Karena insiden kecelakaan, Soraya menjadi anak yatim piatu saat masih berumur 10 tahun. Damar rekan bisnis orangtuanya muncul untuk mengadopsi Soraya saat anggota keluarga yang lain tidak menginginkan Soraya.
Lama tinggal seatap dan terbiasa diperlakukan istimewa oleh Damar membuat Soraya lama kelamaan jatuh hati pada Ayah angkatnya itu. Sayangnya, Damar telah dijodohkan dengan wanita lain oleh Kakek Budi. Bagaimanakah kelanjutan hubungan Soraya dan Damar? Akankah dia berhasil meraih hati Damar dan mengalahkan saingan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
🍁🍁🍁
Novi terus dihantui rasa bersalah pada Soraya, dia yang menyebarkan berita miring itu tapi dia juga yang tidak kuat membaca komen negatif dan serangan para heater pada Soraya.
"Apa wanita itu baik baik saja? Kalau aku jadi dia pasti sudah gila atau mati bunuh diri," gumam Novi lirih.
Suasa Cafe JJS siang itu lumayan ramai, tapi hati Novi terasa hampa dan sepi. Mungkin karena kelakuan buruk yang sering dia lakukan pada orang lain, membuat Novi tidak memiliki teman dekat selain Soraya.
Bimo masuk menyodorkan satu gelas es lemon kehadapan Novi, dia memperhatikan raut wajah gadis itu yang dihantui oleh kegelisahan dan tak menentu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Bimo.
"Aku sedang memikirkan Soraya, aku ingin bertemu dengannya. Kira kira dimana dia tinggal sekarang ya?" Ucap Soraya.
"Aku bisa mengantarmu kesana, kapan kamu libur kerja?" Tanya Bimo lagi.
"Besok,"
"Kita berangkat besok pagi, aku akan menjemputmu dikontrakan. Tapi ngomong ngomong, kenapa kamu tiba tiba ingin bertemu dengan Soraya?" Bimo penasaran. Tidak biasanya dia rindu pada orang lain selain kedua orangtuanya.
"Ada hal yang mau aku bicarakan dengannya,"
"Soal apa?"
"Soal berita tentang dia yang sempat Viral di sosial media, sebenarnya aku yang menyebarkan berita itu," Novi menjawab dengan jujur dan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Apa? Tega sekali kamu pada teman kita sendiri!"
"Aku khilaf, aku termakan ego dan rasa iri mendalam di hati. Aku menyesal, aku ingin minta maaf padanya,"
"Sebaiknya kamu benar benar menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghukum kamu sampai kamu merasakan jera." Ancam Bimo.
Novi tau betul kalau Bimo tidak pernah main main dengan kata katanya. Sepertinya Novi harus berhati hati lagi dalam bertindak, jangan sampai dia kembali menyenggol Soraya dan jadi memiliki urusan dengan Bimo.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Baik pada Soraya, ataupun temanku yang lain." Janji Novi.
🍁🍁🍁
Bimo dan Novi datang ke kedai bakso Soraya, mereka berdua membawa banyak oleh oleh untuk teman baik mereka itu. Soraya nampak senang dikunjungi oleh Bimo dan Novi, terlebih mereka bertiga sudah lama tidak bertemu.
"Bagaimana kabarmu Soraya?" Tanya Novi sambil melepas pelukannya pada Soraya.
"Kabarku baik, bagaimana kabar kalian?" Tanya Soraya balik.
"Kabar kami baik," sahut Bimo.
"Kita naik ke lantai atas saja, biar lebih enak ngobrolnya." Ajak Soraya.
Ketiganya naik ke lantai atas, Soraya menyuguhi teman temannya dengan minuman dingin dan makanan ringan. Mereka berbincang tentang keseharian dan aktifitas masing masing, hingga akhirnya Bimo mulai membuka pembicaraan tentang berita viral Soraya.
"Raya, ada yang mau Novi bicarakan denganmu," ucap Bimo.
"Kalau mau bicara ya bicara saja, kenapa wajah kalian berubah serius seperti itu?" Soraya terlihat bingung.
"Begini, sebenarnya yang menulis berita tentang kamu di sosial media itu aku. Aku menyesal telah membuat nama baikmu jelek dan menjadi bahan bulian orang banyak," tutur Novi penuh keberanian.
Soraya terdiam sejenak, dia memang merasa sakit hati setelah mengetahui kenyataan itu. Mengingat hubungan pertemanan antara keduanya cukup erat dan tidak pernah terjadi konflik satu sama lain. Tapi Novi sudah meminta maaf padanya, dia tidak boleh mendendam dan menjadi manusia sombong dengan tidak memberi maaf padanya.
"Sudah lah, tidak apa apa. Lagi pula tidak ada manusia sempurna di dunia ini, dan berita yang kamu buat memang benar adanya," ujar Soraya.
"Raya, tinggalkan pria yang tidak bertanggung jawab seperti Om Damar. Asal kamu mau membuka hatimu untuk orang baru, aku mau menerima kamu apa adanya. Tanpa melihat masa lalu mu dengan ayah angkat mu itu," sambung Bimo.
Soraya mengukir senyum, dia sangat tersanjung mendengar kata kata manis Bimo. Tapi pria itu terlihat tulus, seperti tidak ada udang dibalik batu. Sayang, hati Soraya sudah dicuri dan dikuasai oleh Damar sepenuhnya.
"Bagaimana Soraya? Apa kamu mau menerimaku?" Tanya Damar.
"Maafkan aku Bimo, untuk saat ini aku belum berani membuka hati untuk orang baru," tolak Soraya secara halus.
"Kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu siap," ucap Bimo sedikit memaksa.
"Ngomong ngomong, kamu mau memaafkan aku kan Soraya?" Tanya Novi mengalihkan topik pembicaraan.
"Tentu saja aku mau, kita kan teman. Jangan bahas masalah ini lagi ya, yang lalu biarlah berlalu." Sahut Soraya.
Novi mengukir senyum, dia mengelus dada karena perasaanya terasa lega. Dia tidak memiliki beban pikiran lagi, karena masalahnya dengan Soraya telah selesai.
Sejak tadi, Damar mencoba menghubungi nomor Soraya. Tapi gadis pujaan hatinya itu tidak mau mengangkat telfon darinya. Mungkinkah dia sedang sibuk? Atau mungkin dia sedang menjauhi Damar?
Damar sudah sangat ingin keluar dari rumah sakit, dia ingin pergi menemui Soraya di kota sebelah. Dia tidak rela jika Soraya menjauhinya, atau bahkan mencoba meninggalkannya untuk kedua kalinya.
"Bos, makan dulu," ucap Farel.
"Tidak mau, aku sudah kenyang," sahut Damar.
"Bagaimana bisa anda kenyang? Sejak tadi anda belum makan apapun," oceh Farel.
Budi masuk kedalam ruangan itu, dia mendengar ocehan Farel dan ikut kesal karena sikap Damar yang tidak mempedulikan perhatian orang lain.
"Biarkan saja dia tidak makan, dia sudah besar bukan bayi lagi. Dia tidak akan mati hanya karena mogok makan beberapa hari, apa lagi ada selang infus terpasang di tubuhnya." Seloroh Budi asal.
Bersambung...