“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”
Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.
Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?
Update hari jumat, sabtu, dan minggu!
Happy Reading, Guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Pacaran
Sesampainya di rumah, setelah selesai makan, seperti biasa, Alana kembali ke kamar. Alana mengambil ponsel, dia mengerutkan kening ketika namanya banyak di tag di sebuah postingan instagram. Banyak juga teman-teman yang mengirimkan direct message padanya dan bertanya soal postingan itu.
Lana! Lo pacaran sama Kak Rayyan?!
Semua pertanyaan itu isinya sama, yaitu menanyakan apakah Alana berpacaran dengan Rayyan.
Postingan itu berisi foto Rayyan dan Alana yang sedang duduk di cafe tadi sore, yaitu pada saat Rayyan mengusap air mata Alana. Dan foto itu diambil dari arah belakang.
Alana membuka pesan dari Salma.
Na, sumpah
Bukan gue sama Disha yang ngefoto apalagi nyebarin itu
Gue sama Disha gak tau apa-apa
Alana menutup chat itu, kemudian membuka kembali postingan tersebut. Alana membuka kolom komentar yang dipenuhi balasan teman-temannya dan Rayyan.
Alana mulai panik. Alana bingung harus berbuat apa. Bagaimana jika mereka tahu Alana dan Rayyan sudah menikah? Dan bagaimana jika mereka tahu Alana sedang hamil? Bagaimana Alana harus menjawab semua pertanyaan itu?
Alana memutuskan untuk menemui Rayyan. Dia bangun dari kasur dan keluar ke depan rumah dimana Rayyan sedang berkutat dengan motornya.
Langkah Alana terhenti di ambang pintu depan rumah saat Rayyan sedang bersama seorang perempuan yang wajahnya terlihat sedih, Vanya. Alana tidak tahu jika ada Vanya disana, Alana pikir Rayyan sendiri di depan rumah.
Vanya menoleh melihat kedatangan Alana.
“Jadi bener, Ray, lo pacaran sama Alana?” tanya Vanya dengan suara parau.
Vanya datang untuk memastikan sendiri kebenaran itu. Sejak tadi teman-temannya menerornya dengan mengirimkan postingan itu, tapi Vanya tidak percaya. Karena itu Vanya datang untuk menanyakan hal itu pada Rayyan. Tapi yang terjadi justru di luar dugaan Vanya. Vanya malah melihat Alana berada di rumah Rayyan.
Rayyan mencoba meraih tangan Vanya, tapi langsung ditepis oleh Vanya. Vanya menatap Rayyan dengan mata berkaca-kaca.
Melihat itu, Alana hanya diam membatu di ambang pintu. Seharusnya Alana tidak keluar.
“Van, dengerin gue dulu.”
“Lo putusin gue gara-gara dia?”
Alana hendak menjawab pertanyaan Vanya, membantu Rayyan, tapi apa yang harus Alana jelaskan? Alana memegang perutnya. Alana tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
“Van-
“Lo bahkan udah bawa Alana ke rumah lo. Dulu lo gak pernah mau ajak gue ke rumah lo, Ray!” seru Vanya dengan suara bergetar.
Rayyan mencoba mendekati Vanya, tapi yang ada Vanya semakin menjauh.
“Apa-apa lo udah lama berhubungan sama dia? Apa selama ini lo selingkuhin gue, Ray?!”
Rayyan hanya diam, tidak mengatakan apapun.
“Ray! Jawab gue!” seru Vanya.
Air matanya sudah mengalir deras. Dia menatap Rayyan dengan penuh kekecewaan.
“Sori, Van,” jawab Rayyan lirih.
“Jadi bener, selama ini lo selingkuh di belakang gue?”
Suara Vanya semakin parau. Hatinya terasa sakit hingga membuat tenggorokannya tercekat.
“Sori,” jawab Rayyan lagi dengan suara pelan.
“Lo jahat, Ray! Lo jahat!” Vanya memukul tubuh Rayyan berkali-kali dengan sisa-sisa tenaganya.
“Kenapa lo tega ngelakuin ini sama gue? Segitu gak berartinya tiga tahun hubungan kita di mata lo, Ray?”
Vanya terisak dalam tangisnya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Vanya menurunkan tangannya setelah berapa saat. Dia menatap tajam Rayyan yang menatapnya dengan rasa bersalah, kemudian beralih menatap Alana sama tajamnya. Vanya menunjuk Rayyan dan Alana bergantian.
“Kalian berdua jahat!”
Vanya berbalik badan hendak pergi, tapi tangannya dicekal oleh Rayyan.
“Gue antar lo pulang,” ucap Rayyan.
“Gak usah sok peduli sama gue!”
Vanya mendorong tubuh Rayyan menjauh, kemudian dia berjalan cepat menuju mobilnya dan segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Rayyan yang masih berdiri terpaku dengan tatapan nanar pada mobil Vanya yang mulai menjauh.
Alana menatap Rayyan prihatin. Dia juga merasa bersalah pada Rayyan. Alana berjalan mendekati Rayyan, dan berdiri di sebelahnya.
“Sori, ini gara-gara gue, harusnya tadi gue gak keluar” ucap Alana pelan.
Rayyan menoleh pada Alana, kemudian kembali menatap ke depan.
“Udah, biarin aja. Biarin Vanya benci gue, biar dia bisa cepat move on dari gue.”
Alana menoleh pada Rayyan. Raut wajahnya berubah murung. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
“Sori,” ucap Alana lagi.
“Na, bisa tinggalin gue sendiri?” pinta Rayyan pelan.
Alana menatap Rayyan, kemudian dengan berat hati mengangguk. Alana paham, Rayyan pasti membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
Alana berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah.
“Na,” panggil Rayyan yang membuat langkah Alana terhenti. Alana menoleh pada Rayyan.
“Soal postingan itu…”
Rayyan memang sempat melihat postingan itu, sebelum Vanya datang. Sama seperti Alana dan Vanya, Rayyan juga banyak ditag dan dichat teman-temannya.
“... bilang aja kalo kita pacaran.”
...***...
Baru 5 menit Alana masuk ke dalam rumah, terdengar suara motor Rayyan yang dinyalakan, kemudian suara itu perlahan mengecil dan hilang dari pendengaran Alana. Rayyan pergi. Alana tahu Rayyan pasti butuh waktu.
Alana menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, pasangan cincin yang juga melingkar di jari manis Rayyan.
Alana dapat melihat bahwa Rayyan begitu mencintai Vanya. Mengingat itu, Alana jadi khawatir. Biar bagaimanapun, mereka kini sudah menjadi sepasang suami istri. Jika Rayyan masih saja mencintai Vanya, bagaimana hubungan mereka. Alana bahkan tidak tahu akan seberapa lama hubungan pernikahan ini akan berlangsung.
Alana yang masih belum ingin berkomitmen dengan siapapun dan Rayyan yang mencintai perempuan lain. Bagaimana nasib pernikahan dua manusia itu?
Alana menghela napas pelan.
Sesuai permintaan Rayyan, Alana membalas chat teman-temannya, memberikan konfirmasi tentang hubungannya dengan Rayyan sesuai yang Rayyan katakan, bahwa mereka berpacaran. Setelah itu, Alana menghabiskan waktunya dengan menelpon Dinar, bercerita banyak padanya.
Di tempat lain, Rayyan menghentikan motornya di sebuah warung yang berada tidak jauh dari SMA mereka. Sejak SMA, tempat itu menjadi tempat tongkrongan Rayyan dan ketiga temannya.
Dan benar saja, ketiga temannya itu sudah ada di sana.
“Bajingan lo, Ray, Ray. Sumpah!” celetuk Riza saat Rayyan melangkahkan kaki masuk ke dalam warung.
“Woi Vanya kurang apa sampai lo selingkuhin dia?” sambung Riza lagi.
“Bacot lo!”
Rayyan duduk di kursi dengan wajah murung.
“Pasangan fenomenal kita akhirnya putus juga,” celetuk Jeri bercanda.
“Mana sama Alana lagi,” sahut Dikta. “Kan dulu itu gebetan gue, malah lo yang dapet, kampret emang lo.”
“Loh lo pernah gebet dia?” tanya Riza.
Dikta mengangguk. “Tapi ya, cuek banget, gak ngerespon gue sama sekali.”
“Ya iyalah! Cewek pinter kayak dia mana mau sama cowok tolol kek lo!” seru Jeri.
“Jangan sekata-kata lo! Tolol tolol gini banyak yang deketin gue.”
“Nyamuk kali!”
“Gue inget banget dulu pas Alana masuk. Imut, lucu, cantik. Gue inget pas rambut dia dikepang dua pake pita merah sama biru terus bawa bendera kecil pas ospek. Lucu banget,” celetuk Dikta yang langsung dipukul oleh Jeri.
“Gila lo! Masih inget aja!”
“Inget lah, orang abis itu dia jadi bahan obrolan di kelas. Gue diantaranya.”
Jeri menggelengkan kepalanya pelan mendengar kelakukan temannya itu.
“Tapi tetep saja sih, gue lebih suka sama Vanya. Cantik, baik, penolong, penyayang. Dulu suka banget traktir kita disini pas masih SMA,” celetuk Riza. “Yakali, Ray, Ray, lo tega selingkuhin cewek baik-baik kayak Vanya. Dimana lagi lo bisa dapatin cewek sempurna kayak Vanya?”
Rayyan memegangi kepalanya yang pusing. Dia salah datang ke tempat itu. Teman-temannya bukan meringankan beban malah membuat kepalanya ingin meledak. Yang satu muji-muji Alana, yang satu muji-muji Vanya.
“Udah lah! Pusing gue ke sini!”
Rayyan bangun dari tempatnya.
“Tapi lo beneran selingkuhin Vanya?” tanya Dikta.
Rayyan tidak menjawab pertanyaan Dikta itu. Dia memilih untuk keluar dari warung sebelum kepalanya benar-benar meledak. Rayyan sedang menyalakan motor saat Jeri keluar dari dalam warung menyusulnya.
“Ray, kemarin lo nyari-nyari mangga, sekarang lo pacaran sama Alana. Lo sama Alana gak-
“Ngomong apa sih lo?! Gak jelas banget!” sela Rayyan.
Jeri memang sempat bertanya-tanya soal itu semalam saat menemaninya meminta mangga di rumah saudara Jeri. Tapi Rayyan tidak menghiraukannya. Ternyata dia masih penasaran soal itu.
“Beneran kan Ray, lo gak-
“Gak! Udah lah gue cabut dulu!”
...***...
lanjuuuut..