Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Anggi tiba-tiba menepis kan pikirannya tidur malam ini bersama dengan Agus.
''Kau kenapa, Anggi?" tanya Agus tidak sengaja melihat wajah Anggi pucat.
''Aku mengantuk, mungkin karena lelah mengurus baby boy satu hari ini,'' bohong ya.
Agus diam dia tidak mau melanjutkan lagi obrolan itu karena tidak mau berdampak kepada ya.
''Selamat malam,'' ucap Agus lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya semakin lama terlihat kurus.
Anggi juga menyadari hal itu namun ego mereka berdua sama-sama kuat.
Tengah malam baby boy tidak mau diam terus menangis sampai membuat Anggi kewalahan mengurus ya.
Agus bahkan terusik tidak bisa tidur padahal besok dia harus bangun lebih awal.
''Sayang kenapa menangis, haus ya?" ucap Anggi.
''Ada apa dengan ya?" tanya Agus pada akhirnya bangun.
''Aku tidak tahu,'' balas Anggi.
''Berikan dia padaku!" Anggi terkejut melihat Agus tiba-tiba menarik baby boy dari tangan ya.
''Nak, tolong berdamai lah dengan kita sekarang tidur ya,'' bisik Agus lalu meletakkan baby di atas tempat tidur bersama dengan dirinya.
Mereka berdua sama-sama tidur di sana hingga Anggi terkejut justru sekarang dia yang tidak tahu di mana harus tidur.
''Kenapa jadi terbalik?" gerutunya. Agus sempat mendengar ucapan Anggi dia tertawa dibalik pelukan baby boy.
Pada akhirnya Anggi memilih tidur disofa tempat Agus tempat tidur tadi. Sebagai pria Agus tidak tega melihat istrinya tidur seperti itu padahal dia di atas dapat tidur yang nyaman.
''Aku akan memindahkanmu sayang,'' ucapnya sambil menggendong Anggi pelan-pelan agar wanita itu tidak bangun.
Setelah memastikan semuanya baik, Agus baru pun tidur di sofa. Walaupun tubuhnya selalu sakit tidur di sini tidak membuatnya mengeluh karena ini semuanya adalah kesalahannya.
Keesokan harinya Anggi terkejut mendapati dirinya di atas tempat tidur bersama dengan baby boy.
''Kapan aku pindah ke sini?" tanya ya heran.
''Kau kenapa lama sekali bangun? Baby boy membutuhkanmu di bawah?" Agus tiba-tiba muncul terlihat sudah rapi hendak mengantar ibunya kembali ke luar negeri.
''Ya,'' angguk ya.
Anggi bersiap-siap mengganti pakaiannya lalu turun ke bawah karena khawatir mengenai putranya itu akan merepotkan ibu.
''Bu, maaf aku telat bangun,'' ucap Anggi merasa bersalah.
''Kemarilah! Ada sesuatu yang ingin ibu katakan kepadamu.'' Anggi mengangguk mengerti dia langsung duduk di samping mertuanya itu.
''Ada apa Bu?" Anggi mengambil alih baby boy sambil mendengarkan ucapan mertuanya itu.
''Maafkan Agus ya nak, dia memang pria yang bodoh karena itu ibu berharap kepadamu bisa mengubahnya,'' pinta ibu.
''Maaf bu,'' ucap Anggi.
''Nak, kalau bukan pekerjaan yang membuat ibu tidak akan secepat ini kembali ke luar negeri. Ibu yakin kalian akan kembali seperti dulu,'' ucap ibu lagi.
''Ya Bu,'' jawab Anggi.
''Agus memang orangnya keras kepala tapi dia akan luluh kepada seorang wanita yang membuatnya bisa berubah. Anggi, kau sudah berhasil membuatnya berubah nak tidak mudah membuatnya lunak,'' mohon Ibu.
''Anggi akan berusaha keras bicara kembali Bu, untuk sementara ini Anggi masih membutuhkan waktu.'' Ibu Agus berharap apa yang dikatakan menantunya itu secepatnya berubah.
''Baiklah! Ibu akan menunggu kabar ya, sebentar lagi putra kalian bisa jalan sampai kapan kalian marah seperti ini?" Anggi juga merasakan itu tapi dia masih belum bisa memaafkan kelakuan Agus.
''Ibu sudah siap atau belum?" Obrolan mereka berdua berhenti karena Agus tiba-tiba muncul dengan wajahnya yang terlihat lebih rapi sedikit.
''Ya nak,'' ucap ibu halus.
Tubuhnya bahkan tidak terurus apalagi wajahnya sangat berbeda sebelumnya. Wajah tampan itu semakin lama terlihat pudar ada rasa nyeri melihat perubahan Agus saat ini.
''Maaf bu, Anggi tidak bisa mengantar,'' lirihnya.
''Tidak masalah nak, ibu akan merindukan kalian semuanya terlebih lagi cucuku ini.'' Ibu menggendong baby boy tidak tahu kenapa perasaannya sakit kelahiran cucunya itu tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangga putranya ini.
''Nenek makan merindukanmu boy,'' bisik ibu.
Anggi tidak bisa melihat wajah kesedihan mertuanya itu langsung mengalihkan pandangannya.
''Ayo bu,'' ajak Agus karena tidak mau ada kesedihan lagi di antara mereka semuanya.
''Hati-hati Bu,'' ucap Anggi.
Agus sedari tadi memperhatikan Anggi dari balik jendela mobilnya menunggu masuk ibu.
''Anggi, aku merindukanmu setiap hari mengantar aku seperti ini,'' batin ya.
Mobil Agus langsung keluar dari pintu gerbang, sementara itu Anggi masuk ke dalam untuk istirahat kembali kebetulan baby boy tidur.
Namun pikirannya melayang semua yang dikatakan ibu mertuanya itu tadi.
''Apa aku lebih baik mengalah ya,'' gumamnya.
Begitu banyak drama yang terjadi dalam hidupnya sampai saat ini, dia juga meminta perceraian terus kepada Agus namun pria itu tidak pernah mengabulkan.
Sampai menulis surat mengancam tetap saja pria itu tidak mengindahkan keinginannya.
Anggi lelah semua dengan yang terjadi dalam rumah tangganya ini. Kehadiran baby boy membuatnya semua lelah di kepalanya hilang dalam sekejap.
''Nak, boleh kasih ibu saran agar ayah dan ibu bisa kembali bersama,'' ucapnya tidak sadar.
Di sepanjang perjalanan Agus lebih banyak diam bersama dengan ibunya sampai mereka tiba di bandara.
''Nak, terus rayu Anggi kembalilah seperti dulu. Ibu tidak sanggup melihat kalian berdua seperti itu,'' pinta ibu.
''Agus akan berusaha kembali Bu,'' jawabnya pelan.
''Ibu yakin kalau Anggi sebenarnya masih menginginkan pernikahan ini. Cobalah jujur kepadanya kali ini Agus, soal Jesika beritahukan semuanya kepadanya.'' Agus langsung mengangguk mengerti dia tidak akan melupakan semua pesan yang diberikan ibu ya itu.
Setelah kepergian ibu, Agus justru memilih pergi ke danau untuk menenangkan pikirannya saat ini.
Banyak di sana sekarang suami istri bersama dengan anaknya bermain bersama sama. Berbeda dengan dia sendirian padahal kemah tangganya sudah lengkap kehadiran orang putra yang begitu tampan.
''Anggi, aku harus bicara dengannya sekarang juga.'' Agus langsung berlari menuju mobilnya karena sudah diputuskan untuk membicarakan ini serius dengan Anggi.
Mobil dia bawa dengan kecepatan yang penuh bahkan kendaraan lain hampir nyaris karena tabrak oleh dirinya.
''Anggi, aku datang!" Tiba-tiba semuanya gelap tidak ada cahaya yang mengenainya.
Suara mobil melintasi jalan raya dengan kecepatan penuh membuat semua kendaraan menepi.
''Mas Agus?!'' Anggi tiba-tiba berteriak memanggil nama suaminya itu.
''Nyonya tidak apa-apa?" tanya pengasuh baby boy.
''Tidak, sekarang jam berapa?" tanya Anggi.
''Tujuh malam Nyonya.'' Anggi heran Agus belum kembali dari bandara padahal seharusnya dia sudah di rumah hari ini.
''Kenapa perasaanku menjadi tidak enak ya?" batinnya.
Suara panggilan dari sekretaris Andika mengagetkan seluruh penghuni kediaman majikannya itu.
''Nyonya?'' panggilnya.
''Andika, ada apa datang malam-malam ke sini?" tanya Anggi heran.
''Nyonya harus ikut dengan saya ke rumah sakit sekarang, Tuan baru mengalami kecelakaan jalan raya dan saat ini kondisinya kritis di rumah sakit.'' Anggi bagaikan disambar petir terkejut mendengar kabar suaminya itu tadi di antar dalam keadaan baik-baik.
''Tidak mungkin? Mas Agus tadi aku mengantarnya dalam keadaan baik baik?!" teriaknya.
''Nyonya tenanglah dokter terbaik di kota ini sudah menangani Tuan,'' tambah sekretaris Andika.
''Aku harus ke rumah sakit sekarang, mbak tolong jaga baby boy!" serunya.
''Mari Nyonya, saya akan mengantar anda ke sana.'' Anggi mengangguk sepanjang perjalanan dia khawatir mengenai kondisi Agus.
Penyesalannya semakin dalam ketika melihat suaminya itu terbaru lemah dibantu dengan alat medis.
''Mas,'' ucapnya sesenggukan.
''Tuan, kembali ke rumah namun tiba-tiba sebuah mobil dari depan menghantam beliau. Pihak berwajib mendapati ini dari tangan Tuan, Nyonya.'' Anggi menerima benda itu, rasanya semakin sakit ketika menerimanya.
''Kau menyelamatkan cincin pernikahan kita Mas,'' ucapnya menangis tersedu-sedu.
Agus memang tidak menggunakan dicari manis ya namun di leher dia kalungkan. Pria itu tidak mau ada orang lain mengambil kesempatan dalam tubuhnya.
''Tuan, baru menyerahkan benda ini ketika dia sudah berada di rumah sakit Nyonya.'' Anggi menangis dan menangis terus tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Posisinya saat ini bener-bener terjepit di mana mertuanya baru saja kembali ke luar negeri dan putranya mengalami kecelakaan.
''Apa yang harus kulakukan sekarang, Andika. Ibu harus mengetahui kondisi Mas Agus,'' ucapnya.
''Jangan Nyonya, beliau memiliki riwayat penyakit jantung kalau mengetahui putranya mengalami kecelakaan kita tidak tahu apakah yang terjadi.'' Anggi terjatuh ke lantai dia pusing tidak tahu harus sama siapa berbagai semua beban dalam hidupnya ini.
''Andika, aku akan menjaga Mas Agus sementara perusahaan aku serahkan kepadamu.'' Sekretaris Andika mengangguk mengerti hal ini sudah diantisipasinya dari dulu kalau sesuatu terjadi terhadap majikannya.
Dokter keluar dengan wajah yang terlihat lelah karena baru saja mengoperasi kaki Agus.
''Bagaimana kondisi suami sayang dok?" tanya Anggi.
''Kami sudah berhasil mengoperasi kaki Tuan, Nyonya.'' Anggi terkejut bukan main dia sudah beranggapan kalau Agus tidak akan bisa jalan seumur hidup lagi.
''Apa yang terjadi dengan kaki Mas Agus?" tany ya panik.
''Kecelakaan itu membuat kakinya sempat terjepit dan kami baru saja meluruskannya Nyonya. Tapi semuanya tergantung dengan yang maha kuasa karena operasi ini mudah-mudahan berhasil.'' Anggi semakin menangis dia tidak bisa membayangkan Agus akan sulit berjalan setelah ini.
''Apa aku bisa menjenguk ke dalam?" tanya Anggi pelan.
''Silahkan Nyonya!" Anggi masuk ke dalam perasaannya begitu sakit melihat keadaan Agus yang sungguh memprihatinkan.
''Mas, aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini,'' ucapnya sambil memeluk tubuh lemah itu.
''Aku sebenarnya sudah memaafkanmu hanya saja ego membawaku sampai saat ini sulit mengatakannya Mas,'' tangisnya.
Semua yang dikatakan Anggi didengar Agus namun pria itu enggan membuka kedua bola mata ya.
Dia masih belum bisa membuka mata karena sulit mengatakan sesuatu nanti kepada istrinya itu.
Terlalu lama mereka saling diam membuatnya sulit bentuk mengatakan sesuatu kepada Anggi. Dia takut sewaktu-waktu istrinya itu akan meninggalkan dirinya selamanya.
Kondisinya saat ini pasti membuat wanita itu semakin menjauh dan tidak akan pernah memaafkan pria seperti dirinya.
''Aku pria yang menyedihkan,'' lirih ya sambil merasakan pelukan itu yang sudah lama tidak dirasakannya lagi.