Karena wasiat yang ditinggalkan oleh sang Kakek, Wisnu Wardana diminta menikahi wanita pilihan dari sang Kakek, jika ingin mendapatkan warisan perusahaan besar yang bergerak di bidang perbankan.
Sayangnya wanita yang ingin dijodohkan dengannya adalah seorang gadis desa bernama Annisa Salsabila, jauh dari tipe wanita idamannya. Belum lagi ia juga mempunyai kekasih yang tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja hanya karena harus menikahi Annisa.
Selain diminta menikahi Annisa, ia juga diminta untuk tinggal selama setengah tahun di desa tempat tinggal Annisa untuk beradaptasi dengan kampung halaman asal leluhurnya terdahulu.
Apakah Wisnu akan menerima wasiat dari sang kakek, demi harta warisan milik kakeknya itu? Karena jika ia menolak, bukan tidak mungkin perusahaan perbankan yang ia incar akan jatuh pada sepupunya yang juga menginginkan warisan milik kakek mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Maafkan Saya
Wisnu
Rasa kesalku pada Annisa, membuatku meninggalkannya kembali. Tapi aku tidak meninggalkan hotel itu, sebab aku sendiri tak tahu ingin ke mana di kota kecil dengan fasilitas tak lengkap seperti Jakarta.
Aku memilih bersantai di cafe dan mencurahkan rasa kesalanku dengan menghubungi Monica kembali. bercengkrama dan mendengar suara Monica jauh membuat hatiku lebih tenang dibanding ada di dekat Annisa.
Waktu sudah hampir mendekati jam lima sore. Aku memilih meninggalkan cafe karena ingin membersihkan tubuh. Saat ingin melangkah ke arah lift, pandanganku menangkap sosok Annisa yang berjalan ke luar dari lift.
Langkahku tertahan, hingga aku memutar tubuh, agar Annisa tidak melihatku. Namun karena penasaran apa yang ingin dilakukan wanita desa itu sampai keluar kamar hotel, akhirnya aku menoleh ke arah Annisa kembali.
"Hati-hati, Nona!"
Mataku menyipit hingga membuat dahiku berlipat. Aku melihat seorang pria memeluk Annisa dari belakang. Aku tak mendengar jelas apa yang dibicarakan Annisa dan pria itu. Yang aku tahu, pria itu mengejar langkah Annisa.
Tanganku secara refleks mengambil ponsel di saku celanaku kemudian merekam Annisa yang sedang berinteraksi dengan pria itu, lalu meninggalkan mereka. Aku sengaja mengabadikan untuk bukti yang bisa aku tunjukkan kepada papa terutama mama, jika wanita yang mereka puja-puja itu tidak selugu penampilannya dan tidak seperti yang orang tuaku bayangkan.
Aku kembali ke kamar dan duduk di sofa tamu. Tanganku kembali membuka ponsel dan melihat foto apa yang aku ambil tadi. Aku harap ini bisa jadi senjata untuk mempermalukan Annisa di depan orang tuaku, dan menyadarkan orang tuaku, jika keputusannya menjodohkan aku dengan Annisa adalah suatu kesalahan besar.
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka. Pasti wanita itu yang datang. Dan saat kulihat dia masuk ke dalam kamar, langsung kulontarkan sindiran pada Annisa.
"Siapa pria tadi? Saya pikir kamu ini wanita lugu, ternyata kamu senang juga didekati pria lain sampai mau-maunya dipeluk pria itu."
Ekor mataku menangkap Annisa yang tersentak kaget. Mungkin dia tidak menyangka jika aku tahu apa yang ia lakukan tadi di lobby hotel.
"Hmmm, Mas sudah kembali ..." Tak menjawab pertanyaanku, dia justru berjalan mendekat dengan tas didekapnya.
Aku tidak tahu apa isi tas itu, dan dari mana tas itu berasal? Mungkin saja dari pria yang bertemu dengan Annisa tadi.
Aku lalu bangkit dan berjalan ke arah Annisa. Aku memangkas jarak dengannya sembari mengendus ke pakaian Annisa, mencari wewangian pria tadi yang mungkin tertinggal di pakaian Annisa, karena pria itu sempat memeluk Annisa dari belakang.
Terlihat Annisa menjauhkan tubuhnya dariku saat aku mendekat.
"Hei, kenapa kau menjauh? Kau jijik melihat saya? Sementara dengan pria itu kau rela tubuhmu dipeluk!?" Merasa tersinggung dengan reaksi Annisa, seketika aku menghardiknya.
"Maaf, Mas. Pria mana yang Mas maksud?" Wajah Annisa terlihat bingung.
Pandai sekali dia berakting. Muak rasanya melihat sikap dia yang sok suci.
"Pria yang di lobby berbicara denganmu tadi," jawabku bernada ketus.
Netra Annisa terbelalak. Mungkin tak mengira aku memergoki kelakuan buruknya.
"Saya tidak kenal orang itu, Mas. Tadi saya turun ke bawah ingin menemui Teh Ratna yang mengantarkan pakaian ini." Annisa menunjuk tas dalam pelukannya. "Saya tadi menabrak dinding kaca dan hampir terjungkal. Kebetulan ada orang itu yang menahan saya agar tidak jatuh."
Annisa memberi penjelasan. Sepertinya penjelasan Annisa memang masuk akal. Sepintas yang sempat terdengar di telingaku, pria itu sepertinya tidak mengenal Annisa. Tapi apa aku perduli itu? Jawabnya tidak! Aku berusaha agar Annisa selalu dianggap salah, dan apa yang dilakukan Annisa harus disalahkan.
Aku kembali membuka galeri, dan menunjukkan foto Annisa bersama pria tadi.
"Kamu lihat ini? Bagaimana kalau saya berikan ini pada papa dan mama? Mereka pasti akan percaya kalau saya katakan jika kau ternyata punya kekasih, dan kamu mengajak kekasihmu itu bertemu di hotel ini?" Aku yakin, Annisa pasti akan takut dengan ancamanku ini.
Dengan mengancam akan melaporkan kelakuannya kepada mama, tentu aku akan mengambil keuntungan dari Annisa.
Annisa mendelik ke arahku. Aku yakin dia tak percaya aku mampu berbuat licik seperti itu.
"Saya tidak melakukan apa yang Mas tuduhkan! Kenapa Mas tega memfitnah saya?"
Aura kemarahan terlihat jelas di wajah Annisa. Aku juga akan bereaksi sama jika ada yang menuduh hal yang sama sekali tidak aku lakukan. Tapi sekali lagi, aku tak perduli apa pun yang terjadi pada Annisa. Bagiku dia adalah pengacau hubungan asmaraku dengan Monica.
"Kalau kamu tidak ingin saya mengadu pada mama dan papa, kamu harus menuruti kata-kata saya. Berikan saham itu kepada saya, saya akan beri penggantian dua puluh miliar sebagai gantinya. Kalau kamu setuju, saya akan hapus foto ini." Aku memberikan penawaran. Tak masalah harus kehilangan uang dua puluh miliar, asalkan lima puluh persen saham Royal Bank kembali padaku.
Namun bukannya menyetujui penawaranku, Annisa justru berlalu meninggalkanku.
"Hei, aku belum selesai bicara denganmu!" Aku tersinggung dengan sikap Annisa yang tak menggubris tawaranku. Padahal untuk wanita desa sepertinya, uang senilai dua puluh miliar pastilah sangat besar jumlahnya.
Kuikuti langkah Annisa. Bahkan kata-kataku yang terakhir pun tak ia hiraukan.
"Saya sedang bicara padamu, Annisa! Apa seperti ini yang diajarkan orang tua kepadamu!?" Kutarik lengan Annisa agar dia berhenti berjalan, hingga di berbalik badan ke arahku.
"Dengarkan baik-baik kalau saya sedang bicara!" ucapku dengan nada kesal.
"Saya sudah bilang sama Mas, kalau Mas memang menginginkan saham itu, bahkan semua mahar yang Mas berikan, termasuk uang dan perhiasan, saya akan berikan, jika itu seijin Mama." Netra Annisa yang mulai tergenang cairan bening berani bersitatap denganku. Sorot matanya seolah menantangku.
Bahkan kini dia berani menepis tanganku yang mencengkram lengannya.
"Saya memang orang desa, tapi saya punya harga diri! Jangan Mas pikir karena Mas orang kota, orang kaya raya, Mas bisa semena-mena pada saya!" Annisa mulai berani melawanku dengan kata-katanya.
"Kalau saya boleh memilih, saya juga tidak ingin menikah dengan orang seperti Mas, yang sama sekali tidak menghargai saya sebagai seorang wanita dan seorang istri!" Air mata Annisa mulai berjatuhan di pipinya.
"Mas benar, saham itu tidak penting bagi saya! Saya juga tidak menginginkan hal itu! Saya hanya ingin saya hidup bahagia, tenang dan benar-benar dicintai sebagai seorang istri. Tidak masalah saya mendapatkan seorang suami seorang buruh tani sekalipun, asalkan dia benar-benar memperlakukan saya dengan baik dan tidak menyakiti saya seperti yang Mas lakukan kepada saya!"
Annisa seketika tersedu, dan terduduk di tepi tempat tidur dengan tangan menutupi wajahnya, sementara tas yang dia katakan dia terima dari Ratna masih berada dalam dekapannya.
Kakiku melangkah mundur dan kini terduduk di sofa santai. Tatapanku masih mengarah pada Annisa yang menangis.
Sejujurnya aku merasa bersalah karena bersikap keras dan berkata kasar padanya. Tapi kebahagiaanku dengan Monica serta sebagian saham yang kini berada dalam genggaman Annisa membuatku berperilaku buruk padanya.
Tidak, aku tidak bisa seperti ini terus. Cara seperti ini tidak akan mempan untuk Annisa. Mungkin aku harus berganti strategi agar Annisa bisa menurut padaku dengan sendirinya.
Mungkin aku harus bersikap baik kepadanya, atau pura-pura mencintainya, agar ia percaya padaku dan akhirnya dia akan menyerahkan saham itu tanpa dia sadari.
Tapi, apa mungkin aku bisa bermesraan dengan Annisa? Aku sama sekali tidak mencintainya, tertarik pun tidak. Maaf saja, dia bukan seleraku. Lagipula, aku tidak mau mengkhianati Monica, walaupun harus berpura-pura. Namun jika aku tidak melakukan itu, aku pasti akan susah mendapatkan hartaku kembali.
Dengan berat hati aku bangkit dan melangkah perlahan mendekati Annisa lalu duduk di sampingnya.
"Nissa, saya minta maaf ..." Dengan rasa canggung tanganku melingkar di pundak Annisa, mencoba bersikap baik terhadapnya. "Saya tahu saya salah. Saya sudah berburuk sangka terhadapmu." Kuusap punggungnya, mencoba meredakan tangis Annisa, seolah aku ingin menunjukkan rasa penyesalanku. Tapi Annisa masih saja terisak dan menutup wajah dengan telapak tangannya.
Aku memilih turun dan duduk berlutut di depan Annisa. Tanganku menggenggam tangan Annisa dan menjauhkan dari wajahnya.
Wajah Annisa terlihat sedih dan kecewa, bisa aku rasakan itu. Tapi, aku sudah bertekad hanya ingin bersandiwara saja.
"Maafkan saya, Nissa. Saya ... saya tahu saya sudah menyakiti hatimu. Saya lakukan itu karena ... karena saya takut kamu mau menikah dengan saya karena saya orang kaya. Saya takut wanita yang saya nikahi hanya tergiur dengan apa yang saya miliki dan akan meninggalkan saya jika saya jatuh miskin nanti." Aku beralasan dan terus menggenggam tangan Annisa, memulai menjalankan sandiwaraku agar Annisa percaya padaku.
"Sekarang saya sadar, saya telah salah menilaimu. Apa kamu mau memaafkan saya, Nissa?" tanyaku dengan nada lembut. "Kita lupakan apa yang sudah terjadi. Kita mulai dengan yang baru. Apa kamu mau memberi kesempatan kepada saya untuk memperbaiki sikap saya yang buruk kepada kamu?" Bahkan kini tanganku membelai wajah Annisa yang lembab karena air mata. Kuusap air mata yang membasahi pipinya.
Kuperhatikan Annisa terkejut melihat sikap manisku padanya. Aku yakin dia tidak menduga sikapku akan berubah sedrastis ini kepadanya. Itu bagus menurutku, aku harus bersikap manis padanya agar dia luluh padaku, dan akhirnya menyerahkan saham itu tanpa aku minta.
*
*
*
Bersambung ....
lanjut kak