Elina san Rafa besar di panti asuhan yang sama. Suatu hari mereka berpisah karena Elina diadopsi oleh sebuah keluarga kaya yang menginginkan anak perempuan dalam keluarganya.
Lima belas tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam kondisi yang sudah amat berbeda. Rafa lah yang paham jika itu Elina dan kemudian memberinya cinta yang Elina butuhkan selama ini dengan kesederhanaan yang dimiliki.
Namun bukan itu masalahnya. Ternyata Rafa sudah bergabung dengan sekelompok mafia dengan tugasnya sebagai seorang pembunuh bayaran. Bahkan Rafa adalah yang terbaik disana.
Hingga suatu hari kenyataan pahit menghampiri keduanya, bahwa target terbesar Rafa adalah keluarga yang membesarkan Elina selama ini.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Bertahan dan Rafa berhenti dari dunia Mafia, atau Elina mengkhianati keluarga yang sudah membesarkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elina dan Rafa 21
Elina mengetuk pintu rumah sederhana itu dengan pelan. Ia memanggil R beberapa kali bahkan menelponnya untuk memastikan pria itu memang masih ada dirumah pagi ini.
"Ya, El?"
"Mas, El ada didepan sekarang."
"Ada perlu apa kemari pagi-pagi sekali?" tanya datar Rafa saat itu. Yang tanpa sepengetahuan Elina, Ia berjalan untuk membukakan pintu untuknya. Padahal Elina sendiri sudah nyaris menyerah dengan harapannya saat ini.
"Mas R?" Elina tersenyum bahagia melihatnya saat itu. Jika bisa, ia ingin sekali memeluk Rnya dengan begitu erat.
"Kau tak kuliah?" tanya Rafa yang masih sipit matanya.
Entah jam berapa ia tidur sepulang dari rumah ayahnya semalam, bahkan ia masih tak bisa memejamkan mata ketika di rumah. Lagi-lagi Elina alasannya.
"El ngga boleh masuk? El ganggu ya?" sedihnya saat itu yang tertunduk lesu. Ia lantas menceritakan alasannya datang kesana yang hanya karena digoda oleh seorang dosen mesuum saat itu.
"El ngga suka, El ngga mau ikut pelajaran dia," ucapnya.
Rafa menatap fokus pada titik wajah El saat itu untuk melihat kejujurannya, kemudian ia membuka pintu itu cukup lebar pertanda jika ia mempersilahkan untuk El masuk kedalam sana.
Namun, kondisi rumah itu begitu berantakan dengan celana dan jaket Rafa yang ditaruh sembarangan. Di sofa, ranjang, bahkan Elina menemukan sebuah segitiga bermuda ditempat yang saat itu ia duduki. "Hihi," tawa Elina melebarkan bentuknya. Untung bersih karena Rafa baru mencuci itu semua.
"Hey... Apa-apaan?" sergah Rafa yang langsung meraih barang pribadi itu dari tangannya.
"Maaf, namanya nemu. El cuma mau pastiin itu bersih apa kotor,"
" Dengan apa, kau mau menciumnya seperti ini?" Rafa dengan isengnya melempar segitiga itu tepat diwajah Elina hingga ia berteriak sejadi-jadinya.
"Arrrgghhh! Jahat sekali!" Rafa justru tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Elina saat itu padanya. Meski kesal, tapi Elina senang dengan tawa R karenanya.
"Aku ada pekerjaan pagi ini, dan kau tak bisa ikut."
"Iya, El di rumah aja tunggu Mas sampai pulang." Elina menjawab dengan seyakin-yakinnya saat itu, meski Rafa tampak memicingkan mata..
Untuk meyakinkan, bahkan Elina meraih keranjang yang ada disana untuk mengumpulkan semua pakaian bersih dan memisahkannya dengan yang kotor saat itu juga layaknya seorang istri membereskan pakaian suaminya.
"El kalau nyuci sama nyetrika, bisa kok. Nanti Mas pulang, semunya pasti udah rapi. Sana mandi," ucap Elina.
Rafa yang masih ragu lantas meraih handuk untuk ia bawa ke kamar mandi, tapi tatapannya tetap tertuju pada Elina saat itu.
"Kau yakin bisa ku tinggal?" tanya Rafa lagi yang keluar hanya dengan celana boxer dibawah sana. Sangat pendek dan ketat.
Elina terlonjak kaget, tapi hanya sebentar karena ia bisa segera sadar. Ya, setidaknya ia sering melihat kedua kakaknya seperti itu meski pasti sedikit berbeda.
"I-iya ngga papa, ditinggal aja. Nanti El bantu beresin rumah," imbuhnya gugup.
"Yasudah..." Rafa kemudian berjalan menuju lemari dan mencari pakaian gantinya sendiri. Seragam serba hitam dengan rompi antipeluru ia pakai saat itu dengan semu atribut tambahannya.
Hal itu sontak membuat Elina semakin penasaran, sekaligus mengakui R lebih tampan dan semakin mempesona dengan seragam itu.
"Mas... Mas kerja apa?"
"Kau yakin bertanya itu? Aku pembunuh bayaran,"
"HAH?!" Rafa kembali tersenyum mendengar dan melihat kagetnya El saat itu.
"Kau percaya?"
"Ya... Jadi bener apa engga?" tanya Elina penasaran. Ia bahkan berhenti bergerak menuntut jawaban jelas dari Rnya saat itu.
"Aku pergi, dan ku usahakan pulang secepatnya agar kau tak kesepian." Rafa meraih belakang kepala Elina dan mengecupnya dengan mesra. Sedikit heran, tapi ia suka.
Rafa segera pergi dari sana meninggalkan Elina yang tengah menyibukkan diri di rumah itu.
Elina mencuci pakaian kotor yang ada dan menjemurnya segera. Ia bahkan memakai kaos oblong R agar lebih santai dalam pekerjaannya saat ini, dan ia merasa seperti seorang istri.
"Hihihi..." kikiknya gemas saat itu. Ia bahkan menyapu dan mengepel semua yang ada disana hingga benar-benar rapi, sangat tampak berbeda dari bentuk ketika ia pertama datang.
Elina duduk sebentar untuk mengistirahatkan dirinya di ranjang milik R yang nyaman.
*
Rafa telah sampai dilantai paling atas sebuah Gedung mewah. Ia sengaja disana sembari terus mengawasi sebuah proses pertemuan politik yang ada dilapangan gedung sebelahnya.
Bukan ketuanya yang ia incar, melainkan seorang anggotanya disana. Ia mulai membuat rencana kapan tepatnya waktu untuk ia menembak saat itu
Krekk! Ia mulai mempersiapkan semuanya dan sudah begitu matang tepat sasaran dan... Doooorr! Pria itu langsung tersungkur di lantai dengan luka tembak tepat dikepalanya.
Akan tetapi, Rafa tak pernah menyerang kepala selama bertugas. Ia selalu tepat di jantung, dan dengan kata lain itu semua bukan dari Rafa.
"Siapa?" Rafa langsung mencari saat itu dengan mata tajamnya. Seorang pria di gedung sebelah membungkukkan tubuh pada Rafa dan segera pergi dari sana.
Rafa hanya diam, ia membereskan semua alatnya saat itu dan pergi dari sana untuk memberi laporan pada ayahnya.
*
Ina tak bisa memejamkan mata saat itu. Ia hanya berguling-guling tak jelas diatas ranjang R dan sesekali menyibak rambut panjangnya yang cukup berantakan.
"Iiissshhh! Padahal mau istirahat," kesalnya. Padahal ia fikir jika lelah, maka ia akan cepat tidur setelahnya.
Ia kemudian bangun lagi dan berusaha mencari sesuatu yang belum tersentuh dan belum ia bereskan tadi. Hingga ia menemukan nakas dan membukanya untuk ia rapikan segera.
Awalnya Elina tak menemukan apapun dan ia membereskan semuanya dengan santai. Ia membereskan semuanya dari bawah keatas agar bisa mengerjakan semuanya sembari duduk santai. Tapi, ia terdiam ketika melihat laci nakas paling atas.
"Heh... Ini?" Elina meraih sebuah kalung perak bertulis nama Elina disana. Tangannya langsung gemetaran saat itu, ia menutup mulutnya sendiri tak menyangka dengan apa yang ia temukan.
Pintu dibuka. Rafa masuk dan melihat Elina terdiam ditempatnya dan ia tengah memegang sesuatu. "Apa yang kau temukan?" tanya Rafa padanya.
"Rafa?" panggil Elina dari sana tanpa membalik badan padanya.
Rafa semakin tajam menatap, dan ia melangkah semakin dekat pada Elina disana. "Darimana kau tahu nama lengkapku?" tanya Rafa, karena tak ada satupun identitas yang ia tinggal disana..
Elina akhirnya berbalik perlahan. Kakinya gemetar dengan mata nanar menatap Rafa yang semakin dekat dengannya saat itu, dan Elina masih memegang kalung itu dengan tulisan yang bergantung disana.
"Rafa!" Elina memekik dan langsung memeluk Rafa saat itu dengan begitu erat dengan tangan dibawah lengan ketiak Rafa.
Hanya dengan itu saja, Rafa langsung paham siapa sebenarnya El yang ada dihadapannya.
"Elina?"
"Iya, ini Elina... Elinanya Rafa. Kenapa sejak awal ngga sadar jika R itu Rafa? Maaf, Elina bodoh." Elina menangis saat itu menyesali semua kebodohannya.
lanjut kak upnya 💪💪💪💪