Binar Ayudhisa Daneswara harus terpisah dengan kekasih nya Kenzie Janardana, sepasang kekasih saling mencintai itu harus menjalani LDR karena Kenzie harus mengambil S2 di luar negeri.
Binar tidak tau jika kepergian Kenzie bersama dengan sahabatnya Mozza yang diam-diam mencintai Kenzie dan selalu merasa tau tentang Kenzie kebiasaannya dan hobbynya.
Di karenakan kesibukan mereka perpisahan yang seharusnya masih bisa membuat hubungan mereka tetap terjalin akhirnya tidak pernah kontak lagi, mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
Malam sebelum mereka berpisah Binar telah menyerahkan miliknya yang berharga ke Kenzie kekasihnya itu.
Bagaimana kisah cinta segitiga Binar-Kenzie-Mozza.. yuk ikuti ceritanya..
Salam,
ariista
🩷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Binar-Kenzie
Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil Richard melirik ke Binar yang hanya diam saja seperti melamun. Richard kembali menatap lurus ke depan fokus menyetir.
"Jika ada sesuatu saya siap mendengarkan Binar jangan di pendam sendiri, ada apa dengan dirimu, kita pergi tadi semua baik-baik saja. Kenapa sekarang kamu kelihatan sedih?"
Binar menoleh ke bos di samping nya, kemudian kembali lurus ke depan.
"Tidak ada apa-apa Pak, saya baik-baik saja hanya mengingat Kenbie di rumah, sedang apa dia, tiba-tiba kangen dengan baby K,"
"Bener begitu bukan masalah yang lain?"
Binar menggeleng, "Saya izin ya Pak, kepala tiba-tiba pusing,"
"Apakah ini ada hubungannya dengan relasi bisnis kita Pak Kenzie?"
Binar kaget sesaat kemudian segera memasang mode normal kembali.
"Jangan sok tau deh Pak,"
"Bagaimana dengan tawaran saya kemarin pindah ke kota A?"
"Baiklah Pak, saya bersedia pindah kapan saja Bapak mau saya segera pindah,"
"Wow, kemarin aja masih mikir-mikir kenapa sekarang berubah?"
"Bapak jadi bawel deh," Binar jadi berani komplen tanpa sungkan ke Richard bosnya.
"Hahaha, iya saya kok jadi bawel ya kalo sama kamu Binar, biasanya saya gak begini juga,"
Binar mencebikkan bibir nya.
Mobil Richard sudah sampai di depan pintu lobby apartemen, Binar keluar dari mobil.
"Terimakasih pak sudah diantar pulang,"
"Sama-sama Binar, jangan lupa kasih tau saya kalo ada apa-apa,"
"Baik Pak," Binar masih berdiri di depan pintu masuk lobby apartemen. Ia menunggu sampai mobil bosnya menjauh.
Binar berjalan ke lift untuk naik ke apartemennya. apartemennya berada di lantai 10.
Sampai di depan unit apartemennya Binar memencet pasword akses masuk ke unitnya. Binar mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Di lihatnya putra tampannya sedang di ajak main dengan baby sitternya, Nini.
"Rewel gak Kenbie Ni?"
"Nggak kok kak," Nini memanggil Binar kakak karena Binar belum menikah dan masih muda.
"Sebentar saya mandi dan ganti baju dulu biar nanti Kenbie bersama saya saja,"
"Iya Kak,"
Binar masuk ke dalam kamarnya, ia segera membersihkan dirinya. 15 menit di dalam kamar mandi Binar keluar, ia segera memakai baju rumahnya.
Binar sudah harum dan bersiap bermain dengan putranya.
Nini kembali ke kamarnya untuk istirahat setelah membereskan botol susu kosong dan juga mainan krincingan yang ada di dekat baby K. Binar masih berada di ruang tengah sedang bermain bersama anaknya saat di dengarnya suara bel berbunyi.
Binar heran tak biasanya ada tamu yang datang, apa Nini memesan makanan delivery. Nini sedang berada di kamarnya Binar tidak ingin mengganggu Nini yang sedang beristirahat.
Binar membuka pintu apartemen tanpa mengintip dari lubang kecil di pintu. Ia membukanya sedikit saja pintu apartemennya. Begitu di lihatnya siapa yang datang Binar ingin menutup pintunya, tetapi di tahan kuat dari luar.
"Jangan paksa aku sayang untuk mendorong pintu dari luar nanti kamu bisa terjepit di belakang pintu, kita harus bicara sayang,"
Binar tak kuasa menahan pintu agar tak terbuka dari dalam, di pinggir pintu Kenzie meletakkan jari-jarinya kalau Binar memaksa pintu ditutup jari-jari Kenzie akan terjepit.
Oek.. oek.. oek..
Terdengar nyaring suara bayi menangis. Binar panik ia membiarkan pintu tidak di tutup dan berlari ke tempat tidur mungil yang ada di ruang tengah, Nini baru saja mau keluar dari kamarnya mau melihat baby K yang menangis.
"Sudah biar saya aja, Ni, kamu ke kamar saja istirahat," ucap Binar ke Nini.
"Baik Kak, gak papa Nini tinggal ke kamar Kak?"
"Iya gak papa, kakak aja yang tidurkan Kenbie,"
Di belakang Binar, Kenzie mematung tatapan matanya tak berkedip.
"Kenbie? Apakah ini bayi kita Binar?" tiba-tiba saja Kenzie sudah di belakang Binar yang sedang menenangkan baby K yang masih saja menangis tantrum.
"Coba sini aku yang gendong, sayang,"
Kenzie mengulurkan tangannya ingin menggendong bayi montok di depannya yang sedang di tenangkan oleh Binar.
Baby K yang belum juga mau diam menangisnya Binar serahkan ke Kenzie. Kenzie menggendong baby K mendekapnya menepuk-nepuk lembut punggung mungil bayi tersebut . Anehnya baby K langsung terdiam dalam dekapan Kenzie.
Binar heran, kenapa bisa begitu, kenapa baby K langsung diam tidak bersuara dan malah tertidur di dalam dekapan ayah kandungnya.
Kenzie memejamkan matanya menghidu aroma bayinya. Airmata Kenzie menetes, entah mengapa ia merasa sangat dekat dengan bayinya ini. Binar yang melihat momen di depannya terharu, airmatanya juga menetes. Binar merasakan dadanya sesak. Kenzienya sudah ada di depn matanya tapi apakah semuanya akan baik-baik saja, mengingat orang tua keduanya bermusuhan.
Kenzie membuka matanya, ia menatap wajah kekasihnya yang tampak sendu.
"Mau di letakkan di kamar atau di kasur itu?" Kenzie menunjuk kasur kecil tempat biasanya Kenbie bermain bersama dirinya dan Nini.
"Di kamar aja ada box nya di kamar,"
Kenzie menggendong tubuh mungil baby nya mengikuti langkah Binar yang berjalan di depannya.
Binar membuka pintu kamar nya, harum floral terhidu di hidung Kenzie, kamar yang nyaman, batin Kenzie.
Kamar berwarna baby peach warna kesukaan Binar, Kenzie tau itu. Ada box bayi di sebelah tempat tidur
Kasur kecil untuk Kenbie ada di samping tempat tidur Binar.
Kenzie meletakkan Kenbie ke dalam box.
Baby K sudah tidur dengan nyenyak.
Binar masih berdiri menatap bayinya yang terlelap dengan tenang. Kenzie juga masih betah menatap bayi tampan tersebut.
"Siapa namanya? Kenapa sayang? Kenapa?" Kenzie masih terus bertanya ke Binar.
"Kenapa kamu tega tidak memberitahukan ke aku, kamu tau aku kayak mana ke kamu, sayang, aku mencintaimu sangat mencintaimu, tapi kamu tega membiarkan bayi kita tanpa ada papanya di sampingnya yang mengantarkan ke rumah sakit selagi masih di perut, saat dirinya di lahirkan, kamu tega sekali sayang," Kenzie menitikkan airmatanya, untung ia berjumpa sekarang saat bayinya masih kecil. Kalau saja bertemunya saat bayinya sudah besar, sungguh penyesalan yang amat dalam di dalam hidupnya.
Binar menangis sesenggukan, airmatanya terus mengalir deras di pipinya. Ia duduk di ujung ranjang. Kenzie menghampirinya berdiri di depan kekasihnya. Memeluk tubuh kekasihnya, kepala Binar berada di perut ratanya. Binar masih sesenggukan.
Pertemuan sepasang kekasih yang mengaharu biru tanpa kata di antara mereka saling mengalirkan getaran-getaran cinta diantara mereka.
"Kamu jahat, Ken, jahat, jahaaat," Binar terus menangis. Kenzie semakin memeluknya erat.
"Maafkan aku, maafkan aku, sayang, apa yang membuat kamu berpikir aku jahat? Aku meninggalkan dirimu? Iya? Apa karena itu?"
"Huuu.. huuu.. tuh kan kamu malah gak tau, kamu pergi dengan cewek lain, kamu jahat, jahaaat, aku benci kamu Ken, kamu yang tega bukan aku," Binar memukul-mukul perut kotak-kotak Kenzie dengan kuat, tentu saja tak terasa sakit oleh Kenzie. Tangan mungil Binar tidak menyakitkan dirinya.
"Hei, liat aku, sayang," Kenzie melepaskan pelukannya mengangkat dagu Binar agar menatap nya, mata mereka bertaut, sinar cinta itu masih bersinar terang, sinyal-sinyal cinta di mata keduanya masih sama.
"Apa yang kamu katakan? Aku pergi dengan cewek lain? Siapa? Kamu lihat di mana?"
"Aku lihat di bandara, kamu dengan cewek," kamu jahat, jahat, Ken, hiks.. hiks.. " Binar terus menangis tak berhenti-henti.
emang murahan sih gituan sebelum nikah.. wajar menderita itu karma..
paling ha suka cerita ceweknya gampangan laki2nya pecundang dan cemen.. gimana bisa bertanggung jawab sama keluarga bertanggung jawab sama keputusan sendiri jg ga bisa.. jd males bacanya
maaf thor