Kisah perjuangan sebuah keluarga, dimana sang ibu divonis menderita Leukimia stadium menengah.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!! Aku tahu aku bisa menyelamatkan mamahku!! Aku sudah membaca banyak buku!! Lihat dokter!!! Semua yang tertulis disini semua benar kan!!"
Ucap Suni sangat emosional sambil menunjukkan kliping yang ia buat. Dokter Sam membuka lembar demi lembar, semua tentang Leukimia yang diderita Sia, ibunya.
Hancur perasaan dokter Sam. Gadis sebelia ini, begitu sangat bertekad membawa mamahnya kembali pulang. Rasa takut dan manja benar-benar tak tergambar sama sekali di wajah Suni. Sebagai seorang dokter , baru kali ini ia bertemu dengan anak yang memiliki keberanian setulus ini.
(cut dr chapter 20)
Mampukah keluarga ini bertahan sampai akhir? mampukah Suni, si gadis sulung berusia 10 tahun ini mampu menjadi pendonor untuk ibunya?
selamat membaca...😁
karya hanya berdasarkan imajinasi author.
mohon maaf jika ada banyak kesalahan.🙏🙏😁
Salam Author Yoshua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lost Way ---21
Kondisi Sia kali ini benar-benar sangat memburuk. Semua keluarga menjadi panik. Syok dengan ucapan malaikat kecil mereka belum tertangani baik, ditambah dengan kondisi Sia yang tiba-tiba menurun drastis.
Sia kembali dibawa masuk ke ruang ICU, perlengkapan medis yang bermacam bentuk terpasang sebagai penunjang hidup Sia kali ini. pemeriksaan demi pemeriksaan berlanjut menyita waktu dan perhatian semua pihak.
Suni berlari ke ruangan dokter Sam, derai air mata tak henti membasahi pipinya yang gembul. Sean mengikuti Suni berlari mengejar sang kakak.
"Kakak!!! Tunggu!! Aku ikut, kakak mau kemana?" teriak Sean.
Kaki kecil Sean tak mampu mengejar sang kakak, karena berteriak dan tak memperhatikan jalan, Sean jatuh terjerembab. Menyadari adiknya terjatuh, Suni berbalik mendekati sang adik.
"Sean,,," Suni membantu adiknya bangun,lalu memberikan pelukan hangat agar sang adik tenang.
Dua orang dewasa, yaitu Bu Samsi dan Suci kembali melihat adegan romantis memilukan dua bersaudara dengan usia yang masih sangat belia, namun dipaksa harus menjadi dewasa karena situasi. Bu Samsi jongkok mendekati dua anak itu, begitu pula Suci.
"Sean, kakak harus melakukan sesuatu agar mamah bisa cepet pulang, Sean ikut nenek sama Tante ya." ucap Suni sambil terus memeluk adiknya.
"Nggak mau!! Aku juga mau membantu mamah, Sean juga kangen mamah. Huaaaaaaa,,,,," tangis Sean semakin pecah.
"Cup,,, cup,,, cup,,, Sean,,,, mamah sudah menunggu kita, baiklah, Sean boleh ikut kakak." Kalimat menenangkan dari Suni sanggup membuat tangis Sean mereda. "Nenek dan Tante suci aku harus mencari dokter Sam."
"Baiklah, biar nenek temani." ucap Bu Samsi meneguhkan diri dengan ketegaran Suni.
Suni menggandeng adiknya, berjalan beriringan menuju ke ruangan dokter Sam. Dibelakangnya Bu Samsi menjaga dua bocah itu, sedangkan suci kembali pada Sundan.
"Dokter Sam, kapan aku bisa melakukannya?" ujar Suni.
"Suni, kita lakukan pemeriksaan padamu dulu ya, lalu kita tunggu mamah Sia kembali stabil. Baru anti bisa kita putuskan harus bagaimana." ucap dokter Sam menahan pilu.
"Memangnya apa yang akan kakak lakukan?" sahut Sean. "Kenapa kakak juga diperiksa? Kaka juga sakit? Aku yakin kakak pasti sakit, Kaka sekarang tiba-tiba gendut." Sean mundur beberapa langkah, lalu terisak kembali.
"Sean,,," ucap Bu Samsi memeluk tubuh mungil Sean.
"Aku tahu kenapa mamah semakin kurus!! Kakak yang mengambilnya!! Kaka jahat!! Kakak yang membuat mamah semakin kurus!! Karena kakak semakin gendut!! Aku benci kakak!!"
Sulit untuk menjelaskan situasi yang terjadi pada anak sekecil Sean, Suni mendekat berusaha menenangkan adiknya. Namun kali ini Sean dengan tegas menolaknya.
"Aku benci kakak!! Aku nggak percaya lagi sama kakak!!!"
Runtuh sudah pertahanan ketegaran Bu Samsi. Melihat betapa emosionalnya kedua cucu kesayangannya yang mungkin mulai merasa lelah dengan keadaan yang memaksa mereka harus terpisah jauh dari orang tuanya dalam waktu lama.
Kesalahpahaman yang tercipta diantara dua bersaudara dengan usia yang keduanya masih sangat belia, menusuk, mengiris dan membelah kekuatan Bu Samsi. Membakarnya habis dan hanya menyisakan pedih yang sulit untuk terpecahkan.
Bagaimana harus menjelaskan tentang situasi rumit ini pada anak usia 5 tahun.
Suni masih duduk bersimpuh di lantai, di ruangan dokter Sam, Sean masih terisak di pelukan Bu Samsi. Dokter Sam beranjak meraih Suni.
"Suni, biarkan Sean tenang dulu dengan nenek. Berikan waktu untuk Sean nanti bisa perlahan-lahan akan paham. Jika Suni sudah siap, kita mulai general check up ya?"
Suni mengangguk mengikuti arahan dokter Sam dan menerima beberapa kaplet racikan vitamin sebagai booster untuk menjaga kestabilan imun Suni.
"Sean, Kakak akan melihat mamah. Sean mau bareng kakak?"
...****************...
To be continue...
Novel yg penuh perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan.