Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 21
Pagi Hari.
Cindy perlahan bangun dari tidurnya, ketika merasakan ada benda aneh diatas perutnya. Perlahan matanya memandangi langit-langit kamar kemudian pandangannya turun ke arah perutnya.
“Aakkhhhh!” Cindy berteriak ketika menyadari bahwa benda aneh diatas perutnya itu adalah tangan milik David yang ternyata semalaman David tidur bersama dirinya.
“Paman apa-apaan sih? Kenapa Paman sangat senang melewati batas,” ucap Cindy setengah merengek.
David yang masih mengantuk, hanya diam mendengar omelan Cindy sambil memandangi wajah bantal Cindy yang penuh dengan air liur kering yang menempel di sekitar mulut Cindy.
“Jangan harap Paman bisa melakukan apapun seenaknya, meskipun kita sudah menikah sekalipun,” tegas Cindy sambil berjalan keluar kamar.
David tersenyum puas melihat sikap yang cukup dingin padanya.
“Kita lihat seberapa lama kamu bertahan dengan sikapmu itu, istriku,” gumam David kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya.
Cindy berjalan menuruni anak tangga sambil mulutnya terus mengomel karena tingkah David yang menurutnya sudah melewati batas.
“Ya Tuhan, apa Paman sengaja melakukannya karena ingin balas dendam atas apa yang telah aku lakukan semalam?” tanya Cindy bermonolog setelah mengingat apa yang terjadi semalam.
Gadis muda berusia 21 tahun itu kembali merasa malu, ia lalu berlari mencari kedua orang tuanya yang ternyata sudah pergi.
“Jam berapa ini? Apakah mereka benar-benar pergi bekerja?”
Cindy menoleh ke arah jarum jam di dinding yang ternyata menunjukkan pukul 9 pagi.
“Pantas saja, ternyata sudah jam segini,” ucap Cindy bermonolog.
David rupanya sudah berdiri tepat di belakang Cindy dan tengah memperhatikan istrinya yang diam melamun.
“Masih pagi jangan suka melamun,” celetuk David mengejutkan Cindy.
Cindy berbalik badan dan reflek mencubit lengan David.
“Paman sengaja ya buat Cindy terkejut? Kalau Cindy jantungan bagaimana?” tanya Cindy protes.
“Yang sengaja memangnya siapa? Bukannya kamu yang sengaja menggigit aset kedua ku?” tanya David sambil menyentuh salah satu gunung datar miliknya yang digigit oleh Cindy.
“Paman! Hentikan!” teriak Cindy agar David tak lagi membahas kejadian semalam.
“Baiklah, aku akan berhenti membahasnya. Asal kamu pergi mandi!”
Cindy tanpa pikir panjang berlari menaiki anak tangga untuk segera mandi. Namun, ditengah anak tangga Cindy memperingatkan David untuk tak sembarangan memasuki kamarnya.
“Terserah kamu saja,” balas David yang hendak mandi juga.
Setelah kedua sarapan bersama, David memutuskan untuk kembali ke rumahnya mengajak Cindy. Awalnya Cindy menolak, namun David punya berbagai macam alasan yang membuat Cindy mau tidak mau harus menyetujui ajakan David tersebut.
“Ayah dan Ibu belum pulang, Cindy juga tidak mau pergi dari rumah ini tanpa berpamitan,” tutur Cindy.
“Aku sudah mengirim pesan kepada mereka dan mereka malam ini tidak bisa pulang,” terang David sambil memperlihatkan isi pesan yang ditulis oleh orang tua Cindy.
“Lalu bagaimana? Apakah kita pulang tanpa berpamitan langsung dengan Ayah dan Ibu?” tanya Cindy yang terlihat enggan untuk pulang.
“Kamu sudah menjadi tanggung jawab ku, Cindy. Sekarang kita pulang, aku ada urusan penting di kantor.” David menggandeng erat tangan Cindy dan mengajaknya pulang ke rumah.
Pak Toni yang tak lain kepala pelayan keluarga Wijaya rupanya telah menunggu pengantin baru tersebut.
“Selamat siang Tuan Muda dan Nona Muda,” sapa Pak Toni secara formal.
Keduanya pun masuk ke dalam mobil meninggalkan area kediaman rumah orang tua Cindy.
***
“Akhirnya kalian kembali juga,” ucap Mama Ratih sambil memeluk menantu kesayangannya.
Cindy belum terbiasa dengan Mama Ratih, terlebih lagi kehidupan barunya yang bisa dikatakan naik kelas.
“Mama, aku titip Cindy. Ada beberapa urusan kantor yang harus aku tangani,” ucap David yang nampak serius.
“Apa harus sekarang? Apa tidak bisa kita makan siang bersama terlebih dahulu? Mama sudah capek-capek membuatkan kalian makanan yang lezat,” ujar Mama Ratih yang hampir semua masakan ia kerjakan sendiri, sementara yang menyiapkan bahan-bahannya adalah para pelayan.
Ucapan Mama Ratih pada akhirnya membuat David tak bisa menolak. David pun mengiyakan ajakan tersebut dan menikmati makan siang bersama.
Melihat hidangan yang tersedia diatas meja begitu banyak, membuat Cindy seketika melupakan kekesalannya terhadap David. Ia merasa kalau semua makanan tersebut harus ia habiskan tanpa tersisa sedikitpun.
“Sayang, kamu mau hidangan yang mana?” tanya Mama Ratih kepada Cindy dengan lembut.
“Semuanya!” seru Cindy dengan semangat.
David tertawa lepas melihat bagaimana Cindy begitu semangat mengatakan ingin semuanya.
“David,” ucap Mama Ratih agar David berhenti tertawa.
“Ya maaf, Ma. Cindy terlalu menggemaskan,” celetuk David.
“Maksud Cindy bukan menghabiskan semuanya, Ma. Tapi, mau mencicipi semua masakan yang Mama masak,” terang Cindy dengan sangat manis.
Mendengar keterangan Cindy, Mama Ratih merasa sangat bahagia. Wanita berusia 45 tahun itu merasa beruntung memiliki menantu seperti Cindy.
“Kalau Cindy mau mencicipi semuanya, Mama sama sekali tidak keberatan,” pungkas Mama Ratih santai.
David menahan tawa dan berusaha cuek dengan tingkah istrinya itu.