Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dan Benci 1
“Maaf kami baru bisa datang, bagaimana kondisi Irene dan kedua kembar?” tanya Collin pada Hendrik dengan begitu khawatir saat memasuki pintu masuk.
“Mereka semua masih tertidur ... ada efek dari obat yang sengaja diberikan dokter. Bagaimana kondisimu Colie? Jauh lebih baik?” tanya Hendrik tersenyum mencoba untuk menenangkan mereka.
“Kandunganku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk fasilitas yang kau berikan saat di rumah sakit kemarin,” balas Colie sedikit menunduk pada Hendrik, tak kuasa berucap syukur.
“Kau bahkan sampai memanggil dokter pribadi kemari untuk memeriksa Irene dan kedua kembar. Hendrik ... tanpamu, aku mungkin tidak harus melaku—”
“Berhenti berbicara dan temui saja mereka. Ada pekerjaan yang harus kulakuan, kalian anggaplah rumah sendiri. Aku pergi dulu sebentar,” Hendrik kembali tersenyum dengan menepuk pundak Collin seraya langsung berlalu pergi dengan begitu terburu-buru.
Panggilan Jacob di pagi hari ini, membuat Hendrik harus datang ke biro investigasi federal (FBI) yang berada di tengah kota Dallas. Bersama Bastian yang sudah mempersiapkan segala hal yang diperlukan, keduanya pun berhadapan langsung dengan ke lima pria bertopeng.
Menatap pada Bastian dengan sinis, terlihat jelas kata hati mereka saat ini yang begitu ingin melesatkan sebuah peluru panas yang dapat membuat Bastian berhenti bernafas. Tentu sebagai pembelot terlebih tangan kanan Mr. JK dari kelompok mafia Luckert, Bastian pun menjadi incaran karena dianggap sebagai ancaman dalam bisnis ilegal mereka.
“Hey, bisakah aku meminta waktu berbicara dengan mereka secara pribadi?” pinta Hendrik pada Jacob yang langsung menutup pintu dan mengamati dari balik kaca yang berada di ruangan sebelah.
“Kau meninggalkan kedua pria kaya itu dengan mereka begitu saja? Mereka berdua bisa terbunuh!” ucap seorang rekan kerja Jacob begitu panik, meminta agar Jacob kembali masuk ke dalam.
“AHAHAHAA ... kau lihat saja sendiri siapa yang akan tumbang,” kebingungan dengan Jacob yang tertawa lepas, membuat rekan kerjanya terdiam dan menatap dari balik kaca tembus pandang dengan begitu serius.
Hendrik berjalan memutari meja dengan melepaskan dasi yang dikenakannya serta melonggarkan kancing jas yang mengikatnya. Tidak menunggu waktu lama, dasi panjang yang dililitkan pada kedua tangannya menjulur lurus dan dengan gerakan cepat berada tepat di lehar dari ketiga pria bertopeng, menariknya begitu kuat, Hendrik begitu melampiaskan emosinya.
(URRGGHH) (DHAAKK) (DHAAKK) (HEEUUGGHH) rintihan dari ketiga pria yang menendang meja beberapa kali karena tidak dapat bernafas.
“Kalian mau kemana? Urusan kalian denganku!” (BHHUKK) (BHUUKK) (DHAANGGG) Bastian memukul dan menendang kedua pria yang tersisa hingga menghentak kaca tembus pandang di mana Jacob dan rekan kerjanya yang sedang mengamati pun sampai bertepuk tangan dengan siulan yang tidak terdengar.
Lilitan Hendrik semakin kuat hingga membuat ketiga pria itu mulai terlihat lemas, dengan kedua tangan mereka yang sudah lagi tidak dapat melakukan perlawanan. Merasa permainan belum dimulai, Hendrik melepaskan lilitannya hanya agar mereka dapat bernafas.
Tak menunggu waktu lama mereka pun terpancing dengan sikap menyebalkan Hendrik, akhirnya melakukan perlawanan yang jelas kalah jumlah jika dibandingkan. Namun belajar dari kejadian masa lalunya, Hendrik yang kini bahkan mengusai dua ilmu bela diri sekaligus, akhirnya dapat membuat mereka terbaring tak berdaya.
(BHUUAAKK) “Berani sekali kalian menyentuhnya?! DIMANA MR.JK!” sentak Hendrik saat menendang salah satu pria, dan mulai memukul pria lainnya.
“Tu-tunggu dulu ... kami tidak menyentuh wanita itu! Sungguh! Kami hanya melakukan perintah dari Mr. JK untuk mengganti pakaiannya,” ucap salah satu pria yang Bastian telungkupkan.
“Benar, ampuni kami ... tidak lama saat kami mengurung kedua anak dari wanita itu, kalian datang dan Mr. JK melarikan diri melalui pintu gudang belakang,” balas pria yang saat ini terbujur lemas, saat Hendrik menganggatnya bagai sebuah boneka.
Hendrik pun melepaskan pria itu kemudian terdiam mendengar pengakuan mereka yang sama sekali tidak menyentuh Irene. Terlepas dari keberadaan Mr. Jk saat ini, sungguh Hendrik tidak mengambil pusing karena itu adalah bagian dari tugas Jacob dan bukan menjadi urusannya.
***
-Apartment Hendrik-
“Ren, kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu? Perlu ku bantu untuk mandi dan bersiap?” tanya Colie begitu sangat khawatir saat Irene terbangun dan mencoba untuk duduk.
“Seperti biasa, aku selalu membuat masalah ... maafkan aku,” balas Irene saat melepas kompres kaki, berniat untuk berjalan menuju kamar mandi dan berganti pakaian.
Beruntung usia kehamilan Colie yang baru menginjak empat bulan sehingga membuatnya masih dapat bergerak bebas. Sungguh bagi Colie sendiri pun merasa tidak nyaman saat melihat luka lebam di tubuh Irene dengan warna yang berubah menjadi ungu kecoklatan bagai luka dalam yang terlihat begitu serius untuk ditangani.
Sengaja memilih pakaian yang lebih tertutup, Irene sengaja menutupi bekas ikatan tali rantai pada pergelangannya hanya agar tidak membuat kedua buah hatinya khawatir dan ketakutan kembali. Berjalan dengan begitu kesulitan, Irene terduduk di ruangan makan dengan posisi pertahanan diri untuk berpura-pura sempurna.
“Mommy, are you okey?” tanya Xavia dengan menyentuh lembut wajah Irene.
“Mommy, apa Mommy merasa sakit?” Xander pun begitu khawatir tak kala menatap pada wajah Irene yang kian pucat pasi.
“Hunny, habiskan sarapanmu dan kita pergi dari sini untuk pulang ke rumah, okey?” pinta Irene dengan tatapan sayu dan tersenyum menahan sakit.
“Why Mommy? Paman bilang kita bisa di sini ... Paman juga sudah me—”
“Xander dengarkan Mommy dan turuti tanpa bertanya kembali,” Irene berucap tegas dengan raut wajah yang langsung dapat membuat kedua kembar terdiam.
Tidak ingin berlama-lama lagi di apartment Hendrik, Irene sudah tidak sanggup menahan beban perasaan terlebih dengan perkataan Hendrik semalam yang terdengar tidak masuk akal, di saat dirinya sendirilah yang meminta Irene untuk menceraikannya.
Tidak ingin terluka untuk kedua kalinya terlebih dengan adanya kedua kembar yang menjadi prioritas Irene saat ini, dalam hati Irene yang membeku, cukup bagi dirinya untuk tidak berharap lebih pada sesuatu yang hanya menjadi impian semu terlebih dapat kembali terbang meninggalkannya.
“Kau yakin? Apa kau tidak ingin menghubunginya terlebih dahulu untuk memberikan kabar?” tanya Collin pada Irene sebelum pergi meninggalkan apartment.
“Kita pulang sekarang Kak, jangan lagi membuatku bimbang,” balas Irene sembari memeluk Xander dan Xavia yang kembali tertidur di pelukannya.
Collin pun melaju menuju rumah dan seperti biasa Nenek Emma langsung menyambut mereka dengan wajah penuh khawatir. Berbohong dengan Irene yang terjatuh saat sedang berliburan, mereka hanya memiliki niat hati untuk tidak membuat Nenek Emma terkejut tak kala baru keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu.
Irene dibantu oleh Collin untuk naik menuju lantai atas karena kakinya masih sangat begitu terasa sakit untuk berpijak. Membaringkan Irene di atas tempat tidurnya, Colie pun datang membawa cemilan atau minuman segar untuk Irene mengisi tenaganya kembali.
Beberapa jam berlalu dan di saat Hendrik pulang menuju apartment kemudian mendapati setiap ruangan tersusun rapi bagai tidak meninggalkan jejak sedikit pun, Hendrik dibuat kesal oleh keputusan Irene yang ternyata tidak memperdulikan perasaannya.
Berkendara menuju kediaman Irene, Hendrik terpaksa terhenti di saat akan memasuki pintu rumahnya. Menatap pada Xander dan Xavia yang berniat untuk bermain ke taman kota ditemani Nenek Emma yang terlihat sudah begitu tua untuk pergi bermain bersama mereka.
“Paman, Paman ... ayoo kita pergi ... please,” pinta Xavia dengan begitu manja.
“Via, kau ini manja sekali! Paman, jarak ke taman tidak jauh kok ... berjalan kaki juga bisa kalau lewat sana,” ucap Xander menunjuk ke arah belokan jalan, dengan rasa harga dirinya yang tinggi (gengsi).
Melihat sikap Xander selalu berhasil membuat Hendrik tersenyum seolah menatap pantulan sifatnya pada sosok mungil begitu menggemaskan. Berjalan menghampiri Nenek Emma, Hendrik pun menawarkan diri untuk pergi bersama mereka dan menghabiskan waktu bersama.
“Maafkan Nak, mereka bosan berada di rumah ... apa permintaan mereka merepotkanmu? Collin dan Colie sedang mengurus restaurant, kaki Irene masih sulit untuk berjalan,” jelas Nenek Emma saat tersenyum pada Hendrik
“Tidak, tentu tidak Nek... silahkan masuk ke dalam mobil,” balas Hendrik seraya membuka pintu bagian belakang dan langsung mengendarai mobilnya kembali.
Mengingat kejadian yang begitu menyedihkan bagi kedua kembar terlebih di hari liburnya, Hendrik mengambil arah jalan berputar dan mengunjungi sebuah cafe khusus anak di mana semua kesempatan dan harapan untuk membuat mereka melupakan kenangan pahit terwujud.
Tidak lagi memperhatikan posisinya sebagai seorang CEO atau miliarder pewaris keluarga Kessler, bagi orang-orang yang menatap Hendrik saat ini tidak lebih dari sosok ayah yang tengah menikmati waktu kebersamaan bersama kedua anaknya dengan canda tawa dan pelukan hangat.
Namun dibalik itu Hendrik melupakan bahwa posisinya yang tidak mungkin luput dari jangkauan media sosial pun tertangkap berbagai rekaman video dan foto yang tersebar dengan tema isi berita yang tidak terduga-duga hingga dapat disalahartikan.
(KRRIING) (KRRIINNGG) Suara handphone Bastian yang berdering.
“Ha-halo Tuan dan Nyonya ... ada hal apa yang pe—”
“Berhenti basa-basi Bass! Katakan di mana anak itu?! Di mana Hendrik!” sentak William begitu marah, dengan Mia yang terdengar ikut menggerutu di belakangnya.
“Tu-tuan Hendrik saat ini sedang tidak ada, dan saya sedang menggantikan beliau menghadiri sebuah acara jamuan dan sedikit rapat dengan para rekan bis—”
“SIAPA ANAK ITU BASS?? SIAPA DUA ANAK YANG SAAT INI TENGAH BERMAIN BERSAMA HENDRIK BAHKAN MEREKA TERLIHAT BEGITU BAHAGIA!!” Mia akhirnya berteriak merasa tak sabar.
“Aa-anak? ...,” Bastian seketika berpikir dan langsung terkejut begitu teringat Xander dan Xavia.
“Bass, apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami? Karena jika benar, jangan harap kami akan tinggal diam!” William memberikan nada tegas ancaman saat menutup panggilan telephonenya.
Bastian langsung menghubungi Hendrik yang tentu saat ini tidak akan menjawab panggilannya karena tengah menghabiskan waktu bersama Xander dan Xavia. Tidak memiliki pilihan lain, Bastian dengan segera pergi dari acara jamuan dan menyusul Hendrik dengan melacak lokasinya dari sebuah aplikasi yang terhubung satu sama lain pada handphone mereka.
“Hendrik!” sentak Bastian begitu sampai di arena bermain anak.
Hendrik menghentikan waktunya sedetik dan tertegun mencoba membaca raut wajah Bastian saat ini. Tersadar akan keadaan darurat, Hendrik terpaksa berhenti bermain dan menghampiri Bastian seraya memperlihatkan beberapa foto dan juga rekaman video yang sudah tersebar di media sosial.
“Anak haram yang tidak diinginkan dari wanita simpanan? Apa maksud dari judul berita ini?!” tanya Hendrik pada Bastian yang langsung tersadar akan kemungkinan terburuk lainnya.
“Maaf, aku terlalu sibuk menghadiri jamuan acara jamuan dan tidak melihat berita yang tersebar. Aku sudah menghubungi kuasa hukum namun berita benar-benar sudah tersebar luas,” penjelasan terakhir Bastian yang membuat Hendrik dilanda bingung dan cemas.
Menatap pada kedua buah hati yang polos penuh bahagia, apakah kehadiran ini justru mendatangkan luka lainnya bagi mereka? Di saat penguasa datang dengan berbagai masalah yang akan ditimbulkan, bisakah memberi kesempatan untuk melindungimu?