Vin yang terlahir dari sebuah keluarga sederhana, terpaksa pindah ke International High School atas pindah seorang pria yang baru saja ia kenali.
Di sana, ia kembali bertemu dengan Yura, seorang gadis berandal yang sering bertengkar dengannya.
Siapa sebenarnya pria yang membiayai Vin bersekolah di sana? dan apa tujuan pria itu melakukan semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BellaBiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 Bantu Gue, Jong
Vin tak tahu harus melakukan apa. Tak mungkin ia memeluk Yura agar gadis itu berhenti menangis. Tak mungkin pula ia mengeluarkan kata-kata bijak, karena ia juga sedang berada di dalam keluarga yang tidak baik-baik saja.
Yang hanya bisa Vin lakukan hanya mengusap kepala Yura. Tapi gadis itu malah menepis tangan Vin dan mengusap air matanya sendiri.
"Sekarang lo udah lihat gue nangis! Lo boleh ngejekin gue! Terserah lo mau ngapain! Lo juga udah tahu masalah gue!" tegas Yura.
"Gue nggak sejahat itu, Ra," balas Vin. "Gue juga punya masalah. Gue juga punya aib, ya meski udah kebuka dan semua orang tahu. Gue juga tahu rasanya diejekin soal keluarga itu gimana. Nggak mungkin gue lakuin ke lo!" bantah Vin.
"Tapi lo ngejekin gue durhaka!" Yura ikut membantah.
"Ya, gue cuma bercanda. 'kan gue juga nggak tahu soal keluarga lo! Gue cuma mikir, lo sering bikin masalah di sekolah," jelas Vin.
Yura kembali bersandar ke rak buku.
"Sekarang lo mau ngapain?" tanya Vin.
"Ya jaga Gibi!" jawab Yura.
"Ngapain lo jaga Gibi? Bokap gue mana?" tanya Vin lagi.
"Om Feno sama Tante Nurul lagi di rumahnya Meta. Gibi mau digedein. Jadi, karena gue nganggur di rumah, gue disuruh Om Regi buat jaga toko," jawab Yura.
"Terus lo malah mau bunuh diri?" Vin mulai mengejeknya lagi.
"Ya, mumpung sepi!" balas Yura.
Setelah kejadian itu, Vin memutuskan untuk menemani Yura menjaga Gibi. Di sana mereka berbagi rahasia. Vin juga menceritakan tentang Rafa kepada Yura dan meminta gadis itu untuk merahasiakan sosok ayahnya itu dari teman-teman sekolah mereka. Karena, Kim Tae Young pasti akan memanfaatkan hal itu untuk kembali mengejeknya. Terlebih lagi Vin belum mengetahui siapa orang yang menerornya di sekolah dan asrama.
***
Malam itu saat Vin hendak pulang dari toko buku Gibi, ia kembali mendapati sosok Rafa di depan rumahnya. Mobil hitam terparkir bersama beberapa penjaga bertubuh kekar.
Rafa menyadari keberadaan anaknya itu dan langsung menghampiri. "Vin," ucapnya.
"Mau apa lagi? Saya sudah bersekolah di Presidential Internasional High School. Saya pulang karena besok hari Minggu," balas Vin.
"Vin, justru karena besok hari Minggu, 'kan kamu nggak sekolah. Ayah mau ngajak kamu nginep di rumah," ajak Rafa.
Tak hanya Vin, Rafa pun merasa aneh dengan sebutan Ayah tersebut.
"Nggak, saya mau di sini," ucap Vin membuat kecewa perasaan Rafa.
"Tapi, di sana kamu bisa dapat semua, apa pun yang kamu mau." Rafa mencoba meyakinkan.
"Semua? Kenapa saya harus mendapatkannya?" tanya Vin.
"Karena kamu putra tunggal GG Group," jawab Rafa.
"Mohon maaf, Om. Saya mau di rumah ini karena saya nggak mau menyakiti perasaan Papa saya. Dia yang membesarkan saya dan Mama. Hal ini pasti akan menyakiti perasaannya," ucap Vin dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Rafa hanya menatap kepergian anaknya tersebut. Memang sebuah kesalahan untuk meninggalkan Nurul dan Vin di waktu itu. Tapi, apa dia tak pantas untuk memperbaiki semuanya?
"Apa perlu kami bawa paksa, Tuan?" tanya penjaga Rafa.
"Jangan! Dia akan membenciku," jawab Rafa dan memilih untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan, Rafa hanya melamun. Tak bisa diterima oleh hatinya jika Vin sebegitu mencintai Feno yang notabenenya hanya ayah tiri.
***
Vin melihat Feno yang bangun di pagi hari. Jarum jam baru menunjukkan ke angka 6 tapi Feno sudah disibukkan akan pekerjaan rumah seperti memperbaiki atap rumah yang bocor, mengganti kaca jendela yang pecah dikarenakan terkena bola yang dimainkan oleh beberapa anak kecil di halaman rumah mereka. Nurul juga sudah sibuk mencuci baju yang masih dilakukan dengan manual menggunakan sikat.
Vin menghampiri Feno dan membantunya untuk mengganti kaca jendela.
"Biar Papa aja, Vin. Nanti kamu luka. Ini tajam," ucap Feno.
Vin memilih untuk mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumah mereka hingga bersih. Tak ada satu daun maupun sampah di sana.
santai
ringan
lucu
gregetan sm vin dan yura