Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Egi
Cecil
"Bantu aku naik!" perintah Leon pada Lisa yang masih bisa aku dengar.
Kakiku rasanya lemas. Sebentar lagi, Leon pasti akan menemukan kami. Bagaimana ini?
Sebuah tangan kekar langsung mengangkat tubuhku dengan mudahnya lalu mengajakku bersembunyi di belakang sebuah pohon besar. Aku menutup mulutku agar tidak bersuara. Dari balik pohon besar aku dilindungi tubuh Egi.
Jarak tubuhku dan Egi begitu dekat. Aku sampai lupa bernafas dan tak bisa konsentrasi. Egi menaruh jari telunjuknya di depan bibirku, menyuruhku diam.
Langkah Leon semakin mendekat. Jantungku semakin kencang berdegup. Apa aku hajar saja Leon dengan kekuatanku? Ya, aku harus menghadapinya. Aku sekarang kuat.
"Siapa?" tanya Leon lagi.
Sebuah langkah kaki terdengar mendekat. "Tak ada siapapun. Mungkin ada buah yang jatuh," kata Lisa.
"Kenapa terdengar kencang sekali? Aku yakin kalau itu bukan sekedar buah yang jatuh." Leon menyalakan senter ponselnya dan mengarahkan ke segala arah.
"Sudahlah, hari sudah hampir pagi. Kamu mau lebih banyak orang lagi yang datang dan kita ketahuan? Untuk apa kamu mencari sesuatu yang tak pasti dan melupakan apa tujuan kita datang ke tempat ini?" kata Lisa dengan kesal.
"Iya, kamu bantu aku juga dong. Jangan diam saja! Memang kamu pikir tidak capek menggali tanah seorang diri?" balas Leon dengan kesal. Terdengar langkah menjauh dan akhirnya aku bisa bernafas lega.
Huft ... hampir saja ketahuan. Untung saja Egi langsung mengangkat tubuhku. Aku menatap tubuh Egi yang masih melindungiku. Aku bisa menghirup aroma parfumnya yang kini menjadi salah satu aroma parfum yang kusukai. Berbeda sekali dengan malam itu yang bau sekali alkohol.
"Ayo kita keluar!" bisik Egi. Ia menarik tanganku dan melihat sekeliling lalu kami berjalan keluar dari hutan kota. Egi mengemudikan motornya dan berhenti di salah satu mini market 24 jam. Ia membelikanku air mineral. "Minumlah!"
Aku dan Egi duduk di trotoar jalan. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Rasanya semua ini bak mimpi.
"Kenapa diam saja?" tanya Egi seraya meneguk banyak-banyak air mineral miliknya.
"Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Kupikir, aku bisa mencegah semua ini terjadi tapi ternyata ... semua tidak ada yang berubah," kataku dengan lemah.
"Begitulah. Memangnya kamu pikir aku tak berusaha mengubah takdirku? Aku juga sudah beberapa kali mencoba merubahnya namun semua gagal."
"Kamu ... juga ingin menyelamatkan nyawa kakek yang tadi ditabrak?"
"Sejujurnya ... ingin. Aku sudah berencana akan sampai duluan di lokasi dan menyuruh anak kecil itu pergi tapi ternyata lokasi kejadiannya berubah. Hanya tempat menguburkan jenazahnya saja yang sama."
Aku menatap lenganku. Tanda di tanganku masih tetap sama, artinya takdirku masih belum berubah. "Kira-kira ... kita akan selamat tidak ya?"
Egi ikut menatap tanda di lenganku. "Entahlah. Selamat atau tidak itu urusan belakangan. Aku hanya berusaha mengisi hidupku dengan hal yang berarti."
"Hal yang berarti? Contohnya apa?" Aku jadi penasaran dengan ucapan Egi.
"Banyak. Besok mau ikut? Aku akan ajak kamu ke tempat spesial."
"Tempat spesial? Dimana?"
"Ada deh. Mumpung besok libur, kita pergi ke sana. Kamu mau ikut tidak?"
Aku menatap wajah Egi seraya mempertimbangkan keputusan apa yang akan aku ambil. Aku penasaran dengan apa yang Egi lakukan untuk membuat hidup keduanya lebih berati. "Iya, aku mau ikut."
"Oke. Besok aku jemput di halte tempat kita bertemu tadi. Sekarang, ayo kita pulang!"
****
Aku tak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aku masih terbayang dengan adegan kecelakaan yang menimpa kakek-kakek yang menyebrang tadi. Apakah keluarganya sedang mencarinya? Apakah mereka tahu kalau orang yang mereka cari ternyata sudah ditabrak dan dikuburkan di tempat yang tak layak?
Memikirkan semua hal yang terjadi membuatku baru tertidur di pagi hari. Aku terbangun karena alarm yang kupasang. Aku harus bersiap karena akan pergi menemui Egi dan menepati janjiku semalam.
"Kamu mau pergi lagi, Cil?" tanya Papa yang sedang membaca berita dari Ipad miliknya.
"Iya, Pa."
"Sama Lisa?" tebak Papa lagi.
"Bukan. Aku pergi dengan temanku yang lain."
"Kenapa tidak pergi dengan Lisa?"
"Kenapa harus dengan Lisa? Teman aku bukan hanya Lisa saja, Pa," balasku. Mendengar nama Lisa rasanya merusak moodku di siang yang cerah ini.
Melihat perubahan sikapku, Papa berusaha memperbaiki kesalahannya. "Oh iya, Papa mau memuji kehebatanmu lagi. Bisnis yang Papa lakukan bersama Pak Anggada ternyata sangat menguntungkan loh. Dalam waktu singkat Papa sudah meraup untung besar. Semua karena kehebatan kamu, Cil!" puji Papa sambil menatapku dengan penuh rasa bangga.
Aku tersenyum tipis. Aku bukan hebat, kebetulan saja waktu itu aku menguping pembicaraan Papa. "Syukurlah kalau Papa untung besar. Ingat ya, Pa, jangan menanamkan modal terlalu lama di PT Anggada. Setelah untung besar, cabut investasi Papa sedikit demi sedikit sampai tak tersisa."
"Tentu, Sayang! Papa akan menuruti nasehat kamu!"
"Aku pergi dulu, Pa!"
"Ingat, jangan pulang malam ya, Nak, besok kamu sekolah!"
Aku pergi meninggalkan rumah menuju halte dekat rumahku. Egi sudah menungguku dan tersenyum melihatku datang. Egi melambaikan tangannya padaku.
Tak ada senyum di wajahku. Untuk apa aku senyum padanya? Aku mau dekat dengannya saja sudah bagus. Semua kenangan buruk dengannya tak bisa kulupa begitu saja.
"Sudah siap?" Egi memakaikan helm untukku.
"Iya." Aku naik ke motornya dan pasrah saja akan dibawa kemana oleh Egi.
Kuakui, Egi dan motor miliknya terlihat lumayan keren. Meski hanya menaiki motor matic saja, Egi tetap terlihat keren. Egi itu ... cowok banget. Terlihat cuek tapi perhatian.
Ya ampun Cecil, kenapa jadi terbuai dengan pesona Egi? Bodo amat Egi mau seperti apa. Sadar, Cil, sadar!
Motor Egi berhenti di sebuah rumah yang sederhana namun terlihat nyaman. Kedatangan Egi disambut oleh beberapa orang yang ada di sana. Rumah apa ini?
"Ayo, kita masuk!"
Aku mengikuti langkah Egi dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah ada banyak orang yang tidur beralaskan kasur yang diletakkan di ruang tamu. Kok ramai sekali, siapa mereka?
"Pasti kamu bingung bukan?" tebak Egi.
Aku menganggukkan kepalaku. "Ini rumah siapa?"
"Rumah Mama. Tempat aku tinggal dulu."
"Lalu siapa mereka?" tanyaku.
"Keluarga pasien."
"Keluarga pasien? Maksudnya?"
Egi menunjuk ibu-ibu yang tertidur pulas di ruang tengah. "Ibu itu anaknya dirawat di rumah sakit sudah sebulan."
Egi kini menunjuk bapak-bapak yang tidur di ruang tamu dengan pulas bersama ibu-ibu yang nampak kurus dan agak pucat. "Kalau bapak itu ... istrinya harus sering kontrol ke rumah sakit sedangkan rumahnya jauh di daerah."
"Jadi rumah ini ...."
"Ya, rumah singgah untuk keluarga dan pasien kanker. Dulu rumah ini kosong dan tak terurus, aku merubahnya menjadi rumah yang bermanfaat untuk orang lain. Kebetulan rumahku dekat sekali dengan rumah sakit yang merawat pasien kanker."
Aku tak percaya mendengarnya. Egi membuat rumah singgah? Mulia sekali hatinya.
"Aku tak bisa menyelamatkan nyawa Mama namun aku bisa membantu meringankan beban sesama penderita kanker seperti Mama. Kalau pun nanti aku tak selamat, setidaknya aku sudah menolong nyawa orang lain."
Deg
Kenapa jantungku berdegup kencang mendengar ucapan Egi?
Kenapa Egi terlihat keren di mataku?
****