemahkannya untuk Kelaya.

"Baiklah, aku mau teh susu." kata Kelaya.

Elkan kembali bicara pada si ibu penjual.

Mereka kembali sama-sama diam. Kelaya memandang sekelilingnya, anak-anak kecil bersama orang tua mereka, pasangan muda-mudi, para penjual yang sibuk melayani pengunjung, tawa yang memenuhi wahana permainan sederhana, anak kecil yang bersorak senang ketika ayahnya berhasil mendapatkan sebuah boneka kecil pada permainan tembak peluru busa yang harus menempel pada papan target.

Senyum manis terukir pada wajah Kelaya, senyum yang berhasil ditangkap oleh lirikan mata Elkan, yang kemudian buru-buru Elkan alihkan wajahnya ketika kepala Kelaya bergerak menghadapnya.

"Apa kau sering ke pasar malam seperti ini?" tanya Kelaya.

"Tidak."

"Jadi, apa yang kau lakukan setiap malam? Apa kau hanya bekerja dari pagi sampai malam?"

"Kira-kira begitu."

"Ya ampun, kupikir hanya hidupku yang paling tidak berwarna." kata Kelaya santai sambil terkekeh. "Apa kau tidak bosan?"

"Kadang."

"Lalu, kalau bosan, apa yang kau lakukan?"

Biasanya, Elkan paling malas menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak penting seperti yang sedang dilakukan Kelaya saat ini, baginya apa pun yang dia lakukan itu bukanlah urusan orang lain, tapi, "Pergi ke air terjun, duduk disana dan melihat dari kejauhan keluarga beruang itu bermain." Meskipun dengan nada datar, Elkan menjawabnya.

Kelaya mengangguk, berusaha bersikap biasa saja. Padahal dalam hati dia cukup senang, karena tadinya dia pikir Elkan akan menjawab dengan kalimat, 'bukan urusanmu.'-nya yang khas.

Minuman mereka siap dihidangkan, Elkan juga memesan minuman yang sama seperti Kelaya.

"Apa kau tidak ingin tahu apa yang biasanya ku lakukan saat bosan di dalam rumah dulu?"

Biasanya dan pasti jika ada yang mengajukan pertanyaan seperti itu, Elkan akan menjawab 'Tidak' dengan nada yang tegas tanpa ragu. Tapi kali ini, Elkan justru mengarahkan wajahnya untuk menghadap Kelaya dan bertanya, "Apa yang biasanya kau lakukan saat kau bosan?"

"Memasak, menjahit, melukis, menulis, belajar online bagaimana cara memperbaiki barang-barang," Kelaya memandang keramaian yang mengisi pasar mala itu. "tujuanku bukan hanya untuk menghabiskan waktu, tapi aku selalu berharap, jika suatu hari nanti aku bisa pergi dari rumah, aku bisa bertahan hidup dengan apa yang sudah aku pelajari."

Ada sebuah perasaan yang merayapi hati Elkan, perasaan marah setiap kali Kelaya menceritakan hidupnya yang terkekang oleh pamannya. Terbesit keinginan dalam hatinya untuk memberikan pelajaran kepada paman Kelaya atas apa pun yang sudah dilakukan pada Kelaya. Ia mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak gegabah mencampuri urusan hidup orang lain.

"Sejak kapan orang itu mengurungmu?" tanya Elkan sebelum menyeruput sedikit teh susu yang rasanya jauh berbeda dari rasa yang Elkan racik sendiri di rumah.

"Sejak orang tuaku meninggal dalam kecelakaan." Ada senyum pilu yang menggantung pada bibir mungil perempuan itu. "Setelah kepergian orang tuaku, perusahaan papa dijalankan oleh pamanku, karena aku yang belum cukup usia untuk menjalankan perusahaan. Dan ketika wasiat peninggalan papa dibacakan oleh pengacara, ternyata papa mempercayakan perusahaan kepada paman, sejak hari itu, paman selalu bertindak otoriter, bahkan kepada anak-anaknya sendiri."

Kelaya mendesah berat, ia ikut menyeruput teh susunya, wajahnya sedikit mengernyit ketika cairan kecokelatan itu menyentuh lidahnya.

"Dia juga mengurung anak-anaknya?" tanya Elkan.

Kelaya menggeleng. "Mereka tidak dikurung, tapi tetap dipaksa untuk menikahi pilihan-pilihan paman, demi perusahaan, katanya."

Kelaya mendesah berat, "Aku juga kasihan pada sepupu-sepupuku itu, mereka juga tertekan sama sepertiku." Kelaya menunduk, tangannya memijat-mijat pelan telapak tangannya yang masih terasa sakit akibat menampar gunung.

"Apa masih sakit?" tanya Elkan.

"Apa?"

"Tanganmu bekas menamparku. Apa masih sakit?"

"Sedikit, kurasa ada yang memar." jawab Kelaya sambil memandangi telapak tangannya. "Lagian, bagaimana bisa manusia mempunyai wajah sekeras itu." Ujar Kelaya sambil berdecak menyindir.

Elkan tidak menghiraukan sindiran Kelaya, pria itu malah bangkit berdiri dari tempatnya dan menghampiri si ibu penjual. Dari tempatnya duduk, Kelaya melihat Elkan mengeluarkan selembar kain seperti sapu tangan dari saku celananya, kemudian membiarkan si ibu penjual meletakkan beberapa es batu di atas kain sapu tangan yang dibentangkan Elkan, setelah selesai, Elkan membungkus es batu itu kemudian kembali ke tempat duduknya.

"Kemarikan tanganmu."

"Eh? Untuk apa?"

Elkan tidak menjawab, hanya diam dan langsung menarik pelan tangan Kelaya, lalu meletakkan sapu tangan yang membungkus es batu tadi di atas telapak tangan Kelaya.

"Bagian mana yang terasa sakit?" tanya Elkan.

Sementara yang ditanya masih sibuk meredakan debaran jantungnya yang akan meledak. Sentuhan tangan Elkan yang menyentuhnya sangat tidak bagus untuk kesehatan jantungnya saat ini.

"Yang mana yang sakit?" Elkan bertanya lagi.

"Eh, oh, ehmm...b-biar a-aku sendiri saja yang mengompresnya." Kelaya menarik tangannya juga es batu yang ada di atas telapak tangannya.

Elkan tidak menolak dan membiarkan Kelaya melakukannya sendiri. Untuk beberapa waktu, kebisingan dari keramaian pasar malam itu mengisi kesunyian antara Elkan dan Kelaya yang sama-sama terdiam dengan pikiran-pikiran mereka masing-masing. Hingga tangisan suara anak kecil berhasil merenggut perhatian Kelaya dan Elkan. Tangisan itu berasal dari tenda permainan tembak target dengan peluru busa.

"Aku boleh kesana?" tanya Kelaya meminta ijin.

"Ayo kesana sama-sama." jawab Elkan. Setelah membayar dua gelas teh susu dan es batu, Elkan mengikuti Kelaya yang lebih dulu menghampiri anak kecil itu. Terlihat ibunya berusaha menenangkan anaknya yang menginginkan salah satu hadiah yang ada pada rak hadiah disana, namun gagal didapatkan.

"Mau aku bantu dapatkan boneka yang besar?" Kelaya berjongkok dengan senyumnya yang paling manis.

Elkan rasanya ingin mengarungi kepala si penjaga tenda itu karena matanya yang memandangi wajah Kelaya. Ia tidak rela!

Anak kecil itu menggeleng sambil menangis. Kelaya tidak ingin menyerah, dia meminta Elkan untuk bicara dengan bahasa daerah kepada anak dan ibunya itu, hadiah apa yang diinginkan anaknya, Kelaya akan mencoba membantu untuk mendapatkannya, setidaknya dia pernah latihan bermain tembak target dari game online yang pernah dimainkannya dulu.

Elkan dengan kemampuan bahasanya bertanya dan mengerti apa yang dinginkan anak itu.

"Dia tidak ingin boneka, dia ingin tas itu karena tas sekolahnya sudah bolong."

Kelaya mengusap kepala anak itu, "Baiklah, aku akan mencobanya untukmu." Kelaya berdiri dan memberikan sapu tangan Elkan yang sudah basah kepada Elkan.

"Kau bisa?"

"Bisa! Aku sering bermain tembak target begini di online." jawab Kelaya dengan suaranya yang setengah berbisik. Elkan tidak melarang Kelaya untuk melakukannya, karena dia terlihat begitu bersemangat bahkan sampai merenggangkan otot-otot tangannya lebih dulu seolah akan melakukan turnamen tembak.

"Hanya satu kali kesempatan, tujuh peluru harus kena semua dititik tengah. Satu saja meleset, hadiah tidak dapat." kata si penjaga dengan pongah. Elkan berdecih, dia tahu kelicikan si penjaga itu.

"Baik! Berikan aku pistolnya." kata Kelaya dengan penuh percaya diri.

Kelaya membuktikan kata-katanya, latihannya pada game online rupanya membuahkan hasil yang tidak sia-sia, ia berhasil menembakkan enam peluru pada tepat sasaran. Si anak kecil sudah bersorak kegirangan. Kelaya semakin percaya diri akan mendapatkan tas yang dinginkan anak itu, namun ada sesuatu yang tidak terlihat oleh Kelaya atau pun ibu dari si anak. Tapi, mata elang milik Elkan melihatnya meski hanya dengan sebuah lirikan, si penjual itu menginjak sesuatu di bawah kakinya yang membuat sebuah tali tipis di belakang papan bergerak dan menarik sedikit papan ke samping, sehingga tembakan terakhir terkesan meleset.

Si anak yang sudah teriak senang pun menjadi kecewa karena tembakan terakhir dari Kelaya tidak mengenai sasaran seperti tembakan yang lainnya.

"Ups, sayang sekali, tembakan terakhir meleset." kata si penjaga dengan entengnya.

Si anak kembali menangis bersedih, harapannya untuk mendapatkan tas sekolah baru kandas karena kecurangan si penjaga.

"Maafkan aku, ya..." Kelaya juga ikut bersedih, dia memeluk anak itu. Sungguh tidak tega. Jika saja Kelaya mempunyai uang, dia lebih memilih mengajak anak itu ke toko tas dan membelikannya langsung daripada harus menembak-nembak permainan seperti ini.

"Berikan satu tiket lagi." Elkan mengambil posisi di depan meja tembak. Ia mengeluarkan uang untuk membeli tiketnya.

Kelaya tidak percaya Elkan akan turun tangan untuk membantu anak itu mendapatkan tas.

Si penjaga tersenyum meremehkan. "Ingat, hanya satu kali kesempatan untuk tujuh peluru."

Elkan sudah mengangkat tangannya, tatapannya fokus, ekspresinya serius menatap papan target.

Tak! Tak! Tak! Tak! Tak! Tak!

Enam tembakan tepat sasaran, tidak terlalu spesial bagi si penjaga. Tembakan terakhir, Elkan dapat melihat pergerakan kaki si penjaga licik, jika orang yang tidak sadar, pergeseran yang sangat-sangat sedikit itu memang nyaris tidak terlihat, tapi Elkan sudah terlatih untuk menyadari pergerakan rahasia sekecil dan sepelan apa pun.

Si penjaga sudah tersenyum penuh kemenangan, tapi...

Tak! Tembakan terakhir tepat sasaran dengan metode yang hanya Elkan yang tahu.

Si penjaga sudah sangat yakin Elkan tidak mengenai sasaran tanpa harus melihat ke papan, dia sudah hendak mengucapkan kalimat yang sama seperti saat Kelaya gagal, tapi anak kecil yang bersorak penuh kegembiraan itu membuat si penjaga menengok ke papan target. Matanya membeliak kaget melihat tujuh peluru menempel berdempetan pada titik tengah papan itu.

"Berikan hadiahnya." Ujar Elkan dengan nada datarnya yang membuat si penjaga tidak bisa mengelak. Si anak kecil itu menerimanya dengan sangat senang hati, dia mengucapkan terima kasih dengan sangat riang kepada Elkan dan Kelaya, begitu pun dengan ibunya.

Kelaya tersenyum lebar melihat mereka berhasil membuat seorang anak bahagia malam itu.

"Terima kasih."

Elkan mengangguk. Sebelum pergi, Elkan sempat menangkap pergerakan bola mata Kelaya memandangi boneka beruang putih yang besar sebagai hadiah utamanya.

"Kau mau boneka beruang itu?" tanya Elkan tiba-tiba.

"Eh, oh, t-tidak kok, aku hanya teringat dengan bonekaku di rumah saja." jawab Kelaya dengan senyum sendunya.

"Berikan aku satu tiket untuk beruang itu." kata Elkan kepada si penjaga.

"Eh, tidak perlu." Kata Kelaya.

"Kau akan mempunyai boneka juga disini." kata Elkan tidak menghiraukan penolakan Kelaya.

Kelaya menahan senyumnya, meski ia menolak, tapi sebenarnya dia sangat senang Elkan mau mendapatkan boneka itu untuknya.

"Baiklah, tapi untuk hadiah utama ada tantangannya. Kau harus menembak target yang bergerak seperti ini." Si penjaga menekan sebuah tombol yang kemudian menggerakkan papan-papan kecil di atas sebuah rel kecil. "Kau harus mengenai sepuluh target."

Elkan tidak berkata apa-apa, dia hanya membayar tiket lalu mulai mengangkat tangannya, tatapannya fokus, dan kemudian jarinya mulai menekan pelatuknya. Satu per satu papan target bergerak itu tumbang dihantam peluru yang ditembakkan Elkan dengan mudahnya.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh!

Kelaya sampai loncat kegirangan dengan kedua telapak tangannya yang bertepuk, lupa jika salah satunya masih terasa memar saking senangnya. Sementara si penjaga hanya bisa menganga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Si beruang putih yang telah lama duduk di atas rak itu pun akhirnya berpindah tempat ke dalam pelukan Kelaya.

"Pacarmu hebat juga." kata si penjaga memuji meski dengan setengah hati.

"Aku bukan pacarnya, aku suaminya."

Boleh meleleh tidak?

.

.

.

Bersambung~~>>

1
Mrs. Ketawang
Dio itu Zeon
Mrs. Ketawang
kaaannn Dio itu penjahat😡
Mrs. Ketawang
keren ceritanya..👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
jurigen bgt kalo Dio musuh dlm selimut
Mrs. Ketawang
Dio nih misterius
Mrs. Ketawang
siapa sbnarnya si Dio ini,sok knal sok dekat bgt sama Kelaya😏
Mrs. Ketawang
mau di peluk jg sama bang Elkan😍😍
Mrs. Ketawang
lagi sweet"nya😍
Dio ganggu aja😁
Mrs. Ketawang
Bagus ceritanya...
pemilihan kata"nya jg indah...
knp baru nemu cerita sbagus ini😁👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
WOUW....baru pertama ketemu lgsung ngajak nikah aja nih Kelaya🙈
Nelita Nopitasari
penuh teka teki🤔
Youleannaa
bagus ,,,
Desty Winianti
padahal ceritanya bagus..tp yg.baca cuma sedikit....mungkin blum pada Nemu. ini novel
Lovely Shihab
Tegang, seru, romantis n keren, dikemas apik ma author. Keren kamu thor, the best 👍👍👍👍
Lovely Shihab
Paling benci lihat orang keras kepala. Disuruh dirumah aja tetep keluar
apajalah
👌👌🍂👌🍂🍁
apajalah
bravo🍂🍁🍂🍁🍂👌👌👌
Yustika PAMBUDI
sepertinya cinta segitiga Dio, elkan dan pacarnya yg meninggal ya... ?
Siska Febriana
Dio itu ya Zeon
Lastri Naila
ceritanya bagus sekali...untungnya aq senang dgn novel yg tamat jd gak nunggu nunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!