Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 21: Air Kembang Beracun
Ini adalah hari yang lebih sakral bagi Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan Ratu Ani Saraswani. Mereka menikah.
Sejumlah rangkaian prosesi sakral dilakukan oleh kedua pengantin. Uniknya budaya di Kerajaan Pasir Langit, kedua pengantin diresmikan dulu sebagai pasangan suami istri, barulah kemudian acara siraman akan dilakukan.
Nanti, setelah siraman, barulah acara sungkeman dan permintaan restu kepada orangtua pengantin.
Lagi-lagi pengesahan pengantin sebagai suami istri dilakukan oleh Dukun Tahta, bukan penghulu atau dukun beranak. Pengesahan itu dilakukan di depan semua pejabat pusat hingga daerah. Para adipati hadir beserta stafnya.
Setelah kedua pengantin dipercikkan tiga kali air suci pada wajahnya, maka sah sudah Ratu Ani Saraswani sebagai istri Prabu Dira. Mulai saat itu juga, Prabu Dira halal menggarap Ratu Ani sesuka hati. Namun, tentu bukan di situ, bukan di depan orang banyak. Tentunya di malam pertama nanti malam.
Setelah itu, prosesi siraman sepuluh kembang. Jangan ditanya kembang apa saja!
Dalam prosesi itu, kedua pengantin harus menanggalkan pakaiannya, tentunya tidak buto. Prabu Dira harus
bertelanjang dada dan kaki, memperlihatkan raga perkasanya yang bersih tanpa cacat ataupun tato. Ratu Ani harus bertelanjang bahu dan kaki, memperlihatkan kejelitaan yang sangat menggoda. Mahkota dan segala perhiasan di kepala wajib dilepas.
Mau tidak mau, Prabu Dira harus melepas rompi pusakanya, yang kini dikenakan oleh Riskaya.
Uniknya ketika penyiraman, sang istri harus duduk di pangkuan suami, seperti tamu yang tidak kebagian kursi.
Ada dua dayang yang datang membawa baskom kayu berisi air penuh dengan bunga warna-warni karena terdiri dari sepuluh jenis bunga. Ada pula gayung dari cangkang kerang. Maklum, negeri pesisir.
Ratu Ani Saraswani sudah duduk di pangkuan suaminya, membuatnya tersenyum malu, karena disaksikan oleh ratusan pasang mata.
Dukun Tahta merapalkan mantera sambil tangannya meraih gayung cangkang yang memiliki kayu pegangan. Sambil terus membaca mantera dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Prabu Dira dan Ratu Ani, tangannya mengaduk-aduk air di dalam baskom kayu. Mungkin agar bunga-bunganya larut menjadi satu.
Prabu Dira yang sedang bahagia karena sudah memiliki seorang istri yang jauh lebih muda dibandingkan semua istrinya, tiba-tiba terkesiap. Di antara aroma berbagai kembang yang tercium oleh hidungnya, dia mencium satu aroma yang asing. Baunya justru seperti bumbu masakan.
Dukun Tahta mulai mengangkat cidukan pertama untuk disiramkan ke atas kepala Ratu Ani Saraswani.
Semua mata tertuju kepada prosesi tersebut. Pandangan Prabu Galang dan Permaisuri Titir Priya bahkan tidak berkedip.
“Tahan, Dukun Tahta!” seru Prabu Dira pelan, tapi hampir semua orang mendengarnya.
Itu tidak membuat orang-orang terkejut dan juga tidak membuat Dukun Tahta curiga, kecuali beberapa orang tertentu.
Dukun Tahta menyangka ada sedikit kendala yang dirasakan oleh Prabu Dira. Mungkin duduk sang ratu di pangkuan suaminya kurang pas dan mantap.
Dukun Tahta mengembalikan gayung ke dalam baskom.
“Ada apa, Kakang Prabu?” tanya Ratu Ani sembari menengok dan melirik wajah tampan berbibir merah suaminya.
“Air itu beracun,” jawab Prabu Dira lirih, tetapi terdengar pula oleh Dukun Tahta.
“Hah!” kejut Ratu Ani dan Dukun Tahta.
Ratu Ani langsung bangun dari pangkuan suaminya dengan wajah marah. Sangat jelas dia terlihat marah. Sementara Dukun Tahta langsung mundur selangkah menjauhi baskom kayu.
Keterkejutan Ratu Ani dan Dukun Tahta jelas membuat hampir semua hadirin heran. Mereka langsung menerka bahwa telah terjadi sesuatu.
Prabu Dira pun segera bangun berdiri.
“Biar aku yang bicara, Ratuku,” kata Prabu Dira sebelum istrinya mengungkapkan kemarahannya.
Akhirnya Ratu Ani mengurungkan niatnya yang ingin berteriak marah karena dia langsung menyimpulkan ada musuh di dalam selimut Istana.
“Kepada seluruh pejabat dan tamu undangan yang hadir di Aula Tahta ini, aku harap bisa menganggap tidak sedang terjadi sesuatu apa pun dan menikmati pesta pernikahan selama tiga hari ini dengan gembira. Biarkan para prajurit dan pendekar keamanan bekerja melaksanakan tugasnya!” seru Prabu Dira agak keras sehingga suaranya terdengar ke telinga semua orang, kecuali telinga milik Swara Sesat.
Mendengar itu, maka kasak kusuklah para hadirin kepada sesama rekan yang mereka kenal. Namun, itu menciptakan suasana yang ramai oleh suara yang tidak tertib.
“Panglima Bidar Bintang! Ketua Delik Rangka!” panggil Prabu Dira.
“Hamba, Gusti Prabu!” sahut Panglima Bidar Bintang dari tempat berdirinya masing-masing.
“Air kembang siraman mengandung racun!” kata Prabu Dira mengumumkan.
Semakin terkejut dan riuhlah suasana pernikahan itu. Namun, orang-orang tetap berada di tempatnya. Yang paling terkejut adalah para dayang yang terlibat karena mereka sadar apa yang akan menimpa mereka dalam beberapa tarikan napas ke depannya.
Terlihat Prabu Galang ikut terkejut. Reaksi wajahnya tertangkap oleh pandangan Prabu Dira dan Ratu Ani. Namun, berbeda dengan reaksi Permaisuri Titir Priya. Dia terlihat tidak begitu terkejut.
“Tangkap semua orang yang terlibat menyiapkan air kembang siraman ini sampai orang yang pertama menyediakan kembangnya!” perintah Prabu Dira tegas.
“Baik, Gusti Prabu!” sahut Panglima Bidar Bintang dan Delik Rangka selaku Ketua Pasukan Hantu Sanggana.
Kedua pemimpin pasukan itu segera memerintahkan bawahannya untuk menggerakkan sejumlah prajuritnya.
“Ampuni kami, Gusti Prabu, Gusti Ratu! Bukan kami pelakunya! Jangan hukum kami!” teriak beberapa dayang yang bersentuhan dengan penyiapan air kembang. Mereka menangis sambil bersujud ketakutan di tempatnya.
Semua orang jadi memandang kepada para dayang itu.
“Yang tidak bersalah akan selamat, tapi yang bersalah akan tamat!” seru Prabu Dira menunjukkan kemarahannya yang tetap tenang.
Para prajurit anak buah Panglima Bidar segera mendatangi para dayang itu dan mencekal mereka.
“Ampun, Gusti Prabu! Ampun, Gusti Ratu! Bukan kami pelakunya. Kami tidak bersalah!” Para dayang itu masih saja menjerit dan mengiba.
Namun, Prabu Dira dan Ratu Ani bergeming. Mereka membiarkan para prajurit meringkus orang-orang yang terlibat dalam pembuatan air kembang.
“Karena ada upaya pembunuhan terhadap aku dan Gusti Prabu, maka aku putuskan sebagai ratu, ritual siraman ditiadakan. Acara akan langsung kepada permintaan restu kepada Gusti Prabu Ayahanda dan Gusti Permaisuri Ibunda!” seru Ratu Ani.
Suasana kembali menjadi khidmat, meski sudah tidak sehening sebelumnya. Sejak tahu ada upaya untuk mencelakakan Prabu Dira dan Ratu Ani, sebagian pejabat selalu berbisik-bisik dalam obrolannya.
“Lanjutkan ritualnya, Dukun!” perintah Ratu Ani kepada Dukun Tahta.
“Baik, Gusti,” ucap Dukun Tahta. “Silakan kedua Gusti menghadap kepada Gusti Prabu dan Gusti Permaisuri.
Maka, Prabu Dira dan Ratu Ani pergi mendatangi Prabu Galang dan Permaisuri Titir Priya.
Ketika Ratu Ani meminta restu kedua orangtuanya, dia mendapat restu dan wejangan selayaknya wejangan orangtua kepada putra-putrinya yang menikah pada umumnya. Tidak ada pesan-pesan yang aneh.
Namun, berbeda dengan yang diterima oleh Prabu Dira.
“Semoga aku salah menilaimu, Prabu Dira. Aku merestuimu menjadi suami putriku. Namun, aku tetap menaruh curiga kepadamu. Kau terlalu baik sebagai seorang raja yang digdaya. Aku akan melakukan sesuatu jika sesuatu yang buruk terjadi kepada putriku,” ujar Prabu Galang dengan nada yang lirih kepada Prabu Dira yang bersimpuh menunduk di depan kedua kakinya.
“Aku akan menjaga Ratu Ani sebaik aku menjaga semua keluargaku, Prabu,” jawab Prabu Dira.
Permaisuri Titir Priya juga memberikan pesan ancaman kepada menantunya.
“Prabu, cepat atau lambat kau akan tahu siapa yang menaruh racun di dalam air kembang itu. Namun aku ingatkan, akan selalu ada orang yang menginginkan nyawamu dan nyawa istrimu. Jadi waspadalah dan jangan sampai maut itu datang di saat kau tidak ada di Istana ini,” kata Permaisuri Titir Priya. “Aku restui putriku menjadi milikmu.”
“Terima kasih atas peringatan yang Ibu Permaisuri berikan,” ucap Prabu Dira. (RH)